Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini
    Mendayu Rajamala Suatu ketika



    Ketika Matahari mulai Mengantuk di bulan Mei 2003
    Legenda itu diciptakan agar kamu selalu bisa mengingat. Tentang sebuah peradaban yang tentu saja tidak akan pernah hilang dimakan jaman. Kalau pun suatu ketika orang-orang dari masa depan benar-benar melupakan, setidaknya kamu bisa mengingatkannya.
    “Memang manusia di masa depan akan seperti apa, Nek?” tanya Nalendra.
    “Banyak dari mereka menyia-nyiakan perempuan mereka.” Sahut Nenek. Ia masih berusia tujuh tahun tetapi entah kenapa Nalendra paham apa yang dimaksud neneknya. Nenek sendiri. Ia bergumul dengan naskah kuno milik Kasunanan. Waktu yang mengubahnya menjadi keriput karena sering berpikir.
    “Kamu janji!” Nenek melihat manik mata Nalendra. “Kamu tidak akan pernah menyia-nyiakan perempuanmu kalau kamu sudah dewasa.”
    Tentu saja. Harusnya seperti itu. Tetapi Nalendra hanya mengangguk bersemangat.

    **

    Ruang 209 Fakultas Ilmu Budaya
    Menurut Babad Kangungan Dalem Baita Rajamala, Kapal Rajamala dibuat untuk Istri Paku Buwana V untuk menghantarkan Permaisuri Ratu Kencana Wungu. Ayah dari Paku Buwana V kurang mengasihi istrinya, hingga ide tentang pembuatan kapal itu realisasi. Sebuah masa yang harusnya dia tahu, bahwa sesungguhnya menyelesaikan urusan wanita adalah hal yang susah.
    “Ada apa?” tanya perempuan itu. Dia mengaduh karena betisnya sengaja ditendang dari belakang agar dia tersadar ke alam nyata.
    “Kamu tidak berminat untuk membenciku kan?” tanya Nalendra. Dia masih menuntut penjelasan yang masih tertahan.
    “Memangnya bisa?”
    Nalendra menyeringai senang. Iya, memang tidak bisa membuatmu jatuh ke pelukan pria manapun. Tetapi rasanya, ia juga salah. Membiarkan gadis yang disukainya harus tertahan di dekapan pria lain karena ambisinya.
    Gadis itu berbalik ke belakang. Menatap Nalen dengan bola mata tajam dan lentik yang jatuh di matanya. Dia benar-benar sempurna. Seharusnya memang tidak akan terlepas segenggam pun. Tetapi dia kalah. “Iya? Ada apa lagi?”
    “Kalau kamu menjadi Paku Buwana V yang masih kecil melihat Ibunya Ratu Kencana Wungu bersedih, apa yang akan kamu lakukan? Maksudku untuk anak seusianya apa—“
    “Aku akan berbicara dengan ayahku kenapa dia membuat wanita yang dicintainya berduka.” Jawab Nalen percaya diri. Gadis itu mendengus.
    “Sepertinya tidak akan pernah semudah itu.”
    Kakinya disentak-sentakkan saat mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari lelaki itu. Memang apalagi yang gadis itu harapkan selain jawaban ambigu seperti itu. Melalui celah-celah bangku kursi kuliah, aku mendorong kakiku agar dia berbalik arah lagi ke belakang. Dia mengerutkan dahi seolah bertanya ada apa lagi?
    “Memangnya apa yang akan kamu lakukan?”
    “Apa gunanya kapal Rajamala kalau Raja tidak mau memanfaatkannya?” Gadis itu justru balik bertanya.
    “Membuat pelayaran.”
    “See! Kamu cukup cerdas juga.” Puji Gadis itu. “Setidaknya lambang cinta akan selalu ada jika Sang Raja mau melakukannya demi wanita yang dicintainya.” Dia hampir saja menepuk tangannya ketika Nalendra menyuruhnya segera duduk tegak. Susanto dari jauh sudah memonitor tingkah kami berdua di bangku belakang.
    Kemudian, kita harus mendengarkan omong kosong mengenai pemikiran empirisme—atau apalah itu—di sisa-sisa waktu kuliah Susanto.

    **

    Refleksi diri di Kantin Sastra, 2017
    Suatu ketika Nalendra paham kenapa ia berkhianat dari janji yang dibuatnya bersama Neneknya di pinggir sungai Bengawan Solo. Umurnya masih 7 tahun tetapi dia ingat betul bagaimana janji itu ditautkan melalui jari kelingking dia. Neneknya terkekeh geli. Sepertinya hal itu sangat lumrah bagi anak-anak kecil seusianya saling menautkan kelingking mereka untuk berjanji.
    Gadis itu masih membosankan. Tentu saja. Kalau dia tidak tahu, bahwa ia hampir kehilangan gadis itu sampai membuat hatinya perih. Sederhana. Ia pernah mengajak teman gadis itu menjadi pacarnya. Di saat Nalendra paham bahwa hanya dia yang berada di hati gadis itu. Pasti menyakitkan. Kalau tidak ujian itu tiba. Tiba-tiba gadisnya tertambat pada sosok pria lain.
    “Aku butuh bicara.” Dia masih menyelesaikan ketikan kesimpulan kelompok. Dia harus menyelesaikan siang itu juga. Tetapi Nalendra—seperti biasa selalu egois—memintanya bertemu di kantin sastra. Ia datang lagi saat, gadis itu masih khidmat mengetikkan penjelasan. Hingga teman satu kelompoknya tersadar betapa keruhnya wajah Nalendra. Teman satu kelompoknya merebut laptop yang kamu pegang. Menyelesaikan sisa pekerjaanmu.
    “Ada apa?” tanyamu. Mukamu bersungut-sungut. Seolah tidak ingin bertemu.
    “Aku sakit.”
    Kamu melotot dan memindai dimana rasa sakit itu datang. “Aku bisa membawamu ke Medical Center. Kamu sakit apa?” tanyamu. Gadis itu terkesiap dan memeriksa lenganku yang baik-baik saja.
    “Maafkan aku.”
    “Kamu aneh. Tadi bilang sakit, sekarang minta maaf.” Sahutnya. “Untuk apa?” lanjutmu.
    Nalendra membuang napas pendeknya. Kesal. Tanggapan gadis itu tidak sesuai dengan bayangannya. Ada apa sih sebenarnya?
    “Aku pernah menyukaimu. Dan masih saja seperti itu.” Dia tegakkan wajahnya dan menatap gadis itu seolah akan melahapnya bulat-bulat.
    Gadis itu mencebik. Hampir tidak percaya.

    **

    Hujan Bulan September 2022
    “Apa yang kamu pikirkan?” tanya lelaki itu. Dia menuangkan air panas ke dalam kopi di cangkirnya. Perempuan itu masih melamun bersamaan dengan dia mengaduk kopi.
    “Kalau seandainya anak itu tidak membuatkan kapal, apakah Ibunya baik-baik saja?” tanya Gadis itu. Dia menengadah menatap suaminya lamat-lamat.
    “Kenapa kamu masih memikirkan dongeng itu? Itu hanya fiksi yang dibuat masa lalu.” Sahut Nalendra. Dia menyesap kopi buatannya. Sedangkan istrinya hanya memangku kepalanya.
    “Fiksi memang diciptakan sebagai pengingat.” Sahutnya. “Kalau seandainya aku Kencana Wungu dan kamu suamiku, apa yang akan kamu lakukan?”
    Dia berdehem. Kemudian berpikir sejenak, mungkin akan memindai mana ide yang cocok yang biasa dia lakukan kalau dia adalah sang Raja. “Kita berdua bisa menonton tari Ludiro Madu. Itu kan perkawinan dua daerah antara Kasunaan dengan Madura.”
    “Manis sekali bicaramu.”
    “Selalu.”

    **

    Masa Ketika Bunga Angsana Berguguran, 2035
    Gadis itu percaya—bukan dia adalah perempuannya—yang percaya bahwa cinta perlu dijelaskan. Apa artinya kapal megah untuk Ratu Kencana Wungu untuk menghibur diri tidak ada artinya. Bukan megahnya kapal itu sebagai tandingan kapal buatan Daendels, ini berkaitan tentang penjelasan.
    “Aku mencintaimu.”
    “Aku tahu, tidak perlu diperjelas. Seakan itu hal konyol!”
    Nalendra terkekeh. Mendengar penuturan perempuannya. Bahkan waktu yang lama tidak mudah membuatnya berubah untuk tidak menyebalkan.

    **
    Solo, 24 Mei 2017 11:54 am
    another photo of Rajamala
    Ini adalah karya Pak Adam, dosen Pendidikan Seni Rupa. Terima kasih dedikasinya membantu kelompok kami membuat miniatur Rajamala yang sangat bantet ini. Haha :D Sebenarnya aslinya itu panjang runcing gtu. But, it looks pretty cool, honestly.

    Continue Reading
    Berikut merupakan resume dari mata kuliah Sejarah Eropa Klasik:

    PERADABAN YUNANI KUNO

    Peradaban bangsa Yunani meliputi kebudayaan Kreta, Polis, sistem kepercayaan, dan hasil-hasil kebudayaan. Peradaban Pulau Kreta memiliki kebudayaan tingkat tinggi. Kebudayaan ini dibangun akibat dari kekuatan maritime. Rakyatnya hidup di laut Aegae dan Laut Tengah bagian timur. Hasil kebudayaannya adalah arsitektur, seni patung, dan seni kerajinan. Sejarah pulau Kreta diketahui dari karya sastra berupa legenda dan mitologi karangan Homerus berjudul Illiad dan Odysseia. Di Knossus ditemukan reruntuhan istana yang berbentuk labirin. Struktur ruangan ini rumit sehingga menghalangi para penjahat masuk istana yang ingin menjarah kekayaan istana. Masyarakat Pulau Kreta mengenal seni lukis fresco, seni porselin, seni pahat pada gading dan seni kerajinan logam. Abad 15 SM, Pulau Kreta mengalami keruntuhan akibat dari bencana alam.

    Yunani merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Eropa. Peradaban ini lahir di lingkungan geografis yang sebenarnya tidak mendukung. Kehidupan masyarakatnya yang mendiami iklim mediteran yang selalu hangat dan segar memungkinkan bersikap optimis dan berwatak riang.

    Yunani terdiri atas berbagai suku bangsa. Mereka mendiami wilayah yang bernama Negara kota atau bisa disebut polis. Di negara Yunani terdapat tiga polis besar dan kuat yaitu Athena, Sparta, dan Thebe. Dikarenakan kondisi geografis Yunani yang bergunung-gunung menyebabkan kasatuan unit politik antara kota-kota tersebut terpisah. Keberadaan polis-polis di Yunani mengakibatkan mereka saling bersaing untuk merebutkan hegemoni dan kekuasaan atas wilayah yunani. Tetapi ketika datang bangsa Persia yang akan menginvasi daerah Yunani, polis-polis yang berada di Yunani bersatu terutama Sparta dan Athena. 

    Yunani memiliki sistem desentralisasi karena tiap-tiap polis mengembangkan sistem pemerintahannya sendiri. Kepercayaan bangsa Yunani kuno adalah Politeisme dimana dewa tertingginya adalah Dewa Zeus yang merupakan lambang kesusilaan, pelindung, dan pencipta keadilan. Polis Athena melahirkan banyak ahli pikir yang mewariskan pengetahuan bagi manusia.

    Akhir kejayaan Yunani berakhir dengan terjadinya perang Peloponesos yaitu persekutuan antar polis yang memiliki pengaruh bagi politik dan ekonomi Yunani. Selain itu bencana lain yang dialami adalah munculnya wabah penyakit akibat buruknya sanitasi sehingga menyebabkan kematian seeperempat dari penduduk Athena. Disusul dengan kematian Perikles yang menyebabkan lemahnya kepemimpinan Athena. Tahun 404 SM terjadi perang saudara yang juga mengakibatkan rapuhnya pertahanan Yunani untuk menghadapi ancaman dari luar yaitu berupa penaklukan oleh Raja Makedonia. Sehingga dengan mudah pada tahun 338 SM, Raja Philipus dari Makedonia menaklukan Yunani.


    PERADABAN ROMAWI  KUNO

    Peradaban Romawi Kuno diawali dengan lahirnya Kota Roma. Perkembangan Romawi dipengaruhi oleh keadaan geogrofisnya. Lokasinya strategis di kawasan laut Tengah yang cocok untuk perdagangan, aman dari serbuan bangsa asing karena terlindung oleh alam. Orang-orang Italia terdiri atas banyak suku yang masing-masing memiliki bahasa dan kebudayaan tersendiri. Masyarakatnya hidup dari sektor pertanian serta perdagangan dan pelayaran. Mereka mengekspor keramik, barang-barang  dari besi dan perunggu dan kayu serta minuman sejenis anggur. Adapun barang impor antara lain sutera dari Cina, rempah-rempah dari Indonesia, katun dan mutiara dari India. Bangsa Romawi juga memiliki kemampuan yang tinggi dalam pengolahan logam, penggunaan batu untuk bangunan, teknik lengkung serta teknik pengeringan rawa.

    Sistem pemerintahan Romawi dimulai dengan berbentuk kerajaan (monarki) dengan raja pertamanya adalah Romulus. Sistem Monarki ini hanya berlangsung pada tahun 750 SM sampai 500 SM. Penguasa Romawi yang merupakan pendatang, tidak dapat diterima oleh penduduk asli yang pada akhirnya mereka digulingkan.

    Sebagai ganti sistem monarki maka diberlakukan sistem Republik. Pada masa Republik Romawi pembagian penduduk didasarkan atas dua golongan, yaitu patricia dan plebea. Patricia berasal dari kalangan pemilik tanah yang luas atau kelas aristocrat. Sedang plebea adalah mereka yang dianggap warga negara tidak penuh, namun masih memiliki beberapa hak politik dan hak untuk mengumpulkan kekayaan. Orang-orang dari golongan patricia memegang kedudukan dalam lembaga-lembaga politik yaitu konsul, senat, dan Majelis atau Assembly.

    Pertahanan dan militer Romawi juga sangat terkenal terutama ketika terlibat perang Punisia. Romawi memiliki tokoh-tokoh yang cukup berpengaruh didunia antara lain Julius Caesar, Tiberius Gracchus, Gayus Gracchus dan masih banyak lagi.

    Bangsa Romawi merupakan bangsa dengan tingkat kebudayaan yang cukup tinggi. Sebagai buktinya dapat dilihat dari seni bangunan, seni sastra, ilmu pengetahuan, pemerintahan, militer dan hukum. Salah satu bukti tingginya kebudayaan Romawi dari segi bangunan adalah pantheon. Seni sastra yang terkenal pada masa Romawi adalah Aeneis karya Vergelius dan karya Julius Caesar berjudul De Bello. Dalam bidang ilmu pengetahuan telah ditemukan obat-obatan dan dokter. Dibidang Pemerintahan Romawi sangatlah rapi. Perkembangan karya sastra Romawi mendapat sentuhan dari Yunani tetapi lambat laun menampakkan ciri khas Romawi.

    Dalam bidang ilmu pengetahuan bangsa Romawi meneruskan pengetahuan yang berkembang dari zaman Yunani kuno. Bangsa Romawi lebih menekankan pada segi kepraktisan, bukan teori semata. Sumbangan bangsa Romawi adalah bidang kedokteran dan obat-obatan hingga sekarang. Dokter pada jaman Romawi telah berhasil melakukan operasi gondok, amandel, dan batu ginjal. Sampai-sampai hingga sekarang, istilah kedokteran masih menggunakan bahasa latin.


    Tata pemerintahan Romawi tersusun rapi yang dijalankan dengan beberapa sendi seperti pemerintahan sentralisasi, ketertiban dan keamanan yang ketat, komunikasi antar pemerintah pusat dengan daerah terjalin baik serta untuk mempertahankan kekuasaan ditempuh dengan siasat divide et impera yang ditiru oleh kebanyakan bangsa jajahan. 
    Continue Reading

    Nabila Nurul Chasanati

    Sudah menjadi tamparan keras bagi para pelaku pendidik saat melihat bagaimana sungai yang membelah kota saat ini begitu kotor dan terisi oleh sampah rumah tangga. Apa masyarakat saat ini tidak menghargai keberadaan sungai, jika keberadaannya saja dilihat sebelah mata. Bahkan tatkala saya melihat anak-anak SD yang melintasi jembatan, pun juga membuang sampahnya di sungai. Padahal pendidikan seusia mereka sudah diperkenalkan ajaran untuk tidak membuang sampah sembarang. Hanya pada tempat tertentu yang bertandakan tempat sampah. Tetapi hal itu masih terjadi? Coba cium sungai kita sekarang? Alih-alih mencium, cobalah lihatlah dengan mata terbuka tanpa menampikkan fakta tersebut. Apa yang anda bisa dapatkan di sungai kita saat ini?

    Sungguh ironi keadaan sungai di kota-kota besar saat ini. Bahkan denda ratusan ribu rupiah bagi pelanggar peraturan untuk tidak membuang sampah di sungai pun masih saja banyak orang yang tidak mengindahkannya. Apalah arti dari peraturan jika masih banyak masyarakat yang melanggar. Bila kita menelisik lebih jauh area perikanan kita, pasti akan mendapati keadaan yang tidak jauh berbeda. Sudah ada peraturan bahwa menangkap ikan dilarang menggunakan bom, pun banyak orang yang melanggarnya. Ekosistem laut kita musnah, dan mereka tidak ingin menjadi pihak yang disalahkan. Lantas bagaimana peranan pendidikan dalam mewujudkan tataran masyarakat yang beradab, patut dipertanyakan. Apakah pendidikan hanya berorientasi pada market saja? Apa yang diajarkan hanya pelajaran-pelajaran fiktif? Sampai-sampai anak-anak jaman sekarang hanya mengacuhkan sebuah peradaban yang sesungguhnya sudah terbangun sebelum lahirnya Nusantara. Tetapi, fokus penulisan ini adalah membahas mengenai hilanngnya peradaban air. Saat ini, kita tidak mendapati fenomena bahwa budaya air masih eksis. Bila bisa saya katakan lewat stratifikasi sosial, budaya air menempati urutan terbawah. Kumpulan permasalahan yang dinomorterakhirkan untuk dipecahkan oleh pemerintah, masyarakat, alih-alih dunia pendidikan.

    Kompleksnya peranan budaya air dalam membangun peradaban unggul, kenapa saat ini kita mengacuhkannya begitu saja?

    Penekanan bahwa pentingnya budaya air ini tidak terlepas dari putusnya budaya air yang lama sudah terbangun. Bahkan sudah ada sebelum lahirnya Indonesia. Alih-alih sangking lamanya itulah, tidak tahu jaman kapan budaya air tidak ada lagi. Hilang di era siapa, tidak begitu kita rasakan.

    Pembangunan di sektor perairan sudah dibangun era Raja Airlangga dengan membentuk bendungan. Lalu terdapat kontinuitas oleh Raja Kroncaryyadipa (± 1181M) dengan membentuk pejabat tertinggi yang menangani dan menguasai perairan yang disebut dengan senopati sarwajala. Walaupun saat itu, pejabat ini masih mengatasi permasalahan banjir, tetapi bayangpun birokrasi kerajaan waktu itu menganggap masalah perairan merupakan masalah serius. Air merupakan sumber daya alam yang luar biasa. Apalagi, pada abad 19, banyak perdagangan yang dilakukan lewat sungai.

    Tidak jauh-jauh mengambil contoh, sungai Bengawan Solo dimanfaatkan oleh pedagang Cina pada abad 15-17 M yang banyak melakukan transaksi perdagangan sepanjang sungai ini. Bengawan Solo waktu itu memerankan peranan cukup penting dalam memajukan peradaban masyarakat. Sungai tidak hanya dinilai sebagai tempat pelayaran perdagangan, bila ditelisik lebih jauh banyak pertukaran budaya di dalamnya. Penguatan komunikasi sosial masyarakat, hal inilah masyarakat tanpa tidak sadar “terdidik” bahwa keberadaan sungai memang sangat strategis.

    Bila kita melihat bagaimana sekarang, sungai selalu tampak dibelakang rumah kita. Hanya dijadikan sebagai tempat pembuang kotoran, mungkin kita lupa atau bisa jadi kitalah yang memutus peradaban yang sudah dibangun jauh-jauh hari lewat sungai. Lantas, apakah tidak ada hubungannya dengan peranan pendidikan. Seperti yang saya kemukakan dari awal, ini merupakan tamparan keras bagi sistem pendidikan, pendidik khususnya. Apa dunia pendidikan diam saja dalam fenomena hal ini. Nilai-nilai yang putusnya peradaban ini di dalam masyarakat, tetapi tidak langsung putus begitu saja lewat peranan pendidikan. Saya ingat pelajaran yang diajarkan dalam PPKn sewaktu SD, banyak nilai-nilai yang diajarkan di dalamnya. Pun, walaupun kurikulum berganti dengan mengikuti jaman, tetapi bila kita masih melihat masyarakat kita sendiri mengotori sungai, apakah kita hanya diam saja? Apa hanya menunggu peran pemerintah dalam mengembalikan kembali kurikulum yang dahulu kala karena melihat fenomena ini. Tentu saja tidak berlebihan seperti itu. Memang benar, bila kurikulum harus mengikuti perkembangan jaman, tetapi jika jaman sekarang saja sungai tidak ada harganya bagaimana ke depannya?

    Meminjam pernyataan Indrawan Yepe, “Pendidikan itu untuk membangun karakter anak-anak dan menumbuhkan kepedulian mereka serta membangunkan potensi mereka.” Bahwa ternyata substansi dari pendidikan itu lebih mengakar dan berarti lebih. Untuk mendidik anak-anak ternyata begitu mulianya sampai-sampai target yang dibidik adalah pembangunan karakter dan menumbuhkan kepedulian diri.

    Mengingat kembali bahwa tujuan pendidikan Indonesia merupakan implementasi empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO. Keempat pilar ini adalah: 1) learning to know (belajar untuk mengetahui), 2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), 3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) dan 4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

    Bisa dikatakan lewat pendidikanlah, akan tercipta masyarakat terdidik. Dari sinilah tertanam nilai-nilai pembelajaran yang membentuk karakter anak didik untuk nantinya bisa hidup di tengah-tengah masyarakat. Kemudian, membentuk komunitas masyarakat luas dengan suatu karakter yang khas. Lalu dari alur inilah menciptakan budaya masyarakat yang lama kelamaan dapat diturunkan oleh generasi penerus. Begitu luasnya kita memandang suatu peranan pendidikan dalam menciptakan generasi emas. Bisa kita tarik kesimpulan, bagaimana penanaman nilai-nilai untuk membangkitkan budaya air kita selipkan dalam peranan pendidikan. Tidak ada salahnya, karena tujuan pendidikan poin kedua adalah learning to do. Pendidikan merupakan pengamalan dari ilmu dan diimplementasikan nyata.

    Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membentuk karakter anak didik. Pendidikan ada, tidak hanya mengajarkan pada pelajaran-pelajaran fiktif saja. Agar lebih berbudaya, lebih beradab. Dengan kemampuan yang diterimanya inilah, berguna untuk membentuk suatu komunitas besar yang di dalamnya bisa mendorong kembali terciptanya masyarakat yang mencintai budaya air. Pendidikan mempunyai tujuan akhir—seperti tujuan pendidikan nasional Indonesia—untuk learning to live together. Pendidikan membentuk suatu komunitas masyarakat agar lebih terdidik dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar. Mempunyai daya kepekaan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

    Apalah artinya pembangunan yang dibentuk oleh nenek moyang kita, Raja Airlangga melakukan pembangunan dari budaya air dan dari sinilah lahirlah budaya-budaya air yang dilanjutkan oleh pecahan dua kerajaan besar semasa itu. Pun, terdapat menteri pemegang kekuasaan tertinggi dalam era Raja Kroncaryyadipa yaitu Senopati Sarwajala. Pembangunan peradaban mereka memang berbeda era antara Indonesia lama dengan kondisi kita saat ini. Masa itu birokrasi kerajaan memberikan kebijakan yang luar biasa berartinya dalam pembangunan peradaban. Perbedaannya dengan sekarang adalah kompleksnya permasalahan dari hulu hingga hilir. Semua permasalahan seakan bertumpu pada sektor ekonomi saja. Efek ekonomi ini nanti seperti kartu domino yang dianggap mempunyai efek besar dalam kehidupan. Tetapi, jika dilihat menyeluruh pembangunan peradaban cerdas saat ini hanya bertumpu pada sektor pendidikan. Kebijakan sudah memberikan tempat seluas-luasnya terhadap pembangunan era masyarakat yang berkarakter lewat pendidikan.

    Seperti apa yang saya jelaskan diatas, bahwa ujung dari peran pendidikan ini adalah mewujudkan masyarakat berkarakter. Yang secara menyeluruh dengan bertahap membangun masyarakat Indonesia berkarakter—bisa saya katakan generasi Indonesia Emas. Apa kita masih bertumpu tangan terhadap pemerintah sebagai pemegang birokrasi? Justru peran pendidikan juga tak kalah dari kartu sektor ekonomi—dimana tidak kita munafikkan, orientasi pembangunan pemerintah selalu bertumpu pada sektor ekonomi---. Bahkan embrionya berada dalam pendidikan. Lewat pendidikan, dapat mewujudkan pembangunan pemerintah, penguatan ekonomi nasional, ketahanan budaya, dan lain sebagainya.

    Sebagai calon-calon orang yang akan membentuk komunitas masyarakat berkarakter inilah, kita tidak boleh melihat sebelah mata kondisi sungai kita. Tidak perlu muluk-muluk untuk mewujudkan caranya. Berawal dari langkah sederhana yang kita lakukan. Dimulai dari tidak membuang sampah di sungai. Lewat pribadi kita sendiri, menegur kawan, orang tua, atau orang terdekat kita untuk melakukan hal yang sama. Dari sanalah, muncullah komunitas-komunitas masyarakat yang tergerak untuk melakukan pemberdayaan sungai. Pemanfaatan kembali fungsi sungai, entah dalam segi ekonomi dengan adanya perdagangan, sosial, budaya. Dan kelamaan sektor perairan dengan mengedepankan tatanan pendidikan berasimilasi dalam budaya masyarakat bisa jadi membentuk karakter kuat yang terus tertanam dan tumbuh dalam diri masyarakat untuk tetap terus memberdayakan dan menguatkan kembali.

    Semua hal itulah saling bersinergi untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat berbudaya. Itu baru dalam hal budaya air saja. Coba kita telisik lebih jauh, banyak peranan budaya-budaya lokal yang terkadang kita lihat sebelah mata yang memiliki dampak yang luar biasa. Tidak hanya akan menjadi mimpi, jika masyarakat dengan kesadaran sendiri itulah menciptakan suatu tatanan Negara yang mewujudkan cita-cita. Bukan hal yang tidak mungkin, lewat sinergisitas peranan pendidikan dalam mengembalikan budaya air mampu mewujudkan Indonesia Emas? Who knows?

    Continue Reading

    Bukan hal yang baru kasus mengenai pemboman di berbagai tempat, khususnya di kota Solo sendiri. Tanggal 21 Januari 2011 benda mencurigakan ditemukan oleh seorang anak kecil di lapangan yang tepat pada saat itu digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara tradisi Ya Qowiyyu. Akibat kejadian itu, tim gegana dan polda setempat langsung mengamankan daerah tersebut.
    Kasus ditemukannya bom ini penting untuk dianalisis secara lebih serius mengingat kejadian ini membuat warga yang mengikuti prosesi upacara Ya Qowiyyu menjadi khawatir akan keselamatan jiwanya. Meskipun bom yang ditemukan ini tidak meledak. Apabila bom ini mampu meledak, berapa puluh ribu manusia kehilangan nyawanya. Kesadaran ini seolah membutakan cara berpikir palaku akan kesalahan yang ia lakukan. Lantas apa sebenarnya yang melatarbelakangi perbuatannya ini?

    I.       Pengaruh Teror Bom bagi Tradisi Ya Qowiyyu
    Menilik dari kasus diatas, keterangan dari warga dan panitia Ya Qowiyyu bahwa bom ini secara spesifik tidak mempengaruhi jalannya upacara Ya Qowiyyu sendiri. Ironisnya, memang ditemukan tujuh tersangka pelaku pembuat bom ini adalah orang-orang yang berada di dalam ’Islam radikal’.[1] Dari pengelola Masjid Besar Jatinom sendiri, menjelaskan sejarah dari diadakannya tradisi Ya Qowiyyu yang merupakan sebuah wadah dalam dakwah yang dilakukan Kyai Ageng Gribig. Perayaan ini hanya dilakukan sekali selama setahun, yaitu pada bulan Sapar.[2] Sumarta Sastra (1953) secara rinci menerangkan bahwa tradisi ini konon bermula dari cerita tentang Kyai Ageng Gribig yang memberi kue apem kepada muridnya, tetapi jumlahnya hanya sedikit sehingga agar adil kue apem tersebut dilemparkan ke muridnya untuk dibagi. Perayaan ini pula sebagai wujud tanda syukur atas pemberian nikmat Allah SWT, rasa syukur inilah diungkapkan dalam puji-pujian berupa kalimat dalam bahasa Arab Ya Qowiyyu yang berarti Allah Maha Perkasa. Pemahaman kesejarahan ini yang tidak dimengerti secara menyeluruh. Orang awam hanya memandang tradisi Ya Qowiyyu ini tidak memberikan manfaat dan bahkan memberi stigma negatif.[3]
    Sehingga tradisi dalam masyarakat ini, hanya menghasilkan pengaruh negatif. Termasuk dalam hal ini terjadi dalam tradisi Ya Qowiyyu, setelah melakukan beberapa analisa dan wawancara dapat disimpulkan bahwa tradisi tesebut juga mempunyai perubahan negatif terhadap masyarakat Jatinom. 
    Adanya ancaman bom pada acara peringatan Yaqowiyu, masyarakat merasa tidak terlalu terganggu. Masyarakat tetap mendukung terlaksananya upacara Ya Qowiyyu padai setiap tahunnya. Masyarakat tidak takut bila ada ancaman bom lagi, karena mereka merasa bahwa melakukan upacara Ya Qowiyyu sebuah kepercayaan yang akan membawa berkah bagi masyarakat. Secara umum dampak negatif terror bom dari adanya upacara Ya Qowiyyu terhadap masyarakat Jatinom memang sedikit sekali. Tetapi, hal ini harus disikapi lebih serius untuk menjaga ketentraman di masyarakat. Agar kasus serupa tidak terjadi.

    II.       Proses Dialektika Budaya Untuk Pemahaman Masyarakat
    Kepercayaan sebagai suatu kebudayaan kompleks. Geertz menggambarkan dengan  menunjuk pada banyaknya variasi, pertentangan dalam kepercayaan serta konflik-konflik nilai yang muncul akibat perbedaan golongan sosial yang olehnya dirinci menjadi tiga tipe kebudayaan: abangan, santri dan priyayi.[4] Namun, secara keseluruhan perbedaan tiga tipe ini mewujudkan kehidupan masyarakat plural. Tetapi agaknya masyarakat yang plural ini tidak menjadikan hubungan bertambah baik. Banyak sekali komentar-komentar dengan memberikan stigma buruk terhadap salah satu pihaknya. Ketidakdewasaan masyarakat inilah yang membangun hubungan bermasyarakat yang tidak sehat. Masyarakat seolah diperdebatkan paham oleh boleh atau tidaknya tindakan ini dilakukan di dalam satu kepercayaan keagamaan.
    Jika dirunut dari asal-muasal diadakannya tradisi Ya Qowiyyu, ini mempunyai tujuan yang baik demi tercapainya dakwah yang dilakukan Kyai Ageng Gribig. Dengan menyelaraskan kepercayaan yang sebelumnya sudah melekat di masyarakat setempat dengan kemasan dakwah Islam. Secara keseluruhan, perkembangan Islam di Indonesia ini sendiri tidak terlepas dari peranan akulturasi budaya. Peranan budaya lokal sangat penting hingga terciptanya masyarakat plural saat ini.
    Seiring perkembangan zaman, Islam hadir di Jawa dihadapkan dengan masalah yang cukup kompleks yaitu modernitas, globalisasi, kebudayaan lokal dan semua perkembangan kontemporer yang menghampiri perkembangan zaman dewasa ini. Dalam konteks ini, respon kelompok-kelompok atau organisasi Islam di Indonesia dan Jawa, khususnya sangat bervariatif yaitu mulai dari yang konservatif, moderat, liberal, radikal hingga fundamentalis.[5] Perbedaan inilah yang terkadang menjadi pemicu perbedaan yang bersifat keras. Pembagian tipe kebudayaan yang dilakukan Geertz, seolah menjadi cluster yang tidak bisa disatukan. Professor Bachtiar mengkritik klasifikasi ketiga golongan (Abangan, Santri dan Priyayi) ini. Beliau lebih melihat agama sebagai suatu unit analitis yang berupa sistem normatif terbatas yaitu sistem kepercayaan (a system of beliefs) dan membedakan dari unit lain yang bernama adat.[6] Satu tujuan yang sesungguhnya ingin dicapai, yaitu dakwah. Penyebaran Islam berkembang dengan baiknya di tanah jawa dengan pendekatan sosial humanis, hal ini dimaksudkan agar tidak menjadikan perpecahan yang begitu ekstrim antar kelompok yang satu dengan yang lain.  Justru Islam hadir menjadi sebuah pemersatu antar kelompok atau golongan.
    Lantas, kenapa sesama umat Islam harus saling mempermasalahkan boleh atau tidaknya tradisi ini dilakukan. Bahkan ada yang sangat ekstrim mengatakan bahwa tradisi ini mengandung kemusyrikan. Tradisi Ya Qowiyyu hadir di dalam masyarakat Jatinom untuk mengenang Kyai Ageng Gribig atas jasanya dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom. Perayaan ini ditandai dengan penyebaran apem yang merupakan simbol dari pangapura. Hakikatnya sangatlah sederhana, sebelum kamu meminta maaf, maafkanlah orang-orang yang menyakitimu.[7] Bukan hal-hal yang mengandung nilai kemusyrikan seperti pandangan banyak orang. Titik masalahnya hanya kurang dibukanya pola pikir yang hanya satu pintu. Justru, setiap tradisi ini berlangsung Pak Daryanto yang sebagai atur pambagyo harjo sering mengingatkan bahwa kedatangan warga yang mengikuti prosesi upacara ini bukan untuk mendapatkan apem apalagi berkah dari apemnya itu. Hanya saja, lebih ditekankan pada niat untuk mencari keberkahan sesuai dengan niatan ikhlas lillahi ta’ala.[8]
    Cara Kyai Ageng Gribig dalam menyelaraskan budaya lokal dengan Islam itu sendiri mengena pada masyarakat yang pada masa itu masih memeluk agama Islam. Sampai upacara tradisi Ya Qowiyyu dikenang sebagai upacara untuk melestarikan nilai-nilai keIslaman dengan kemasan kebudayaan lokal. Tinjauan mengenai tradisi bahwa kehidupan kebudayaan berlaku dalam waktu, kebudayaan mempertahankan diri dengan jalan tradisi yaitu pewarisan unsur-unsur kebudayaan dari suatu angkatan menuju angkatan berikutnya, karena sesuatu tidak dengan tiba-tiba untuk menjadi suatu kebudayaan.[9] Tanpa kehidupan kebudayaan itu akan selalu diakhiri dengan kemusnahan. Tradisi merupakan syarat kesinambungan seluruh kehidupan kebudayaan yang ada dalam waktu masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
    Hal inilah yang menyebabkan kenapa keberadaan Islam di Indonesia ini sangatlah unik. Berbeda dengan Islam Timur Tengah bahkan Eropa. Islam Indonesia menganut Islam kultural dimana tolak ukurnya ada pada kearifan lokal di daerahnya. Kemajemukan bangsa ini tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa manapun di dunia. Inilah yang menyebabkan, kapanpun varian Islam lokal akan lestari meskipun mengalami perkembangan karena selalu berdasarkan pada akar budaya lokal itu sendiri.[10] Tidak bisa secara eksplisit bahwa Islam kita harus menganut Islam Timur Tengah. Islam kultural di Indonesia berdasarkan kearifan lokal yang ada. Tidak bisa dicampuradukkan dengan Islam Timur Tengah yang sering kita lihat di media massa, menggunakan kekuatan kemiliterannya dalam upaya menegakkan segala sesuatunya.
    Sebagaimana yang sudah diketahui, Islam berdialektika dengan budaya lokal yang pada akhirnya membentuk beberapa varian Islam yang khas, seperti Islam Jawa, Islam Madura dan lain sebagainya. Varian Islam tersebut bukanlah Islam yang tercabut dari akar kemurniannya, tetapi menjadi Islam yang telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal. Tidaklah aneh, bagaimana lewat budaya lokal inilah Islam tumbuh. Kyai Ageng Gribig tahu persis daerah yang menjadi tempatnya berdakwah pada umumnya masih menganut kepercayaan Hindu bahkan masih terkandung Animisme dan Dinamisme. Pendekatan-pendekatan bersifat humanis dilakukan sebagai metode dakwahnya. Inkulturasi dilakukan dalam bentuk akomodasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan keberadaan budaya lokal setempat. Dari proses ini dilakukan bertujuan untuk menjaga dan  mempertahankan identitas budaya lokal itu sendiri. Paisun (2010: 156) menegaskan keberadaan Islam itu sendiri tidak tercerabut dari akar ideologisnya. Demikian pula dengan masuknya Islam di dalamnya.
    Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan. Pertama, keduanya merupakan sistem nilai dan simbol. Kedua, baik agama ataupun kebudayaan mudah sekali terancam setiap kali ada perubahan. Agama dalam perspektif ilmu sosial adalah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai kontruksi realitas yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan sosial dengan memahamkan dan menafsirkan lingkungan sekitar. Sedangkan budaya merupakan ekspresi cipta, karya dan karsa manusia yang berisi nilai dan pesan religiusitas, wawasan filosofis, dan kearifan lokal (local wisdom).[11] Persamaan ini juga seakan menjadi tumpang tindih. Lagi-lagi masalah pengelompokkan (cluster) menjadi sebuah permasalahan krusial yang tidak berujung. Seolah pemikiran yang hanya melihat satu sisi saja yang menjadi acuan bagi mereka. Kebudayaan dan agama menjadi dua hal yang berbeda. Sehingga dialektika antara agama dan budaya di mata masyarakat umum memunculkan penilaian subjektif-pejoratif. Sebagian bersemangat untuk mensterilkan agama dari kemungkinan akulturasi budaya setempat, sementara yang lain fokus pada pembangunan pola dialektika antarkeduannya (Roibin, 2010: 1).

    III. Kesimpulan
    Kasus teror bom yang terjadi saat tradisi Ya Qowiyyu 21 Januari 2011 seharusnya tidak akan terjadi bila antar kelompok menjunjung toleransi dengan mengeyampingkan pemikiran pragmatisme. Masyarakat tidak perlu dihadapkan oleh keresahan yang tidak berujung oleh kelompok tertentu. Kita meyakini bahwa proses dialektika yang dibangun antara agama dan budaya mempunyai nilai positif. Jika melihat dalam perspektif menyeluruh.
    Pemikiran Geertz mengenai tipologi kebudayaan di Jawa seolah mendikotomikan persatuan antar satu kelompok. Antara masyarakat muslim santri dengan masyarakat muslim abangan sehingga menegaskan bahwa agama Islam di Jawa merupakan kumpulan ekspresi iman, doktrin, ritual yang dipraktikkan masyarakat sesuai tradisi lokal. Bagaimanapun, keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat Jawa memberi dampak positif untuk lebih menyelaraskan pemikiran yang mengedepankan dialektika antar keduanya. Hingga tercipta masyarakat yang saling toleransi antar satu kepercayaan yang menjadi watak budaya yang khas di masyarakat Jawa ini sendiri.
    Tradisi Ya Qowiyyu ini bukan hanya suatu upacara dalam melestarikan kebudayaan saja, tetapi menekankan pada bentuk kegiatan sosial sesuai kemasan dakwah. Agar menguatkan kembali nilai-nilai kearifan lokal di dalam masyarakat kita saat ini. Pemaknaan ini harus lebih diuniversalisasi lagi kedepannya sehingga dialektika antara budaya dan agama dapat terjembatani dengan baik di kedua belah pihak.
    Sebagai mahasiswa, kita harus turun langsung ke lapangan. Berdialog langsung bagaimana sebuah tradisi bermula sampai kepada pola pemikiran yang dibangun oleh masyarakat setempat. Jadi, dalam melihat sisi tradisi Ya Qowiyyu ini, kita melihat keseluruhan makna sampai pada hakikat yang terdalam dari melalui dialog. Apalagi banyak sekali wadah bagi generasi muda saat ini terutama mahasiswa untuk terjun langsung di tengah-tengah masyarakat. Salah satu contohnya melalui dunia pengajaran di bidang pengabdian masyarakat yang hampir setiap UKM fakultas mengagendakan hal tersebut dan didukung oleh keterlibatan perguruan tinggi mewajibkan mahasiswanya mengikuti KKN. Hal inilah partisipasi mahasiswa dapat menambah dan mengembangkan pola pikir kita sebagai generasi muda terhadap kearifan lokal yang sudah dijaga masyarakat melalui sebuah tradisi. Kita tidak ingin dikotomi antara tradisi dengan agama menjadi hal yang krusial dan bertahan lama. Sebuah terobosan menggunakan pendekatan dialog dan peran keikutsertaan mahasiswa di dalamnya, akan jauh lebih efektif membangun perspektif generasi muda agar lebih rasional untuk menilai. Jauh dari rasa mendiskreditkan peranan antar kelompok, karena mahasiswa merupakan agent of change, diharapkan membawa perubahan yang baik kedepannya. 



    [1]Menurut Kepolisian Daerah Jateng, Irjen Pol Edward Aritonang dalam portal berita Antara News http://www.antaranews.com/berita/243392/tujuh-orang-jadi-tersangka-teror-bom-rakitan, diakses pada tanggal 23 Oktober 2014 pukul 15.03 WIB.
    [2] KM Sosro Sumarto, Ki Ageng Gribig, (Yogyakarta: SM. Dwi Warno, 1912), hlm. 46. (tulisan Jawa)
    [3] Wawancara dengan Bapak M. Daryanto, Pengelola dan Panitia Tradisi Yuqowiyu, 2 November 2014.
    [4] Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (terj), (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989), hlm 9.
    [5] Andik Wahyun Muqoyyidin, Dialektika Islam dan Budaya Lokal dalam Bidang Sosial Sebagai Salah Satu Wajah Islam Jawa, (jurnal), (Jombang: Jurnal El Harakah Vol.14, No.1, Januari-Juni 2012), hlm. 20.
    [6] Bachtiar, Harsja W,  1973, The Religion of Java: A Commentary Review, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra, 5,1, hal. 85-118.
    [7] Wawancara Pak Daryanto, Op.cit.
    [8] Ibid.
    [9] Sidi Gazalba, Antropologi Budaya II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). hlm. 147.
    [10] Lihat,. Andik Wahyun Muqoyyidin, Dialektika Islam dan Budaya Lokal Jawa, (jurnal), (Jombang: Jurnal Kebudayaan Islam Vol.11, No.1, Januari-Juni 2013), bagian Pendahuluan dan Diskurusus Agama dan Budaya.
    [11] Hendar Riyadi, Respon Muhammadiyah alam Dialektika Agama, (Koran), (Pikiran Rakyat: 24 Februari 2003), 
    Continue Reading
    nabila chafa :

    beberapa bulan yang lalu, aku sama temen-temenku *sebut saja mereka pengikut acara Blora the explorer* mengadakan acara touring *niatnya* dan berjalan *agak* sukses. Hahahaha :D

    Bentar gue ketawa dulu :p

    Kita berangkat dari Stasiun Balapan jam enam pagi. Dan tralalala, aku telat.

    Kali ini dengan tatapan tidak mengenakkan dari Magdalena alias adek puput. Maaaf.... 

    Terus, diperjalanan yang begitu deh rasanya naik kereta. Digaris bawahi bahwa saya punya teman yang belum pernah naik kereta. Digarisbawahi juga namanya Nanasitha. Maaf... :)

    Dan sesampainya di Jogja, lebih tepatnya di stasiun Lempuyangan kami berbelanja. dan tentu saja menunggu temen saya yang asli Jogja dan namanya adalah Nurul. Kami berjalan-jalan di sepanjang jalan Malioboro. Dan banyak membeli buah tangan *lebih tepatnya dua temenku* hem... hem...

    Dan inilah publikasi dari foto-foto kita selama berwisata :

    *ehem... ehem...* Tadaaaaa....
















    The last....

    *yang paling eksotis dari semua foto*



    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top