Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini



    I'm fallin in love. Someone that playing in the court.

    But sometimes it breaks me. No matter how you feel, no matter what going on, it breaks me so hard. Right place doesnt mean its alraight. I mean, when we dont know what happened for the future, we're just doing right time now.

    With work hard, even pain and failure looms over us.

    Dear, dont falling down so low. embarras yourself like this. Rise up and keep fight.

    You just said for the interviewed, "Previously, when a game went like this, I would be able to recover and think clearly," 

    "I would have been able to pull through. But I couldn't recover tonight, and that's down to my weakness."

    Firstly, you said confident. You can attack the game. 

    But it doesnt work again. You already tired. 

    But his confidence deserted him when Heo began to gain a foothold in the first game, and he was unable to reassert control.

    "I was 10-5 up in the first game, I wasn't moving badly and I had an attacking image in my mind," you said.

    "But then I lost a few points in a row and my opponent beat me to 11, which affected me mentally and I didn't recover. I came up short."

    Dear KenMot I wanna said, "Won several tournament and then comeback stronger than ever!"

    Oke? Lets move. Dont make me so frustated again.

    (*)

    29/7/2021
    Sorry just make me feel so bad yesterday
    21.12
    Continue Reading

    Sebuah perjalanan panjang yang aku benci adalah menggunakan bus. Ah, bau mesinnya menyeruak dan selalu membuatku mual. Rasanya ingin menyumpal itu mesin mesin dengan karung, andaikan bus itu bisa berjalan tanpa mesin, sudah kulakukan jauh-jauh hari. Langkahku terasa berat untuk melangkah menuju bus. Temanku Nadia dan Azizah--aku tidak tau kenapa kedua teman SD-ku bisa menjadi teman seperjalanan jauhku--sibuk dengan aneka ragam tas. Barang bawaan mereka cukup banyak hingga menghabisi tempat. Lagi-lagi aku juga tidak mengerti perjalanan yang seharusnya memakan waktu semalam bisa menggunakan bus rukun sayur. Halo? Apa kabar dengan revitalisasi transportasi umum. Hoak. Aku tidak percaya bisa hidup semalaman ditemani bau mesin. Ini perjalanan gratisku. Lagi! Yang namanya perjalanan gratis aku zdddtidak boleh banyak bacot. Cukup tenang. Dan kalaupun harus muntah, muntahlah. Diwadahi alas besi cukup menyeruak bau kerumunan. Biar aku tidak jadi pergi. Ayahku orang yang cukup peduli dengan kesehatanku selama perjalanan, beliau pasti mau untuk menjemputku di tengah jalan. Jika bus sudah terkena muntahku, untuk melindungi seluruh penumpang pasti sopir bus dengan siap sedia menurunkanku di jalan manapun. Persetan dengan agenda wajib!

     

    Nadia memberikanku cukup ruang. Dia memilihkan tempat dekat dengan jendela. Dan berada di sisi depan. Aku bisa dengan leluasa memandangi kaca. Memandangi setiap lekuk perjalanan panjangku. Tapi apa yang kulakukan. Aku bergumul dengan kesendirian dan tetap tenang. Aku tidak ingin kedua temanku merasa khawatir dengan kondisiku. Jelas. Sudah pasti pusing dan tiba-tiba suhu badan naik. Maklum. Kondisi ini selalu aku dapati saat akan melakukan perjalanan jauh. Apalagi dengan menggunakan bus. Demamku langsung naik tinggi.

     

    Sebelum aku sempat tertidur, kulihat sawah sawah hijau. Baru saja ditanam. Meski bulir bulir padi masih tumbuh. Sebelah sawah,  ada lapangan tak cukup luas. Tapi mampu membuat penduduk desa memanfaatkan untuk ajang pertandingan voli. Bermain dengan anak tetangga saat usia senja tak lama lagi. Pancaran matahari sudah terlihat jarang. Karena awan mendung menggenangi membuat tua usia. Seperti wajah Nenek Wardoyo. Melihat pemandangan jalan pun tidak cukup bagus view-nya. Aku hanya melirik sinis pada dunia. Sopir di sampingku terlihat fokus dengan jalanan. Cuaca mendung seperti ini saja ia tak cukup mampu dengan melihat jalan tanpa kaca mata. Mencolok sekali dengan celana jeans longgar kaos polo merah dan topi. Tak lupa kaca mata hitam. Untuk ukuran sopir bus rukun sayur ia terlihat modis. Harusnya ia dipekerjakan di bagian bus jarak jauh yang bagus. Bus yang ber-ac. Bus dengan fasilitas lengkap seperti televisi dan sound yang cocok untuk berkaraoke. Bus yang tak ketinggalan dengan fasilitas wifi. Itu harusnya. Faktanya tidak demikian.

     

    Lalu ketika matahari merangkak turun bumi, awan pecah di ufuk timur, tergambar jelas melalui siluet putih deras. Hingga membuat jarak pandang perjalanan semakin meringkuk sendu. Jalanan belum basah. Bus yang kutumpangi jalan cepat menghindar dari peluru air di langit yang siap menghujam. Menusuki bus kami. Lagi- lagi aku merasa mual. Hatiku seolah dibuat tentram dengan ulah pasukan langit yang tidak menyerah mengajar keberadaan kami yang menjauh ke arah utara. Deru bus yang semakin lama semakin berjalan cepat. Sesekali harus ngerem dadakan. Ah, kepalaku.

     

    Nuansa sore dikejar kejar oleh pasukan langit, harusnya aku keluar dari bus sambil menggegam erat payung, berjalan menyusuri petang atau menembus waktu dengan sepeda motor. Mengantri membeli martabak. Di sisi jalan, banyak aneka warung. Dan roti bakar. Mie ayam dan bakso. Tinggal pilih salah satunya. Memikirkannya saja membuatku merasa hangat. Selip dingin bisa membentuk hegemoni keromantisan. Ditemani bau tanah yang menusuk wangi. Harusnya lagi ditemani belahan hati. Duh, hatiku.

     

    Hei, bagaimana kabarmu? Terakhir bertemu saat kamu menemaniku di Langenharjo. Pesanggrahan milik Pakubuwana. Senja di Bulan Suci Ramadhan. Sekembali dari sana, kita buka puasa bersama. Momen itu hanya sekelumit saja. Karena itulah aku merindumu. Tapi, kamu sudah mendapatkan ganti perempuan. Katanya mahasiswi pendidikan. Wah, calon guru. Pasti sabar. Pasti penyayang. Cocok untuk dijadikan istri. Tidak sepertiku. Pemberontak dan keras kepala. Lagi-lagi aku memang tak sebanding dengan perempuanmu.

     

    Udara semakin dingin. Ac alami memasuki ruang di bus reyot ini. Lalu gerimis. Bus ini pun menyerah pada keputusan bahwa dia memang kalah. Angin yang membawa butir peluru airnya sedikit demi sedikit masuk. Lewat jendela kaca. Sampai sampai membuat embun. Hingga sesekali jatuh di tanganku. Petir tak kalah meramaikan dengan gemanya yang mengagetkan penduduk bumi. Aku melek. Aku sadar. Nuansa romantis tak akan aku dapati. Hanya sebuah khayalan. Gerimis ini membangunkanku dari pikiran panjang tentang kamu. Langit tiba tiba saja gelap. Habis energinya. Menyimpan kembali untuk esok hari.

     

    Bus masih melaju. Meninggalkan kenangan yang tiba tiba hadir tanpa perintah. Tidak cukup satu. Sebelum tidur, aku bermimpi. Tentang kamu. Lagi. Masih dalam hitungan menit. Tentang kamu yang pernah menyambutku dengan senyum lebar. Saat akan memasuki ruang kuliah. Menyapaku. Dan memintaku untuk mewakili angkatan untuk pertandingan futsal. Oh, tentu aku menyanggupi. Lalu aku meringis. Kaku. Entah kenapa, hatiku menjadi semakin ringan. Karena memikirkanmu. Tapi selalu berat di akhir. Mungkin karena kamu sudah punya gandengan. Menyesakkan.

     

    |||

     

    Aku terkesiap. Nadia membangunkanku dari mimpi panjang. Rasanya ringan. Hatiku tak sekeruh kemarin. Sekembalinya ke alam nyata, ternyata aku masih di bus. Sesampai di masjid untuk menjama' sholat maghrib dan isya, aku langsung mapan tidur. Dalam tidurku, aku berharap kembali memimpikan kamu. Tapi, nyatanya Tuhan memberiku petunjuk tentang acara esok hari. Ya, esok hari itu adalah hari ini. Dan bus masih melaju. Entah sampai kapan akan tiba. Aku malas menanyakan. Hari masih petang. Jam di tangan menunjukkan pukul 3 pagi. Sebentar lagi subuh. Rasa sesal kembali mengguncangku. Harusnya aku tidak bangun. Kembali bangun sama artinya harus merasakan pusing dan mual. Suhu badanku bisa naik lagi. Padahal kemarin malam hujan sampai titik-titik airnya mengenaiku, aku dalam keadaan sehat wal afiat. Tidak untuk aku bangun.

     

    Kulirik jalanan. Berusaha untuk mengalihkan perhatianku dari rasa mual dan pusing. Kulihat plang besar di tengah jalan. Wow, sudah memasuki Bogor ternyata. Ah, macet. Padahal baru pukul 3 pagi. Wajar juga, karena bus ini melalui jalanan dekat Pasar tradisional. Ibu-ibu bangun pagi hanya untuk mendapatkan sayuran segar. Jalanan hanya diisi sebagian besar angkutan yang mengangkut hasil bumi untuk dijual. Aku berusaha mendinginkan perasaanku. Sebentar lagi sampai. Sebentar lagi.

     

    Nadia yang membangunkanku ternyata ingin punya teman melek. Duh, orang ini. Kalau bukan teman baikku, aku pasti berusaha untuk tidur lagi. Aku mendengarkan banyak sekali cerita darinya. Mulai urusan keluarga sampai hati. Aku hanya cukup mendengarkan. Karena dia cerita. Tak nyaman rasanya untuk menimpali. Buat apa  antusias. Karena ini masih terlalu pagi. Pagi-pagi cerita hanya aku balas deheman, anggukan atau ber-o ria. Maklum saja. Energiku aku simpan bila suatu waktu aku muntah. Bau mesin lagi-lagi menusuk hidung. Rasanya ingin ku minta Pak supir untuk menghentikan perjalanannya. Sudahlah. Cepat atau lambat perjalanan ini akan berakhir.

     

    Jika Nadia tidak menunjuk sebuah plang besar bertuliskan zona Madina, aku mungkin sudah akan bersiap untuk kembali tidur. Menjemput mimpi indah yang tertahan. "Setelah ini kita sampai."

     

    Kata 'setelah' tidak akan cepat aku percaya kalau bus yang membawaku ini putar balik di jalan dan menurunkan kami semuanya di pelataran jalan menuju zona Madina. Langkahku semakin ringan untuk melangkah. Walaupun harus berdesakkan ingin keluar dari ketidaknyamannya bus reyot ini. Kalau aku punya kuasa, aku ingin bus ini cepat di pensiunkan. Kasihan rakyat yang memakai.

     

    Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih, rasanya seperti mimpi melewati perjalanan jarak jauh hanya dengan berbekal dua tas. Satu tas punggung dan satu tas yang khusus aku gunakan untuk menyimpan pakaian. Nadia dan Azizah membawa tiga tas. Satu tas tunggu dan dua diantaranya adalah tas cangking. Aku tidak tahu apa isi di dalamnya. Kalau berisi kosmetik apa sampai memakan tempat sedemikian besarnya.

     

    Aku bergegas segera mengambil air wudhu dan sholat subuh. Sebelum energi yang dihimpun matahari tersebar lagi di belahan bumi yang diterangi. Selepas sholat aku masih mengenakan mukena dan tergeletak di alas sajadah, melanjutkan tidur yang sungguh sungguh tidur. Efek tidur sambil duduk ditambah goyangan bus yang melaju sesekali ngerem dadakan, punya efek tersendiri di badanku. Dan aku benci itu. Punggungku seolah dicubit sampai memar semua. Setiap aku mencoba rilekskan, krekk-krekk sampai mau patah tulang-tulangku.

     

    |||

     

    Aku lupa kapan pastinya. Sampai-sampai aku sudah berbenah dengan baju rapi selepas bangun tidur di masjid. Aku mandi di toilet masjid. Tidak seperti kos-kosanku di jogja. Yang kamar mandinya pesingnya minta ampun. Ah, pilihan terbaik untuk hidup adalah pulang ke rumah. Semuanya serba rapi. Kalaupun kotor, aku tidak segan-segan untuk membersihkannya. Karena itu merupakan rumahku. Sebagian aku melalui masa hidup ya hanya di rumahku. Meskipun secara de facto merupakan rumah orang tuaku dan secara de jure merupakan rumah Nenek yang diwariskan untuk ibuku. Kalau mau bersih bersih kamar mandi kos itu rasanya ada yang ganjel. Karena semua kebersihan sudah ditangani oleh petugas kebersihan yang setiap pukul 8 pagi membersihkan lorong lorong kos dan menyapu daun mangga yang jatuh di pelataran rumah.

     

    Tak butuh waktu lama, kami peserta training digiring ke sebuah aula. Disana aku bertemu kembali dengan teman-temanku yang lain di berbagai Universitas. Rasanya seperti nostalgia. Karena terakhir kami bertemu saat temu Nasional di Bandung empat bulan yang lalu. Kami diperintah untuk membuat liukkan melingkar. Seperti ular-ularan. Seisi aula, penuh dengan jejeran ular-ularan yang kami bentuk. Tak tahu persis, di belakangku ada Irul, teman dari jogja. Dan dia laki-laki di deretanku. Depan dan belakang Irul perempuan. Pasti ada yang salah dengan formasi ini. Ah, turuti saja perintah trainer. Karena sesaknya, aula yang besar seolah tertutup dengan keberadaan kami yang berjejer membentuk formasi. Tubuhku ditopang oleh Irul dari belakang. Dan dia sudah bermacam-macam dengan tangannya. Lama sekali. Walau hanya sekedar mengusap-usap. Rasanya geli. Lalu enak. Sampai, seorang trainer perempuan dengan jilbab lebarnya memergoki kami. Ah, ini pasti gara-gara Irul.

     

    Kami berdua disuruh untuk maju ke depan. Tak ada kata depan. Seluruh ruang aula penuh dengan deretan formasi ular. Sampai kata 'depan' yang diminta adalah di tengah-tengah. Mukaku pucat. Kalau formasi ini dibentuk dengan sangat apik yang mengatur zona perempuan dan laki-laki mungkin tidak ada Irul di belakangku. Dia laki-laki diantara deret perempuan. Dan aku berada persis di depannya. Salah siapa ini? Salah siapa ruang aula penuh sesak? Kalau trainer yang baik tak akan menempatkan aula sebagai tempat untuk bermain ice breaking.

     

    Persis di tengah ruangan kami ditunjuk-tunjuk karena ulah kami. Mukaku, aku buat datar. Toh, menurutku aku tidak sepenuhnya salah. Aku membela diri dalam hati. Meskipun trainer perempuan dengan jilbab lebar itu selalu berbusa-busa mengeluarkan dalil agamanya, aku sepenuhnya sadar tetap tak kugubris. Masa iya, seorang Ariani yang selama hidupnya menjalani sistem single happy berbuat seperti itu. Ia sudah sangat takut dengan yang namanya dosa. Sejak kelas 2 SD saat temannya memamerkan rambut mereka, ia tutupi dengan jilbab. Seorang yang tidak agresif memperebutkan laki-laki yang disukainya sampai melepasnya pergi demi perempuan yang jurusan pendidikan itu berbuat hal yang seronok. Kalau dinalar, itu tidak mungkin. Ini pasti mimpi.

     

    Kulihat lelaki yang jurusan kedokteran yang menatapku dengan tajam. Wajahnya oriental dengan kulit coklat dan rambut berkarakter seperti landak. Sering nyigrak ke atas secara alami. Seorang yang aktif dengan lembaga dakwah kampus plus dia seorang Presiden Mahasiswa  BEM fakultas Kedokteran. Di dalam hunusan tatapannya aku merasa kotor. Adli, masih tak membiarkan aku kembali menatapnya karena malu. Ah, kalau aku bertemu dia sebelum bertemu kamu, aku pasti sudah jatuh di cintanya. Terpejam sebentar mataku. Aku berharap ini hanya sekedar mimpi. Tak berhasil.

     

    Sebuah deringan alarm pukul 05.15 berbunyi. Lagunya Reminds of you milik Byul menceritakan patah hatinya aku padamu. Karena mendapatkan perempuan yang bukan aku. Tepat! Aku bersyukur bisa keluar dari mimpi buruk. Mimpiku seolah ada celah cacatnya jika itu nyata. Bagaimana mungkin teman SD, Nadia dan Azizah bisa satu perjalanan denganku ke Bogor yang harusnya aku lakukan dengan teman aktifis kampus. Di dalam mimpiku pula, aku memimpikanmu. Kejaran peluru air masih melekat. Begitu nyata. Rasa mual. Rasa pusingku semuanya menyatu. Rasanya hatiku bergetar mengingatnya. Membayangkan kamu diantara lelaki yang ingin kucintai.


    Hanya kamu. Tetapi tercoreng dengan ditunjuknya aku di tengah-tengah deretan formasi ular sambil diceramahi panjang lebar bersama Irul. Tak kusangka orang yang bermasalah di mimpiku adalah orang yang tak terduga seperti Irul. Kalau bisa memilih, aku pasti memilih Adli. Cowok sholeh itu bagaimana jadinya jika bermain seronok denganku. Di tengah-tengah kerumunan. Ah, otak kotor memenuhi pikiranku. 


    Bergegas ke kamar mandi kos yang pesing. Kembali ke dunia yang benar-benar nyata. Jam 7 harus cepat-cepat ke kantor. Menekuri dunia. Sebelumnya aku cek di instagramnya. Adli sudah update dengan foto bersama bersama mahasiswa baru yang mengikuti expo UKM. Detik itu, maaf. Aku melupakanmu.

    |||

    menemukan cerita ini di file laptop

    2016 lalu

    Continue Reading
    Sempat ku bermimpi, aku berlari bersama teman. Lari dari tekanan waktu yang membuat kita lepas. Kemudian tertawa. Senda gurau karena kekonyolan yang kita lakukan. 

    Ada adegan dalam mimpi yang tak terlewat. Aku dan temanku menikmati pesta di pinggir kolam renang. Mungkinkah di mimpiku aku menyesap wine merah. Kemudian sahut menyahut bercerita tanpa lelah. Diikuti ledakan tawa yang membuat senyum merekah indah 

    Setelah bangun, aku langsung mengatakan, "hei kita kemarin party pool."

    Dia justru membalas dengan curahan hatinya yang sudah 7 bulan tidak pulang ke rumah gara-gara pandemi.

    Dilanjut dengan masalah kantornya yang masih melegitimasi lulusan terbaik negeri ini.

    Tapi dalam mimpiku, 'hei kita bahkan bersenang-senang.'

    Realita yang kita hadapi memang semrawut. Menelan pil pahit dari kenyataan yang tak seindah untuk dibayangkan.

    Dunia harmonis, aman, tenang dan damai seolah terenggut dari genggaman tangan.

    Akhirnya, mimpi indah aku bersama temanku justru berakhir dengan keluh kesah yang memuakkan. Mengulang kembali hal-hal tidak indah dalam kenyataan dan berakhir dengan tertawa getir.

    Tak lagi menyenangkan untuk dihadapi.

    **

    Mimpi kedua yang baru 2 hari lalu aku alami.

    Mungkin jawaban. Dari ketidakmungkinan meraih seseorang di kehidupan nyata. Berakhir dari teguran Tuhan yang (mungkin) mengatakan, 'hei, dia sudah ada yang punya. Jangan berkhayal-lah!'

    Dalam mimpi itu aku juga bermimpi sama. Sama-sama berlari dengan senang hati. Namun dihadapkan realita bahwa laki-laki yang membuatku tersenyum adalah milik wanita lain. 

    Yang begitu jahat bak seorang penyihir. Ingin rasanya diriku yang menjadi protagonis membuatnya sadar bahwa perempuan itu tidak baik baginya.

    Ah, aku lupa. Di akhir justru dia menggandeng wanita itu tepat di depan mataku.

    Lalu aku terbangun. Sadar bahwa maknanya begitu dalam.

    Tuhan ingin agar aku melupakan dia dan berfokus pada masa repetisi yang tidak anggun sama sekali menghadapi pandemi yang membuat semua orang bak terkurung dalam tempurung.

    **

    Sisi hatiku yang lain menyuruhku untuk, 'udahlah, kirim al-fatihah saja pada dia yang tidak tahu siapa'. Jadi mari kita membayangkan saja sosok yang belum dipertemukan Tuhan ini.

    Seuntai rasa terima kasih dan harapanku sudah cukup menjelaskan. 

    "Hei kamu, terima kasih telah memilihku di antara milyaran manusia di bumi ini. Aku bukan sosok ideal. Aku mungkin akan menilai hal yang sama pula tentangmu. Tapi, mari kita mendewasa bersama. Saling bergunjing yang mengasyikkan."

    "Jika kamu sosok kaku, maka tepat memilihku. Aku humoris orangnya. Pamormu memang sudah menggeser sahabat dekatku, tapi mari kita menjadi orang yang menyenangkan satu sama lain. Tertawa terguling-guling untuk sesuatu hal konyol. Serius seperti politisi ketika melakukan lobi politiknya. Dan, menua bersama debu sampai mati. nantinya."

    **

    10/10/2020

    16:06

    Hujan, sambil memikirkanmu

    Aku Bermimpi, Memikirkanmu



    Continue Reading

    Hei.
    Pada langit yang kutitip rindu semalam. 
    Ingin kuceritakan hal yang aku dapat dari pertemuanku bersama sahabat di tanggal 1-2 Februari lalu. 

    Pertemuan bersama imaf dan yayak di jogjes

    Aku berjumpa dengan kawan lama. Sebetulnya dia kawan yang sering aku sebut namanya di sini. Hanya saja hal yang membuat pertemuan ini begitu spesial adalah dia menyelesaikan pengabdian selama 1 tahun di pulau terluar Indonesia yaitu Natuna. Melalui sebuah program Indonesia Mengajar.

    Bukan sebuah kisah horor menakutkan yang aku dapat. Aku tidak butuh itu. Hahaha, memang keterlaluan sekali aku ini. Bukan pula cerita tentang struggle-nya dia menghadapi hidup di perantauan. 

    Tentu saja bersama dengan mbokde Imaf aku datangnya. Agenda sisipannya sih hanya njagong di nikahannya Yasin. Aduh malas banget deh sebenarnya. Kalau enggak demi tujuan utama ketemu dek yayak. Hahahaha. 

    Beberapa waktu setelah kepulangan yayak ke Jawa, ke Bantul lebih tepatnya, dia tengah menggilai sosok orang. Aku tidak tahu. Caranya dia menyampaikan seolah-olah "sosok" ini adalah "the one and only". Just him. Gak ada yang lain. Sebegitu panjang aku berlarut-larut dalam ceritanya. Dalam doa yang dia panjatkan. Sesederhana, "ya Allah beri aku kesempatan", kadang membuat akal logikaku gak bekerja. 

    Kenapa orang ini sebegitu jatuh. Sebegitu tenggelam dan larut dalam perasaannya? 

    Yang aku dapati masih dalam kebingungan. Bukan sebuah jawaban yang memuaskan. 

    "Bil, aku punya sahabat kan. Si mbaknya itu juga pas ketemu suaminya karena doa-doanya. Doanya sama Allah, sederhana. Ya Allah aku pingin ngobrol. Allah kasih itu kesempatan. Cuma ngobrol ajaa. Dan qadarullah berlanjut-lanjut sampai pada pernikahan." begitu katanya. 

    Tetap gak masuk di logika lagi. Bukan karena aku meragukan kekuasaan Allah ya. Hanya saja aku masih berpedoman bahwa semuanya itu harus sejalan, antaranya doa sama usaha. Laaah, mbaknya saja hanya doa. Peluang ketemunya memang ada, tapi kan hanya nol koma sekian persen, kan. Dan gak bisa jadi standar semua orang untuk melakukan hal yang sama juga. 

    "Hei anda, doa itu juga bagian dari usaha! " tukasnya. 

    Jika diteruskan, aku yang mati konyol sendirian dalam obrolan ini. Tapi aku memaklumi. Allah masih menitipkan kekosongan hati sampai bertahun tahun ini karena menyuruhku mengeja perasaan. Logikaku bermain begitu sempurna. Allah mungkin ingin aku agar memahami "rasaku" terlebih dahulu. 

    Bahkan pada sosok yang pernah sebelumnya aku tulis di blog ini. Tentang dia yang menjadi metafora. Aku bahkan mendoakan namanya. Hanya sekali. Aku masih ingat, pada hujan sore hari saat aku melewati sawah sepulang kerja. 

    "Mas semoga kita berjodoh ya." begitu doaku pada Sang Pencipta Langit. 

    Tapi... 

    Pada sebuah pesan singkat setelah pertemuan dengan yayak dan mbokde di jogja. Aku chat imaf tiba tiba di malam harinya. Rasanya aku ingin buru buru menyampaikan pesan ini. Seolah tidak ada hari esok dan menunggu untuk menyampaikan keganjelan hati ini. 

    "Maf, sepertinya aku sama mas itu gak jodoh deh. Tadi pas pulang kerja aku (terbiasa ngalamun di perjalanan) mikir dan cek ombak perasaanku. Mungkin aku lebih ke kagum aja kali ya. Dia bukan feelingku." kataku. 

    Yayak dan imaf selalu mengulang perihal "feeling" berkali kali. Ini kata magis yang mengantarkan mereka pada pengalaman percintaan mereka sendiri. Karena you know lah, aku masih kosong bertahun tahun, seolah olah kata "feeling" adalah kata sakti madraguna yang belum aku dapati. Dan pertemuan dengan mereka berdua mengajariku untuk mengenal "rasa" mu. 

    "Tapi mbokdeee, aku juga dapat feeling nek aku bakal ketemu feelingku sebentar lagi. Entahlah. Kayaknya hanya butuh waktu saja."

    Imaf: wkwkwk aku ngekek bil. Santai aja kali, jangan dibuat beban. Kalau memang belum menemukan yaudah tunggu. 

    Hp aku tutup. Sudah larut. Aku tidak ingin memperlama obrolan itu. Meskipun begitu, aku memejamkan mata sebelum tidur dengan berharap dalam waktu dekat semuanya datang. I dont know Who is he. 

    Siapapun dia. Dimanapun dia berada. 

    Halo mas, perkenalkan ini aku Nabila! Senang bertemu dengan mas. 


    ***
    Libur kerja, Jumat 7 Februari 2020
    07.45
    Grup trio macan bergemuruh dengan permintaanku yang ingin dikenalkan dengan anak komisaris pertamina. Siapa tau kan yaa, hahahahaha! 


    Continue Reading
    Hei,

    Mumpung lagi nyuwung! Ditemani hujan siang hari dan kopi hitam. Sebelum menjadi budak-budak peradaban yang memaksa untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Bekerja 8 jam dalam seharinya, sedangkan saya masih glundang-glundung tidak jelas. Saya masih di posisi jaga warung dan fotocopy-an. Menyelesaikan problematik Jolie Manon dan Gabriel Delange karya Laura Florand. Setelah kemarin, seharian agak kecewa dengan Unforgettable Chemistry--yang jadi bahan obrolan aku dan Pipit di WA karena ehem, kita sepakat untuk tidak menyetujui konfliknya-- tapi sayangnya, buku itu aku selesaikan juga. Hahaha~

    Hidup ini indah ya gaes!  #EdisiMenghiburDiri


    Aku ingin bercerita. Lagi-lagi tentang deretan nama yang ingin aku sebut karena berjasa dalam membesarkan / mendewasakan dan berproses bersamaku. Hal ini aku lakukan untuk mengingat kebaikan orang ini serta membuat content. Yes, I am content creator! Gak usah muluk-muluk buat video di yutub tapi membuat narasi singkat di blog kesayangan. Biar gak sepi-sepi banget ini blog. Ajang balas dendam juga sih, karena selama kuliah isi kontennya kurang produktif. Sekaligus mengisi kolom My Friends & I. Bismillah, ingin aku coba memproduktifkannya kembali.

     
    Bila foto ini diperlebar maka tampaklah nyamuk yang sedang menggigit pipimu :) 


    Bagian I. Perkenalan


    Tentang sahabat bernama Uun. Namanya sering aku dengungkan sebenarnya dalam narasi aku bercerita di blog ini. Dalam perjalanan mahasiswa biasa sampai bisa lolos ke Pimnas dan cerita tentang bagaimana dia menderita bolak-balik Solo-Wakatobi untuk berjuang di Bogor. Tentang muka kucelnya yang naudzubillah aku ingin rasanya sabar, wkwk. Dan tentang gairah hidupnya yang entah kenapa--hm, hm, sebagai analis luar--agak meredup. Kemungkinan besar hal pertama itu terjadi karena kehilangan sosok ayahnya. Orang yang polos dan semangat hidupnya yang perlu aku tiru. Aku terapkan dalam keseharian sehari-hari. 


    Sebenarnya aku kenal dengan Uun karena kebutuhan. Sebagai mahasiswa yang berusaha untuk menjadi sempurna dalam tugas kelompok, aku sudah kena kapok berkali-kali karena tidak mendapatkan partner kelompok yang tepat. Sempurna dalam arti kita berproses dan berpendidikan bersama. Itulah tujuan dari perguruan tinggi, bukan? Sayangnya, sebagai mahasiswa beberapa teman kami sering mengandalkan. Biar orang ini saja yang menyelesaikan tugas ini. Kan, yang namanya tugas kelompok harus diselesaikan bersama-sama. Come on! Ada lagi, saat sudah diselesaikan dengan pembagian tugas yang jelas, kadang mereka asal-asalan, mungkin karena mereka merasa bakal ada editor yang akan mengkoreksi dan menambahkan tambahan hal untuk tugas kelompok mereka.

    Ah sudahlah. Kampus memang mendidikmu begitu keras. Halah haha!


    Mungkin terjadi di tahun 2015-an. Waktu itu aku lagi merangkak naik ikut organisasi sana sini, bahkan sudah join menjadi volunteer Solo Mengajar angkatan 10--haloh gaes!. Aku lelah ya, mendapati ketidaksesuaian antara masalah akademik kampus dengan berkegiatan di luar kampus. Jadi, mendapatkan partner bekerja kelompok yang sesuai itu seolah menjadi oase tersendiri. Sama-sama mengalami ketidaksesuaian, agar algoritma hidup ini berjalan dan berkesesuaian, kita join menjadi kelompok bersama. Gimana caranya, agar setiap kerja kelompok aku bersamanya. Kemudian, masuklah Mustofa. Jadi, begitulah kami hidup selanjutnya!

    Dari sering berkelompok, aku mengajak dua anak ini--Mustofa dan Uun--menjadi kelompok strategis yang tidak hanya berkumpul kalau pas ada tugas kelompok di kampus saja. Aku mengajaknya untuk ikut membuat PKM. Waktu itu aku masih jadi Kepala divisi Pengembangan RISET SSC, di bawah komando Gun Gun Gunawan. Jadi, kegiatan ilmiah itu perlahan kita ikuti. Bahkan masing-masing dari kami mengajukan judul yang berbeda-beda, tetapi rolling untuk menjadi salah satu anggota peneliti di semua judulnya. Haha, agak curang emang. Tapi yah bagaimana. Jika ada peluang maka tercipta kesempatan!


     Mengerjakan deadline PKM adalah hal menegangkan. Kalau ingat bulan September, maka ingatlah akan deadline PKM yang selalu hadir di bulan tersebut. Awalnya agak kesesusahan harus mengikuti aturan main PKM yang berganti setiap tahun. Awal mulanya kami iseng ikut PKM yang diadakan oleh kampus kami sendiri, UNS. Jadi sesama mahasiswa diadu ide dan gagasannya dengan iming-iming bahwa PKM yang diadu didalam universitas ini bakal lebih mudah diterima untuk mengikuti PKM dari Dikti. Menurutku tidak juga. Karena pada hakikatnya, Dikti tidak menilai bahwa PKM yang diajukan oleh mahasiswa itu sudah diuji terlebih dahulu atau tidak, melalui universitasnya. Yah, setidaknya gelora untuk adu ide dan gagasan itu ada. Jadi, kami ikutan saja.

    PKM yang diselenggarakan di Universitas tidak membuahkan hasil baik. Kalau tidak salah, kami (aku, uun, dan eyang) hanya mengajukan satu judul. Tetapi hal yang berbeda terjadi saat mendekati deadline PKM Dikti. Kami mengajukan tiga judul sekaligus. Haha. Sehari menjelang deadline kami harus mendapatkan satu personil tambahan. Agar sesuai dengan aturan, maka harus adik tingkat. Maka terpilihlah Avivah yang masuk menjadi kelompok kami. Gara-gara dia lewat di jalan gazebo, dan aku langsung minta CV dan datanya. Wkwkwk :)


    Full Squad bersama dengan adek, Avivah. Eyang yang moto!

    Selanjutnya, petualangan sesungguhnya dimulai. Dari yang awalnya kaget dapat dana untuk penelitian. Waktu itu dana agak seret sih. Jadi kami meneliti dengan dana pribadi. Tapi alhamdulillah, setelah monev ekstern selesai kami dapat sisa dana keseluruhan. Haha, PKM kalau kata orang bisa dikatakan sebagai Program Korupsi Mahasiswa, bukan Kreativitas wkwk. Yasudahlah. Itu orang syirik aja gegara PKM-nya gak didanai. Dasar julid!

     Saat menemukan sebuah pesanggrahan untuk beristirahat sejenak karena selesai mbolang di Keraton Kasunanan.

    Selesai Monev, aku punya keyakinan penuh sih. Bahwa judul kita bakal lolos PIMNAS. Dan thats it! Hari pengumuman itu datang. Judul kami lolos untuk di uji, dan beradu di Bogor. Mana pada waktu itu musim KKN. Sedangkan Uun ambil KKN di luar Jawa, yaitu Wakatobi. Ya, nangis darah dan penuh pengorbanan sih. Apalagi dia ketua peneliti kami. Ngos-ngosan sih berproses bersama itu. Pokoknya semua bermula dari keiisengan yang hakiki. Mulai memproduktifkan diri, menambah deretan CV dan tentu saja punya kontribusi. Waktu itu Pak Pardjo, Wakil Dekan III bagian Kemahasiswaan, ikut seneng. Karena ada tiga judul yang mewakili FIB untuk bertandang di PIMNAS. Aku pernah cerita lengkap, klik disini!



    Bagian II. Proses Dialektika


    Sok-sok'an kasih nama Dialektika, haha. Biar kata ini menjadi suatu pertarungan bagaimana sekarang kamu berperang terhadap dirimu sendiri. Bukannya pertemanan kami selesai, bukan. Tapi proses bagaimana kamu mendewasakan pikiranmu untuk terus berjuang.

    Kenapa?

    Kami berproses dengan skripsi yang berbeda-beda. Tidak ada teman. Tidak ada meja untuk berbagi. Karena sesungguhnya proses skripsi adalah proses dimana kamu bekerja individu. Yaiyalah. Serta bagaimana semangatmu tetap terbakar dalam nadi untuk tetap konsisten. Semua mahasiswa akhir akan mengalami bagaimana ketidakkonsistenan selalu menghantui. Bagaimana pencarian data sekecil apapun kadang menjadi momok untuk berhenti. Dan, bagaimana orang bodoh untuk lebih pintar memanipulasi. Kan, semuanya berkelindan. Menjadi satu kesatuan makna yang dimana produk skripsi itu dihasilkan. Itu definisi menurutku, lho ya!

    Uun mengalami perubahan produk ide yang dihasilkan. Mulai dari penelitian tentang Pakualaman yang kadang dua atau seminggu sekali dia harus ke Jogja untuk mencari data. Penelitian hampir lebih dari satu tahun, dan kemudian dia menyerah. Karena beberapa pertimbangan, salah satunya ada kompilasi buku tentang Pakualaman yang menjadi subjek dan objek yang sama dengan penelitiannya. Ia takut terkena delik plagiasi atau apa. Akhirnya, dia menyerah juga.

    Saat aku selesai skripsi tapi harus menyelesaikan urusan birokrasi, suatu waktu pernah kujumpai Uun di kantor dosen. Lagi kikuk dan mengajukan pergantian judul. Aku dan Eyang agak menyayangkan sejujurnya. Tapi bagaimana lagi. Uun berkata bahwa tidak ada jalan keluar selain mengganti judul.Waktu itu pula, sebenarnya aku gundah gulana karena seminggu setelah itu adalah pendaftaran berkas S2. Dan aku menggalau dong ditemenin Imaf. Di saat kamu sedang berjuang dengan judul baru skripsimu (dua hari sebelum puasa Ramadhan 2018). Di sini aku meminta maaf,--yeah, minta maaf secara onlen karena hanya sebentar menemanimu.

     
    Tahun 2016 dan dua kelompok ini memutuskan untuk buka puasa bersama di pinggir jalan. Nice memory!

    Bagian III. Kuharap Akhir yang Indah


    Hei Un, setelah berbulan-bulan aku tidak tahu kabarmu. Bahkan saat kamu menghubungiku di bulan Juli (hariku wisuda), aku tidak tahu lagi bagaimana kondisimu. Hingga di akhir Desember aku dan eyang menjengukmu. Hanya kunjungan ringan dan kami sepakat untuk tidak membahas skripsimu. Aku tahu kamu tengah berjuang. Katamu, kamu sering main ke Gentan. Aku masih sering pinjam buku sebenarnya di  perpustakaan Ganesha. Membahas dunia kerja. Dan kapan ada lagi perjumpaan setelah itu.

    Susahnya komunikasi antara kita membuat aku sering mendengungkan doa ke langit. Agar kondisi dan keadaanmu baik-baik saja. Masih sering dikunjungi Sinchan, Icik dan Ista. Mendengar kabar dari mereka aku sudah senang kalau kamu berprogress baik.

    Aku tidak tahu, akhir tulisan ini akan membentuk narasi seperti apa. Un, kuharap dirimu baik-baik saja. Tetap konsisten. Tetap berjuang untuk apa yang tengah kau perjuangkan. Rumahku masih sama. Di Jalan Lempuyang I No.09. Kamu bisa mampir untuk menyambangi pengangguran berkualitas seperti aku ini di sini. Lalu, kita bisa memulai obrolan kita.

    Aku baik-baik saja!

    Aku hanya butuh kalimat itu terucap di dirimu.



    Nabila Chafa,
    yang merindukan hujan deras dan panasnya matahari secara bersamaan.
    14/02/2019
    14:51 pm

    :::

    Daripada memori ini terekam hanya di laptop Toshiba-ku yang sekarang sudah berganti kepemilikan menjadi milik adikku. Maka kubagikan saja secara onlen. Haha :)


    Cheers!
    Keep fight and Stay Bright!






    Continue Reading
    Hei,

    Ada yang bertanya kabarku?

    Hei, aku Nabila N. Chasanati, S.Hum dan aku baik-baik saja--dalam retoris yang menyenangkan, tapi sebenarnya tidak! Setengah tahun aku lulus sarjana, aku tidak baik-baik saja karena bergelut tentang diri sendiri yang ditekan untuk "lanjut kuliah S2" tapi hati berkata tidak. Susah emang. Pertimbanganku sungguh rumit, tapi entahlah. Insya Allah jika hal itu memang sejalan, akan aku laksanakan tahun ini. Halo 2019, be nice ya! Hahaha :)

    Beruntung, setelah lulus aku--bisa dikatakan pengangguran bermanfaat--karena hanya jaga warung, fotocopy (dan you know, itu menjanjikan karena samping rumah kampus STIKES Nasional, tapi tidak ada yang membuka bisnis fotocopy); sama jualan snack. Itu masih konsisten aku tekuni. Yah, walaupun aku ambil gaji 50.000 per minggu buat jajan, sisanya dibelanjakan lagi buat modal. Biar uangnya muter kayak mesin cucian! Kondisi bisnisku: ceklis, baik-baik saja. Malah posisinya stabil.

    "Menganggur" artinya tidak berkegiatan. Tapi istilah itu memang cocok untukku, karena aku kerja bebas dan nikmat. Tanpa ada yang mengatur hidupku. Bacaanku sehari-hari, tontonan dramaku, bahkan tontonan youtube-ku. Tidak enaknya hanya satu, aku sendiri. Bergelut dengan diri sendiri lagi hanya akan menambah deretan panjang ketidaknyamanan. Tapi aku syukuri. 


    Berbicara tentang makhluk yang kufur nikmat ini, kondisi yang aku jalani memang bukan pilihan. Karena jawaban dari 'menjeda' adalah menunggu kabar baik dariku untuk melepas kenyamanan yang aku peroleh ini. Yah, beberapa waktu lalu ada panggilan wawancara dari perusahaan penerbitan yang mengontakku. Menguji nyali, menguji profesionalitasku menuju dunia kerja. Tapi belum jatah atau bagaimana, kabar itu belum kunjung datang. Jadi yasudahlah. Kita harus melatih hidup untuk legowo. Itu bukan rejekiku. Mungkin rejeki adik tingkatku. Siapa tahu? Rejeki tidak akan pernah salah kamar, selama kita panjatkan doa dan ikhtiar kita, insya Allah apa yang sudah ditetapkan menjadi milik kita adalah milik kita. Bila bukan, ya belum saatnya. 

    Captain Lemon berkata dalam captionnya:

    Kadang Di atas, Kadang Di bawah. Itu Biasa :///


    Betul Mon! Aku paham posisimu karena hujatan netijen atas kekalahan kemarin. Posisiku tidak berada di atas, tapi bukan di bawah juga sih Mon.

    Aku mengambil  kalimat Lemon ini untuk menginterpretasikan diriku. Walaupun sebenarnya, kalimat itu untuk nyindir netijen yang dua kali turnamen RRQ kalah atas Onic (Game ke-4 konyol sih, harusnya RRQ menang, tapi blunder). Hm, maksudku dibanding pencapaian RRQ yang lain, ini kondisi yang stabil dan tidak terpuruk-puruk banget sih. Karena kondisi terpuruk-seterpuruknya sudah dilalui yaitu kehilangan Captain Marsha dulu. 

    Sama seperti OG yang ditinggal Fly dan malah pindah ke Evil Geniuss, di saat itu n0tail harus membangun, mempererat, dan men-solidkan tim OG lagi, yang mungkin retak karena harus kehilangan Fly. Soalnya aku--kapan gitu--ngliat recap salah satu turnamen yang bertempat di Rusia antara Virtus Pro vs OG dimana Fly (bagiku seperti ayah/kakak tertua) yang benar-benar ngebangun komunikasi antar team mate-nya bagus banget apalagi bisa dapat poin saat poin mereka tertinggal. Disamakan, akhirnya jadi 2-2. Dan Game ke-5 (karena Best of Five) mereka ngrebut poin terakhir dengan kemenangan OG 3-2.

    Posisinya, hidupku saat ini masih di tengah-tengah. Kenyamanan yang nyaman aku dapatkan. Bukan terpuruk-seterpuruknya, bukan lagi di puncak-sepuncak-puncaknya. Belajar memosisikan diri untuk lebih banyak syukur. Kadang liat orang-orang yang belum beruntung dibanding aku, merasa harus bersyukur -sesyukur-syukurnya. Tapi merasa terpacu untuk lebih giat saat kita melihat orang yang berada di atas kita. Biar seimbang antara melihat atas dan bawah.

    Ketika suatu saat kita berada di atas, kita memang perlu jatuh. Bukan untuk dicemooh karena ketidakkonsistenan atau ketidakstabilan, tapi untuk menjeda. Jangan terlalu keras dalam berlari. Takut dijegal ditengah jalan, dan jatuh sejatuh-jatuhnya. Terkadang kita harus mensyukuri keberadaan kita berada di bawah, agar nikmat pengorbanan itu tetap membara dalam nadi kita. Bagaimana indahnya mendaki ke puncak lagi setelah kegagalan yang kita alami. Nikmatnya memang harus dirasakan, ketika kita berada di bawah, diatas alih-alih di tengah. Semoga kita mendapatkan nikmat dalam setiap posisinya. Amiin!

    Tuturu sehari setelah kekalahannya, live streaming di channelnya. Banyak netijen bertanya dan dia dengan selow menjawab:

    Kenapa kalah? Karena belum rejeki gaes!

    Dear Nabila di masa depan, akan ku katakan kalimat yang sama padaku suatu hari nanti.

    Kenapa belum dipanggil kerja? Kenapa belum ini? Kenapa belum itu?

    Belum rejeki, gaes!



    Dear Captain, mari kita berjuang bersama ya. Tak tahu harus menembus badai lautan, angin topan dan guncangan alam yang tidak menentu, posisinya sekarang nahkodamu ke Paris Saint German (PSG), sedangkan aku akan ke Alaska sebentar (haha). Siapa tahu kita bertemu di lautan Pasifik. #lhoh





    Nabila, 
    yang memulai membaca si kembar Edgar Ellen untuk mengembalikan nuansa Abegenya.
    12/02/2019
    13:07 pm

    :::

    Continue Reading

    Haloha dunia, kembali lagi bersama saya! (halah, haha :))



    Beberapa waktu lalu saya diberi kesempatan untuk mengunjungi Pacitan. Apa yang ada dibenak kalian jika mendengar kota Pacitan? Yup, kampung halaman Presiden ke-6 kita yaitu Bpk SBY dan tentu saja banjir besar yang membuat rata museum Kars tepat tahun lalu. Hhaa, dan tentu saja rumahnya Mas Dondon. 

    Berbicara Pacitan dan dan SBY adalah dua sejoli yang asoy saling ketergantungan. Jadi, di musim pilpres dan pileg yang akan dilaksanakan tahun ini (17 April 2019) baliho partai Demokrat mewarnai perjalanan saya. Kami sekeluarga mengunjungi Pacitan dalam rangka memenuhi undangan teman lawas Bapak pas masih bujangan. Terakhir Bapak ke Pacitan itu sekitar tahun 1986, jadi sudah berabad yang lalu intinya. Niatnya juga sekalian wisata. 

    Kami ke Pacitan melalui Wonogiri → Baturetno → Giritontro dan perjalanan kami mulus saja sampai ke Pacitan. Jalan lingkar selatan alhamdulillah ramai lancar dan sudah jadi. Intinya sudah diaspal mulus. Mengingat tahun lalu saat KKN di Paranggupito jalan lingkar selatan ini benar-benar lumpuh selumpuh-lumpuhnya. Masalah pelebaran jalan dan masih mondar mandir alat-alat berat dalam pembuatan jalan. Mungkin ini terjadi karena jalan-jalan yang saya lalui merupakan jalan provinsi. Yah, walaupun kanan kiri hutan dan jurang. Selama perjalanan hujan besar mengguyur. Mungkin menemani dari daerah Wonogiri sampai Pacitannya sendiri. Soalnya kami saat pergi bertepatan dengan awal-awal musim hujan yang mana hujannya lebih asoy. 

    Meskipun jalanan dari Wonogiri-Pacitan beraspal tetapi harus naik turun kaya roller coaster. Jadi hati-hati ya. Apalagi berkendara saat hujan. Soalnya licin cyin !

    Landmark Pantai Soge


    Pantai Soge itu menurutku unik. Karena terletak sepanjang jalan raya provinsi. Jalan itu kalau dirunut bakal ke arah Trenggalek terus ke Tulungagung, kata sumber yang terpercaya. Aku berpikir berarti Nasitha kalau dari Solo ke arah Ngawi bakal jauh ya. Tapi mengingat jalanan yang naik turun, okelah lewat jalan yang jauh tetapi nyaman dilewati. Sama saja juga kan rasanya. 


    Sepanjang jalan kalian akan disuguhkan dengan pemandangan perbukitan, kalau sudah sampai ujung bakal mendadak curam jalanannya karena langsung pantai. 

    Pantai soge sendiri hanya 5000 rupiah sekali masuk. Bisa jadi kalian dapat gratis kalau beruntung. Seperti Bapakku. Ada jalan nyidat yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Tapi memang harus pintar-pintar explore sih. Soalnya yaa kalau pakai kendaraan dan masuk pantai langsung ditagih petugas pantai di sana. 


    Legenda berkata, suatu masa pada masa pendudukan Jepang ada kasak kusuk beberapa harta rampasan milik Jepang disembunyikan di area dekat pantai Soge ini. Tapi entahlah, itu bisa jadi bualan semata. Atau mitos turun temurun. 



    Pantai Soge hadir dalam sebuah keterdiaman. Hadir dalam merenungi refleksi manusia yang suka kadang tidak bersyukur, tempat ini teduh, damai dan suasananya enak untuk bersantai. Melihat keindahan pantai laut selatan, berpikir tentang seberapa jauh titik Pantai ini dengan daratan Australia. Dan hal-hal yang menarik dari hidup ini yang layak untuk direnungkan. 

    Untuk kalian yang merenung, berjuang keras untuk bertahan hidup di tengah persaingan, mengabdi dengan daya upaya kalian, menjadi bermanfaat, menjadi kuat untuk terus berjuang. Terima kasihlah pada usaha kalian untuk mendapatkannya. Dan, terima kasih untuk bertahan! Itu refleksi yang sering aku renungkan di pantai ini. 

    Yuk, bersenang-senang bersamaku!
    Nabila Chafa yang men-tjoba menjadi bahagia~


    09.53
    22 Januari 2019

    :::

    Beberapa gambar yang ingin kubagikan. Daripada menuh-menuhin memori. Mending memori itu dibagi, dan dibuka sewaktu-waktu kalau kita panggil lagi. 
    Hihihi :)














    Continue Reading
    Hei jiwa yang terlelap!

    Sapalah salam semangatku lewat ketikan panjang keyboard ini. Membentuk alunan suara harmonis yang receh. Aku ingin bertanya dalam sendu, apakah kamu pencemburu?

    Ada seorang teman yang mengaku dia seorang pencemburu. Masalah sepele ketika tidak banyak orang yang memperhatikan berbicara, dia merasa cemburu diduakan. Ketika tidak banyak orang yang menyambutnya dalam sebuah perayaan, dia cemburu dengan memasang wajah kusam. 

    Wajar~

    Aku akan bercerita singkat masalah lampu yang pencemburu. Lampu ini juga bisa cemburu, ketika dia hanya menyala sendirian. Dia tidak terang seperti lampu lampu lain yang punya daya magis luar biasa. Dia memberikan percikan saja, tanpa bermaksud menerangi. Untuk membaca satu huruf pun terasa kepayahan. Lantas, apakah dia berhenti menerangi? Tidak. Dia sebisanya melakukan tugasnya.

    Lampu itu juga menyadari, dia tidak suka jika keramaian tercipta. Biarkan hidupnya mengalun sesederhana. Asalkan menjadi percikan semangat, apalah daya untuknya terus menyala terang. Jika hiruk pikuk membunuhnya perlahan. 

    Semoga kamu dimanapun kamu, juga menerangi. Sebisamu!

    Aku,
    yang masih merindu.
    2 Mei 2018. 21.23 pm

    ...




    Continue Reading
    Sebuah Permulaan!

    Tepat ketika aku mengetikkan satu kata demi kata dalam tulisan ini, di satu aplikasi laptop saya bekerja. Mendendangkan lagu dari Randy Pandugo yang berjudul Hampir Sempurna. Dalam bait bait yang tercipta ini aku ingin sedikit merangkam rasa kegalauan yang menumpuk dan berkelindan hingga aku tak sanggup untuk menyelesaikannya dengan sempurna. 

    Aku sendiri. Pada suatu momentum dan hanya diri ini yang mengerti. Pada proses penciptaan dan takdir yang membuatku bisa melewatinya. Bukan dengan mulus tetapi dengan terbata-bata dan masih mengeja keaslian dunia ini. Rasanya ingin ada yang digenggam di tangan ini. Tetapi aku hanya mengepal sendiri. Dalam kesendirian hanya menggenggam angin yang datang menyapa. Tanpa suara hanya sulit membaca klisenya hal yang aku keluhkan. 

    Beberapa minggu yang lalu, mungkin hidup membuatku harus naik turun seperti roller coaster. Sayang aku hanya memeluk diriku sendiri. Tidak banyak orang yang berada di sampingku. Setidaknya ada. Meskipun mereka tidak bekerja dengan baik. Toh, mungkin halnya jika aku yang  berada di posisi yang sebaliknya, aku mungkin akan bersembunyi. Pada sesuatu yang tidak ingin kueja dengan sempurna bagaimana teman-teman di sekililingku menghadapi dunia ini. Aku juga terlalu menutup mata pada kepelikan hidup mereka. 

    Semua terselesaikan dengan repalan tangan. Bersama hujan yang membawaku menjadi basah. Pada keringnya musim panas yang membawaku begitu berair karena keringat. Aku melaluinya dengan segala proses yang tidak pernah berakhir. Berharap, akhir itu segera aku temui. Setidaknya aku ingin membuang muka pada tempat yang membesarkanku selama 4 tahun terakhir ini. 

    **

    Kampus dan aku adalah metafora.

    Aku masih ingat dengan baju putih-putih aku 4,5 tahun yang lalu, dengan polosnya aku mengikuti ospek jurusan, fakultas dengan tertib. Aku tidak mengharapkan apa-apa. Padahal waktu itu, salah satu doa yang terselip di sujudku adalah segera meninggalkan tempat ini. Maksudku kampus yang beberapa hari ini aku datangi. Karena apa? Aku merasa salah jurusan pada pengumuman aku diterima di ilmu sejarah. Apa yang kamu harapkan dari belajar sejarah. Selain menjadi pembual yang memperdebatkan keaslian sejarah. Jadi begitu~

    Tetapi aku berasa mendekte Tuhan dengan segala permintaanku di awal. Aku ingin masuk jurusan tertentu di perguruan tinggi tertentu. Itu tidak berhasil. Mungkin saja, ini ulah doa ibuku yang diijabah agar aku masih berada di Solo. Dan aku lakukan itu. Aku mulai beradaptasi dengan baik. Mempunyai teman-teman yang berbeda dari SMA. Semuanya saling menyayangi, saling mencintai dan menganggapnya seperti keluarga sendiri. Itu yang membuatku betah. Aku tidak peduli dengan pelajaran yang terima. Toh tidak satu pun yang masuk dalam nalar berpikir di logikaku. Meskipun demikian, aku menikmatinya. Beberapa aku benci dengan mata kuliahnya. Itu tergantung dari dosen yang mengajar. Untuk dosen cuek dan selalu menjelaskan sesuatu yang benar-benar tidak aku tahu, itu keren. Maksudku, aku suka dengan Tundjung W. Sutirto menjelaskan tentang seni pertunjukkan. Atau Widi yang membedah buku--yang salah satu pernyataannya masih aku ingat, 'Indonesia tidak benar-benar memiliki budaya' alasannya semua yang ada di Indonesia adalah impor. Aku setuju bagian itu. Atau Sutanto yang menjelaskan filsafatnya bahkan berpikir mengajak mahasiswanya membaca The Insecure City tentang Beirut. Selebihnya aku tidak menyukainya. 

    Setelah semua hal, aku lakukan dengan baik. Atau setidaknya begitu. Tidak bagi alasanku untuk segera mengakhiri penderitaan menjadi mahasiswa. Yaitu lulus. Hal pertama yang harus dilakukan dan menjadi momok adalah skripsi. Aku dan skripsi adalah satu kesatuan yang saling benci tetapi membutuhkan. Ibarat kata kamu tidak benar-benar mencintai pacarmu, selain kekayaannya. Nah, begitu pula denganku. Alasan aku bertahan dengan skripsi karena dengan mengerjakannyalah aku bisa lulus dari kampus ini. Untungnya dosenku dan aku bekerja sama dengan baik. Meskipun aku sedikit tidak menyukainya. Semoga dia mengerti! Aku selalu mendoakannya untuk baik-baik saja. Sebagai rasa syukurku, sudah membimbingku yang bodoh ini.

    Ada banyak hal yang terjadi di dalam bulan-bulan aku menjelang sidang dan sampai revisian. Aku bukannya memilih untuk kabur, tetapi memilih untuk memilih. Susah memang mengungkapkannya melalui kalimat. Intinya aku tidak memperjuangkan apa yang sudah aku perjuangkan. Bagiku perjuangan itu harus dibagi sama rata-sama rasa. Dalam hal ini aku setuju dengan konsep sosialisme. Pembagianku memang tidak adil hingga pada keputusan terburuknya adalah ---yaah---. Ada teman yang menemaniku untuk ini. Terima kasih untuk Nasitha yang takdir mempertemukan kita bukan di bulan April untuk wisuda melainkan periode selanjutnya. 

    **
    Cerita Akhir!

    Pada akhirnya kamu menyusuri jalan masa depan yang ada di genggaman tanganmu. Mimpi kita untuk menjadi apa, terpampang di depan mata. Dari awal aku sudah merekonstruksi jalan berpikirku untuk lanjut S2 ketika lulus. Tetapi nyatanya aku lelah. Beruntungnya pada pembangunan rumah baru di sana --- hingga keuangan keluarga harus tercurahkan khusus untuk membangun. Sebenarnya, ibuku sudah membujukku untuk tetap lanjut. Mengingat umurku sudah 23. Hei, ini masih terlalu muda untuk dikhawatirkan. Ohya, yang dikhawatirkan ibuku sebenarnya aku tidak benar-benar menyukai seorang pria semenjak aku kuliah. Itu yang dikhawatirkan akan membuatku harus menunda menikah. Hmmm... Akhirnya lobi itu sudah berjalan dengan baik. Setidaknya, biarkan aku rehat sejenak. Aku ingin membangun tokoku sendiri. Bekerja sendiri. Tanpa banyak orang yang mendekte. Hm, selain pekerjaanku menulis di sebuah platform baca digital. Yah, beberapa bulan ini aku akan terikat kontrak untuk menyelesaikan ceritaku. Intinya aku sedang memperjuangkan Nalendra! Doakan aku~

    Nasitha pernah bertanya, apakah aku tidak ingin kerja? Karena hanya aku yang tidak punya geliat untuk kerja. Maksudku, banyak orang yang mendaftar sana sini untuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan apa yang aku lakukan, selain membual di dalam ketikan Microsoft Word yang mencurahkan segala imajinasiku. 

    Jika ada yang bertanya, apakah aku ingin kerja kantoran? Maka aku akan jawab tidak. Semoga ibuku tidak membaca tulisan ini. Aku hanya ingin ibuku baik-baik saja dengan keputusanku. Aku punya masa depan yang aku ciptakan sendiri. Jika aku tidak memanfaatkan ilmuku (sejarah maksudnya) aku ingin menjadi penulis lepas, pedagang online dan sesekali membual di twitter. Masa depanku suatu ketika bukan menjadi kegalauan. Aku ingin merekonstruksi itu sesegera mungkin. Jika Tuhan menghendaki langkahku untuk lebih berguna lagi, maksudku dengan aku S2 dan menjadi dosen. Tidak masalah. Karena pada sejatinya aku ingin hidup dengan imajinasiku. 

    Itu saja. Aku harap, Nabila masa depan tidak segalau ini. Dan satu lagi, keinginanku yang ingin aku isi selama setahun untuk membuat masa depan ini adalah ikut sekolah skenario. Semoga Semesta mendukung keputusanku.


    N-a-b-i-l-a--C-h-a-f-a-,
    yang berharap baik baik saja ketika hujan turun~
    ketika gemuruh datang di saat tibanya musim kemarau.
    20 April 2018
    22.14

    |||



    Continue Reading


    Warna pelangi tergeser oleh silaunya pancaranmu.
    Bisa saja, kristal-kristal di langit terbiaskan hingga cahayanya tak sampai pada mataku.
    Kamu berbicara tentang kebersamaan kita.
    Kemudian, untaian ceritamu dimulai dari kesendirian.

    Sungguh. Aku ingin membantumu.
    Kubah di langit mungkin tak menginginkan itu terjadi.
    Entahlah~
    Belati akan semakin mengiris pilu hatimu, bila ku katakan yang sejujurnya.

    Amanah itu sudah selesai.
    Setidaknya kau lega.
    Bisa saja, kau merayakannya dengan sekedar makan bakso lima ribuan di depan fakultas.
    Sembari mengolok teman-teman "siapa saja yang sudah lulus?"

    Jujur!
    Aku rindu senyum kebangganmu itu.
    Atau senyum menghinamu itu kalau kamu sok tahu.
    Hingga senyum remeh temehmu dalam berbasa-basi.

    Hei, untuk pundak yang semakin ringan.
    Kertas yang masih kosong itu isilah.
    Setidaknya dengan kebangganmu untuk selalu mengerjakan sesuatu.
    Tuhan adalah Maha Benar.
    Maha Sebaik-baik Pemberi Apresiasi

    Baru aku tahu, keputusan itu tak akan berlanjut.
    Hanya ketukan jemari yang mengisyaratkan: Aku berhenti!
    Sudahlah~
    Toh, itu keputusanmu.

    Tapi jangan lupakan hari ini.
    Saat gerimis turun ke bumi dan dambaanmu sudah selesai.
    Jangan pernah kau menghilang.
    Untuk bersembunyi ataupun untuk lari.

    Senang atau tidak, kamu harus berani melewati.
    Hingga kuncup kumbang datang di kelopak mawar, aku selalu menunggu waktumu.
    Kemudian, aku tidak akan segan-segan untuk datang dan menepuk pundakmu.
    Lagi!

    Hei, kita bisa bercerita kembali. Tentang "hal apa yang sudah kita lalui"
    Bukan kita, tapi antara aku, kamu dan mereka semua.
    Aku harap kamu mengingatnya di lorong kehidupan masa mudamu.
    Sekedar untuk datang dan kembali, kini aku pamit!

    ::::




    Apresiasi tertinggi setelah kepengurusan SSC periode 2017
    Dan, terutuk kalian yang selesai dalam menyelesaikan amanahnya.
    Sembari menunggu tanggung jawab yang lain datang.


    ::::

    I don't even know why I'd do this anymore
    Reality Club_Is it this answer_Playing Now!
    Tuesday, 12nd Desember 2017
    22.10 pm

    dan...


    Happy Birthday to me!
    N  a  b  i  l  a    C  h  a  f  a, 
    selamat bertahan di umur 23 tahun sejak 3 Desember 1994.
    Aku mengapresiasi diriku, yang tegar, kuat, bakoh dan masih banyak kontradiksi dalam setiap kata itu. Setidaknya, Allah sebaik-baik pemberi Apresiasi.

    ::::
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top