Hei, sudah lama tidak menyapa blog ini. Entah berapa lama. Titik awalnya memang tidak bergairah buat nulis lagi semenjak aku ditinggal ibuku pergi. Kejadiannya pada Kamis malam Jumat malam, tanggal 21 April 2022. Tepat di hari Kartini, tepat pula seminggu sebelum lebaran tiba. Iya, sudah masuk 10 hari terakhir. Allah memulangkan ibuku dengan waktu dan kondisi terbaiknya.
Aku setelahnya, melayang layang. Meraba-raba. Menerka nerka. Alhamdulillah-nya sudah dilewati masa kelam itu selama 4 tahun lamanya.
Rasanya masih sama. Masih rindu. Setiap selesai salat, selain meminta hal baik terjadi pada diriku, adek-adekku dan bapakku-- nama ibuku tak pernah lupa aku sebut. Semoga terhindarkan dari siksa kubur, keselamatan dunia akhirat menyertainya, kelak kita akan berjumpa di surga.
Sepilu itu, aku dalam beberapa bulan terakhir sempat berdoa pula, pingin beli kasur. Kasur yg nggak empuk, nggak ambles --terima kasih untuk kasur yg kubeli setengah tahun lalu yg membuat tidurku tak lagi nyenyak. Sesederhana, pingin beli seblak, beli mie ayam saja sekarang harus aku doakan. Semoga bisa kesampaian.
Di umur segini, makan semaunya adalah rejeki yg luar biasa. Gak semuanya bisa merasakan kenikmatan makanan tertentu. Contohlah Pipit yang sekarang mengurangi porsi pedasnya. Jadwal minumnya diatur. Beberapa kali menghindari makanan pedas tertentu. Padahal mengenal dia, selalu identik dengan selera pedasnya yang levelnya selalu di atasku.
Ah, ternyata begini yaa menulis lagi setelah sekian lama tidak nulis jadi ngalur ngidul tidak bertema. Padahal aku mau bahas seprei.
2019, ketika aku sudah merasakan dunia kerja. Aku punya uang sendiri. Gak banyak waktu itu, di bawah UMR, tapi aku punya uang sendiri. Pingin rasanya beli seprei. Ketika aku utarakan niatku untuk membeli seprei --waktu itu suka banget sama motif tertentu yg aku obsession banget, tapi ibuku tidak memperbolehkan.
Dia menyodorkan aku seprei batik satu set ukuran 160 an dan bau lepek. Masih baru itu sepertinya. Dia cerita kalau itu hadiah pernikahan ketika menikah dulu. Wow dari menikah tahun 1993 dan kadonya aku buka 2019 butuh waktu lama sekali buat 'nganyari'. Setelah dikasih, malamnya langsung aku cuci dan jemur. Biar besoknya bisa langsung aku pakai di kamarku.
Kini seprei itu robek di bagian tengahnya. Di atas kasurku yg medium firm baru kubeli tanggal 23 Agustus 2026 lalu ini, robekannya begitu jelas terlihat.
Seprei itu masih sama nyamannya. Bahkan mencari motif batik serupa yg sekarang udah bukan jamannya.
Sebelum kututup tulisan ini, aku mengabarkan bahwa kondisiku baik baik saja. Hari ini libur sehari. Sedih sih, tapi setidaknya masih tidur dalam kondisi sehat wal Afiat dan memakai seprei peninggalan alm ibuku ini. Tentu saja di kasur yg medium firm itu.
Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah.
Nabila N Chasanati
22.45 pada 26 Agustus 2026, mengabarkan pada dunia.
