Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini




    Senjakala malam menyapa malammu. Penuh kesunyian dan deru redam suara napas yang tak bertalu. Pada dia, langit malam yang cerah. Bisakah datang membawa secerca keceriaan di tengah kegelapan. 

    Wahai sore menjelang malam, tidak bisakah kau titipkan maksud dan tujuanku sebelumnya? Membawa pekat dan sunyi yang masih membelenggu untuk terhempas.

    Ditengah hingar bingar cerita yang datang bersahutan. Bak suara kucing-kucing tetangga rapat di pinggir pos ronda malam. Tak bisakah sunyi atau perasaan yang tidak memiliki tumpuan ini sirna. Biarkan burung dara peliharaan tetangga membawa serta kabar bahagia itu.

    Ah, 

    Atau setidaknya daun yang tidak ditakdirkan untuk jatuh itu membawa pesan penuh makna. Bahwa setidaknya dia sudah mencoba bertahan pada ranting dari terpaan angin muson yang sudah datang.

    Kemudian, memori liar itu datang. Soal cerita kusut masa lalu yang masih dibawa-bawa hingga menjelang tidur.

    Untuk semua orang yang mengenakan rok putih dengan atasan batik biru tua itu. Hal yang paling dirindukan dari yang pernah ada. Sorak-sorai seorang siswa yang memenangkan penghargaan. Atau pidato kepala sekolah yang menggebu-nggebu di tengah kekhidmatan siswa di lapangan upacara.

    Atau pada tatapan cinta pertama di sekoalah dulu.

    Heuh.

    Kan, kadang hidup memang harus berjalan. Terlalu menyenangkan jika membawa kaca spion di setiap perjalanan. Tatkala sepi dan sunyi itu datang, kalanya memang kita harus pasrah.

    Ah, pada perasaan yang sudah datang membuncah. Membawa serta kaca pecah. Meringis kesakitan sempurna di dalam hati. Kemudian menangis dalam diam ketika tidur tiba.

    Sudahlah. 

    Kan kata orang, di usia kita sekarang, menangis sudah menjadi bagian rutinitas yang menyebalkan. Toh kita tidak bisa menghindari hal menyenangkan yang akan datang.

    "Pada kesunyian, 

    masi ada harap? Aku haturkan doa di tengah malam yang panjang,"

    (*)

    21.07
    Minggu 
    13.6.21
    Continue Reading


    Gelombang laut apakah mereka tidak lelah untuk terus mengombak?

    Angin muson tidakkah mereka berhenti bertindak ketika musim yang ditunggu datang?

    Dan apakah kamu juga akan berhenti mencari penantian terakhirmu?

    Kala aku menuliskan pepatah asal dan aku lempar di cuitan akun twitter ku, tak kusangka bakal mendapat jawaban tak terduga dari rekan rekan. 

    Seolah mereka memang membenarkan terkait apa yang ingin aku tasbihkan. Soal pertanyaan pada 'kapan', dan diakhiri dengan 'selesai'. 


    Mengingat apa yang menjadi dasar berpikirku, semuanya tak bakal 'selesai' pada apa yang belum kita 'mulai'.

    Maka menyeruaklah semua anggapan-anggapan kosong. Bisakah dengan bijak kita lepaskan saja helaan napas penat yang mengambang ini.

    Senyum sinis itu, pikiran pikiran bodoh itu, dan kekhawatiran konyol itu. 

    Ah manusia bodoh ini kenapa harus berpikir yang tidak tidak. Seolah semua pikiran jahat itu bakal terjadi sebentar lagi.

    Kemudian terucap soal 'apakah masih ingat ini?'

    Aku mungkin tidak bisa membohongi perasaanku kan. Bahwa pada suatu masa pernah dibuat bertekuk lutut pada seseorang. 

    Aku senang. Aku gembira. Setidaknya hari-hariku punya nafasnya. Maka suasana yang datang menjadi hangat. Hati terasa ringan untuk bergerak. Pikiran hanya terfokus pada satu dua gerak kinetis yang tergambar jauh. Isi rapalan doa hanya berfokus agar Tuhan mempertemukan dengan 'indah' lagi di kemudian hari.

    Bahkan rasa penat yang menyeruak itu seakan menyerah. Bagaimana caraku memandang dengan cara berbeda. Bagaimana senyumku akan terukir berbeda dan seakan terpaksa bahagia. Seolah olah penat yang datang melanda dibayar suci pada perasaan yang sudah terkredit hampir setiap hari.

    Aku menyukai laki-laki dengan jiwa yang hangat. Senang membantu orang lain tanpa diminta. Mencurahkan waktu dan jiwa raganya untuk sesama. 

    Hei, tidaklah cukup untuk segera melepas penat dengan menyerah.


    Jika suatu saat dia benar-benar pergi. Tidak menyisakan ruang untuk hati yang tidak dianggap ini, aku masih tidak yakin aku bakal sanggup melepas. Melepas rasa bahagiamu dengan kesedihanku. Melepas senyum sumringah di hari bahagiamu dengan kepura-puraanku.

    Benar. Semuanya hanya perkara waktu saja. Akan tiba waktunya nanti aku benar-benar ikhlas, se-ikhlas-ikhlasnya. Meninggalkan kamu. Meninggalkan kehampaan. Meninggalkan jerih payah yang tidak menyisakan apa apa.

    Tapi terima kasih. Pernah membuat hatiku hangat. Meski hanya hitungan detik ketika menatapmu dari kejauhan.

    Ah, perempuan bodoh ini ternyata masih berhalusinasi, kamu akan muncul di perempatan jalan raya itu di pukul 7 pagi hari.

    (*)

    Terima kasih 7 april
    Menulis ini ndengerin lagu galau, dan feel nya pas.
    20.09


    Continue Reading
    Sempat waktu lulus SMA dulu aku membuat kisah klasik ala-ala.

    Iya, dalam bentuk novel. Tokoh utamanya adalah teman sebangkunya Dina. Dalam membuat cerita itu, pure, aku berpedoman pada sosok temanku sendiri. Biar pikiranku yang suka melalangbuana ini ada sebuah wadah yang tepat.

    Tepat hari ini, aku ingin sekedar mengenang pencapaian paripurnaku selepas bangku SMA tersebut.

    Jadi riwayat singkatnya seperti ini.

    Liburan semester 2 kuliah sekitar tahun 2014, aku mempunyai banyak waktu luang. Satu bulan di rumah, imajinasiku tertampung dalam cerita manis yang memiliki ending indah. Iya, indah. Karena ada muaranya, tidak banyak cerita yang aku punya yang memiliki akhir. Semuanya serba menggantung, meminta untuk diselesaikan.

    Dina adalah tokoh utamanya.

    Dia memiliki karakter cuek, pendiam, tidak banyak ulah, dan menyukai kedamaian dalam dirinya. Kedamaian itu sama artinya dengan gangguan orang lain terhadap apa yang disukainya. Dia pencinta buku. Dina adalah aku, versi dunia nyata.

    Yap persis, aku menceritakan karakterku sendiri. 

    Setting waktu bermula dari awal mula masuk ke bangku SMA. Mengalami masa orientasi siswa dengan keganasan senior kelas. Iya, kenanganku hingga kini pada MOS SMA memang masih membekas, apalagi ketika aku lulus SMA, ya kan.

    Awal cerita, Dina tidak peduli dengan petemanan. Maka dia tidak masalah di hari pertama masuk SMA tidak memiliki banyak teman. Lagi pula dirinya tidak ada teman dari SMP yang masuk di SMA tersebut. Berkenalanlah dia dengan sosok pria yang juga 'tidak memiliki teman' pula.

    Namanya kebetulan adalah D yang lain.

    D memiliki karakter yang dibutuhkan Dina. Dia tidak mengganggu apa yang menjadi kesukaannya. Tidak banyak ulah, pendiam di sisi lain. 

    Lama kelamaan, keduanya dekat. Berterima kasihlah pada tugas-tugas sekolah yang memaksa mereka selalu bersama. Lambat laun perkenalan mereka menjadi sesuatu yang saling membutuhkan.

    Dan begitulah...

    Aku akan meluangkan waktu membaca karya lamaku itu. Baru-baru ini aku kepikiran sosok D yang lain itu. 

    Sebenarnya D yang lain itu adalah teman dekatku yang kuambil karakternya dengan begitu bertanggung jawab. Iya, membenamkan karakternya menjadi imajinasi yang aku bangun dari alur yang aku ciptakan, bukankah itu jadi hal yang luar biasa.

    *

    21/3/2021
    18.47

    Kepikiran D yang lain


    Continue Reading

    Hei, sudah mendekati siang. Matahari sudah panas menyapa bumi.

    Suatu ketika aku ingin bercerita mengenai kampusku. Kebetulan tanggal 11 Maret kemarin dia ulang tahun. Sudah sedikit tua tapi terlalu muda jika dibandingkan kampus kampus elite negeri ini. Ya, sudah 45 tahun.

    Tapi kampus akan menjadi setting tempat terindah pertemuan pada sosok 'bapak', 'ayah', sebut saja seperti itu. Padahal dia hanya 2 tahun diatasku. Kenapa sering kami--aku dan teman-teman memanggilnya--bapak? Dia memang sepertinya pantas menyandangnya karena kepribadian dan perawakannya yang mirip bapak-bapak.

    Awal masuk kampus, aku didapuk jadi sekretaris. Sialnya, pekerjaan itu sebenarnya sama sekali tidak cocok denganku. Apa mau dikata. Aku masih lugu. Namanya juga baru keluar dari bangku SMA dan mencicipi bangku kampus, kan kayak lebih mentereng punya kesibukan baru.

    Halah, aku cuma jadi babu birokrasi waktu itu.

    Memang, aku suka hal-hal yang berbau menulis. Tapi menulis dengan menjadi sekretaris adalah hal yang berbeda jauh. Salah kaprahnya orang-orang di sekitarku menggenarlisir pada satu fakta yang sama.

    Oke. Akhirnya aku iyakan.

    Pada waktu itu, pekerjaan utamaku membuat proposal kegiatan, beberapa surat menyurat. Aku pikir udah. Kerjanya sekretaris hanya menulis. Tapi aku terjebak dalam luka batin yang sangat dalam. Gimana enggak, birokrasi kampusku yang berbelit memaksaku harus kerja ekstra. Minta perijinan sekaligus bikin surat yang diperlukan.

    Hari itu juga. Di saat itu juga.

    Maka apesnya, di saat semua orang pada menikmati liburan semesternya, aku dan beberapa orang harus berjibaku ngurus proposal kegiatan, dan tetek bengek acara lainnya. Bersama tentu saja pria yang aku panggil sebagai 'bapak' itu. 

    Printilan dan tetek bengek itu nggak selesai di libur semester. Tapi lanjut juga memasuki kuliah semester 2.

    Suatu hari muncul perasaan hancur, ingin lari dan menangis di satu waktu. Tepat ketika istirahat dan masuk kuliah Filsafat.

    Bahkan ketika masuk kelas, bukannya aku menjejeri teman-temanku yang sudah menyiapkan kursi buat aku. Aku langsung melipir dan mendapati 'Bapak Ketua Acara' melipir ke bangku pojok. Langsung deh, aku menjejerinya. Dia yang belum duduk di bangkunya langsung memberi bangku pojok untukku. Jadilah aku di sana nangis sejadi-jadinya. Sembari sesenggukan pula. Di perkuliahan kelas Filsafat yang membosankan.

    Bapak ketua menutupiku dengan badannya yang gempal. Agar aku bisa mbrebes mili sepuasnya. Dia hanya sesekali memberi saran, menyemangatiku. Ah, kenapa sih kita jadi korban rumitnya birokrasi kampus. Hilih.

    Setelah nangis, usai sudah drama-drama tidak pentingnya. Saatnya fokus lagi membantu pak ketua. 

    *

    Kemarin lusa, aku bermimpi bahwa Pak Ketua bahagia. Ah, sungguh. Sebenarnya terlalu panjang jika diceritakan sosoknya. Tapi melihat dia bahagia, cukup sudah membuatmu bahagia juga.

    10:54
    12/3/2021



    Di bangku Pojok Tengah Kelas Filsafat

    Continue Reading


    Senja Hari Ini

    Sayang, ketika daun bergesekkan dan berjatuhan, aku membayangkanmu. 

    Mungkin, daun jatuh itu sudah suratan takdir membawa memori terbaik kita. Bisa kita simpan sejenak saja menunggu senja sebentar lagi turun

    *

    Hari Pertama Masuk Sekolah, Juni 2010


    Bel masuk sekolah berdenting. Bapak penjaga sekolah yang berkumis tebal itu menjalankan tugasnya. Selepas upacara bendera, semuanya nampak ogah-ogahan. Sama sepertiku. 

    Hari ini pertama kalinya menginjakkan kaki di sekolah menengah atas. Biasanya setelah upacara dan sambutan awal kepala sekolah dan pihak guru, akan ada perkenalan. Atau biasa dikenal MOS, ajang perundungan itu datang.

    Upacara membosankan telah selesai. Dilanjutkan dengan materi yang akan diberikan guru. Sebelum itu, anak-anak baru kelas 10 diberi 'pelajaran' oleh kakak kelas. Kata teman sepantaran, kakak kelas yang bakal memberi 'pelajaran' berasal dari pasukan inti. Sebuah organisasi tersendiri yang aku tidak tahu persis apa manfaat mereka. 

    Mendapatkan selebaran mengenai sekolah, guru, dan sampai seluk beluk keorganisasian sekolah sudah ada di buku yang aku dapat di hari sebelumnya. Hari dimana aku membayar untuk sejumlah biaya sekolah, seragam, dan lain sebagainya. Jadi setidaknya sebelum aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di sekolah, aku sudah mempelajarinya.

    Meski sudah diberi seragam, anak baru tetap memakai seragam dari SMP asal. Tak lupa juga beberapa hal yang diwajibkan untuk dibawa. Sebuah celah untuk melakukan perundungan, persis seperti kisah klasik novel teenlit. 

    Anak-anak Pasukan Inti masuk ke kelas kami satu per satu. Mereka langsung teriak-teriak tidak jelas. Kemudian menggledah apa-apa saja yang menjadi kesalahan kami anak-anak baru. Untungnya aku berada di meja paling depan. Masih sedikit diberi nyawa tambahan gara-gara bakal lama untuk memeriksa. Apesnya, kamu yang langsung datang. 

    Muncullah kamu. Perawakannya tinggi besar menjulang. Perawakan bak seperti militer. Rambutnya cepak. Sudah nampak cocok menyandang status sebagai prajurit. Hanya saja tatapannya tidak tegas, begitu sayu. Ada tahi lalat di sebelah pipi kirinya. Begitu nampak gara-gara kulitmu bersih.

    Matamu langsung mengarah ke meja paling depan. Memeriksa teman sebangkuku kemudian aku. Ada kesalahan yang aku lakukan. Pensil faber castel milikku belum teraut. Sementara temanku sudah. Dengan nada bentakkan memekakkan telinga, kamu menyuruhku maju ke depan. 

    Bersanding dengan anak-anak pembuat kesalahan lainnya. 

    Setelah waktu 'geledah-menggledah' usai. Kamu adalah satu-satunya anak Pasukan Inti yang paling menyebalkan. Aku sudah memberikan cap itu ketika kamu langsung dengan mata sinisnya menatapku. Mondar-mandir meneriakkan kesalahan kami. Bahwa kami sebagai anak baru di sekolah 'bagus' ini harus disiplin, bla-bla-bla. Semuanya konyol dan hanya aku telan mentah-mentah tanpa tercerna masuk otakku.

    Kemudian, si 'anak-anak tidak disiplin' kamu bawa ke lapangan basket belakang sekolah. Kamu dan gerombolanmu meneriaki kami lagi lebih lantang. Lebih keras. Lebih mengerikan. Mukamu masih terekam jelas dalam memori betapa menyebalkannya kamu saat itu. 

    *

    Oktober, 2016


    Kurang kerjaan banget kadang aku. Organisasi seabrek ingin didatangi rapat, belum lagi tugas kuliah, masih bikin proposal bisnis. Aku didorong teman baikku untuk mengikuti pendanaan kewirausahaan yang dibiayai dari kampus. Kita tinggal bikin proposal kewirausahaan. Nanti setelah dibikin, dipresentasikan bersama prototipe bisnisnya, kemudian kalau lolos bakal didanai. 

    Perasaan kalau menyangkut bisnis berbisnis memang aku tidak pernah ahli. Ah, biarlah. Daripada tidak dicoba. Lagian mau kapan, ajang ini hanya diselenggarakan setahun sekali. Tidak selalu ada. 

    Pagi hari yang dinanti untuk presentasi bisnis datang. Aku sudah siap bersama dengan puluhan anak yang mengikuti ajang yang sama. Kita berkumpul di jalan masuk menuju aula. Saling berdesak-desakkan memperebutkan kursi yang sudah disediakan di dalam aula. Hal pertama yang kita lakukan adalah mengikuti pembekalan terlebih dahulu.

    Lelaki yang wajahnya menyeramkan dan terpatri jelas dalam memori itu mendadak datang. Memakai kaos polo berwarna merah bata. Memakai jeans dan menyangklong tas ransel hitam. Dari kejauhan datang sendirian. Lelaki itu memang datang terlambat. Harus menduduki bangku di deret depan. 

    Kamu memang tidak mengingatku. Mungkin gadis polos yang kamu teriaki ketika masuk SMA itu tidak memiliki sejarah yang layak masuk dalam memorimu.

    Tapi ingatan wajah menyebalkanmu mendadak masuk. Menyeruak. Mengobrak-abrik bahwa hari ini aku tidak menaruh minat apapun pada apa yang aku lakukan. Persetan dengan proposal bisnis yang sebentar lagi aku presentasikan.

    *

    Kemarin,

    Sial!

    Tuhan menciptakan miliaran manusia, kenapa harus kamu sih.

    *

    Senja Hari Ini

    Ketika SMA, aku terkadang menghabiskan waktu mengikuti pertandingan basket. Kamu dan tim kamu bertanding. Perawakan tinggi bak militer itu pasti cocok jadi pemain basket hebat. Beberapa kali kamu dan tim basket sekolah sering mewakili kota. Bertanding di kejuaraan provinsi. 

    Kulit cerahmu tak menjadi hal yang menakutkan jika berhadapan dengan matahari. Ketika aku harus pulang sore demi mengikuti ekskul di sekolah, lebih sering mendapati kamu bermain basket sendirian.  Rasa-rasanya aku ingin duduk di pinggir untuk menamanimu. Di bawah guyuran hujan, di bawah sengatan matahari sore, di kondisi apapun. 

    Meski terkadang berdua, meski terkadang sendirian, atau ketika kamu duduk sendirian di bawah ring untuk beristirahat karena kelelahan main basket. Tak perlu kamu tahu, ketika itu pula aku sering mengamatimu. Dari jauh. Dari tempat motorku terparkir. Alih-alih alasan parkir motorku hanya sebuah pengalih kondisi. Atau aku sering mendapatimu bersama gerombolan sahabatmu di kantin. Tawa selepas-lepasnya yang diikuti dengan senyum dari matamu. 

    Hei, bisakah kita mencoba untuk saling menyapa dari awal. Sebelum berakhir pada takdir yang memuakkan ini. Takdir yang saling memisahkan. 

    Kemudian memori berharap kembali dari awal. Ah, nampaknya sudah susah membuat kisah cantik dengan takdir yang sempurna. Termasuk kehadiran senyum hangatmu dan wajah memuakkan itu datang bersamaan.

    Padahal kita bisa saling memandang langit senja yang sama. Lalu kamu bisa bebas bermain basket dan hanya aku yang menjadi penonton satu-satunya. Tentu saja, keahlian bermain basketmu itu yang sangat menghibur. Selain temperamen marah-marahmu yang tidak jelas ketika mengospekku dulu.

    ***

    10.48
    Kamis, 11.2.2021
    Mari Kita Lihat Sendunya Langit Sembari Kamu Bermain Basket

    Continue Reading

    Kuah soto ada yang bening, seperti sup. Bukan, lebih cocok orang menamainya timlo. Ada bihun di atasnya, bertabur potongan wortel, dan irisan kentang goreng. Cocok menemani pagi kita yang terkena hujan.

    Hei, dalam keheningan aku menyeruput soto hangat ini, tiba tiba aku kepikiran kamu. Tepat ketika arah pandang mataku tertuju pada tempat sambal berada. Yang aku ingat dari kamu adalah selera makan yang tidak menyukai hal yang pedas. Padahal pedas adalah nikmat loh. Surga di dunia ini ada banyak. Salah satunya adalah pedasnya cabai. 

    Satu suapan soto yang gurih ini aku tiba-tiba teringat dengan semangkuk bakso yang kaya akan gurih msg. Micin adalah sumber kekuatan untuk menghadapi hari. Yah, setidaknya setiap hari selalu berarti hal yang payah. 

    Kemudian aku kecap gurihnya sesendok nasi dan kuah soto selanjutnya. 

    Mendadak aku teringat pada pohon rambutan di depan rumah kos itu. Teringat kamu yang tidak punya kerjaan selain mengambil rambutan itu untukku. Jujur, ada banyak orang yang mampir ke kos kamu waktu itu. Tidak hanya aku. Tapi jika kamu memetikkannya untukku, bisakah aku punya rasa kepercayaan diri berharap sedikit pada rasamu?

    Soto yang terhidang di depanku lambat laun berubah menjadi pedas. Perpaduan antara rasa sambal dan panasnya kuah soto. Ah, tiba-tiba aku berpikir soal rasa sakit hatiku. Iya. Bukan sesuatu hal yang baru jika kamu dan deretan penggemarmu adalah sekelompok orang yang paling aku benci keberadaannya. Mereka hanya membuatku semakin panas.

    Duhai hati, kenapa bisa sesakit ini? Argh

    Kuseruput teh panas untuk meredakan porak-poranda pikiranku ketika berpikir tentangmu.

    Ketika ada tempe mendoan panas terhidang di atas meja makan. Warung ini kupikir-pikir terlalu pagi membuka jualannya. Di warung tak kudapati pelanggan lain selain aku. Beberapa menit yang lalu ada dua bapak-bapak tua yang mengambil meja paling depan. Tapi sudah tak ada lagi. Aku terlalu lama larut dalam menikmati soto pagi dan pikiran berlebihan ini.

    Kupandangi bakwan di meja makan bersama dengan tempe mendoan. Aku tetiba teringat soal obrolan denganmu mengenai program sosial. Kamu terlalu bersemangat menceritakan padaku kala itu. Pun, padatnya aktivitasmu tak membuat kamu lupa untuk meluangkan waktu untuk anak-anakmu. 

    Kamu sudah terlalu tua jika menghabiskan waktu sendirian saja. Sebetulnya aku ingin menawarkan diri jadi pendampingmu. Ah, cukup di mimpi aja dulu. Terlalu nafsu jika berharap jadi nyata. Pun, sejelasnya memang susah untuk jadi nyata. 

    Sudah sendok keberapa ini, mangkuk sotoku sudah tinggal setengah. Kupandangi ibu yang sudah berusia tetapi masih mengais rejeki dengan berjualan gorengan ini. Gorengan buatannya bahkan sudah nyemplung di mangkuk sotoku. Sudah sepuh tapi masih giat bekerja. Aku iri. Aku bekerja dari rumah saja, gaji UMR, plus banyak hari liburnya aja masih mengeluh. Soal ina-itu dan lain sebagainya. 

    Dari pintu depan warung soto ini, kulihat langit biru diarak oleh awan-awan. Hari ini cerah setelah semalaman hujan. Meninggalkan banyak embun kesejukan. Harusnya pagi ini teduh sendu tapi soto dan pikiran berlebihanku membuat semuanya menjadi sama saja. 

    Awan yang berjarak itu, apakah dia akan terbang mendatangimu di kota besar itu. Ataukah membawa ke pantai tempat kamu sering menghabiskan waktu untuk berlibur. Jika mampu, bisa tidak membawa pesanku. Argh, tapi aku yakin tak bisa tersampaikan. 

    Sendok terakhir sotoku sudah di depan mata. Teh panas masih mengepul panas. Meniup uap yang berarak meninggalkan tempat. Selesai sudah satu mangkuk soto genap beserta gorengannya. Apakah di lambung mereka akan tercerna dengan baik? Ah sudahlah, percaya saja sama sistem pencernaan dimana cara Tuhan untuk melunakkan soto dan gorengan itu menjadi energi berlebih.

    Lebihan energinya bisa kumanfaatkan untuk berpikir seperti saat ini aku memikirkanmu. Kuseruput teh panas yang berubah hangat. Sekali sesap. Menenggalamkan bau soto di Liang mulut. 

    "Abang ganteng yang di sana, masihkah kosong hatimu?"

    Ingin ku tanyakan pertanyaan super centil. Biar kamu mendadak ill feel. Aku kadang tidak mengerti dengan kamu yang begitu tidak menyukai perempuan genit kayak aku. 

    Sudah ah. Tinggal bayar. Bu Patmi yang jualan soto dan gorengan sudah menagih 8000-ku.

    (*)

    Minggu, 29 November 2020
    17:17

    Continue Reading

    Sore sudah membeku. Tidak seperti biasanya.

    Sehari-hari awan di sore hadir dengan membawa peluh dari asa perjuangan hari ini. Menitik deras dan meninggalkan bekas. 

    Seperti biasa, yang tersisa hari ini adalah dingin dari ketidakhadiran yang tidak pantas datang. Harusnya. Tapi bumi berjalan seperti biasa. Meghadirkan pagi dan temaram bersama petang. Rotasi yang tidak pernah putus. 

    Kehadiran seseorang sudah tentu mengisi kekosongan, seperti yang dirasakan Cahaya. Ia tidak sadar bahwa sore sudah membawanya tersadar. Bahwa penat hari-hari yang dijalaninya mungkin tidak seberapa. Tidak pantaskah manusia berkeluh kesah di saat rahmat Sang Semesta selalu hadir, bukan?

    Seperti yang aku bilang, sore itu biasa.

    Seperti yang seharusnya. Memesan paha bakar ditemani cah kangkung sembari menunggu teman di warung makan lesehan belakang kampus. Berdiskusi banyak hal soal proyek-proyek sosial. Mengeluarkan buku kecil berisi catatan ringkas dan merangkumnya. Apapun hasil diskusi sore itu, dia selalu meninggalkan jejak. Setiap kalimatnya bernyawa. Seolah mengungkapkan perasaan yang sebenarnya sore itu juga.

    Tapi toh, seperti yang aku bilang. Sore selalu hadir tidak biasanya. Terkadang, dia melewati dengan penat dan malas luar biasa. Menghela dan mengembuskan napas berkali-kali. Tidak terima dengan alur hidup yang dia rasakan hari itu. Sore juga menghadirkan kekecewaan. 

    Suatu waktu, pada sore hari, Cahaya berdiri di panggir kali. Menatap ufuk senja. Ah, anak senja yang melankolis itu juga ada dalam dirinya. Sesekali dia hanya menyesap es teh plastik dan menggenggamnya sambil bergumam. Lagi-lagi soal kesendirian dan keputusasaan. Lebih banyak soal kekecewaan. Paling banyaknya soal beban hidup yang dia jalani.

    Ah, kapan coba dia merasa bahagia di sore hari. Sangking setiap sore dia harus menjalaninya dengan perasaan yang campur aduk. 

    Mendesah dan terpikir kembali. Akankah besok dirinya sanggup berhadapan dengan sore? Atau setidaknya seculas senyum miris yang patut dia banggakan. Bahwa dia sudah melewati hari hingga sore hari.

    (*)

    Minggu 8/11/2020
    sore hari, 17:11

    Senandung Sore Hari


    Continue Reading

    Tuan, sudahi saja kisah tentangnya. Di hari ketiga bulan Syawal di tengah pandemi corona ini, hamba ingin mengulik sebuah kisah. Tuan, percayalah, hamba mungkin akan menceritakan sebuah bedebah yang tidak berarti. Mungkin Tuan bisa berasumsi, bahwa kisah ini hanya lelucon belaka. Tapi percayalah, sama seperti Tuan percaya bahwa esok hari matahari masih akan tetap bersinar, bahwasanya hamba pernah bertemu degan malaikat.

    Tuan, jangan tertawa terbahak terlebih dahulu.

    **

    Masih lekat dalam ingatan hamba mengenai perjanjian Pemerintah Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka di Helsinki, Finlandia di tahun yang sama. Hamba mencatatnya dalam sebuah buku catatan kecil dengan lambang Partai Sarekat Islam Indonesia. Kebetulan, bapak hamba adalah pentolan dari salah satu anggotanya di cabang Surakarta.

    Sepanjang tahun 2003 adalah tahun dimana semua keterpurukan terjadi dalam rumah tangga ayah dan ibuku. Bapak kebetulan menganggur. Tidak lagi kerja, karena krisis ekonomi pada tahun tersebut. Harga BBM naik berapa ratus rupiah tapi memukul mundur ekonomi. Tuan, ini bukan hanya bualan. Cek saja di arsip sejarah negeri ini, apa yang terjadi pada tahun tersebut agar Tuan mempercayai ucapan hamba. 

    Hamba berumur 9 tahun. Setiap pagi, setelah salat subuh, gerak langkah hamba selalu membeli lauk di jalan raya. Harga gorengan yang sebelumnya 300 rupiah kemudian berubah 500 rupiah, hamba paham betul. Bagaimana kenaikan harga 200 rupiah membuat hidup hamba begitu tersiksa. Ibu sudah harus bangun lebih pagi lagi, untuk kulakan di pasar kemudian menjualnya door to door alias dari rumah ke rumah, dari gang ke gang, untuk menjajakan ayam potong.

    Benar memang, melalui itu semua memang tak terasa jika diceritakan di masa sekarang Tuan. Saya bisa kipas-kipas santai, meski di tengah pandemi corona yang membuat ekonomi dunia corat marut, puji syukurnya, keluarga hamba masih dalam kondisi aman terkendali. Bagaimana tidak, karena meski tidak bekerja pun, rupiah masih masuk ke dalam rekening.

    Sepeda motor hanya 1 buah. Itu pun digunakan Ibuk untuk berjualan paginya. Sisanya ada sepeda onthel yang digunakan Bapak untuk membawaku ke sekolah. Tuan, umur adek bungsu hamba waktu itu masih berapa bulan. Kasihan, ia tak mendapat banyak kasih sayang dari Ibuknya karena harus berdagang tiap paginya. Bapak dan adek bungsu selalu membawa hamba ke sekolah setiap paginya. 

    Alih-alih membawa hamba tepat di depan sekolah, Bapak selalu menurunkan hamba di sebuah SMP Negeri. Hamba harus berjalan lagi kurang lebih 500 meter untuk bisa mencapai sekolah SD hamba. Alasan Bapak adalah agar adek bungsu tidak melulu terpapar dinginnya pagi. Benar Tuan, karena adek juga masih hitungan bulan, belum mencapai 1 tahun keberadaannya di keluarga kami.

    **

    Pagi itu seperti biasa, hamba diturunkan di SMP Negeri, dan bergerak dengan berjalan ringan, seperti biasa. Hamba ingat, pada waktu itu hamba tidak diberi uang saku. Tuan mungkin tidak percaya, hanya 1000 rupiah uang saku hamba waktu itu. Itu jauh dari kata tidak cukup. Itulah kenapa, hamba hanya membeli es kuncir 300 rupiah dan gorengan saja setiap istirahat sekolah, agar uang masih ada sisa yang bisa ditabung di celengan. 

    Tak jauh dari SMP Negeri itu, ada sebuah salon. Penampakan dari luar memang salon sekaligus alat peminjaman untuk keperluan pengantin, entah baju adat dan segala pernak-perniknya. Ada seorang mbak-mbak. Wajahnya yang tidak hamba ingat, sekilas seperti wanita muda. Terlalu jauh jika dikatakan seorang ibu-ibu. Dia tengah menyapu di halaman. Ketika aku melewati rumah itu, si mbak-nya justru menghampiriku. Memakai daster rumahan sambil memberiku uang 1000 rupiah. Itu harga uang sakuku pada hari itu. 

    Jujur Tuan, tak ada kata yang terucap pada lidah hamba. Karena tiba-tiba ada orang yang memberi hamba uang, dan mbak itu segera bergegas kembali ke tempatnya menyapu. Kami saling tidak mengeluarkan satu patahpun kata. Alih-alih sapaan yang menjadikannya sebuah kalimat hangat. 

    Tuan, kisah ini hamba ceritakan suatu waktu pada adek bungsu hamba. Sebenarnya dia merasa ini menjadi kisah yang tidak menarik. Maka hamba pun juga percaya. Yang membuat kisah ini begitu menarik adalah pada pagi hari selanjutnya, pada besok laginya, bahkan selamanya ketika hamba bersekolah di SD itu dan melewati jalan rumah itu, tidak hamba dapati wajah mbak itu.

    **

    Sulit dipercaya Tuan. Ini bukan lelucon, tapi lucu saja jika diingat. Mengingat kembali memori lama yang mungkin tak akan pernah terhapus, maka cerita inilah yang bisa hamba bagi. Ah, Tuan terlalu gundah gulana jika hamba mulai menceritakan tentang kisah yang bertepuk sebelah tangan melulu. 

    Bicara tentang si mas, yang hamba kagumi nih Tuan. Ingin rasanya memulai percakapan lagi. Tapi Tuan, masa selalu hamba yang memulai sih. Ah sudahlah. Ini belum terlalu larut untuk berbagi kisah lama, tapi tak apalah. Suatu ketika pangeran berkuda putih memakai setelan tuxedo benar-benar datang ke hidup hamba.

    Tuan, percayalah lagi dengan yang hamba katakan. Kelak, jika kisah itu sudah ada, hamba tak lupa membaginya dengan Tuan.

    Teruntuk Tuan Pemilik Rumah Dialektika ini,
    Mon maaf lahir batin.
    Bumbungkan gemuruh doa di langit ya, Tuan.
    Siapa tahu, kisah itu segera datang.

    ***

    H plus 3 lebaran,
    26 Mei 2020
    18:52

    Bertemu Malaikat pada suatu pagi di tahun 2003

    Continue Reading
    Tuan, kemarin hamba berdialektika dengan beberapa sahabat. Hanya terhubung melalui panggilan telepon WhatsApp. Kami bertukar pesan hanya beberapa kali saja. Apalagi ini telepon pertama hamba bersama mereka di tengah pandemi yang makin hari makin gila.

    Hamba berpikir, bahwasanya kemungkinan besar Tuan tak akan pernah merasa kesepian lagi. Sebab musababnya adalah hamba akan meneruskan kehaluan ini bertahan lebih lama. Tidak apa-apa ya, Tuan. Hamba memberi label di kolom Renjana untuk memudah pengarsipan kehaluan ini. Agar lebih sistematis dan praktis jika tiba-tiba gemuruh hati menyentak dan ingin disentuh dengan perasaan cinta bertepuk sebelah tangan-yang menyedihkan ini. 

    Hamba siap berderai-derai air mata jika kelak mengalami penolakan yang menyakitkan.

    Hamba siap!

    Aduh, tapi sebentar. Hati hamba bak kramik Tiongkok buatan Dinasti Yuan yang tentu saja sungguh fragile, Tuan. 

    Lagi-lagi mempertanyakan kesiapan itu seperti menunggu meteor datang ke desa Kwarasan. Kan sepertinya ya tidak mungkin ya, Tuan?

    **

    Tuan, pahamilah bahwa melepas rasa sayang itu akan berbenturan dengan realita yang tidak sepadan. Tapi janji ya Tuan, Tuan jangan sampai membocorkan rahasia tulisan ini kepada elite global. Eh, maksud hamba kepadanya, yang tentu saja tak akan melirik hamba yang nestapa ini.

    Tuan, ingin sekali rasanya hamba menceritakan kembali sebuah kisah yang mungkin sudah tertutup kotoran dengki yang pernah membusuk bertahun-tahun silam. Ah sebenarnya tidak begitu lama, mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu. 

    **

    Percayalah Tuan, bahwasanya rasa yang berkembang dan bergemuruh saat ini mungkin tidak ada artinya jika Tuan tanyakan 2 atau 3 tahun lalu. Okelah, hamba akui bahwa melirik mungkin ada. Tapi kan Tuan, hamba juga melirik makhluk indah ciptaan Gusti Mahamemiliki dunia dan jagad raya ini tidak hanya dia seorang. Hamba juga membidik pria lain juga. 

    Jika tidak percaya hamba, Tuan bisa mengeceknya di laporan hati : Glorifikasi Rasa Sayang dari Tahun ke Tahun

    Pada laporan itu, hamba mengarsipkan secara acak manusia-manusia terpilih yang hati hamba pilih dalam satu dekade terakhir. Tentu saja hamba tidak menyebutkan dia yang berinisial Fa, yang melengkapi nama pena hamba.

    Laporan hari ini Tuan, dengarkanlah kembali meski ini akan menjadi sesuatu yang panjang dan tidak menyenangkan.

    Pada hari itu siang begitu terik. Beberapa burung yang terbang di angkasa mungkin akan merasa kepanasan. Hal ini lantaran mereka memakai bulu-bulu yang berwarna gelap. Tak heran jika tak ada satu hilir mudik pun burung yang beterbangan. 

    Sangking teriknya, kadang hamba harus berulang kali membeli es teh untuk lepas dahaga. Apalagi hamba sedang berkutat dengan beberapa berkas. Sejujurnya, hamba lupa tengah sibuk berkas ujian skripsi apa wisuda. Besar kemungkinan sepertinya berkas yang hamba urusi pada hari itu adalah berkas wisuda.

    Hamba tahu, sangat tahu. Bahwasanya malamnya pada hari itu ada acara diskusi yang diadakan oleh sebuah komunitas yang diikuti oleh sahabat saya. Iya, sahabat yang kemarin malam kami telepon-teleponan. Komunitas atau perkumpulan itu mengundang si mas-nya untuk membahas tentang apa, bahkan hamba lupa. Kemungkinan besar perihal sosial masyarakat sepertinya Tuan. 

    Hamba lelah. Sungguh. Jika ingin berteriak setelah menyelesaikan beberapa berkas wisuda, hamba ingin pulang ke rumah. Jika hamba memaksakan diri mengikuti acara diskusi itu, kemungkinan hamba tidak akan berkonsentrasi. Bukan karena terpesona Tuan, tapi kelelahan. Sungguh Tuan, hamba tidak bohong.

    Kemudian, sahabat saya tiba-tiba mengancam. Entah ini ancaman yang sadis atau hanya gertakan. Bil, kalau kamu nggak mau ikut, kita gak temanan. Duh kok seram sekali ya Tuan. Hamba tahu itu bernada candaan. Tapi kok hati hamba gamang untuk menerima itu sebuah candaan. Mungkin itu suara hati yang tersirat sebagai guyonan saja. Hingga memiliki kesimpulan: mau tidak mau hamba harus datang. 

    Maka Tuan, sampailah pada saat yang tidak berbahagia. Hamba datang. Meninggalkan teman satu jurusan di kosan Mojosongo sendirian. Hamba tahu, teman hamba sedang capek-capeknya setelah kulakan di BTC. 

    Duh, alih-alih, punya rasa, hamba bahkan tidak menyimpan secuil pun fakta itu, Tuan. Sungguh. Hamba tahu, bahwa sahabat hamba inilah yang tengah dirundung asmara oleh si mas-nya. Hamba yakin. Bagaimana tidak jika dia harus melontarkan hal itu.

    Dalih teman hamba kala itu : anak srimulat masa aku Bil, yang nemenin mas-nya?

    Jadi, kedatangan hamba untuk menggenapi kekosongan agar menjadi genap. Agar teman hamba tidak merasa sendirian dalam menyambut si mas-nya. Begitulah Tuan. Jadi hamba ini hanya serep, hanya belokan. Tidak menjadi tujuan seseorang. 

    Ya sudah, mau tidak mau hamba mendengarkan pagelaran diskusi itu berlangsung. Tidak ada gamelan, hanya suara gurauan, sambutan, dan tawa. Padahal mata hamba sudah ngantuk dan pundak hamba sudah berat ingin diringankan, apalagi punggung sudah tidak bisa menahan diri untuk duduk tegak menatap kemasyhuran si mas-nya.

    Karena diskusinya tentang sosial masyarakat, hamba hanya menerawang. Karena jauh sekali dari hal yang hamba kerjakan. Momen yang hamba ingat adalah si mas-nya mendapat pelajaran ketika malam-malam dia mengalami kecelakaan, orang lain yang juga tertimpa musibah itu memiliki setumpuk nomor darurat penting. Kata si mas-nya itu hal kecil yang sering kita abaikan. Bahkan setelah 2 tahun berlalu, di kontak ponsel hamba juga tidak ada kontak nomor darurat. 

    Jika menyimpulkan diskusi itu tidak ada gunanya, karena hamba tidak mempraktekkan, mungkin iya. Tapi jika memang benar-benar tak ada gunanya, ah kemungkinan Tuan salah. Hamba bisa sedikit bercakap mengenai apa yang sedang si mas-nya ini kerjakan. Lagian kan baru beberapa bulan lalu si mas-nya lulus dari program sarjananya.

    Bagi hamba pribadi, pertemuan yang tidak memiliki rasa sama artinya seperti bak tak bisa menggenggam biji wijen. Bahkan segenggampun. Karena mrucut. Kalaupun ingin kembali ke memori kok sepertinya sayang.

    Begitulah Tuan. 

    Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Hamba tak ingin mengecap makanan yang hamba santap dan merasa pahit karena diolesi kenangan. 

    Tuan lelah? Okelah kalau begitu, cerita si mas-nya disudahi saja. Jujur Tuan, ingin rasanya menggenggam orang itu hanya sebatas teman ngobrol nyaman. Tapi mau apa yang bisa hamba harapkan. Jika semakin lama, bibit rasa itu tumbuh dan mekar menjadi pohon beringin yang rindang. Bisa buat pelindung dari teriknya panas untuk burung-burung yang berterbangan. Apakah ada kemungkinan kalau rasa itu dibesarkan bisa bermanfaat juga? Ah entahlah ya kan Tuan. 

    ***
    Minggu, 17 Mei 2020
    17:26
    ngabuburitku

    chat terakhir aku balas: yo nggak mungkin aku galak, nek ntar aku gak dapat jodoh gimana?

    Renjana part 2

    Continue Reading
    Tuan ingin kuceritakan sebuah kisah pahit, asam, manis, seperti permen nano-nano. Dengarkanlah~

    Suatu hari, sebelah hati berdekatan dengan relung jiwa genderang perang mulai bertabuh. Kesenyapan yang kemudian tersingkap jadi riuh. Gelombang dingin berubah menjadi buih panas yang menggelegar. Keadaannya begitu tiba-tiba. Seolah seluruh malaikat dari langit turun untuk mengamankan bumi dari kejaran iblis.

    Oh tidak Tuan, mungkin kita sendiri yang tengah berperang dengan iblis sedangkan malaikat hanya sebagai penonton di stadion kaki langit. Melihat jeritan yang tak kunjung sempurna karena suara serak terbungkam hanya sampai di tengah tenggorokan.

    Tuan, katakanlah saya sudah kehilangan ihwal supranatural dalam diri saya hanya sebuah mimpi datang. Ketika itu tak ada hujan, tak ada badai, tapi hati seolah mengajak berperang. Mimpi yang membuat gundah gulana tak berkesudahan. Memimpin ritme pada sebuah tanda tanya, oh ini kenapa?

    **

    Mimpi itu berkisah mengenai sebuah bangunan megah, bisa dikatakan sebuah kampus besar. Maafkan Tuan, hamba juga tidak pernah menemuinya di kehidupan nyata. Dimanakah gerangan  tempat itu berada?

    Bak seolah menjadi nyata karena di samping gedung itu banyak berjejer ruko yang memiliki bisnis dalam bidang koperasi, bank, dan simpan pinjam. Tuan, percayalah. Bahkan dalam mimpi itu hamba sempat menggesek sejumlah rupiah dari mesin ATM. Nama Bank-nya pun ada di kehidupan nyata,

    Yang tidak nyata hanya nama Koperasi yang tertulis, Koone. Apalah itu, tapi ingatan hamba hanya sebatas itu saja.

    Dari beberapa gedung itu, hamba berjalan. Entah riang, entah gembira, entah gugup. Di depan mata hamba, ada sosok lelaki yang hamba sudah gebet. Hahaha, lucu sekali. Bahkan kalau es bisa diterjemahkan sesuatu hal yang dingin, mungkin orang tersebut jauh lebih dingin. Dia hanya bersuara ketika ingin mengutarakan. Tak pernah diwakili dengan basa-basi kesopanan.

    Konyolnya mimpi, hamba hanya mampu menggambarkan waktu itu, di kejadian itu, tanpa ada pratinjau konflik akan naik, seperti di dongeng-dongeng. Maafkan hamba.

    Kemudian, ada seorang teman perempuan yang di dunia nyata, pernah hamba berkunjung ke rumahnya untuk menginap. Dia datang dong Tuan. Membawa kebahagiaan. Dalam mimpi tersebut dia tertawa riang memamerkan rumah yang sudah didesainnya. Alih-alih mendesain, dalam dunia nyata dia hanya lulusan Tata Kota, jauh dari desain-desain rumah.

    Tapi itu toh hanya sebuah mimpi, kan Tuan. Oke, hamba lanjutkan.

    Dari Desain rumah yang sebenarnya di dunia nyata tak pernah ada sambung-sambungnya dengan realita, hamba menganggapnya bagus, Tuan. Coba Tuan bayangkan, bagaimana rumah berpagar bambu, meliuk-liuk berkombinasi dengan kayu, tanpa tembok. Jika puting beliung tiba-tiba datang, bukankah sedetik saja masa umur rumah itu.

    Namun percayalah Tuan, itu adalah rumah terbagus. Karena di dalamnya ada kolam ikan. Ah. Kesukaan sekali.

    **

    Rasa hati yang begitu kuat mendorong rasa kepemilikan rasa ini, Tuan. Pahamilah. Bahwa dari mimpi itu sosok yang hamba tak harapkan hadir, dia tiba-tiba datang. Mungkin dibawa sama badai sore tadi, Tuan.

    Membawanya tanpa permisi. Kan harusnya lewat perantara ya, kan Tuan. Biar hati mampu menyiapkan rasa terlebih dahulu sebelum dihempas dan dinaikturunkan bak kelabilan.

    ***

    Tuan, dalam kehidupan nyata sehari setelah saya mengalami mimpi itu, hamba merasa diombang-ambingkan. Eh tiba-tiba kekuatan dari mana hamba memulai obrolan. Terlalu kikuk, terlalu nyablak, dan mungkin tidak sopan.

    Ah dasar, tolong hamba membenahi etika hamba yang sudah 2 bulan ini terkurung dalam sangkar. Butuh waktu tak sebentar untuk mengumpulkan tata dan krama dalam waktu cepat.

    Sudahlah, ini cerita yang tidak akan berujung pada konflik atau klimaks yang Tuan harapkan. Tapi Tuan, bagaimana bisa hamba gundah tak kepalang hanya karena mimpi konyol bangunan rumah bambu yang akan ambruk terserang beliung itu.

    Oh mungkin, sekiranya hamba butuh berenang untuk menenggelamkan keputusasaan ini.

    ***

    absurd momen seminggu ini
    13 mei 2020
    17:54
    Keputusasaan itu berhasil membawa nama Renjana
    berarti memiliki rasa hati yang kuat

    -dan pesan yang tak terbalas entah yang kesekian-


    Renjana


    Continue Reading
    Ketika air itu sampai ke ceruk yang memisahkan antara kolam dan sunyi, daun yang berjatuhan di sisa musim hujan itu sedikit tertumpuk di perbatasan. Adalah perbatasan antara jalannya ke sungai atau tertinggal di kolam. Daun itu berada di perbatasan pada rembesan yang langsung ke tanah. Tak ayal, banyaknya sampah menumpuk di sana. Mereka tak kuasa menahan laju tenangnya air.

    Musim hujan sudah melewati puncak. Tak salah jika air mengalir dengan deras. Bukankah sama dengan semua rasa yang pernah terpendam? Ah apa itu, aku menjadi seolah-olah korban dari ketidakmampuanku mencerna sinyal Semesta. 

    Melihat awan mendung di kaki langit sebelah barat mengisyaratkan kegundahan. Ah bolehlah saya sedikit menitip asa yang masih berkecamuk. 

    Alasan Melepaskan

    Suatu ketika perasaanku tidak terkalahkan melawan arogansi. Entah dalam bentuk apapun. Pada suatu ketika, gugurnya bunga yang kelopaknya berbentuk seperti lonceng berdiameter sekitar 6 mm ini dan dengan mudah akan jatuh dari dahan setiap saat bila angin bertiup.

    Pernah aku berpikir, ah indah. Tapi rasa yang ada di dada tak mau kunjung lepas. Pada seseorang yang menyadarkanku untuk melepasnya karena status rendah diri dalam hatiku yang menguasainya. 

    Kita pernah merasa tak mampu, padahal belum melakukannya. Atau sekedar mengkhayal memilikinya dalam genggaman meski hal itu tak mudah didapat. Dia bak orang yang tak kenal apa itu rasa, tapi kamu dibuat bertekuk lutut bahwa kamu menggilainya. Ahh, kejam memang orang yang sedang jatuh cinta itu! 

    Dia adalah orang yang tidak mau diikat. Entah dengan pertemanannya, entah dengan jejak langkah kota yang dia seberang, entah pulau mana yang akan dia sambangi, entah dengan perempuan berhijab mana yang akan dipilihnya di sisa hidupnya kelak. Mencerna itu semua membuatku kerdil. Aku tak sanggup. Bahkan tak mampu. 

    Berharap menyukai dalam diam saja aku sudah bersyukur. Terima kasih Tuhan, kamu berikan perasaan ini padaku. Dan Kau kirimkan perasaan ini kepada seseorang yang normal dan tidak begundalan. Ahhh, sedih tampaknya. 

    Beberapa tahun lalu, lingkaran pertemananku menyukai seseorang dengan tampang bakal dan aku ikuti langkah mereka. Seru saja. Bak seperti dongeng di novel. Yang biasa ditulis Mia Arsjad tentang Inov, pahlawan november. Meski Mia harus menuliskan karakter Inov dengan karakter yang sangat nakal. Pecandu narkoba yang berjuang untuk memperbaiki dirinya sendiri. Atau pada sosok yang dibuat Orizuka tentang gambaran anak sekolahan. 

    Lucu juga. Buku bacaan bisa memengaruhi paradigma berpikirku untuk melakukan hal yang sama. Ketika aku sudah dewasa, aku tak tahu lagi harus membuat karakternya bak novel sastra atau bagaimana. Tapi lingkaran pertemananku menyadarkanku untuk menemukan "orang baik". 

    Syukurlah aku menemukanmu. Satu diantaranya milyaran manusia bumi ini yang hatiku pilih. Ah, sepertinya bukan lagi hati. Tapi logikaku yang memilihmu. 

    **

    Aku bukan orang yang hangat. Dari banyaknya karakter, aku memilih untuk menjadi egois. Kenapa? Pilihan itu sangat menyenangkan untuk aku lakukan. 

    Aku tak tahu cara untuk menghibur orang. Yang aku tahu, aku lebih suka menghindar dari kesendirian. Sedih. Atau menelepon orang untuk berbagi sambatan, meski aku tidak berada di posisi yang sama ketika teman membutuhkanku. Dasar aku! 

    Diantara banyaknya kerumunan aku lebih menyukai menikmati dalam diam. Aku tidak menyukai percakapan yang berliku-liku untuk mendiskripsikan bagaimana hidupku berjalan. Atau aku lebih menyukai ada satu orang yang mendengarkan aku berkomentar mengenai apa yang aku lihat. 

    Itulah kenapa aku tidak semenyenangkan itu. Pahamilah. 

    **

    Maka aku juga harus tahu diri. Ketika perasaanku bermuara padamu, aku tahu itu salah. Ah tidak. Tuhan sungguh adil memberikan rasa ini untuk aku kelola. Padahal logika dasarku selalu mengatakan, itu tak akan bertahan lama. Maksudku, rasaku. Suatu waktu aku harus melepasnya. Ketika waktu itu datang. Aku akan melihatmu dari kejauhan. Menjemput bidadari yang kamu pilih. Menjemput pilihan hidup yang menyenangkan. 

    Kamu tahu, aku bukan orang semenyenangkan itu. Pahamilah. Melihatmu, bertukar pesan, atau melihatmu punya opini lain yang kontradiksi dengan apa yang aku pikirkan, membuatku sedikit lega. 

    Terima kasih Tuhan, sudah menitipkan rasa ini. Aku berjanji akan melepasnya ketika waktu jatuh temponya datang. Tapi Tuhan, ini perasaan yang membuatku senang. Bisakah bertahan lebih lama lagi. 

    Aku mohon! 

    Alasannya klise, aku adalah wanita yang kedinginan. Lelaki itu begitu hangat. Tak mungkin jurang perbedaan yang begitu besar membuat dia harus menetap. Ataukah dia ingin terjebak dalam ritme hidupku yang membosankan? 

    ***
    13.47
    27 april 2020
    Libur kerja 2 hari 

    Baru Sadar Bahwa Selama ini Aku Kedinginan

    Continue Reading

    Maret 2020.

    Pada sangkaan Tuhan yang menciptakan langit begitu cantiknya. 

    Hari terakhir pelatihan harusnya jadi momen yang menggembirakan. Tapi susah, ketika rasa itu terlambat datang. Bukannya senang, justru merasa saat-saat terakhir rasanya sedih. Hal terakhir hanya bisa dinikmati suasananya di akhir juga. 

    Kadang aneh rasanya menjadi manusia. 

    Manusia terlahir penuh dengan sambatan. Kadang butuh libur saat rutinitas kerja lagi padat merayap. Suatu saat, butuh kerja karena terlalu lama liburan. Tidak ada yang benar, semuanya serba salah. 

    Dengan baju kuning kerudung cokelat rok hijau motif daun adalah penampilan terbaik yang bisa aku sambut. Bukan hal spesial. Aku sudah pernah memakainya, dulu kala masih kuliah. Bukan untuk tebar pesona, karena memang itu satu-satunya pakaian yang mungkin tersimpan dalam lemari pakaian.

    ---

    Langkah mundur ke 2 tahun lalu. 

    Aku pernah menggelorakan rasa sayang dengan begitu mudahnya. Berbusana yang sama tapi dalam rentang waktu yang berbeda. Sebut saja inisial sepatu merah. Kita bertegur sapa dalam tatapan ketika langkah kecilnya melewati jalur pedestrian, sedangkan motorku bergerak turun ke jalan. 

    Setiap ada kuliah, kadang kurang ajarnya aku selalu cek ombak. Apakah dia juga lagi kuliah? Atau cek keberadaan motornya. Seringkali ganti motor kadang membuatku menyerah. 

    Wahai sepatu merah Nike, bagaimana kabar kamu sekarang? 

    Dari semua akun sosmed, kita justru saling mutual di tumblr. Tumblr adalah sosmed tersepi hanya berisi untaian kata kata brengsek menyayat hati. Tapi kita pun takut bertegur sapa. 

    Aku mendapatkan info bahwa kamu seolah menyatu dalam jiwa barista. Antara pahit dan asamnya kopi, kamu jelas tahu. Sudah seperti makanan harian yang disantap. Itu hal yang sering membuatku ingin tahu, alasan kamu dan secangkir kopi adalah satu. 

    ---

    Lagi! Mundur ke 3 tahun ke belakang. 

    Waktu masih duduk di bangku ingusan SMA aku berulangkali menyebutmu Bakso. Bundar, kecil, dan mungil. Sayangnya bergerak gesit. Antara satu sama lain menyatu menjadi ambisimu, kadang. Seringkali kudapati kamu begitu kalem. Memanajemen orang yang kadang merasa egois akan pilihan hidupnya. Kamu seolah penyeimbang. 

    Setiap pagi aku akan cek ombak. Sama seperti kasus sesudahmu. Aku teliti apakah sudah terparkir motor Vario dengan huruf belakang VZ. Yang membuatku tersenyum sendiri saat memikirkan membuat tulisan ini adalah ketika aku tanpa sadar bisa menjejeri motormu. 

    Kita sebagai manusia tak bisa menyatu, tapi motor kita bisa kan? 

    Setidaknya mulai dari awal belajar sampai pulang sekolah, aku sudah mengunci tempat. Kamu akan ke arah motor yang sudah aku jejeri. 

    Kemudian, rasa itu hadir ketika kamu dengan baiknya mau menemani anak pramuka buat survey tempat untuk perkemahan. Hal menakjubkan itu datang dan aku buat tulisan pertama tentangmu. Bahwa aku jatuh cinta dengan begitu bergairah. 

    Ku sebut kau dalam tulisanku sebagai Partikel Titik Itu. 

    Begitu tak masuk akal kadang. Tapi aku suka. Kamu gak perlu harus menggelorakan rasa sayang yang bertepuk sebelah tangan itu dengan gelora kesengsaraan. Kalau pun aku menikmatinya, bisa jadi kan. Sederhana sekali. 

    ---

    Maju ke 4 tahun dari tahun itu. 

    Aku juga pernah terjabak dalam rasa sayang. Namun, kilat. Hanya karena aku merasa baper ketika temanku baper. 

    Haha, lucu sekali. 

    Dia berjalan masuk ke perpustakaan. Aku sibuk membenahi data-data skripsiku dan duduk di meja sendiri. Dia mencoba mengajakku bercanda. 

    "ngerjain apa?" sapanya ramah. 

    Aku segera tutupi lembaran kertas data sejarah rumah sakit jiwa dengan tanganku. "enggak---, " dalihku. 

    Saat waktu zuhur tiba, dia mengimami jamaah kecil di pojok mushola perpustakaan. Aku masuk menjadi salah satu jamaah masbuk kala itu. Semua orang akan dibuat jatuh cinta dengan caranya mencintai Tuhan-Nya. 

    Ketika aku mengenalnya lebih jauh, pada sebuah perjalanan yang memaksa kami satu mobil bersama, dia sebutkan satu nama. Dan nama itu adalah nama istrinya saat ini. Dan sudah bergerak ke satu tahun usia pernikahan mereka. 

    Tuhan kadang lucu. Aku biarkan kejadian ketika aku dibuat takluk oleh pesonanya sesaat. Walau tidak tinggal lama, sepertinya mampu membuatku mencari kriteria ideal. 

    Aku mau lelaki yang sama seperti itu! 

    ---

    Satu tahun bergerak maju. 

    Mengenal orang ini adalah jawaban dari aku yang pernah berkata, "enggak banget."

    "kita gak mungkin jodoh. Aku gak kuat," kataku. 

    Kenapa? Jika makhluk ciptaan Allah sebelumnya begitu sangat bisa diajak kompromi karena memang bersikap bersahabat, maka orang ini bisa dikenal dengan pakarnya dalam menjaga jarak. Dia menganggapnya santai menikmati hidup adalah tidak terkekang. Padahal sifat aslinya begitu protektif. 

    Meskipun satu dua kali dia terdengar bersahabat. Tapi apalah daya jika semua hal harus dimulai dari diriku. Dia hanya sebagai penerima pesan. Sangat tidak kreatif, aktif dan persuasif. Hentikan saja. 

    Namun, pada sebuah hujan di sore hari ketika aku selesai bekerja di tempat kerja yang lama, aku pernah menyebut namanya dalam doaku. 

    "Aku ingin bersamanya," kusampaikan pesan romantis itu pada langit. Siapa tau, langit bergemuruh dengan banyaknya doa yang sedang dipanjatkan oleh hamba-hamba-Nya mempu mengabulkan doaku. 

    Pada momen itu aku tidak tahu lagi, pada siapa yang harus aku labuhkan. Tapi, percayalah dengan siapapun dia nanti aku sangat bersyukur. Setidaknya dia tidak terjebak dengan perempuan membosankan seperti diriku. 

    Misi dan visiku masih sama. Yaitu tetap mengakar di bumi Solo untuk waktu yang tak ditentukan. Sungguhpun tak masuk akal lagi, karena itu berbanding terbalik dengan karakternya yang mengembara. 

    ---

    Sekarang! 

    Ketika aku harap ada tokoh lama datang. Atau orang baru yang tiba-tiba datang, menyambutku dengan senyuman. Mungkin bukan dia salah satunya. 

    Selesai dari kamar mandi aku dapati dia dari arah tangga. Pulang dari kantin. Melihatku mencuci tangan tanpa sadar dia ikuti. Menaruh botol minuman di sampingnya. Dia tidak menyapaku. 

    Ah dasar aku! Gengsinya keterlaluan. 

    Padahal di hari sebelumnya aku melihat dia menyambut senyumku. Waktu hapeku ini jatuh dari lantai 3 ke lantai 2 dari sela-sela jendela. 

    Aku menganga tak percaya menjatuhkan hape seharga 3,5 juta. 

    Dia berkata dengan riangnya, "eh, hape jatuh!"

    Gtu!

    ****

    Senin, 9 maret 2020
    21.42
    Aku tak tahu :'"
    Tiba-tiba bapak datang membawa sosis bakar, apa-apaan. 
    Continue Reading
    Sapa.

    Biasanya diawali dengan, hei atau halo. 

    Bukan berarti aku tidak punya adab dalam menyapa. 

    Aku panggil kamu dengan sapaan, "kamu gak stres mas mikir negara terusss." 

    Dia jawab, "lucu aja liat tingkah pejabat publik."

    Ku jawab, "iya, dibuat lucu aja, jangan dipikirin ulah mereka. Nanti kamu cepet tua."

    Dia jawab, "hha, siap bu. Emang udah tua sih wkwk."

    Ku balas, "mengingatkan kembali masss, taun ini kamu udah 26 lohhh hahahaha."

    Dia jawab, "hhaa tenang-tenang. Expirednya masih lama."

    Kemudian pertanyaan pertama darinya, "Solo banjir gak bil? “

    Ku jawab saja berdasarkan analisis sejarah," solo terakhir banjir bandang taun 66 masss, sehat terkendali kota Solo."

    Pertanyaan pertamaku muncul, " lha kamu kebanjiran gak? “

    Dia balas, "mantap alhamdulillah. Kosan gak. Kena tapi jalan mau ke kantor banjir."

    Ku jawab, "terus ke kantor naik apa? Perahu?"

    Ku tambah, "Allah minta kamu buat istirahatt aja deh mas kayaknya. Masak Jakarta banjir teruss." 

    Dia balas, "nunggu surut tadi. Berangkat siang. He eh. Hujannya sekarang pagi terus bikin mager kalau kerja."

    Dan balasanku belum dia balas. Terakhir aku katakan, "iya, emang nek pagi bikin malas kerja. Pantau terus aja mas pakai situs petabencana.id."

    Dan berakhir. 

    Sesingkat itu. 

    Terima. Kasih. Sudah hadir. Dalam keruwetanku. Pandangan tentang sexual harassment kemarin itu, masih sedikit menghantuiku. 

    Setidaknya aku percaya. Mungkin ada satu atau beberapa pria di bumi ini yang menjadi sebaik-baiknya orang. Termasuk kamu. 

    Ku doakan agar kamu baik baik aja. 

    Mendapatkan dambaan pasangan seperti impianmu. 

    Bekerja untuk sosial, suka bepergian, dan bekerja untuk negara. 

    Satu kategori pun aku gak masuk. 

    Hahahahahaha!

    ***

    Sore tadi beliin jam tangan buat kado bapak. 
    Di grandmall
    Mana kayak org ilang tadi. 
    21.35
    Memimpikan robert pattinson dalam balutan batman. 
    Siapa tau dapat hal magis di mimpiku malam ini. 
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top