Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini
    Nggak papa buat kita istirahat sejenak.

    Dulu kita selalu diceramahi, didengungkan, dinasehati, agar bisa ngelampaui keberhasilan orang lain. 'Tuh lihat dia aja bisa ranking satu, harusnya kamu bisa', atau 'dia aja bisa gini gitu, harusnya kamu bisa juga'. Trus banyak dari kita dicekoki sama buku buku motivasi bahwa kita bisa melampaui batas kemampuan kita. 

    Benar. Semuanya benar. Nasihat itu tak pernah salah alamat. 

    Aku juga percaya bahwa keberhasilan seseorang bisa dicapai, bisa direbut. Kuncinya kalau ada kemauan buat membuktikan. Katakanlah, lewat kerja keras, lewat perjuangan dan bla bla bla lainnya.

    Tapi yang jadi masalah akhir-akhir ini, jika sudah mencapai suatu keberhasilan tersendiri suka disalahgunakan pihak-pihak tertentu, termasuk kita. 

    Pertama buat pamer keberhasilannya. Wah ini fiks racun dan ngracuni banget. Dia cerita pengalaman, jatuhnya malah menonjolkan ke-aku-an-ku. Ini aku juga perlu merefleksi diri sih. Terkadang suka berpikir dan berperilaku demikian. 

    Sekedar pamer dan sharing emang beda tipis emang.

    Kedua. hal yang paling menjengkelkan selanjutnya jadi bandingan. Misal sama-sama mempunyai keberhasilan beli rumah, katakanlah demikian (dalam hati teriak Amin kenceng). Yang kayak gini ini bikin hati jadi runyam auto sakit hati. 

    Udah beli rumah di kabupaten, eh disindir mending di kota. Atau mampu beli di pinggir kota, disindir mending di kabupaten yang harganya murah, dan lain sebagainya-dan lain sebagainya.

    Yah, terkadang membungkam mulut orang yang turah energi itu menjengkelkan.

     Lebih-lebih di era sekarang. Semua orang punya kapasitas dan kemauannya sendiri. Punya mimpi sendiri. Lebih baik ngontrak daripada kpr. Atau lebih baik kpr daripada uang habis di kontrakan. Laah perdebatan yang tiada akhir, emang. Ya mbok ya udah.

    Mending mensholawati niat baik orang-orang lain dengan segala impiannya, dan tak lupa pula berdoa agar dimudahkan jalan kita menuju impian kita.

    Gitu.

    (*)

    4/3/2021
    Hari yang baik kan buat menjalin hubungan?
    Heh lebih baik ntar malam mikirin gimana caranya tidur nyenyak dan mimpiin johnny suh sih.

    Tolak Ukur Keberhasilan



    Continue Reading

    “No one is sitting around just contemplating how they can help you find your dream job.” —Ken Coleman


    A few days off like right now on Wednesday-Thursday is so refreshing. Something happened like BOOM, on yesterday.

    Literally just found out at tuesday. My Manager give intruction about my task. We've been done the task before hmm... a year ago. Yes, Finally we realized that time flies so fast.

    Okay, continue on!

    'Yo, you have to make a great title for your article'

    'Yo, you know what, I realized that your team made an article just so ordinary, make it boom'

    'Yo, you must thinking that much. Focus on point your title!' 

    'Make an exaggerated point!' 

    Just like that. So I have to learn more again to make a great article aka clickbait point, for whose people invested their time to read.

    *

    Just working isn't easy. Cause working is just not for paying your bills right? 

    "According from Harvard Business Review (17/02), work provides us with more than a paycheck. It gives us recognition, status, belonging, self-esteem, and reinforcement of our self-concept. Research also shows that having a strong work identity (defined as how important your job is to who you are) can be tied to your wellbeing."

    So, when we working, everybody must be improved all the time. Everybody have learned something new. Just like me, just like us, so working isn't easy anymore. Something interesting. We have to adaptive, innovative, and many more to do something while working. 

    We feel like missing something when its loss. Cause, we do something repeatedly like habitual. Honestly, I miss  alot when I didnt work so much Or I didnt going like that anymore again.

    I am blessing. Found out that my job that adequately fulfills my profesional and economic needs. Hahah, alhamdulilah. I know that everybody not as lucky as me. Honestly, I have privilege that nobody didnt have.

    Unlucky I have to be more adaptive for all conditions need. Just like a days ago.

    YES, I got some point that wanna share about career advice (like always, I didnt intention to patronizing). But,  I just share my random thought and advice from somebody outside there. Its like a trash when setteled on mind, right.
    PRACTICE

    Like I said before. We are getting a job, so we doing the same thing all the time. We practice, do the best, learning something new, growing our ecosystem. 

    I know, we know, we both know that practice doesnt paid you well. But nobody's know. Remember what Yayak said that we practice more, we create more chances, and along that way we meet 'lucky time'. And now, I believe. 

    Even that time i didnt meet my 'lucky time', just wait and see. I have to create more chances on the Future, right. 

    HAVE A MENTOR

    I always learned about leadership from my leader. My team leader, my manager, and everyone who inspired me. We have a good friend, best team leader, and best manager, and everybody around us. They are inspired me to do something new. Growing together always. Improved skill. Or whatever. 

    Mentoring at work is an effective way of helping people to progress further in their chosen careers.

    I know it for the Linkedin. Thanks before.So important for us to have a mentor.

    Just 2 point before is a key. My working experience is 2 years, cannot be guide yet. But, I hold firm the 2 point before for guidance. 

    Hope everything will be fine. For us. For our job.

    **

    16.21 
    18/2/2021

    random thought from the minimalism podcast about advice career



    Continue Reading

    Aku mau bikin opini soal 'How Democracies Die', buku yang lagi hype buat hari ini. Karangan pakar politik dari Universitas Harvard Amerika, Steven Levitsky dan Daniel Ziblatt, pada 2018. Tapi kok belum sanggup buat ngomong, takut salah, takut ilmunya gak nyampe dan lain-lain.

    Tapi kesel juga sama keadaan saat ini. Mau ngomongin karangan dua pakar politik dari Harvard aja mungkin kondisinya lagi related banget sama manajemen konflik yang dipertontonkan pemerintah akhir-akhir ini. Bikin muak. Semuanya saling tuding, saling nyalahkan, pendekatan 'baik-baik' yang jadi nilai khas adat Timur seolah hilang, semuanya pakai otot ajaa mikirnya, heuh.

    Ah daripada itu, aku mending berbagi opini soal kenapa isu atau topik tertentu bisa hype banget. Dan bagaimana peran media massa. 

    Kenapa aku bikin, karena aku merasa resah aja, kenapa sih setiap berita FPI selalu naik aja. Selalu yang buruknya yang naik. Citranya seperti jelek mandraguna. Padahal sebagai 'orang yang beragama' mereka harusnya lebih santun dan lain sebagainya.

    Jadi, jawabnya adalah : kita berbicara mengenai algoritma. Ya, apalagi di dalam membuat konten digital yang semuanya ada teknik SEO-nya. Bagaimana konten atau artikel itu bisa mendapat posisi teratas di dalam search engine. Yah, lagi-lagi kita berbicara mengenai mayoritas.

    Framing yang dibawa media massa soal isu tertentu bisa bakal naik dan diterima pembaca luas serta menduduki posisi tertinggi di search engine, dibuktikan dengan traffic beritanya naik, semakin membuat pembuat konten akan memproduksi hal yang sama lewat angle yang berbeda.

    Dan lagi-lagi, hal ini dimenangkan oleh FPI.

    Ambil contoh hal yang lagi naik-naiknya adalah gontok-gontokkan antara Pemerintah dan FPI saat ini. Apapun yang lagi dilakukan FPI bakal naik. Kita bicara apapun! Padahal kalau mau apple to apple, --hm, mau sebut ormasnya gak ya, galau akutuh-- sekarang FPI jadi sorotan karena mereka bikin kerumunan. Semenjak pulangnya pemimpin tertinggi mereka sampai maraton acara-acara yang menyedot kerumunan. Sebenarnya, di waktu yang sama pula, ada juga kok organisasi islam besar di negeri ini yang membuat acara yang menyedot kerumunan tapi gak ada nilai beritanya. Padahal jelas-jelas dua-dua organisasi massa ini membuat kerumunan loh. Yang satu media darling, dan yang satunya tidak mendapat sorotan publik.

    Soalnya keterikatan 'benci'-nya publik pada FPI sudah mendarah daging bung, jadi kalau udah bawa perasaan ya susah. Inilah yang membuat radar pemberitaan soal FPI tinggi. Padahal kan ada tuh organisasi islam yang udah terkenal dan punya massa bisa ngalahin FPI tapi nggak ada nilai beritanya.

    Mau apple to apple sama kasus kerumunannya Gibran saat mendaftarkan Wali Kota Solo yang juga bikin kerumunan, kenapa diperbolehkan. Yah karena kalau kata Mabes Polri, beda hukumnya antara manusia sipil macam Rizieq sama Gibran. Kan tujuannya beda. Satu bikin pengajian Maulid yang satu kontestasi politik daerah yang mana ada Undang-undang soal Pilkada-nya. Ah, kalau komentarku sebagai orang bodoh ini : lha wong tujuannya sama-sama bikin kerumunan yaa sama aja dong. Gitu kalau orang bodoh kayak aku komentar.

    Engagement atau keterikatan publik soal isu-isu tertentu bisa dicap selamanya jelek. Wong sudah mendarah daging. Sebut aja, soal kenapa bikin berita soal Korea Utara selalu naik. Padahal kita aja tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi sama Kim Jong Un. Apa bener Kim begitu beringas? Nggak punya hati buat bunuh siapa saja lawannya?

    Ini (analisa) pengamatanku, kebanyakan media massa dari Indonesia lebih banyak mengutip sumber dari reuters. Kita nerjemahin beritanya dan di up lagi. Orang akan tertarik dengan Korut karena engagement dengan publik kita seolah kembali menegaskan citra yang sudah dibangun soal Korut. Negara tertutup, dipimpin presiden yang kejam, beringas, tidak mempunyai nilai kemanusiaan, rakyatnya menderita, bla-bla-bla. Padahal kita tidak tahu persis, bagaimana reuters mendapat berita dari mana. Dan bagaimana penilaian jujur rakyatnya sendiri soal pemerintahan mereka. (Aku berkeyakinan, apapun sistem negaranya, yang namanya kekuasaan ya seperti itulah. Hampir seluruh negara, nggak ada yang lagi baik-baik saja sama negaranya). Jadi, peluang untuk membuat 'menguntungkan kepentingan tertentu' bisa saa terbuka lebar kan?

    Sama juga, kayak pas pilpres AS kemarin, aku pantengin dari mulai kanal berita Fox news, MSNBC, guardian, apapun. Ada kok yang terang-terangan berafiliasi dukung salah satu calon tertentu. Kalau contohnya Amerika terlalu jauh, tengok apa yang terjadi di tahun 2014. Bagaimana stasiun tv Indonesia terbelah kubu antara tvone dan metro. 

    Lagi-lagi semua ada kepentingannya. Aku cuma mau ngajak sih, agar kita semua dijauhkan dari hal-hal yang mengedepankan perasaan belaka. Udahlah apa itu cebong kampret. Kalau salah, dibenerin dah. Aku gak paham sih, berasa kalau pemerintah kita lebih ke 'membiarkan' pertikaian antarsaudara ini terus terjadi. Sering jatuh menjatuhkan dan menjelekkan saudara sendiri. Ei, itu Space baru aja ngluncurin roket kemarin banget. Masak iya, iklim demokrasi negeri kita masih dipertontonkan ke hal-hal receh dan baper kayak gini.

    Mau sampai kapan?

    Kalau kita bisa menyaring lebih jernih, yok. Berpikir dua kali. Atau kroscek pemberitaan yang berimbang, biar akal terus sehat. Biar nggak main kubu-kubu-an.

    (Ah, tapi susah sih ya?)

    (*)

    Minggu 22/11/2020
    21:11
    Baca The Black Swan sampai hlm 41





    Continue Reading
    Hei!

    Its 13:00 pm at Thursday. In the same time, I join at Webinar. Just waiting this talkshow will going on. I dont know why, I have been realized that I quite lazy for making a post at this blog. Maybe aroud 2 weeks. But seriously, I have a lot of list on my journal what topic I gonna share with.

    Life is fluctuating. And here I am. I have been in lowest shocks at the momentum.

    Just trying figure it out. You know that I recently deleted instagram apps for some reason. Maybe my brain needs taking a long time for to go back again. Its not false being instagram room. Just sharing and whatever you want to do. But, every social media has its own segmentation. Hm, and Its hard for me to able join this room.

    But today, I just wanna share what I recently doing for past a few days.Yess! I recently make gratitude journal. Jurnal Syukur everyday.

    My gratitude journal

    This is be able my new experience before I go to bed. Making gratitude journal. Not just journaling. Its not hard anymore. O ya, I started making journal everyday from within last year.

    2019, this year, I've been looking for methods or systems to incorporate to myself more productive, more effective, more balanced. Because my brain always thinking so hardly make my own problem has been solved effectively. Yes, called it "quarter life crisis" or whatever you wanna called.

    SO, making journal such a compliance my soul, haha, I dont know how to describe it so well. Like, when I visited other rekan kantor which is not on a good way for life. They are just enough with standard city salary  (UMR) and have to spend their cost for living, another bill, and etc. I thought that I am on the stable enough. Like, I have privilege that I was born on better family.

    You're on the blessing place for life, dude. 

    My random mind always takes on the right way.When you're compare your situation with the other people who unlucky enough from you, like your thought is driving crazy. Does the world work like this? Or, I am good enough to know how struggle they are. Such a gratitude, blessing, and sometime my problem is just paltry.

    Oke, go back to my topic.

    I wrote what happened this day, what I feel, what I thinking about, and some reason what I doing this way. Its important doing for each activity for asking with "WHY". Why you doing this way? Why you should do this, or something else.

    Thanks for Benjamin Franklin for such inspiration. He is a founding father, incredible inventor, and you're maybe miss his face when you didnt have a dollar. Ben always asking for himself, such the question : "What good shall I do this day?", "What I have done today?"

    Its fantastic question for taking my mind goosebumps and thinking so hardly. Oke, for following up Benjamin inspiration, I am making gratitude journal.

    My gratitude journal

    I download apps Presently : Gratitude Journal, you should try this. But on apps like a diary. What such meaningful things that you think its gratitude enough for your day. Like, maybe yesterday, my little sister, Mama learning how to sell hijab on online shop.

    I just teached her to make a caption on her instagram, how to make people interested about what your selling, or algorithm of social media. I proud enough about her first step.

    Just a small things sometimes. When the day I opened up what I doing recently today, I just walking around from this obstacle before.

    LAST, maybe my new activity such a not fun, boring enough, or whatever you wanna say, but seriously, its like investation. Hm, I dont know how to describe on one word and make it so clearly.

    Indeed from just thought Ben Fraklin doing a journaling like what I mention before, I learned much like determination of consistently that you doing day by day, also make sacrifice that you have to make it. The goals that you are trying to accomplish at every mission/target/goal with always taking a breath for blessing and gratitude. Despite it was very challenging enough to make consistently. 

    Again, I felt doing this things so valuable. I discover that I enjoy that time and reflected about what going on. And think ahead.

    My Gratitude Journal

    Such a soso day,
    23/07/2020
    14:26


    Continue Reading

    You know what marriage, patriarchy, and talked about that shit almost on my twitter timeline recently. It'll be worst decision ever to follow all controvercy account. Like someone who tell about urban planning, sometime they have been talked what anies baswedan does or compares to the other leader, nevertheless focused on disgusted thing. Reluctantly, my hand can't handle to stop following what that account say. 

    Its been fed up! 

    Come on, Twitter doenst mean worst application ever, just humans behind them can make it works. Sometimes a little to much fun, but fun nonetheless.

    But, wait! I dont bring this issue come here at that moment yet. For a while, we keep the moment and  accompolish that topic for last. 

    I wanted to recap what I've just doing for 3 days later. Okay, I spent much time to watching all movies. Most of them was romantic-comedy. 

    1. 

    First thing first is All The Boys That I Loved Before. Its been cringe, classic, and cheessy relationship. And I enjoyed to finish it. 

    My worked started at 1pm, so this movie accompany me so early. Seriously, it will be fun to watch. The Story tell about Lara Jean is ordinary high school who just keep that feeling just a letter. And Peter Kavinsky, a lovely character who made me falling in love. For completely, you are just surfing on Internet for detail. 

    I am not biggest fan Noah Centineo. Last year, I watching The Perfect Date, Swipped, and many more. But, in this movie I dont know that my feeling so blowing up. Haha. Its nice to see many teenager feel the same way. 

    2. 

    Perfect! Days 2 is continuing what happened about this series. I talked about To All The Boys : I still Love You. I admit it, that the story a little bit boring. It likes watching Kdrama on 12/13 episode. Because at that moment, they have been together and split up. And realize that they are still falling in love. Thats it. 

    Oh yah, I bought some epub this series on Google Play Book. But you know that, can you imagined Jenny Han story, right? Based on what I read on Indonesian translated book, shout out to Its Not Summer Without You series. 

    The theory of making story was destroyed. I heard about it when Bernard Batu Bara teached me how make great story at begining. That people who appeared at first chapter is key. The persons at first chapter recap how important they are for the whole story at all. 

    While I reading this series, (because I knew who is important Peter Kavinsky from watching first this movie !), Peter Kavinsky appered on the middle. 

    AND lovey-dovey-story is not been failed at all. 

    3. 

    The Proposal

    Yeah! 

    We talked about Ryan Rynolds and Sandra Bullock. Its cheesy because its old movie. And just watching, you know that Andrew (Ryan Rynolds) fly from Alaska to Toronta to propose Sandra Bullock (I forget name character of Sandra). 

    4. 

    Today, I watching Life as We Know It. Suprisingly, I didnt much comment. How great this movie it was! 

    Talked about fated Holly and Eric. They have to raise their friend's child because accident. Its juggling about commitment, carrier, and their (Eric and Holly) relationship. 

    I dont know how to continue what going on here. Why I spent much time for watching movies, cause you know that the reality always be sucked everyday. 

    Argh! 

    ***
    July, 16th 2020
    21.22
    Thursday : HOLIDAY


    Continue Reading

    Sebut Saja Instagram Itu Racun!

    Mungkin kalimat di atas pernah aku lontarkan di akhir tahun 2017. Kenapa? Saat itu sedang sibuk-sibuknya ngurus skripsian dan banyak konflik berserakan yang harus aku bereskan. Dan, laman instagram pribadiku lebih banyak menampilkan "keindahan" dari pencapaian orang. Aku lupa follow akun siapa saja, yang penting, mostly, adalah teman-temanku. Entah itu teman yang mana, yang penting keberadaan mereka menjejak dengan peninggalan yang harus aku lihat lewat jejak digital yang mereka tinggalkan.

    Aku ngiri? Jelas. Haha. Gak mungkin aku secara gamblang mengatakan, aku baik-baik saja dengan mereka semua. 

    2017 akhir aku sepakat harus saying goodbye. Itu mungkin satu dari sekian banyak hal paling yang berani. Diam-diam kabur sama seperti yang dikatakan Moon Kang Tae.

    "Jika hidup ini menjadi sangat menyiksa, solusi termudah adalah kabur." (Moon Kang Tae) 



    Sebelum Kim Soo Hyun mengatakan itu di drama Its Okay Not To Be Okay, aku sudah melakukannya, sayang. 

    2018, dimana momen terberatku secara psikologis namun juga tahun penuh syukurku. Beruntung sekali aku mendapatkan dan menemui 2018. Meski begitu, tahun itu, aku masih di tahap untuk mengurung privasiku serapat-rapatnya. Aku melihat lagi postingan di blog tahun 2017 yang ternyata sangat-sangat normal. Masih waras. Coba klik saja!

    Take a Look!

    Saat aku lihat, aku masih ada energi untuk membuatkan cerita pendek yang aku dedikasikan pada Romdon. Romdon adalah lelaki yang biasa, tapi setidaknya dia sabar menemani teman-temannya yang lain. Ketika itu dia kehilangan bapaknya. 

    Take a Look! (2)

    2018 adalah tahun penuh kesuraman. Tapi banyak makna yang berserakan. Aku mengumpulkan maknanya dari kejadian setiap orang. Kemudian mendapatkan secercah (bahkan senokhtah) rasa syukur yang tiada hentinya. Setidaknya begitu, aku menjalani tahun itu. 

    Jika menelisik apa yang terjadi di tahun kemarin (2019) bisa dikatakan tahun tersebut adalah masa stress healing-ku. Cukup menyenangkan, banyak cerita yang aku dengarkan melalui podcast, termasuk cerita horor, banyak lagu bagus yang aku dengarkan. Terima kasih indie folk central dan alexrainbirdsmusic. 

    ((Bahkan ketika aku menulis postingan ini aku pun juga mendengarkan San Cisco - On the Line.))

    Kembali ke bahasan instagram! Mulai berdamai dan kembali install aplikasi ini di tahun 2019. Tepatnya di awal bulan Desember 2019, karena handphone baru. Aku mencoba dealing dengan mengatakan pada diri sendiri, nggak papa kok, mencoba sedikit terbuka.

    Dan aku melakukannya dengan baik. 

    Apakah ada rasa penyesalan? Harusnya tidak ada. Sesederhana orang install instagram pada umumnya. Membutuhkan eksistensi diri atas keberadaanmu di hingar bingar dunia maya. Meskipun, aku tidak peduli, siapa yang akan melihat story-ku. Toh, aku membuat story juga sebulan sekali, i mean, aku gak cukup mampu memanajemen sosial media. Posting foto? Dude, terakhir yang mempostingnya di Desember 2017.

    Kembali ke kronologi!

    Tahun 2020, di bulan Juli tanggal 7, berarti sudah terhitung 7 bulan sudah aku kembali aktif bermain sosmed. Bermain sosmed di sini lebih banyak ke akun instagram. Dimana aku spending time sekitar 1 jam lebih 12 menit (menurut rata-rata aplikasi instagramnya itu sendiri). Aku gak tau kebanyakan orang bermain sosmed apalagi di instagram berapa lama. Mungkin, aku terlalu too much saat tahu angka bermain sosmedku segitu, apalagi di saat pandemi seperti saat ini. Kamu mengharapkan hiburan dari mana sih? Kalau tidak salah satunya lewat instagram?

    Lalu apa sebab musabab harus uninstall lagi?

    Mungkin pucaknya terjadi kemarin lusa. Di tanggal 5 Juli aku merepost postingan temanku dan membuatnya di ig story. Kemudian, aku tulis dan membenarkan, pernyataan bahwa aku menghilang dalam kurun waktu tertentu. Di status itu pula, aku menuliskan aku bukan lagi menghindar dari sosmed tapi aku bahkan mematikan handphone dengan kesadaran penuh selama mungkin hampir 4 bulan. Mematikan hp dalam arti yang sebenarnya. Tapi faktanya sesekali aku hidupkan, buat ngecek dia masih layak digunakan atau tidak, tapi dengan posisi paket data tetap aku matikan. Jadi ya begitulah, anggap saja hp benar-benar dalam kondisi mati. Bisa dibilang apa, kalau hp nyala tapi tidak nyambung ke internet, ya kan?

    Kemudian, satu dua tiga temanku mengomentarinya. Kebanyakan teman lama dari SD dan SMP. Aku mengatakan bahwa aku menghadapi momen yang tough. Haha! Katakanlah demikian, aku menghadapi masa sulit tapi aku berdiri sendiri. 

    Aku ceritakan kisah sebenarnya. Iya, aku menghadapi kenyataan sulit pada tahun sebelum ini. Aku mencoba berdiri sendiri. Sebagai anak pertama yang tidak tahu nyambat ke siapa, berkonflik dengan orang tua (karena disuruh kuliah, aku gak mau), menutup semua pertemanan (karena mematikan hp selama 4 bulan itu), aku berasa gagah buat bangkit dari kerapuhanku dan berdiri tegak.

    Iya itu sulit. 

    Sendirian adalah hal yang sulit, tapi maksudku, meskipun kenyataan yang aku menyadarinya sekarang itu adalah hal yang sulit, sebenarnya aku lupa menyelipkan fakta sesungguhnya. Bahwa aku pun bahagia dengan kondisi seperti itu. 

    Obrolan via dm itu sangat panjang, aku harus berkali-kali menjawab fakta yang sama dengan orang-orang yang berbeda. Kemudian, satu temanku ini memancing apa karena toxic positivity yang aku dapat? Enggak juga, aku kan tidak menerima sentuhan kata-kata semangat dalam lingkaranku, karena keburu kabur terlalu cepat tanpa meninggalkan jejak. 

    Tapi memang benar iya. Aku berada di lingkaran pertemanan yang semuanya teratur mendeskripsikan hidupnya. Cambukannya sederhana, mengabdi, berkontribusi, menjadi bermanfaat atau kata lainnya yang mewakilkan dua kata itu. 

    Dan aku gak mau. Aku gak mau hidupku harus termotivasi untuk melakukan hal-hal itu. Sungguh! Entah kenapa aku mendadak merasa terintimidasi dengan segala kalimat yang menyertainya. Nah, mungkin itu alasan radikal aku meninggalkan instagram itu sedemikian lama, dan lama pula menyembuhkan waktuku di sana, karena aku merasa bergesekan dengan hal-hal itu.

    Bahkan ketika aku kembali (dalam arti membuka sosmed dan kembali scrolling), aku masih menemukan berserakannya hal-hal itu. Tapi aku lebih bisa dealing. Maksudku, ketika adek tingkatku membuat desain dan opininya tentang hidup dan bla-bla lainnya (sebenarnya ingin segera unfollow, tapi apalah daya itu seperti tindakan pengecut saja dan pada akhirnya tidak aku lakukan). Aku lebih banyak diam.

    Sama seperti tujuan aku membuat blog ini, aku ingin bersenang-senang. Dengan bedebah isi otakku. Aku tidak harus mendapatkan dukungan, atau jika dibaca syukur jika tidak yaudah. Anggap saja ini arsip hidupku bahwa pernah aku berpikir alay juga.

    Tujuanku sama dengan instagram. Aku ingin bersenang-senang. Time line isinya desain arsitektur, lukisan abstrak (aku follow beberapa artist lukisan abstrak, termasuk di dalamnya choi seung hyun, top big bang yang rumahnya isinya galeri seni), potret kota london, pretty london, amsterdam, atau apalah itu yang ngasih gambaran nyata pemandangan yang benar-benar terjadi di negara lain, terus portal berita, washington post, kompas.com, bbc news, tak lupa bookstagrammer.

    Titik dimana semuanya hal yang artsy, tiba tiba aku harus berdialog panjang lebar mengenai diriku di sosmed, itu menjadi turn point-ku. Aku tidak menyalahkan fakta yang sebenarnya terjadi, yang aku sesalkan justru lebih ke tindakan-ku. 

    Alay sih kalau dipikir. Tapi entahlah. Momentum kemarin, aku jadikan titik balik untuk kembali berseberangan dengan platform instagram. Menjadi orang yang dirundung kekepoan dan bertukar pikiran mengenai apa yang aku lakukan sampai menguras rasaku. Sampai aku sedikit banyak harus mengulang apa yang terjadi (pada momentum aku menghilang) itu pada temanku (yang membuat postingan itu, read) melalui chat wasap. 

    Ah seharusnya, aku tidak terlalu terbawa suasana. Hal itu yang aku sesalkan. Bukan pada postingan atau fakta yang sudah ada itu. Tapi pada manajemen rasa yang aku beri walau sedikit setiap aku membalas semua jawaban diskusi itu dengan teman-temanku. 

    Lagi-lagi, aku tidak ingin membangun sebuah ikatan emosional dengan dunia maya.

    Tujuan yang awalnya bersenang-senang lewat instagram kemudian bergesekan pada tujuan yang tidak seharusnya, itulah alasan (mungkin) untuk kembali lagi kabur, dalam arti sebenarnya.

    Kapan aku akan kembali? 

    Kamu hanya perlu percaya pada takdir, nak. Kalau takdir yang aku hadapi indah dan baik-baik saja, kita akan bertemu di sana.

    09:22
    07/07/2020
    Tanggal cantik untuk keramas sebelum bekerja

    ***

    Uninstall Instagram untuk Kedua Kalinya!
    Continue Reading
    Hari ini, aku tertampar pada kesadaranku sendiri. Realitas yang ada dibenakku meski kadang sering aku abaikan. Entahlah.

    Mari berdialektika. Semua yang ada di sini adalah proses aku mengenal diriku dengan aneka ragam persoalan, pilihan, dan pemikiran  yang pernah terjadi, baik yang kurasakan atau apapun itu jenisnya.

    Jake Frew beberapa kali menamparku. Satu hantaman pertama, aku hanya "oh, aku tahu itu. dan aku juga merasakan hal yang sama." Hari ini godam yang kedua, nggak begitu sakit, karena aku gak sakit, tapi setidaknya tersadar. Dia berkata :

    Following your dreams won't make you happy.

    *

    Benar. Katakanlah begini, dulu saat aku masih menjadi mahasiswa baru dimana lingkungan pertemananku kebanyakan mendapat beasiswa bidik misi. Aku yang menjadi anak yang alhamdulillah cukup mampu, namun begitu ada secercah hasrat untuk mendapatkan beasiswa juga. Maka jadilah, pengumuman beasiswa PPA di semester 3 aku coba. Tak dinyana, aku gak masuk dalam jajaran orang yang mendapatkannya.

    Gakpapa. Emang Allah ngasihnya belum di sana.

    Melihat perekonomian keluarga (yang alhamdulillah berkecukupan dan mampu untuk bayar kuliah) aku memutuskan untuk menyerah. Setelah beberapa semester aku mencoba masukin beasiswa PPA. Bukan dalam arti yang benar-benar menyerah dan tidak mencoba, tapi lebih ke pasrah. Udah ah, capek. Toh, ga bakal dapat lagi, gtu pikirku.

    Sebenarnya alasan aku melakukan ini adalah hanya untuk saving money. Uang dari orang tua selalu habis untuk segala aktivitas sok sibukku. Iuran ini itu, beli jaket, jajan, dan bla bla lain. Tapi emang begitu adanya. Aku hanya membutuhkan sumber pendanaan hanya untuk tabungan, yang nyatanya itu sebenarnya bukan suatu hal yang penting aku lakukan. Yang ternyata, uang saku orang tua yang aku tabung sangat sangat cukup untuk ganti hape baru. Pada masa itu!

    Kemudian, seleksi berkas beasiswa aktivis itu datang. Tepatnya pada 2016. Sebenarnya niatnya iseng. Siapa sih yang bakal bener-bener akan dapatin ini beasiswa. Toh, beasiswa ini hanya untuk kalangan aktivis seperti BEM gtugtu.Siapalah aku? Jadi mengikuti seleksinya saja niatku hanya nyoba-nyoba aja.

    Dan jebul keterima. Aneh kadang takdir mempermainkan kita.

    Dapat uang saku 800ribu satu bulan selama setahun sangat sangat cukup banyak bagiku. Uangku bahkan tertabung sampai 3 jutaan. Lumayanlah, untuk anak yang tidak ada kebutuhan bayar kos, bayar print, kertas, makan dan lainnya.

    Menurutku, raihan atau sekedar mempunyai mimpi mendapat beasiswa itu kenikmatannya sampai di sana. Sampai kamu mendapatkan hal itu. Habis itu lost, hilang tak berbekas. (I mean, masih tetap ada bekas dalam arti nilai, prinsip yang diajarkan, lingkaran pertemanan, ketemu orang hebat bahkan pejabat dan lainnya.) Tapi lebih ke esensi raihan dan kenikmatan dalam hati menurutku udah selesai.

    Aku udah mendapat mimpi itu, terus apa selanjutnya?

    *

    Suatu ketika aku dikeluarkan oleh sebuah perusahaan penerbitan. Maka, aku harus putar otak bagaimana aku bisa produktif. Jawabannya adalah membangun usaha sendiri

    Ketika itu membangun mimpi menjadi usahawan adalah hal yang aku ikhtiarkan. Tapi, tentu saja harus buka jalan terlebih dahulu untuk mengenali market. Minimal aku harus investasi 1 tahunlah agar bisnisku ini berkembang.

    Dalam rentang waktu 2 bulan dari aku selesai kerja di bulan November 2019 ke kerjaan baru di Februari 2020, aku termasuk orang yang gampang lelah buat menguatkan pundak meniti karir sebagai usahawan yang ternyata tidak seindah ketika pangeran berkuda putih datang.

    Meski begitu, doaku kala itu sesederhana, Ya Allah tolong kasih kerja yang sesuai dengan kapasitas dan lingkungan yang baik menurut-Mu. Apapun jalannya. 

    Waktu sedang mengusahakan usaha sendiri itu harus berhenti tiba-tiba, ketika ada tawaran pekerjaan di perusahaan media besar di Indonesia itu hadir. Maksudku, See? Lelucon hidup itu kadang indah kan.

    Pada suatu hal yang tidak kita impi-impikan. Pada momentum ( i mean, menjadi reporter atau wartawan adalah pekerjaan yang sepertinya tidak ingin aku lakukan pas SMA dulu, aku gak tau kenapa) yang sangat absurd, tetiba tawaran datang. Dan lingkungan kerjanya luar biasa menyenangkan. Jauh dari apa yang aku dapat di perusahaan sebelumnya.

    Bahwa, doaku sesederhana dikasih kerja yang menyenangkan adalah hal yang Allah kabulkan, alih-alih apa yang aku cita-citakan. Lucu gak?

    *

    Lalu kejadian seperti hari ini.

    Aku inget teman baikku Yayak pernah berharap pada seseorang. Seorang kenalan, yang sebab musababnya pasti tidak ada keterikatan yang jelas. Karena kasta dari seorang kenalan itu lebih rendah dibanding teman. Kalau sudah teman bisalah buat sekedar basa-basi. Kalau udah kenalan, kategorinya hanya cukup tau. Thats it!

    Seorang kenalan ini pernah dimintakan doa tiap malamnya. Dia ingin mendapat pesan khusus. Entahlah, katakan dm instagram atau chat wasap.

    Kemudian, doa ini aku copy-paste pada kasusku.

    Dan BOOM! Alakadbra. Kejadian. Paham kan maksudku? Bahwa apa yang kalian inginkan yang kalian harapkan dengan kepasrahan, Allah akan kasih pada suatu waktu yang tak diduga-duga. Mungkin kasusku, pada saat rasa itu udah hilang, ya begitulah. Saat kamu sudah tidak menyelipkan doa itu lagi dalam sehari-hari.

    Kita simpulkan bahwa takdir itu kadang emang lucu. Dan dunia yang kita jalani adalah lelucon yang kita akan tunggu pecah-nya kapan.

    Jadi, begitulah. Bahwa kalau sudah achieve pada sesuatu yang kita impikan, raih, atau apapun, kadang kita merasa harus meraih achievement lagi dalam bentuk mimpi baru. Jadi daripada energi kita fokus pada mimpi yang muluk-muluk, sesekali kita harus memiliki seni memasrahkan.

    Ah, rasanya nikmat bener. Itulah makna yang bisa aku ambil dari lelucon drama kehidupanku, hari ini! Tepat 2 Juli 2020.

    **

    ska, 2 juli 2020
    20:20
    selesai nonton eps 1-4 Ozark
    next dinner mate eps 23-24

    Gak Enaknya Punya Mimpi


    Continue Reading
    Its a challange. Our community on 1 Hari 1 Cerita announce theme for this week. Talked about Lupa! So here I am thinking so hard to make this one. 

    ** 

    Morning 9th June, I am doing anything as usual. Get up, washed before ibadah, and watching YouTube.

    Today, YouTube algorithm has been a lot of korean artist recomendation that I didnt Interest (i mean, for a while). Like  breathe on oasis, because one of them is Matt video. And here we go, I am writing this blog because of what he doing on his channel.

    On his video, Matt talking about 6 things that he wished he knew AT 20. I thinking so hard to make it differently. 

    I remember about this quote. It took me so long to do so many important things. It’s just hard to accept that I spent so many years being less happy than I could’ve been. — Pam Beesly, The Office US

    I wanna talked about 5 Things I wish I learned from this 20 years old. This post like always so personal. And, why not to share a little bit sins (aka. aib) and what I learned. Hopefully, its make my life easier going through this age. 

    1. TAKE responsibility

    Before I garaduated from collage, I had a lot of activity that makes me (whichever direction) take more responsibility. One of many activity is became leader of research SSC. Some point I got such regretful and idk why makes me frustating. Like I didnt much care. Because we handle a lot of stuff. 

    Remembering one moment, at October or November (idk exactly cause I forgot) 2016, SSC make a big agenda. This agenda always be held at every year. Its same like the others, we make a little conference with some competition. It was a lot of  regretful cause I got some internship in Jogja at the same time. I am frustating so much for that moment (because I Knew there were a lot of problem) and I didnt much care about it. 

    Take a risk of being responsible is important. Maybe, at early 20's, we learned so many-(many) things with my capability. I mean, you have to learned for taking a risk and what fault you make from this. 

    2. BEING Principled

    I remember dialog from Ada Apa dengan Cinta film, that sentences when Cinta said to Rangga, sok prinsipil. Haha.

    Ok, back to this topic. Being principled for me, just like mundane and boring of today. Because its like blood which is important for the body system. You got my point? 

    Its so overwhelming sometimes. Principled and me is so closely. My character is so strong to said No or Yes. I think I knew how the worlds works to said that. Sometime I realized it when going to think deep inside. 

    So, while I am picking up a friend's, I knew who is potential friend, and who is just for fun. But, I Knew maybe a lot of people think, its normal. Furthermore, its hard to said that I (declared) am sosiopat. Haha, I think, because from my face was so honest. You didnt think I hidden something based on whats going on through my face.

    And a few moment, I am picturing and speaking up about the worlds going on these days. Perspective and didnt trap for infornation, for me especially, it is important. Being principled is what we need it. 

    3. CALM and Take Slow

    One of the list regretful is my relationship. I mean, it was a general relationship. 

    I've always been somewhat afraid with boys. I was a little bit calm. I think haha. And I am not getting any Interest with that.

    From Junior School, I didnt have any interaction with the boys. I mean, I have a best friend. You named it, Qonita, who's made me learning Avril Lavigne songs. And then Cindra, who's make me loved being Indonesia people which watching drama populer (Randy Pangalila and Nia Ramadhani's sinetron) in Indosiar at that moment. Haha. So, I didnt need the boys live on my environment. 

    I think, when the boys liked me and being close with me, honestly, I was startled. I dont know how to handle this. My heart jumping like roller coaster and being not a normal. Because a lot of things I realized for the first time. Okay, its a little bit oberwhelming. 

    It was a 7 grade School. The boys who liked me (ehem) sent a song of full chorus with bad writing skill. I know, at 2007 was booming band (you named it, hijau daun, ungu, peterpan, dmasiv) on glorious industry timing in Indonesia. Maybe, he expected that I fall for him so quickly. I mean, he was not a bad boys. He was captain on my class. He has a natural thick eyebrow. Lightly skin. And bla bla bla. Oke, its just excused, I wanna just said  a simple words, that he was handsome as hell yeah. Hahahaha! 

    AT the moment, I just focussed on labelling or stigma about kenakalan remaja or whatever it is. And my mom told me for dating prohibition, etc (btw, until now I am not dating with somebody else, oke thanks mom). Therefore I didnt go for it! 

    Again. When I was a college, I made simple assignment with my group. With my best friend, Nasita and Magda. They was a busy at the moment for taking responsible about UKM's agenda. I know as well what are they doing. But, I need some notice both they are to take care our assignment. 

    Yeah. We made this on break time, and whats going on for working together changing into desperately for me. I am crying like baby at the moment. Seriously. Its a little bit cringe when I thought. 

    So, advised for me, just relax and take it slow. Cause sometimes when we realized for hurried something you didnt get before, you just take a breathe and calm. Slow down and do the right. Usually, problems like tousled of hair. Need taking a break to get some energy for combing this slowly and rightly. 

    3. USE Skincare

    Nowdays, a lot of skincare brand is dominating my social media. You named it. From local brand with halal or not labelling until international. Most of them is korean. We can get more thumbs up how korean skincare dominating this industry right now.

    I honestly, buying some of them. I am usinh Toner from Korean Brand. This brand was Somebyme. I bought 150k for toner. And then mini package, 150k. And sunscreen for 130k. A skincare routine from Somebyme, I wanna scream : Its a holly grail product. 

    Recently, I bought mini package from Innisfree. Its Jeju Orchid. Why I bought this, because flash Sale from Lazada. 

    When I searching this product to get information, I was shocked when I know whats price I would be spent when I bought a standart package. For 4 product, one of them was 300k. So, the total is 1 million for all standart package. 

    Oke got it. Next! 

    4. FINANCIAL Planning

    I started to learn more about financial planning when I receive my first salary. Oke, I Have a job from small (privat) company because its just CV. Company personal, idk what should I said this company. 

    My salary is 1, 400,000 for 3 months for trial. And the fact, I got 1,400,000 for 4 months. Forget this! And then, after trial months, I get 1,700,000. Its under salary minimum for my region. And after that, I got 1,900,000 after 1 year to follow salary minimum this region. 

    I mean for labor like me is frustated. But, I get this job because I wanna escape reality to not getting to collage. Its my compromise with my mom. And yeah, I take a job and responsible for my self to get know more about life. 

    2019's was perfect timing for me. I learned more about mental health, blessing, and getting know more about life. I mean this time for me to realized that I am is being part our society. Whats works going on, whats problem I get this so far, minimalism lifiestyle, and etc. One of what I learned is financial planning. 

    I am always savings 90% my salary to the bank. So, when I get 1,700,000, I just take 200,000 for life. So, 1,500,000 for savings. Its absolutely brutal. Haha. I didnt know how to manage and I just know for saving, so I go for it!

    From February until November I get this job, my total savings less and little bit from 10,000,000. Its my blessing, my achievement, and I invest to buy proper handphone. Its around 3,500,000.

    And, I back to get a job on February. Its Big company in Indonesia. I mean, i joined to be a part of Kompas Gramedia. Which is a main leading for media industry. From this company I get 2,200,000. 500,000 higher than company before, it was blessing. And this year, I take responsible to help my family financial.

    Every month, my mom has to  pay her debt. Its around 5,000,000 for a month. Because he debt 370 million for build my new house. I pay electrivity, pdam, wifi, and yeah many more. It takes around 500,000 for a month.When the paid is getting more, my mom help me for subsidy. 

    Back again, that my financial planning is talked about budgeting. I learned how many are calculating for expanse many things every month, you should have write  down how many do you want to spend.

    Just like calculating first, is important. Someday, your willing is getting stronger, to buy this, this, and many more. You handle this with calculate budgeting this month. Calculating and budgeting is worse when you didnt istiqomah. More consistent and persistent is higher important. 

    After that, you can spent your happines with not to worry about finansial. Got this!

    5. MORE Books I Read

    Books and I are closely indeed. I write on my Twitter description : life without BOOK is nothing!

    A little bit cringe cause I write this since I've been School. But you know, sometimes I regretful when I involved kinds of activity makes me doesnt productive to spend time to read. But, thanks God, I have best friend whos loved reading a book. Its my friend from Junior High School. Until Now.

    Suprisingly, we are close because we loved the book. We reading book from teenlit. While Mia Arsjad's novel is like everywhere. Novel Satria November is best book when I was 14th. And, Orizuka's book is best when we need some lovey dovey stories. Haha, and then, for some reason being adults is easier when we reading dystopia novel. We much know about politicial issue, loved, self development, and meaning of life at the same time.

    We dont like religious novel with problematic instead. 

    And Dan Brown is best author when we talked about being adults. Its started when we are at collage. Dan Brown are our inspiration. How author is overwhelming. Why God's give the person like Dan Brown whos make us feel like a dumb? We learned more about politics, conspiration, history, and the same time your adrenalin comes up and down. For some reason, we loved like kind of historical and classics.

    Goodbye teenlit/lovey dovey story!

    **

    I realized oh woww. Its a long story. The conclusion for not being lupa is write down what happened at the past. I agree with N. A Turner make the conclusion what I get it for now.

    Appreciate who you are and who you’re becoming. Make mistakes. Learn from them. Go after what you want. Life doesn’t wait for you. Train your mind. Swap negativity for positivity wherever possible. Take care of yourself. Try new things. Conquer your fears. Life is scary as shit but don’t sit on the bench, play the field.

    * * *

    11.50
    From I started to make this article from 8.00 am. 
    And I suddenly lupa for taking breakfast.

    9 June 2020
    LIBUR KERJA 2 HARI AND I DO THIS CHALLANGE. OKE BYE!

    The Things I Wish I Learned from 20

    Continue Reading
    Hey Bil, dunia kejam ya.

    Akhir-akhir ini kamu disajikan dengan fenomena yang menggetirkan. Bahwa perbedaan kelas itu memang ada. Alih-alih kelas, bahkan perbedaan warna kulit saja membuat protes di mana-mana. Agak menyayangkan, bahwa ternyata hanya segelintir orang sang pemelik dunia ini. Ketika sekelompok orang itu menuding masyarakat di luar hanya pemanis. Pemanis tatanan sosial agar seenak udel bisa dipermainkan.

    Mungkin George Floyd hanya berdiri sendiri. Dia digetirkan oleh tindakan yang tindakan tidak pantas. Di negara yang menjunjung tinggi asas demokrasi. Bahkan contoh negara yang menjadi role model sebuah penegakan demokrasi itu sendiri.

    Berawal tuduhan oleh seorang karyawan dimana George Floyd ingin membeli rokok di sebuah toko kelontong dengan uang palsu. 17 menit kemudian, sampai datanglah beberapa polisi yang datang dimana mereka menjempitnya, seolah-olah George Floyd adalah serangga mematikan. Lehernya dari belakang dijepit dan videonya menyebar. Kepolisian merekonstruksi kejadian tersebut hingga berakibat fatal.

    The Gurardian mengatakan bahwa gara-gara tindakan ketiga polisi tersebut meletuslah beberapa demonstran. Mereka menuntut keadilan terhadap pria kulit hitam tak bersenjata yang meninggal dalam penahanan.

    Yang bikin ngeri adalah kejadian di Minneapolis, kota terbesar di Minnesota membuat gelap seluruh dunia. Hal ini memicu berbagai demonstran di berbagai belahan dunia, katakanlah di negara Amerika Serikat sendiri. Sebut saja jumlah 50 negara bagian, 30 negara bagiannya pecah akan demonstrasi.

    Kemarahan salah satu warga Texas yang kerja di Minneapolis, yang kini tidak punya pekerjaan akibat covid-19, kemudian ditindak sewenangnya oleh pihak penegakan hukum hanya karena tuduhan palsu itu memicu kemarahan global. Tengok beberapa negara lain seperti Selandia Baru, Australia, Inggris, Italia, Jerman dan masih banyak lagi.

    Tuntutannya selalu klise, tapi selalu susah untuk dilakukan seluruh pemerintahan di dunia ini. Keadilan!

    Sama keadaannya dengan banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan di masa pandemi corona ini. Floyd adalah salah satunya. Semua paham bahwa kenyataan pandemi ini membuat semua orang menjadi tidak punya. Sistem membuatnya menjadi tidak berdaya. Menjadi tidak lagi bernyawa.

    **

    Sebelum peristiwa George Floyd meletus. Di awal masa pandemi, kita juga disuguhkan bagaimana rasisme di mana-mana meletus. Bagaimana warga chinese di Amerika diludahi dirasis-i hanya karena media membuat berita bombastis soal asal-usul virus corona yang berasal dari Wuhan. Warga kulit putih katakanlah harus meludahi masyarakat Asia, dimana bahkan warna kulit melayu pun mewakili dari kontinen Asia. Menyedihkan.

    Sebaliknya, warga kulit putih atau hitam kena rasis saat berada di negara China. Negara ini seolah membalaskan dendam seperti perlakukan umat kulitnya yang membuat penyakit rasis itu menjadi ada.

    Tidak jauh-jauh sampai di kontinen lainnya, bil. Pahamilah bahwa Indonesia sendiri menggejala rasis bukan hanya warna kulit. Sudah bergeser ke perbedaan politik, sedikit-sedikit mereka yang bersuara dibungkam oleh rezim. Tidak lagi warna kulit yang nyata, tapi masalah suku. Lebih-lebih masalah agama, sering sekali bergesekan.

    Jadi kapan kita akan hidup berdampingan dengan damai?

    Ngeri, semua gejala Rasis, dari ras, agama, suku, antar golongan, bisa menjadi gejala global dan terus menjangkiti. Lebih parah dari virus corona yang sekarang kita hadapi.

    **

    Are genres of speculative fiction that explore social and political structures.

    Maka tak salah jika terjemahan arti dystopia selalu memperbincangkan masalah kelas. Tatanan struktur masyaralat. Para penulis-penulis novel dystopia (yang sudah aku baca) selalu menekankan pada permasalahan kelas akan selalu epic untuk diceritakan. Ceritanya memang fiksi, tapi saripatinya selalu sama. Selalu relate dengan apa yang sedang terjadi.

    Sebut saja, Marie Lu yang menulis tentang serial Legend. Meskipun lebih mengambil sisi romantikanya, tapi setting novelnya adalah perbedaan kelas. Di negara yang diciptakan penulis adalah negara yang terdiri atas dua kelas. Adalah kelas militer yang menguasai pemerintahan dan kelas bawah, sebut saja kelas perampok, buruh, dan lain-lain.

    Lagi, Veronica Roth membuat setting tulisannya terbagi atas 4 kelas yang harmonis, tapi harus rusak karena ternyata ada sekelompok kaum yang bisa masuk ke dalam 4 kelas tersebut. Mereka disebut divergent. Filmnya booming pada eranya.

    Adalagi novel Red Riding, sebenarnya mirip dengan Marie Lu namun settingnya harus di planet mars. Membahasnya juga tentang konflik kelas.

    Konflik ini semakin hari semakin nyata. Kita seolah dipertontonkan banyaknya kasus ketidakadilan. Sehingga lagi-lagi mazhab keadilan selalu diperdendangkan. Keadilan sendiri di Pancasila berada di nomor 2. Setelah kita mengimani agama sebagai sumber keyakinan, maka kemanusiaan yang adil dan beradab adalah PR kita selanjutnya.

    Ingat bahwa keadilan sosial itu diatas persatuan!

    ***

    Rabu, 03/06/2020
    setelah libur 2 hari
    menyelesaikan drama Find Me in Your Memory
    dan membaca buku My Keeps sister, Jodi Picoult.

    dan mari berderai-derai air mata lagi



    Continue Reading

    Untuk diriku saja,

    Mungkin bil, dunia dibuat kacau balau oleh banyaknya hal yang mengambang dan tak tentu arah gini. Sama seperti masa depanmu. Semakin kamu berpikir pada dunia ini, semakin banyak tangan yang tidak bisa kamu gapai. Toh, hidupmu hanya berkutat pada rebahan saja. Tak banyak membantu. Tapi kamu ikut-ikutan dibuat risau pada banyaknya permasalahan.

    Aku mengingatkanmu untuk jangan begitu, jangan buang energimu untuk memikirkan banyak orang. Bersikaplah egois seperti yang sudah-sudah. Mencintai diri sendiri saja sampai dalam. Menyukai hal yang ingin kamu lakukan. Jangan pedulikan mereka. Tapi semakin lama, semakin kamu merasa nista.

    Manfaatmu tak berbuah. Kamu kesal. Seolah menjadi upil dalam lautan luas. Tak terlihat dan hanya jadi fana. Berbuih dan tidak bekerja sama dengan ombak untuk mengganggu tatanan sistem alam.

    Kamu tidak memiliki kapabilitas untuk merubah. Terlalu pesimistis sebagai generasi muda. Kamu tidak bisa menyuarakan, sebab suaramu sangat serak, untuk berkata 'a-a' saja sudah mendulang hujatan.

    Kamu risau pada generasimu. Generasi yang dikata orang milenial dengan slogan pendobrak, tapi suka membuat blunder. Aku tahu kamu bak antitesis pada suatu hal.

    Pada suatu ketika, kamu tidak ingin disorot, maka suatu ketika kamu menolak untuk ditokohkan pada publikasi surat kabar. Karena kamu tidak mempunyai kapasitas sebagus itu sebenarnya. Atau kamu hanya tengkurap pada rasa kecil hati dan rendah diri?

    Dalih pada suatu hipotesis yang mengatakan, semakin media sosial diserang dengan ketidakbaikan, lebih baik kita banyak sharing dengan hal-hal baik. Tapi kamu tidak lakukan? Karena apa? Semakin kita menunjukkan 'ke-aku-anku' hanya akan menimbulkan masalah pada pertanggungjawaban sosial. Tuaian pujian yang menyebabkan kendornya iman. Ingin berkontribusi, tak dinyana hanya berbuah suatu hal yang kontradiksi.Itukah ketakutanmu, Bil?

    Maka, ketika generasimu hadir bak seperti 'pangeran pembasmi penindasan' yang menawarkan perubahan, inovatif, kreatif, dan lain sebagainya, kamu justru dibuat malu sendiri. Sebut saja orang-orang terpilih yang menjadi stafsus milenial presiden dengan bejibun gelar dan kapasitas mereka, tapi harus terseok jalannya pada konflik kepentingan di sana. Alih-alih membuat klarifikasi bahwa mereka tidak menangani proyek pengadaan, katakanlah proyek pra kerja yang bekerja sama dengan sebuah aplikasi belajar online, mau dilihat pakai penutup mata pun, hal itu tetap saja menimbulkan tanda tanya. Lebih tidak masuk akalnya, ketidakterlibatan bahwa proyek tersebut tidak menjadi agenda, hanya akan menjadi tameng saja, pada sistem oligarki yang semakin nyata.

    Dunia bergerak begitu cepat bil. Pak Yoyok, Manajermu pernah bilang ketika kata 'masa depan bagi generasi orang tua kita itu sama artinya 10-15 tahun ke depan, berbeda halnya dengan masa sekarang. Masa depan bisa saja terbentuk hari esok, kan?'

    Dianggap tidak punya kapasitas untuk menguliti isi, karena ketidakberdayaanmu yang hanya 'sekrup' pada sistem dan peradaban ini. Tak ubahnya hanya berbuah rasa pesimis saja untuk dikelola.

    Kita dihadapkan pada slogan 'cringe' kontribusi nyata untuk bangsa. Itu sama halnya dengan menggelorakan semangat penokohan, yang sebelumnya kamu benci, kan Bil? Benar memang, personal branding itu perlu. Kamu ingin dianggap seperti apa di dunia ini, kamu harus membuat struktur dan citranya. Itu benar. Tapi apa bedanya jika kita hanya mendapat predikat 'generasi inovatif, kreatif, disruptif' dan dianggap sanggup menyelesaikan masalah per-bangsa-an, padahal kita hanya mendulang kemewahan dengan privilese yang kita dapatkan. Katakanlah ketenaran, kepopuleran, atau bahkan pundi-pundi cuan.

    Sepesimis itukah bil, nasib generasimu?

    Seolah dianggap depresi, kamu justru dibuat merana karena tidak memiliki solusi. Temaramnya malam, kamu seolah terlelap Bil, pada privilese yang kamu terima.

    Bil, kamu mungkin tidak merasakan susahnya jadi orang susah. Anak petani dengan daya pikir yang rentan, orang-orang terpinggirkan, atau orang-orang yang berada dalam sistem penindasan. Pola pikirmu masih menjadi 'aku-kamu' bukan lagi 'kita'. Pun, jika sudah terjadi kata 'kita' maka maksimalnya akan membentuk program politisasi yang dimanfaatkan.

    Kita salah untuk tergabung dalam hal ini, hal itu, karena afiliasi. Kita tidak dibebaskan untuk membentuk pola pikir mandiri, karena orang akan menjustifikasi dengan label tertentu. Atau itu yang sedang kamu permasalahkan?

    Generasimu masih miskin pengalaman, tak sok-sokan.

    Bil, aku ingat kamu pernah mengatakan dan entah kamu mengutip dengan kalimat siapa ketika generasimu menduduki jabatan terbaik dalam tatanan kenegaraan. "Sesuci apapun malaikat, kalau sudah masuk sistem Indonesia dia akan jadi iblis."

    Apakah kamu mendeklarasikan menjadi salah satunya? Mungkin kamu tidak memegang peranan penting.  Sebab kamu hanya bertindak di ruang senyap, sepi, nan serba dilematis. Kamu sekelumit partikel yang tidak ada harganya dalam sebuah tatanan sistem ini. Tapi kamu ada.

    Aku tahu, semakin aku menulis kamu semakin dibuat sengsara. Banyak dosamu ternyata. Tak kasat mata sudah tak terbendung. Hanya butiran kotor yang tidak berubah suci dalam kilat. Dimana rasa tanggung jawabmu? Ketika banyak orang yang mengais rejeki begitu susahnya, kamu bak melayang kemana. Jika kamu risau, kebaikanmu dilihat orang dan tidak mau ditokohkan, maka lakukanlah. Atau kalau kamu tidak memiliki jalan kebaikan, lakukanlah hal kecil yang bisa berdampak ke satu dua orang saja. Tanganmu terlalu kecil untuk menjangkau keseluruhan.

    Generasi tua, entah dalam peradabannya atau pemerintahan pun (atau bahkan orang tuamu), mungkin akan mewarisi padamu sifat oligarkhi neolib yang baru. Digerakkan oleh satu dua orang tokoh sentral. Terselubung dan itu nyata. Kamu harus waspada karena kamu bagian dari ampas sistemnya. Semakin hari kamu dituntut untuk menjadi pembeda. Bersaing dengan individu lain sebagai komoditas.

    Mengutip sebuah kutipan dari Margianta yang aku ambil esensinya seperti ini, 'dibalik agenda inovatif-kreatif-disrutif generasimu dimana para aktor itu mempunyai wewenang untuk melibas kepastian kerja dan bahkan memerankan kapitalisme neoliberal. Mereka bak seperti batman, menjadi pahlawan dengan menyelamatkan dunia di malam hari, tapi di siang hari membuat masalah lain yaitu kesenjangan ekonomi.'

    Tak perlu, kamu risau. Bekerjalah secara efektif dan kolektif. Hilangkan 'aku-kamu'-nya. Sudah kukatakan berulang kali, kamu tidak bisa menghapus tatanan dunia ini. Kesampingkan egoismu. Kamu terlalu lama berada dalam zona itu. Semangat bil, adakah satu 'titik' pasti dimana kamu harus merasa optimis daripada nestapa.

    Ini sebuah anekdot yang kadang membuat kita terpingkal-pingkal membaca kisahnya. Nikmati saja alurnya Bil, tanpa harus berpikir begitu keras. 

    Aku,
    sumber kepercayaan dirimu. 
    Dan 3 hari ini fiks dibuai oleh pesona Kang Dong Won ♥️

    09.39
    18/april/2020
    ... ketika kamu dibuat jengkel dengan pemberitaan yang menjengkelkan mengenai stafsus milenial itu.
    Keputusan yang tepat adalah nggrundel dan menulis meski tidak ada pembaca.

    ***
    Landasan filosofis dalam membuat tulisan ini


    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top