Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini
    Sebuah Permulaan!

    Tepat ketika aku mengetikkan satu kata demi kata dalam tulisan ini, di satu aplikasi laptop saya bekerja. Mendendangkan lagu dari Randy Pandugo yang berjudul Hampir Sempurna. Dalam bait bait yang tercipta ini aku ingin sedikit merangkam rasa kegalauan yang menumpuk dan berkelindan hingga aku tak sanggup untuk menyelesaikannya dengan sempurna. 

    Aku sendiri. Pada suatu momentum dan hanya diri ini yang mengerti. Pada proses penciptaan dan takdir yang membuatku bisa melewatinya. Bukan dengan mulus tetapi dengan terbata-bata dan masih mengeja keaslian dunia ini. Rasanya ingin ada yang digenggam di tangan ini. Tetapi aku hanya mengepal sendiri. Dalam kesendirian hanya menggenggam angin yang datang menyapa. Tanpa suara hanya sulit membaca klisenya hal yang aku keluhkan. 

    Beberapa minggu yang lalu, mungkin hidup membuatku harus naik turun seperti roller coaster. Sayang aku hanya memeluk diriku sendiri. Tidak banyak orang yang berada di sampingku. Setidaknya ada. Meskipun mereka tidak bekerja dengan baik. Toh, mungkin halnya jika aku yang  berada di posisi yang sebaliknya, aku mungkin akan bersembunyi. Pada sesuatu yang tidak ingin kueja dengan sempurna bagaimana teman-teman di sekililingku menghadapi dunia ini. Aku juga terlalu menutup mata pada kepelikan hidup mereka. 

    Semua terselesaikan dengan repalan tangan. Bersama hujan yang membawaku menjadi basah. Pada keringnya musim panas yang membawaku begitu berair karena keringat. Aku melaluinya dengan segala proses yang tidak pernah berakhir. Berharap, akhir itu segera aku temui. Setidaknya aku ingin membuang muka pada tempat yang membesarkanku selama 4 tahun terakhir ini. 

    **

    Kampus dan aku adalah metafora.

    Aku masih ingat dengan baju putih-putih aku 4,5 tahun yang lalu, dengan polosnya aku mengikuti ospek jurusan, fakultas dengan tertib. Aku tidak mengharapkan apa-apa. Padahal waktu itu, salah satu doa yang terselip di sujudku adalah segera meninggalkan tempat ini. Maksudku kampus yang beberapa hari ini aku datangi. Karena apa? Aku merasa salah jurusan pada pengumuman aku diterima di ilmu sejarah. Apa yang kamu harapkan dari belajar sejarah. Selain menjadi pembual yang memperdebatkan keaslian sejarah. Jadi begitu~

    Tetapi aku berasa mendekte Tuhan dengan segala permintaanku di awal. Aku ingin masuk jurusan tertentu di perguruan tinggi tertentu. Itu tidak berhasil. Mungkin saja, ini ulah doa ibuku yang diijabah agar aku masih berada di Solo. Dan aku lakukan itu. Aku mulai beradaptasi dengan baik. Mempunyai teman-teman yang berbeda dari SMA. Semuanya saling menyayangi, saling mencintai dan menganggapnya seperti keluarga sendiri. Itu yang membuatku betah. Aku tidak peduli dengan pelajaran yang terima. Toh tidak satu pun yang masuk dalam nalar berpikir di logikaku. Meskipun demikian, aku menikmatinya. Beberapa aku benci dengan mata kuliahnya. Itu tergantung dari dosen yang mengajar. Untuk dosen cuek dan selalu menjelaskan sesuatu yang benar-benar tidak aku tahu, itu keren. Maksudku, aku suka dengan Tundjung W. Sutirto menjelaskan tentang seni pertunjukkan. Atau Widi yang membedah buku--yang salah satu pernyataannya masih aku ingat, 'Indonesia tidak benar-benar memiliki budaya' alasannya semua yang ada di Indonesia adalah impor. Aku setuju bagian itu. Atau Sutanto yang menjelaskan filsafatnya bahkan berpikir mengajak mahasiswanya membaca The Insecure City tentang Beirut. Selebihnya aku tidak menyukainya. 

    Setelah semua hal, aku lakukan dengan baik. Atau setidaknya begitu. Tidak bagi alasanku untuk segera mengakhiri penderitaan menjadi mahasiswa. Yaitu lulus. Hal pertama yang harus dilakukan dan menjadi momok adalah skripsi. Aku dan skripsi adalah satu kesatuan yang saling benci tetapi membutuhkan. Ibarat kata kamu tidak benar-benar mencintai pacarmu, selain kekayaannya. Nah, begitu pula denganku. Alasan aku bertahan dengan skripsi karena dengan mengerjakannyalah aku bisa lulus dari kampus ini. Untungnya dosenku dan aku bekerja sama dengan baik. Meskipun aku sedikit tidak menyukainya. Semoga dia mengerti! Aku selalu mendoakannya untuk baik-baik saja. Sebagai rasa syukurku, sudah membimbingku yang bodoh ini.

    Ada banyak hal yang terjadi di dalam bulan-bulan aku menjelang sidang dan sampai revisian. Aku bukannya memilih untuk kabur, tetapi memilih untuk memilih. Susah memang mengungkapkannya melalui kalimat. Intinya aku tidak memperjuangkan apa yang sudah aku perjuangkan. Bagiku perjuangan itu harus dibagi sama rata-sama rasa. Dalam hal ini aku setuju dengan konsep sosialisme. Pembagianku memang tidak adil hingga pada keputusan terburuknya adalah ---yaah---. Ada teman yang menemaniku untuk ini. Terima kasih untuk Nasitha yang takdir mempertemukan kita bukan di bulan April untuk wisuda melainkan periode selanjutnya. 

    **
    Cerita Akhir!

    Pada akhirnya kamu menyusuri jalan masa depan yang ada di genggaman tanganmu. Mimpi kita untuk menjadi apa, terpampang di depan mata. Dari awal aku sudah merekonstruksi jalan berpikirku untuk lanjut S2 ketika lulus. Tetapi nyatanya aku lelah. Beruntungnya pada pembangunan rumah baru di sana --- hingga keuangan keluarga harus tercurahkan khusus untuk membangun. Sebenarnya, ibuku sudah membujukku untuk tetap lanjut. Mengingat umurku sudah 23. Hei, ini masih terlalu muda untuk dikhawatirkan. Ohya, yang dikhawatirkan ibuku sebenarnya aku tidak benar-benar menyukai seorang pria semenjak aku kuliah. Itu yang dikhawatirkan akan membuatku harus menunda menikah. Hmmm... Akhirnya lobi itu sudah berjalan dengan baik. Setidaknya, biarkan aku rehat sejenak. Aku ingin membangun tokoku sendiri. Bekerja sendiri. Tanpa banyak orang yang mendekte. Hm, selain pekerjaanku menulis di sebuah platform baca digital. Yah, beberapa bulan ini aku akan terikat kontrak untuk menyelesaikan ceritaku. Intinya aku sedang memperjuangkan Nalendra! Doakan aku~

    Nasitha pernah bertanya, apakah aku tidak ingin kerja? Karena hanya aku yang tidak punya geliat untuk kerja. Maksudku, banyak orang yang mendaftar sana sini untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan apa yang aku lakukan, selain membual di dalam ketikan Microsoft Word yang mencurahkan segala imajinasiku. 

    Jika ada yang bertanya, apakah aku ingin kerja kantoran? Maka aku akan jawab tidak. Semoga ibuku tidak membaca tulisan ini. Aku hanya ingin ibuku baik-baik saja dengan keputusanku. Aku punya masa depan yang aku ciptakan sendiri. Jika aku tidak memanfaatkan ilmuku (sejarah maksudnya) aku ingin menjadi penulis lepas, pedagang online dan sesekali membual di twitter. Masa depanku suatu ketika bukan menjadi kegalauan. Aku ingin merekonstruksi itu sesegera mungkin. Jika Tuhan menghendaki langkahku untuk lebih berguna lagi, maksudku dengan aku S2 dan menjadi dosen. Tidak masalah. Karena pada sejatinya aku ingin hidup dengan imajinasiku. 

    Itu saja. Aku harap, Nabila masa depan tidak segalau ini. Dan satu lagi, keinginanku yang ingin aku isi selama setahun untuk membuat masa depan ini adalah ikut sekolah skenario. Semoga Semesta mendukung keputusanku.


    N-a-b-i-l-a--C-h-a-f-a-,
    yang berharap baik baik saja ketika hujan turun~
    ketika gemuruh datang di saat tibanya musim kemarau.
    20 April 2018
    22.14

    |||



    Continue Reading
    Hei Maf!

    Mumpung yu ada di Jepang. Momen yang sangat tepat bagiku untuk menulis tentangmu. Haha, gimana? Kerasan gak? Dingin banget lho. Jangan sampai kamu merindukanku. Rindu itu berat, Maflahah. Tidak apa. Dingin itu mudah, yang jauh lebih berat adalah melupakan dia. Cuaca dingin merupakan waktu yang tepat untuk menggalau-in dia yo maf. Nikmatilah saja! Kan katamu, kamu lagi menuju move on. Loh?




    Ingat pada pertemuan pertama kita, Maf. Saat itu seleksi wawancara Bakti Nusa. Karena aku datang paling awal dibanding semua peserta di hari Minggu waktu itu, aku mendoakan agar kamu diterima. Haha. Lucu sih. Aku kenal kamu aja enggak. Tetapi memang kok Maf, waktu wawancara itu aku begitu bodoh. Dan melihat pertama kali sosok Maflahah, aku yakin kamu lolos. Daaan yah, memang Allah menakdirkan aku untuk mengenalmu lebih lama setelah itu.

    Berbicara tentang hidupnya Maflahah itu sebenarnya biasa saja. Tetapi kalau dia cerita, seakan-akan heboh gitu. "Oh ya?" dan kata 'ya'-nya itu rada melengking ke atas. Sesekali kalau diceng-ceng-in selalu keluar satu kata. "Horok i." Ohya, dari sekian nama yang sering diceng-ceng-in adalah Mas Doni. Cocok sih. Udahlah maf, akui saja. Srimulat siap mengiringi kebahagiaan kalian berdua.

    Berbicara tentang nama ini sebenarnya banyaaak banget yang aku ingin omongkan. Satu laman ini saja sepertinya sudah tidak muat. Tapi ya sudah. Memang satu orang harus mendapatkan satu porsinya masing-masing.

    Ada satu film yang mengantarkanku pada tidur kemarin malam. Film dengan judul Train to Spain. Ceritanya tentang dua orang Bapak-bapak yang liburan ke Spanyol. Jalan ceritanya membosankan. Relevansinya apa? Relevansinya adalah kisah cinta Maflahah juga tak kalah membosankan. Haha!

    Sebenarnya mencintai dalam hati itu berat Maflahah. Mengalahkan segepok rindunya Dilan. Kamu sendiri juga sadar bahwasanya tidak ada keromantisan dalam kisah cintamu, ya kan? Akui saja! Yang ada malah kita jengkel sendiri dengan semua alurnya. Saat temu "Konsolidasi Internal" di tempatnya Eli, kita bertiga saja (Aku, Eli, Syuga) gregetan banget sama alur yang datar dan kurang "boom!" Sesekali dalam setiap momen kamu cerita, selalu kita potong. "Harusnya itu kesempatan emas, Maflahah. Kenapa harus disia-siakan!" Atau kalimat yang lain, yang membuatmu akan menyesal seumur hidupmu.

    Terima kasihlah kepada bebek-bebek di Balekambang, Maflahah. Jika tanpa bantuan mereka, kamu tidak akan menabung cinta selama 4 tahun. FIX sih, harusnya memang kamu kredit motor aja. Lak yo lunas, Maf. Daripada nabung cinta yang lama-kelamaan membuatmu sakit hati. Di tinggal kemana lagi kamu Maf? Luar kota kan. Jarak memang membuat segalanya begitu kejam ya, Maf. Kalau seandaianya doi ada disini, cukupkah  mampu kamu move on, wahai Maflahah?

    Detail cerita tentang kamu dan doi itu panjang, begitu rumit, dan kurang menggelegar. Kenapa  rumit? Karena kamu tidak membuatnya mudah. Hanya berdiri bersisian di dekat jendela, dan melihatnya dari jauh. Saat doi masuk asrama, hanya ngliatin aja. Melihatnya saja sudah sangat cukup untuk bersyukur ya Maf. Diberikan sama Allah fitrah menyukai. Walaupun dalam hati. /Halah/

    "Sebelum dan sesudah tidur, siapa yang aku lihat, Bil? Dia!" katamu suatu waktu.

    Iya Maf, kamu melihatnya hampir setiap saat. Tuhan itu sudah mempertemukan kalian di segala kesempatan yang ada. Bagiku, waktu dan kesempatan itu termasuk rejeki. Tetapi memang sangat disayangkan. Kamu melewatkannya begitu saja. Padahal Maflahah yang aku kenal, adalah sosok yang pemberani. Strong woman! Tetapi memang ya Maf, kita sebagai perempuan memang harus berpikir berkali-kali lipat saat menghadapi sosok yang teramat nyaman tetapi harus bermain hati di dalamnya. Huhu.

    Dari Maflahah, aku belajar bagaimana memasak yang baik dan benar. Menjadi sesosok perempuan yang pemberani. Menjadi orang yang membuat nyaman orang disekitarnya. Menjadi orang yang peduli. Menjadi apa adanya diri kita tanpa perlu berpura-pura. Menjadi loyal. Itulah kenapa geng-mu bisa menahanmu begitu lama. Itulah kenapa kamu menjadi ruh dari jiwanya Srimulat. Tanpa kamu Maflahah, aku mungkin hanya sereceh debu yang berterbangan di angkasa. Haha. Serius, asli!

    Terima kasih untuk bisa sedekat ini, hingga aku berani menuliskan semua hal tentangmu. Habis ini kita wisuda, Maflahah. Sedih banget! Kamu sedih, ndak? /Alay/

    Dear Mbokdhe!

    Kamu senang aku memanggilmu, Mbokdhe? Ini aku Maf, Nabila yang memanggil. Bukan Mas ___, jadi jangan seneng dulu, Eh maaf kalau nggak seneng. Aku justru seneng kalau membuatmu gak seneng. Haha. Srimulat tanpa Maflahah hanya akan menjadi seonggok daging tanpa tulang. Ambyar Maf! Harapan-harapan kedepan, semoga kamu sukes selalu. Diberi kemudahan dalam membuat pilihan. Alhamdulillah ya Maf, sekarang galau milih diantara dua pekerjaan. Hm~ kamu memang terbaik Maf. Rejeki lancar teruuus. Dan jangan lupakan Nabila. Ini penting! Dan semoga kamu mendapatkan jodoh orang Solo dan sekitarnya, sesuai impianmu. Aku pasti jagong Maf. Haha.

    Maflahah, aku rindu. Semoga perjalananmu menyenangkan di sana.



    t_e_m_a_n__b_e_r_k_e_n_d_a_r_a_m_u__,



    nabila chafa.,
    Ska, 1/2/2018
    10.33 am



    *) Jadi, siapakah selanjutnya!


    """

    Akhir Tahun 2017 Bersama Maflahah!






    ***
    Continue Reading
    Hei Khaira,

    Selepas pendadaran, aku posting kalimat yang dibuat temanku yang sok-sokkan ke Jepang. Ingin mengalahkan Maflahah katanya. Haha, orang kedua setelah Zealandia Sarah adalah Keyra. Hingga dia balas status di WA-ku.

    "Kamu kompre kok nggak bilang-bilang. Tahu gitu aku ke Solo." katamu.

    Aku pikir itu kalimat basa-basi. Palembang-Solo jauh cuy. Tidak tahunya, dan aku baru tahu kalau dirimu balik lagi ke Pare. Parah sih nggak bilang-bilang! Bahkan sudah 3 minggu. Itu waktu yang lama tanpa aku sadari. Oh oke, maaf! Mungkin aku terlelap pada kesibukan /preketek/ ngurus berkas buat sidang bulan ini. /Hari terakhir bulan Januari adalah hari ini, cuy!/


    Saat kemarin aku menuliskan tentang Nindi, sebenarnya sekelebat aku memikirkan sosok yang hampir mirip. Tapi beda karakter. Dan orang itu adalah Kei. Nama sebenarnya adalah Khaira Ukhtiyani. Tetapi nama Kei adalah nama panggilan yang dibuat sendiri oleh Miss Aini. Karena aku juga susah, atau lebih tepatnya terlalu malas untuk memanggil namanya dengan baik dan benar, jadilah aku mengikuti jejaknya Miss Aini dengan memanggilnya Kei. Sesekali aku panggil Ira. Kalau lagi mood aku panggil namanya lengkap, Khaira. Asli Lampung tetapi merantau ke Palembang. Kuliah jurusan Pendidikan Ekonomi, UNSRI.

    Dia adikku. Jelas. Sama aku, masih tua-an aku. Ini kayak berasa aku suka akan fakta bahwa aku sudah tua. Haha. Kemarin Desember dia wisuda. Selamat! Maaf ya, tidak datang. Jarak memang alasan yang tepat untuk aku ajukan. Semoga kamu mengerti dan memahami. Padahal dia sedang MFB di Banten. Luar biasaaaah memang. Sepulang dari Pare, diberi waktu sekitar 2 mingguan setelah itu kamu mengabdi. Btw, di UNS tidak ada yang berangkat MFB di kloter bulan Desember. Harusnya sih ada, si abay. Tapi dia mendadak mundur di H-2 keberangkatan. Parah sih! Oke cukup untuk intermezzo yang berlebihannya. 

    Khaira orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Bahkan ketika FLC di Bandung pun kita tidak saling menyapa dengan benar. Halah. Justru aku pertama kali menyapa dia saat SLT. Dan waktu itu, kita menginap di rumah kontrakkannya Desy di Bogor. Ingat tidak orang itu saat aku menyapanya dan dia berjibaku dengan pekerjaan mengoreksi anak didiknya. Kata dia, dia sedang dalam masa PPL. Atau semacam magang di sekolah untuk para calon guru. 

    First impresion pertama ketika aku melihat Kei adalah dia orangnya pasti lurus-lurus saja. Seorang ukhti-ukhti. Ya bener sih, nama belakangnya saja Ukhtiyani. Ya, semacam orang yang sengaja membuat jarak, begitu sih. Persepsi awalku. Untung saja, kita sekamar ya buk selama sebulan di Pare. Dan ternyata kita bisa tahu lebih banyak hal ketika kita bersama. Dari mulai kebiasaan-kebiasaannya. Sampai ke hal yang tidak penting lainnya.

    Persis mirip dengan Nindi. Dia adalah orang yang bisa tidur dengan mudah dan gampang. Kalau siang tidak ada kelas gitu, dia tidur. Kalau malam sebelum tidur, dia pasti youtube-an nonton American Gots Talent. Atau bentuk reality show lainnya. Dan teman sekamar satunya, sibuk dengan streaming nonton Stranger Things. Kalau aku nonton apa, sudah tahu dong. Kita teman sekamar yang sangat toleran satu sama lain terhadap perbedaan. Keren sih! Ingin mengulang masa-masa itu lagi, sungguh!

    Hei, kita bahkan pernah semalam tidak tidur malah curhat gak jelas padahal besoknya kita scoring. Parah sih! Hm... Kayaknya kita mengganggu Zealan deh. Dia tidur di tengah, diantara aku dan Kei. Tapi kita curhatnya juga saling berjauhan. Kayak lagi marahan. Halah, apaan sih. Lucu juga. Dari malam itu, kita masing-masing bertiga sudah saling bongkar satu sama lain. Apapun! Klasik memang. Gegara di Batch sebelumnya, sudah saling bongkar gitu. Dan kita mah hanya bisa merealisasikannya dengan teman sekamar. 

    Kita juga pernah melewatkan hujan-hujanan bersama. Haha. Waktu itu aku lagi sakit. Parah sih. Demam gtu dan pingin banget makan bakso. Sudah tahu ya, di luar mendung dan sudah dipastikan akan turun hujan lebat, tetap saja ngeyel keluar. Alhasil, kita pulangnya hujan-hujanan. Saat kita berteduh itu, aku berhasil mengabadikan momen kita berdua. Sayangnya tidak tampak wajahmu. Hanya sandal dan sepeda yang ditepikan di pinggir jalan. 

    Pernah suatu ketika, kamu bicara tentang jodoh. Dan kamu bilang, "kayaknya aku gak bakal jodoh deh sama orang Jawa, Bil." Hahaha, lucu sih. Saat kamu berbicara tentang kebiasaan orang Sumatra. Beberapa suku yang berada di dalamnya. Dari situ, aku menangkap keanekaragaman. Orang jawa saja banyak golongan-golongannya. Logat juga beda. Apalagi di Sumatera ya.

    Hei Kei, maafkan aku yang kadang keceplosan dan mungkin terlalu peka melihat gelagat aneh ketika mas "itu" ngodein kamu. Sungguh aku tidak tahu bahwasanya teman kita yang satunya juga suka. Okee, cukup aku saja yang tahu ya. Kamu lucu juga sih membuat orang tarik ulur. Haha. Terima kasih sudah melewatkan perjalanan gila bersama. Sepertinya, mengenalmu selama sebulan tidak pernah cukup. Memang ya, manusia itu serakah dalam banyak hal. 

    Suatu siang, kamu melewatiku tanpa menyapa. Aku berhenti di depan Kosan Donal untuk beli buah, sembari menunggumu keluar dari GE Aussie. Saat lagi berbincang bagaimana caranya untuk meloakkan galon-galon kita di dalam kamar ke ibu Donal, eh kamu malah melewatiku begitu saja.  Sesampainya di Kosan, si Putsar bilang. "Teman sekamarmu itu di puk-puk dulu sana!" Lah, aku kan kaget. Tidak tahunya kamu berderai air mata.  Setelah kamu baikan dan langsung tidur siang, aku menyelinap pergi ketemu Dini untuk makan siang. Dan aku tanya, barang apa yang membuat orang merasa baikan setelah menangis. Sebagai teman sekamar, sesungguhnya aku juga bingung. Untuk membuatmu merasa baikan, maka aku belikan es krim. Dan Zealandi membelikan rujak. Fix, kita pesta makan hari itu. Hal terkocak selanjutnya adalah saat mau masuk kelas Mister Maul di sorenya, kita semua memparodikan waktu menangismu. Parah sih. Kita memang bukan teman yang baik. Haha!

    Untuk Kei, kita saling mendoakan untuk setiap kebaikan. Semoga kamu lancar dalam raihan impianmu. Amin. Jangan merasa terpuruk ketika keadaan memaksamu untuk jatuh. Percayalah bahwa Allah akan menegakkan bahumu. Semangat terus! Jangan dianggap beban. Anggap saja proses panjang yang harus kamu lalui untuk mencapai hasil maksimal. Memang sih harus berderai-derai air mata. 

    Sama seperti yang aku utarakan sejak awal. Pertemanan kita selanjutnya harus lebih lama dari jangka waktu sebulan. Aku tunggu di Solo. Dan, pesanku padamu masih sama. Jangan lupa untuk bahagia!


    y-o-u-r---r-o-o-m-m-a-t-e-, 



    n.a.b.i.l.a...c.h.a.f.a....
    Ska, 31/01/18
    09.56 am.



    *) Who's next?

    | | |

    Ketika aku bersama Kei!








    ***


    Continue Reading
    Hei.

    Dilatarbelakangi oleh postingan alayku. Yang berjudul →Friendship ; betapa ke-alay-anku bertahan. Jijay banget deh. Tapi aku tidak ingin menghapusnya. Menghapus sama saja menghapus memori yang sudah ada. Aku bukan makhluk sempurna yang tiba-tiba sejak awal buat blog tulisanku sudah Boom. Kan ya enggak kan? Pasti melalui proses dimana /sejujurnya untuk membuka postingan lama membutuhkan ketahanan hati yang ekstra karena kadang geli juga/ tulisan agak menjijikkan. Kemudian terpikirkan untuk membuat semacam rekaman dari setiap orang di sekitarku.

    Agar menjadi kenangan baik, yang suatu saat ketika harus membuka blog ini lagi dan menemukan arsip/catatan tentang mereka. Betapa nyata bahwa kebaikannya selalu kita kenang. Mengenal batapa berharganya mereka. Betapa berartinya hidup ini kalau tidak mendeskripsikan mereka dengan baik. Semoga menjadi catatan amal kebaikan mereka. 


    Perkenalkan, aku ingin menampilkan sosok teman. Masuk dalam lingkaran orang yang cukup dekat. Bahkan kata 'dekat' menjadi metafora tersendiri, karena di banyak hal kita tidak selalu dekat. Karena dalam beberapa rahasia saja kita tidak pernah saling menukarkan. Dan hanya, hm.. beberapa diantaranya saja. Ya, begitulah.







    Namanya Nindi. Dia asli Jogja, Bantul lebih tepatnya. Akhir tahun lalu (2017) sekitar bulan Juli/Agustus  [aku lupa tepatnya] ibunya meninggal dunia. Tepat ketika boom drama korea the king mask, karena perjalanan layatan Solo-Jogja, Hasan selalu menontonnya. Apalagi saat ban motor Azmil meletus di tengah jalan. Hm, intermezzo yang berlebihan. Dia perempuan yang lemah, meskipun berjuang untuk kuat. Terkadang harus terjatuh dan mencari pegangan untuk membuatnya berdiri. Dalam kata "cilik ati" adalah bagaimana aku mendiskripsikan hatinya. Mungkin rapuh, mungkin sehalus bulu angsa, atau bahkan serapuh karang yang terus menerus diterjang ombak.

    Menurutku luar biasa, bisa mengenal dan menjadi bagian memori tersendiri mengenal nama ini. Bahkan, diantara kami pernah terjadi kesalahpahaman. Mungkin sekitar awal tahun 2016, terjadi pergesekan hati. /Halah/ Sepele memang. Tetapi membekaskan sedikit luka akan kekecewaan. Tetapi sudahlah, toh 'waktu' membuat kami sepakat untuk saling melupakan. Karena pada dasarnya, aku ini orangnya juga rada baperan. Haha...

    Dia adalah sosok luar biasa dalam membuat berteman menjadi nyaman. Tak harus menjadi dia-dia-dia yang lainnya, ketika kamu mampu menjadi apa adanya dirimu. Dia orang yang sangat telaten. Teratur. Tertib dalam memanajemen waktu. Beberapa hal kecil yang sering dia lupakan, dia selalu mencatat.

    Kebaikan yang aku ingat adalah dia membantuku membungkus kardus snack di hari kedua dan ketiga (kalau tidak salah/karena lupa). Dia selalu mengingatkan. Tatkala aku kadang-kadang gatal ingin melihat hp. Dia selalu bilang. "Ih bil, ini lho kardusnya." lagi-lagi itu membuatku harus tunduk pada tanggung jawabku menyelesaikan steplesan kardus-kardus itu. Aku merasa tidak enak hati, saat dia tengah berjibaku, masa iya aku harus mainan hp. Bahkan aku tidur di kosannya. Itu tidur pertamaku sebagai anak rumahan di kosannya teman.

    Nindi adalah tipekal yang gampang sekali tidur. Dia sekali mapan untuk bersiap tidur, tidak sampai lima menit, sudah melayang alam bawah sadarnya. Luar biasa memang. Mengingat bahwa aku orangnya agak susah untuk tidur. Maksudku memulai untuk benar-benar tidur membutuhkan waktu sekitar 20 menit sampai 1 jam bahkan. Tergantung tingkat stress per hariku. /halah/

    Aku sempat heran. Kenapa dia mempunyai banyak stok drama tetapi jarang untuk menonton. Kadang, drama yang menurutnya bagus, enggak bagus saat aku lihat. Sepertinya kita memang memiliki selera yang berbeda. Tapi tidak masalah, aku selalu copy kok dramanya. Apalagi tetangga kosannya adalah orang-orang yang update pada masalah per-drakor-an.

    Ohya, dia juga adalah teman kuliah yang pertama kali menginap di rumahku. Kejadiannya tidak tahu kapan. Saat Musang FMS atau SSC ya? Lupa! Sekitar tahun 2014/2015 sekitar tahun itu. Soalnya terjadi di awal masuk kuliah. Karena pada saat itu aku ditinggal orang satu rumah pergi. Aku juga lupa pada pergi kemana waktu itu, yaa, kita beli nasi kucing bungkusan di deket ISI dan makan malam di rumahku. Setidaknya aku melewati malam dengan tidak ditemani kehororran.

    Kemudian, di akhir-akhir tahun ini. Kalau bertemu dengan Nindi, yang diobrolin adalah kisah cinta islami yang dia baca di wattpad. Terkadang memang harus membuatku memasukkan koleksi yang dia suka ke rak bacaanku. Yaaang, pada akhirnya tidak aku baca juga. Soalnya kalau Nindi sudah cerita sama saja aku sudah membaca seluruh isi ceritanya sih. Haha..

    Nindi, adalah orang yang aku proyeksikan akan memulai petualang berharganya di masa depan. Dia pasti akan menjadi seorang wanita hebat kedepannya. Hati selembut sutra. Tidak terbantahkan lagi, mengingat bagaimana kinerjanya membuat Irfan, direktur SSC harus kembali ke pelukan tanggung jawabnya. Ini kocak sih! Asli. Kepengurusan SSC yang penuh drama/sitkom/yang berseries. Wanita yang menjadi kuat untuk adik, kakak dan keluarganya. Waktu yang membentuknya terkadang merindukan ibunya. Aku belajar, Nin. Bagaimana cara untuk menghargai setiap proses waktu yang digulirkan Tuhan pada semesta.

    Dear Nindi, jika aku katakan "Kuatlah Nin." aku yakin kamu pasti jauh dari kata itu. Jika aku katakan, "Sabar Nin." Kamu pasti sudah sabar sebelum aku mengatakannya. Mungkin aku terlambat menyadari, bahwa kamu dengan semua yang kamu miliki, bisa membuat orang-orang disekitarmu menjadi nyaman.

    Teruntuk Nindi, terima kasih. Semoga kita menjadi teman, tidak hanya di dunia. Dan hanya kamu orang yang pertama aku pikirkan untuk dihadiahi Al-Qur'an di hari wisudamu.Senang rasanya bisa mengenal dan berteman denganmu.


    Y-o-u-r---l-o-v-e-l-y---f-r-i-e-n-d-s-,



    --- n a b i l a   c h a f a ---

    30/1/2018
    20.23 pm


    *) next part siapa yang menjadi orang yang aku ceritakan. Semoga aku konsisten membuat ini. Amin!

    :
    ::
    :::
    :::
    ::
    :

    Moment with Nindi-ng!





    Continue Reading


    Warna pelangi tergeser oleh silaunya pancaranmu.
    Bisa saja, kristal-kristal di langit terbiaskan hingga cahayanya tak sampai pada mataku.
    Kamu berbicara tentang kebersamaan kita.
    Kemudian, untaian ceritamu dimulai dari kesendirian.

    Sungguh. Aku ingin membantumu.
    Kubah di langit mungkin tak menginginkan itu terjadi.
    Entahlah~
    Belati akan semakin mengiris pilu hatimu, bila ku katakan yang sejujurnya.

    Amanah itu sudah selesai.
    Setidaknya kau lega.
    Bisa saja, kau merayakannya dengan sekedar makan bakso lima ribuan di depan fakultas.
    Sembari mengolok teman-teman "siapa saja yang sudah lulus?"

    Jujur!
    Aku rindu senyum kebangganmu itu.
    Atau senyum menghinamu itu kalau kamu sok tahu.
    Hingga senyum remeh temehmu dalam berbasa-basi.

    Hei, untuk pundak yang semakin ringan.
    Kertas yang masih kosong itu isilah.
    Setidaknya dengan kebangganmu untuk selalu mengerjakan sesuatu.
    Tuhan adalah Maha Benar.
    Maha Sebaik-baik Pemberi Apresiasi

    Baru aku tahu, keputusan itu tak akan berlanjut.
    Hanya ketukan jemari yang mengisyaratkan: Aku berhenti!
    Sudahlah~
    Toh, itu keputusanmu.

    Tapi jangan lupakan hari ini.
    Saat gerimis turun ke bumi dan dambaanmu sudah selesai.
    Jangan pernah kau menghilang.
    Untuk bersembunyi ataupun untuk lari.

    Senang atau tidak, kamu harus berani melewati.
    Hingga kuncup kumbang datang di kelopak mawar, aku selalu menunggu waktumu.
    Kemudian, aku tidak akan segan-segan untuk datang dan menepuk pundakmu.
    Lagi!

    Hei, kita bisa bercerita kembali. Tentang "hal apa yang sudah kita lalui"
    Bukan kita, tapi antara aku, kamu dan mereka semua.
    Aku harap kamu mengingatnya di lorong kehidupan masa mudamu.
    Sekedar untuk datang dan kembali, kini aku pamit!

    ::::




    Apresiasi tertinggi setelah kepengurusan SSC periode 2017
    Dan, terutuk kalian yang selesai dalam menyelesaikan amanahnya.
    Sembari menunggu tanggung jawab yang lain datang.


    ::::

    I don't even know why I'd do this anymore
    Reality Club_Is it this answer_Playing Now!
    Tuesday, 12nd Desember 2017
    22.10 pm

    dan...


    Happy Birthday to me!
    N  a  b  i  l  a    C  h  a  f  a, 
    selamat bertahan di umur 23 tahun sejak 3 Desember 1994.
    Aku mengapresiasi diriku, yang tegar, kuat, bakoh dan masih banyak kontradiksi dalam setiap kata itu. Setidaknya, Allah sebaik-baik pemberi Apresiasi.

    ::::
    Continue Reading

    Ini kisah tentang bagaimana seorang Ayah-Ibu yang mengharapkan kehadiran anak mereka pulang ke rumah.

    :::

    Embusan angin dari arah barat meluluhlantakkan terbangan daun yang jatuh di tanah. Memainkan sedemikian rupa hingga menari-nari mengikuti arah angin. Membawanya hingga nanti jatuh ke tanah, jauh dari tempat jatuh sebelumnya. Hawa yang ditimbulkan membuat manusia-manusia yang berada tak jauh dari tarian angin itu mendadak menggigil. Diusap-usapnya kedua telapak tangan mereka mencari kehangatan. Syal tebal melilit di leher-leher mereka. Tak jauh dari tempatnya berada, perkemahan yang mereka dirikan tidak berdiri tegak. Melainkan mengikuti arah gerak angin.

    “Ih, kenapa telepon di saat yang tidak tepat.” Gadis itu geram.

    “Siapa Na?” tanya temannya. Dia menyesap hangat kopi buatannya sendiri tanpa berniat membaginya dengan kawan lainnya yang diruntuki kekesalan.

    “Bapakku.” Jawabnya ketus.

    Hujan datang tiba-tiba. Berawal dari tetes-tetes kecil, lambat laun jatuh hingga mendesak bumi untuk menerima kunjungannya. Kemudian tak tahan untuk disimpan, seluruh pasukan langit memborbardir dengan kekuatan penuhnya. Menghujani bumi tanpa ampun dalam waktu setengah jam.

    Muka Nasitha keruh. Tentu saja. Sebelum agenda Diksar ini berlangsung, ia selalu ditelepon oleh ayahnya untuk segera pulang. Liburan semesteran sudah datang. Ia justru sibuk mempersiapkan acara Diksar ini berlangsung. Cuaca yang tidak mendukung. Tim yang kurang solid karena ditinggal oleh beberapa teman yang sedang KKN. Ia seakan-akan sendiri dalam menghadapi kenyataan. Ketakutan Diksar ini tidak akan sesukses Diksar sebelumnya. Cih, apalagi junior angkatan bawahnya yang hanya menjadi cecunguk budak prokeryang tidak punya inisiatif. Hanya ngeh kalau dia perintah.

    Dalam persiapan Diksar ini ia hanya bisa menggantungkan pada satu orang. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman jika ia bekerja lebih berat dibandingkan dirinya. Romdon namanya. Bapaknya sakit. Sakit lambung yang membawanya dirawat di rumah sakit selama tak lebih dari tiga hari. Tetapi sembuh kemudian, saat jengukan pertamanya di hari terakhir Bapaknya di rawat. Esok harinya, ia membantu mempersiapkan Diksar. Nasitha dibawa terenyuh oleh keloyalannya.

    Nasitha sibuk mencari pinjaman alat untuk menyukseskan acara Diksarnya, suatu saat.

    “Na, aku ijin.” Kata Romdon di suatu saat dia kerepotan untuk meminjam alat. “Sebentar.” Mukanya sudah keruh.

    Nasitha menganggapnya dengan santai, sembari bergurau dia berkata, “Kamu tega, Don. Ninggalin aku sendirian.” Katanya.Romdon terenyuh. Benar juga. Tidak banyak personel yang ada di kampus untuk mempersiapkan Diksar.

    “Yowis.” Romdon akhirnya menyerah.

    Nasitha tertegun, ia tidak menyangka kalau gurauannya dianggap serius oleh Romdon. Ia bingung harus menanggapinya dengan macam jawaban seperti apa. Tetapi, hati kecilnya merasa senang. Bagaimanapun dia ada teman untuk membantunya. Secara kematangan strategi dia tidak banyak memberi kewenangan pada angkatan bawah. Romdon adalah orang yang ia percayai dalam banyak hal. Kehadirannya sudah sangat membantu,setidaknya ada bahu untuk mendengarkan kefrustasian  menghadapi Diksar kali ini.

    Diliriknya tenda milik Romdon yang berjarak dua tenda di samping kanannya melalui celah tenda miliknya. Ia sebenarnya sudah merasa berhutang budi pada Romdon jika ada hal buruk terjadi. Aku mendengar dari juniornya di suatu pekan bahwa tanpa seijinnyaRomdon pulang ke Boyolali untuk menjenguk Bapaknya. Ia benar benar merasa tidak enak pada Romdon. Seolah-olah dia adalah orang yang menghalang-halangi bertemunya dia dengan Bapaknya.

    Telepon masuk lagi.

    “Kamu dimana? Pulang!” seru Abinya lewat telepon. Di pos satu memang sinyal menerima telepon cukup kencang. Tapi apes. Abinya selalu telepon, menerornya untuk memberi penjelasan ratusan kali kenapa ia tidak pulang ke rumahnya.

    “Bi, aku di Gunung Lawu ini. Badai!” seru Nasitha tak kalah keras dibanding dengan derasnya hujan yang menghampiri Bumi sore ini.

    “Ijin sama Ketua Pelaksananya. Sini, Abi mau bicara.” Jawab Abinya.

    Mati!

    Nasitha membulatkan bola matanya. Ia tercengang tidak percaya. Jangan sampai Abinya tahu kalau dia adalah Ketua Pelaksananya untuk Diksar tahun ini.

    “Orangnya sudah di pos atas. Nggak ada di sini.” Ia berbohong.

    Jeda dua detik. Nasitha waspada jika Abinya bertindak lebih heboh lagi melebihi memanggil ketua pelaksana Diksar.

    “Abi lihat berita di televisi, ada 3 mahasiswa mati karena Diksar.” Cerocos Abinya.

    Oh.

    “Di Gunung Lawu juga.” Tambah Abinya memberi tahu.

    Nasitha juga paham ada berita itu. Itulah kenapa beberapa Mapala yang mengadakan Diksar setelah kejadian itu dibatalkan. Padahal, antara Diksar Mapalanya dengan Diksar kampus di Jogja sudah dibagi tempat pelaksanaannya karena waktu yang bersamaan. Diksar miliknya mengambil rute Cemoro Sewu, berbeda dengan Kampus Jogja.

    “Insya Allah, disini aman Bi.” Sanggahnya. Dalam hati kurang dari dua hari lagi, DiksarMapalanya akan selesai.

    “Pokoknya kamu harus pulang!” Abinya mengatakan dengan tegas dan penuh penekanan. Nasitha memang bebal. Selama lebih dari dua Minggu sebelum dilaksanakan Diksar, Abi dan Uminya sudah mengingatkan untuk segera pulang. Seolah-olah, Abi-Uminya tahu betul jadwal libur kampus melebihi Wakil Dekan I Bidang Kurikulum.

    “Iya Bi, setelah ini aku pulang.”

    Telepon ditutup. Ia tersenyum kecut. Hari ini dia sudah bisa menghindar. Tidak tahu kalau besok. Ia berdoa, agar keberadaannya di Gunung Lawu ini yang besok pagi akan dimulai pendakian tidak benar-benar mendapatkan sinyal. Ia terlalu berdosa untuk mengatakan alasan yang tidak masuk akal.

    ***

    Selesai Diksar, Abi-Uminya semakin gencar merecokinya untuk segera pulang. Biasanya ia hanya mendapatkan telepon sehari sekali, kali ini bisa dua hingga tiga kali. Mengganggu. Apalagi saat seperti ini adalah sibuk-sibuknya dia berjibaku dengan evaluasi Diksar kemarin. Ia terserang flu parah. Uminya bisa menduga dengan tepat saat suara anaknya berubah menjadi bindeng. Khawatirnya minta ampun.

    “Kapan pulang?” Tanya Uminya di sambungan telepon ketika selesai ia melaksanakan sholatMaghrib. Ia berjalan menuju Sekretariat Mapala Fakultas miliknya. Sudah tiga malam ini, dia tidur di sekre. Jika suatu waktu seniornya meminta penjelasan tentang jalannya Diksar yang baru saja dilaksanakan Minggu kemarin.

    “Bentar, Mi. Masih belum selesai urusannya.” Katanya berkata jujur. Memang ia masih belum menyelesaikan beberapa hal lain tentang evaluasi kegiatannya.

    “Suaramu udah aneh gitu. Ini Umi udah jalan mau ke stasiun.” Tambah Abi. Satu sambungan telepon dipakai oleh kedua orangtuanya.

    Nasitha sudah gelagapan. Bingung harus membalas dengan jawaban seperti apa lagi. Semua stok kebohongan yang dimilikinya sudah habis.

    “OJO BIII...” sergahnya cepat saat menyatakan kalau mereka sudah bersiap siap menuju ke stasiun.

    Mati!

    “Aku wis apik iki.” Tambahnya. Selama tiga hari kemarin memang dia terserang flu parah yang menyebabkan suaranya menjadi aneh. Apalagi orang yang mendeteksi penyakitnya adalah Uminya sendiri.

    Kemudian Nasitha bercerita bahwa teman satu jurusannya yang merawat dia selama sakit. Kalau cerita yang ini, ia tidak berbohong. Selain alasan temannya, Roro menginap di Sekre adalah ia berselisih paham dengan ibu angkatnya yang menyebabkan sekreNasitha-lah yang menjadi tempatnya berlari. Selain di rumah, maksudnya.

    Romdon membersihkan sleeping bag yang akan dia kembalikan ke Mapala Garba. Suara telepon Nasitha yang berada di dalam sekre terdengar jelas. Mengingat ini sudah malam dan tak banyak manusia penghuni Gedung Sekre ini di malam hari.

    Telepon tutup. Dengan keputusan ia akan pulang tak lebih dari seminggu lagi. Umi dan Abinya akan mengancam akan ke Solo memastikan keadaan anak semata wayang mereka baik-baik saja.

    “Na, tadi Abimu yang telepon?” tanya Romdon. Ia meletakkan dua sleepingbagyang dibersihkan menggunakan kain itu ke dalam sekre. Nanti, selepas sholat isya dia dan Nasitha berencana untuk mengembalikannya.

    Tidak perlu ada jawaban, hanya anggukan malas Nasitha yang menjadi jawaban pertanyaan Romdon. Ia tengah sibuk membalas chat yang masuk saat waktunya disabotase oleh telepon masuk dari orang tuanya.

    “Emang kalau bicara sama Orangtuamu kamu sekasar itu?” tanya Romdon. Ia malas menyahut. Kepalanya sudah pening dalam artian yang sebenarnya. Hidungnya tersumbat karena flu. Ia tidak memerlukan banyak kata untuk membalas pertanyaan remahan dari Romdon.

    Jeda sepuluh detik. Romdon sibuk dengan melipat dua sleeping bag. 

    “Jangan suka seperti itu Na. Kamu masih beruntung masih punya Bapak. Daripada punya Bapak yang nyawanya mengambang. Mati gak, hidup juga enggak.”

    Jlep! 

    Itu sudah menegaskan kabar burung yang hanya didengardari juniornya. BapakRomdon dilarikan ke rumah sakit. Karena sering muntah darah. Apakah semengerikan itu keadaan ayahnya Romdon. Tiba-tiba ia merasa bersalah untuk kesekian kalinya. Romdon masih di sini bersamanya. Ia harusnya berada di sisi ayahnya saat ini.

    “Ayo ke Garba!” ajak Romdon. Ia sudah membawa sleeping bag ke dalam tas plastik besar. Nasitha patuh. Ia merapikan tas slempangnya. Memasukkan hp-nya ke dalam. Lalu mengikuti Romdon yang sudah berjalan ke arah parkiran belakang gedung 3.

    **

    Hp Nasitha sejak pagi sudah penuh chat Toni, sahabatnya Romdon. Chatitu hanya sapaan biasa. Tetapi berulang hingga lima kali.

     “Na”

    Ponselnya keburu habis baterainya. Chat Toni tak berbalas.

    Sorenya, saat ia mengecek hp miliknya. Toni bertanya dengan pertanyaan yang mengejutkan.
    “Apa Bapaknya Romdon meninggal?”

    Ia terpaku melihat layar ponselnya. Ia gemetar dalam diam. Lalu dilihatnya Romdon yang membersihkan beberapa alat yang harus dikembalikan ke Mapala Kampus lain.

    Romdon sedang bercanda dengan juniornya. Tetapi senyumnya menghilang sesaat. Ketika ia toleh keberadaan Romdon yang sudah berbincang dengan orang lain. Lalu, lenyap. Romdon dibawa oleh orang lain yang tak ia kenal. Bukan anggota anak pecinta Alam. Satu juniornya yang bersama Romdon tadi berjalan kearahnya. Tadi saudara Romdon dari desa. Mengatakan sesuatu yang membenarkan isi chat Toni.

    Bapaknya Romdon meninggal.

    ***

    Lima kali evaluasi lima malam yang harus dihabiskan Nasitha untuk tidak tidur. Sakit demamnya memang menjadi. Tetapi perasaanya mulai lega. Janji untuk pulang ke Tulungagung semakin terealisasi.

    Saat ia melayat, ia bingung. Mengajaknya bicara mengatakan permohonan maafnya atau hanya melihat wajah melas Romdon. Romdon anak pertama dan dalam jangka waktu tak sampai putaran purnama, dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Sedih rasanya melihat Romdon begitu terpukul. Nasitha memutuskan untuk diam.

    Romdon duduk di tengah ruangan. Ia kembali saat jasad Bapaknya sudah dikebumikan. Ia melihat Nasitha bersama dengan rombongan teman Mapala. Lalu ia berdiri menghampiri Nasitha yang melihat kaku ke arahnya.

    Berujar ringan. “Pulang, Na.”

    Disinilah ia berada. Di pinggir jalan, menunggu bus lintas provinsi yang biasa melewati depan kampusnya.

    Ia melambaikan tangan, menghadang dengan satu tangannya saat Bus bertuliskan MIRA berjalan dari jauh ke arahnya. Tas travelbag dijinjing oleh kondektur bus. Cukup membantunya. Ia melangkah masuk ke dalam bus. Berjubelan denganorang-orang yang memiliki jutaan alasan dalam kepergiannya. Yang jelas, tujuannya hanya satu, pulang.

    **

    Paranggupito, Sabtu 4-2-17 pukul 11.40

    :::

    Cerita di balik ini adalah suatu malam Nasitha menelpon aku kalau ayahnya Romdon meninggal. Kejadiannya di awal tahun 2017 tepat ketika aku sedang KKN di Paranggupito.  Dan tepat hari ini (16 November 2017) orang yang pertama kali aku lihat di kampus, selain Listusista adalah Romdon. Seharian menghabiskan waktu berdua. Kemudian, sedetik sebelumnya, Nasitha dengan alaynya mengirim lirik lagu Kesempurnaan Cinta. 

    Butuh waktu lama untuk mengposting cerita ini. 

    Romdon, adalah seseorang yang tegar. Waktu yang membuatnya menjadi seperti ini. Dan untuk kalian, jangan lupa untuk pulang. Itu pesanku.


    ----  N  a  b  i  l  a    C  h  a  f  a  -----
    16 November 2017, sehari selepas pulang dari Pare 
    di wifian dengan ditemani dua lelaki yang tidak aku kenal, depan gedung 3 FIB
    17:34 pm
    Continue Reading
    Halo mentari pagi yang masih sunyi.

    Kukirimkan tanda tanya terbesarku untuk rasa penasaran. Atau, jawab saja dengan jujur tentang kegundahan yang tengah aku rasakan. Aku masih tidak tahu apa apa. Hidup terlalu rumit untuk menjawab pertanyaan satu per satu. Tentang sebuah tanya yang mungkin susah untuk dijelaskan.

    Hari ini aku akan bercerita tentang separuh cinta yang belum terbasuh sempurna. Tentang perasaan kehati-hatian. Bagaimana menjaga hati dan memeliharanya agar tidak berkelana kemana-mana. Cukupkah dengan satu orang yang selalu menjadi tambatan hati. 

    Untuk seseorang yang masih disembunyikan oleh Tuhan untukku. Sesungguhnya aku masih penasaran. Bagaimana bisa seseorang tinggal lebih lama dalam ketidakpastian. Tapi, rahasia Tuhan selalu tampak lebih sempurna ketika hamba-Nya begitu penasaran dengan apa yang dirahasiakan-Nya.

    Jalan setapak masih panjang untuk dilalui. Bahkan dengan hanya sendiri. Kelihatan sebuah titik yang tak tampak untuk disibak. 

    "Jadi bagaimana?"

    Suatu ketika kamu bertanya, dalam separuh napasku masih terengah-engah.

    "Aku tidak tahu. Jalani saja hari ini. Tidak perlu terburu-buru." Kataku. Nyaris sempurna membuatnya terheran. 

    "Aku takut." katamu. Dengan rasa penasaran yang membuncah, sebenarnya aku menyembunyikan fakta bahwa aku juga takut. 

    Aku terdiam. 

    Untuk seseorang yang jengah menunggu seperti dia, semoga Tuhan menjaga hatinya. Setidaknya agar dia tidak terluka. Atau beri aku sedikit kekuatan untuk memberinya jawaban. Setidaknya yang realistis dan mampu membuatnya membungkam tentang rasa penasarannya.

    ***

    Langit berarak. Membawa partikel embun yang jatuh. Hingga bau petrichor tercium di hidung perempuan yang merenung di bawah atap genteng rumah. Menatap kesunyian sambil berpikir panjang. Tentang sebuah ketakutan yang kala waktu akan dia rasakan, jika satu kesempatan saja yang hampir digenggamnya menghilang. 

    Bersandar pada tembok dinding yang tipis. Rasa dingin dan menggigil dirasakan di kulit punggungnya.  Gadis itu adalah seseorang yang mendeskripsikan dirinya menjadi tokoh pertama dalam cerita singkat ini. Masih berpikir panjang tentang banyak hal yang masih belum terjamah. 

    Tentang dunia fana yang penuh teka teki tak terpecahkan. Bahkan setiap detiknya adalah labirin yang membuatnya bingung mana arah yang akan dia pilih. 

    ***

    Perasaan itu akan membuncah menjadi gelegar yang sulit untuk dikendalikan. Kendalikanlah hati kamu, setidaknya dia mampu mengendalikan kehati-hatian kamu dalam bertindak. Perasaan yang akan meledak bisa sedikit tertahan dengan sebuah rasa kewaspadaan. "Jika kau berani melangkah lebih lanjut, kau juga harus berani mengambil resikonya."

    Tapi bukankah, hidup adalah rentetan hal yang penuh resiko. Siap atau tidak, memang sudah waktunya kau harus mengambil tindakan. 

    Hati begitu rapuh untuk sebuah tindakan yang beresiko. Setidaknya akal akan menjaga dan memahamkan kita tentang arah langkah kita selanjutnya. Sebuah cinta yang masih terpendam di alam semesta dan terbuka pada sebuah titik kemustahilan, suatu saat akan terbuka. 

    Hai Mentari Pagi yang penuh cinta, aku masih menunggu untuk mengambil tindakan apa yang pantas untuk aku lakukan esok hari. 

    ::::

    Nabila Chafa, 
    5 November 2017
    di Kosan Ridho Borneo
    ditemani Zealandi Sarah yang menonton Film dan Keyra Ukhti yang sedang melipat baju
    20.04 malam.
    Thanks untuk Taeyeon untuk lagunya. Dan AKMU "Dinosaur" lagu of the day untuk hari ini :))

    ::::


    Sedikit berbagi foto keseruan tentang pengalaman menikmati pagi di hari Minggu kali ini. 







    Thanks Untuk Zealandi Sarah untuk berbagi sedikit kenangan hari ini. Untuk keahlian panjat sosial yang memang harus aku upgrade. Dan semua keahlian tak terduga yang harus aku asah. Tentu untuk Kosan Cowo (Azzam, Mas Yusuf dan Mas Faizal) yang sedikit berbagi buah rambutannya. 


    Malam yang gabut untuk menulis postingan seperti ini. Karena blog adalah kenangan terindah yang harus dibagikan. Siapa tahu untuk mempermudah pengarsipan sejarah hidupku :P

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (3)
      • ▼  Aug 2026 (1)
        • Soal Seprei
      • ►  May 2026 (1)
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top