Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini




    Senjakala malam menyapa malammu. Penuh kesunyian dan deru redam suara napas yang tak bertalu. Pada dia, langit malam yang cerah. Bisakah datang membawa secerca keceriaan di tengah kegelapan. 

    Wahai sore menjelang malam, tidak bisakah kau titipkan maksud dan tujuanku sebelumnya? Membawa pekat dan sunyi yang masih membelenggu untuk terhempas.

    Ditengah hingar bingar cerita yang datang bersahutan. Bak suara kucing-kucing tetangga rapat di pinggir pos ronda malam. Tak bisakah sunyi atau perasaan yang tidak memiliki tumpuan ini sirna. Biarkan burung dara peliharaan tetangga membawa serta kabar bahagia itu.

    Ah, 

    Atau setidaknya daun yang tidak ditakdirkan untuk jatuh itu membawa pesan penuh makna. Bahwa setidaknya dia sudah mencoba bertahan pada ranting dari terpaan angin muson yang sudah datang.

    Kemudian, memori liar itu datang. Soal cerita kusut masa lalu yang masih dibawa-bawa hingga menjelang tidur.

    Untuk semua orang yang mengenakan rok putih dengan atasan batik biru tua itu. Hal yang paling dirindukan dari yang pernah ada. Sorak-sorai seorang siswa yang memenangkan penghargaan. Atau pidato kepala sekolah yang menggebu-nggebu di tengah kekhidmatan siswa di lapangan upacara.

    Atau pada tatapan cinta pertama di sekoalah dulu.

    Heuh.

    Kan, kadang hidup memang harus berjalan. Terlalu menyenangkan jika membawa kaca spion di setiap perjalanan. Tatkala sepi dan sunyi itu datang, kalanya memang kita harus pasrah.

    Ah, pada perasaan yang sudah datang membuncah. Membawa serta kaca pecah. Meringis kesakitan sempurna di dalam hati. Kemudian menangis dalam diam ketika tidur tiba.

    Sudahlah. 

    Kan kata orang, di usia kita sekarang, menangis sudah menjadi bagian rutinitas yang menyebalkan. Toh kita tidak bisa menghindari hal menyenangkan yang akan datang.

    "Pada kesunyian, 

    masi ada harap? Aku haturkan doa di tengah malam yang panjang,"

    (*)

    21.07
    Minggu 
    13.6.21
    Continue Reading
    Hei jiwa yang terlelap!

    Sapalah salam semangatku lewat ketikan panjang keyboard ini. Membentuk alunan suara harmonis yang receh. Aku ingin bertanya dalam sendu, apakah kamu pencemburu?

    Ada seorang teman yang mengaku dia seorang pencemburu. Masalah sepele ketika tidak banyak orang yang memperhatikan berbicara, dia merasa cemburu diduakan. Ketika tidak banyak orang yang menyambutnya dalam sebuah perayaan, dia cemburu dengan memasang wajah kusam. 

    Wajar~

    Aku akan bercerita singkat masalah lampu yang pencemburu. Lampu ini juga bisa cemburu, ketika dia hanya menyala sendirian. Dia tidak terang seperti lampu lampu lain yang punya daya magis luar biasa. Dia memberikan percikan saja, tanpa bermaksud menerangi. Untuk membaca satu huruf pun terasa kepayahan. Lantas, apakah dia berhenti menerangi? Tidak. Dia sebisanya melakukan tugasnya.

    Lampu itu juga menyadari, dia tidak suka jika keramaian tercipta. Biarkan hidupnya mengalun sesederhana. Asalkan menjadi percikan semangat, apalah daya untuknya terus menyala terang. Jika hiruk pikuk membunuhnya perlahan. 

    Semoga kamu dimanapun kamu, juga menerangi. Sebisamu!

    Aku,
    yang masih merindu.
    2 Mei 2018. 21.23 pm

    ...




    Continue Reading


    Warna pelangi tergeser oleh silaunya pancaranmu.
    Bisa saja, kristal-kristal di langit terbiaskan hingga cahayanya tak sampai pada mataku.
    Kamu berbicara tentang kebersamaan kita.
    Kemudian, untaian ceritamu dimulai dari kesendirian.

    Sungguh. Aku ingin membantumu.
    Kubah di langit mungkin tak menginginkan itu terjadi.
    Entahlah~
    Belati akan semakin mengiris pilu hatimu, bila ku katakan yang sejujurnya.

    Amanah itu sudah selesai.
    Setidaknya kau lega.
    Bisa saja, kau merayakannya dengan sekedar makan bakso lima ribuan di depan fakultas.
    Sembari mengolok teman-teman "siapa saja yang sudah lulus?"

    Jujur!
    Aku rindu senyum kebangganmu itu.
    Atau senyum menghinamu itu kalau kamu sok tahu.
    Hingga senyum remeh temehmu dalam berbasa-basi.

    Hei, untuk pundak yang semakin ringan.
    Kertas yang masih kosong itu isilah.
    Setidaknya dengan kebangganmu untuk selalu mengerjakan sesuatu.
    Tuhan adalah Maha Benar.
    Maha Sebaik-baik Pemberi Apresiasi

    Baru aku tahu, keputusan itu tak akan berlanjut.
    Hanya ketukan jemari yang mengisyaratkan: Aku berhenti!
    Sudahlah~
    Toh, itu keputusanmu.

    Tapi jangan lupakan hari ini.
    Saat gerimis turun ke bumi dan dambaanmu sudah selesai.
    Jangan pernah kau menghilang.
    Untuk bersembunyi ataupun untuk lari.

    Senang atau tidak, kamu harus berani melewati.
    Hingga kuncup kumbang datang di kelopak mawar, aku selalu menunggu waktumu.
    Kemudian, aku tidak akan segan-segan untuk datang dan menepuk pundakmu.
    Lagi!

    Hei, kita bisa bercerita kembali. Tentang "hal apa yang sudah kita lalui"
    Bukan kita, tapi antara aku, kamu dan mereka semua.
    Aku harap kamu mengingatnya di lorong kehidupan masa mudamu.
    Sekedar untuk datang dan kembali, kini aku pamit!

    ::::




    Apresiasi tertinggi setelah kepengurusan SSC periode 2017
    Dan, terutuk kalian yang selesai dalam menyelesaikan amanahnya.
    Sembari menunggu tanggung jawab yang lain datang.


    ::::

    I don't even know why I'd do this anymore
    Reality Club_Is it this answer_Playing Now!
    Tuesday, 12nd Desember 2017
    22.10 pm

    dan...


    Happy Birthday to me!
    N  a  b  i  l  a    C  h  a  f  a, 
    selamat bertahan di umur 23 tahun sejak 3 Desember 1994.
    Aku mengapresiasi diriku, yang tegar, kuat, bakoh dan masih banyak kontradiksi dalam setiap kata itu. Setidaknya, Allah sebaik-baik pemberi Apresiasi.

    ::::
    Continue Reading
    nabila chafa:

    Lari…
    Oleh: Nabila Nurul Chasanati

    Aku ingin lari…

    Lari sebisa aku…

    Selama kaki masih kuat menopang beban hidupku.

                Aku ingin lari sambil menangis.

                Biar tak ada orang yang melihat bila aku lemah.

                Sengaja paruku terengah-engah,

                Asalkan beban yang terpendam itu lengah.

    Sebisa aku melawan,

    Selemah aku ditawan.

                Tak ada lagi beban,

                Hanya sebuah isakan.

    Apakah aku perlu benci?

    Meskipun semuanya terekam dalam memori.

                Aaarghh…

                Entahlah…

                Rasanya, semua kepenatan ini ini menghancurkanku

                Dalam kesenderian aku termangu.

    Kemudian tergerak untuk lari kembali.

    Lebih kencang lagi.

    Biarkan penat menguasai.

    Sebuah kepasrahan hati.

                Lalu berlari kembali.

                Sekuat yang aku bisa.


                Lari… Lari…

    *) Untuk pipit, maaf yaaa, banyak hal yang aku pikirkan sampai aku tidak meluangkan waktu untuk menulis :)
    Continue Reading
    nabila chafa:


    Distorsi hati, lalu kemudian…?
    Oleh: Nabila Nurul Chasanati


    Walau waktu mempertemukan kita sebentar,
    Tak apalah…
    Masih ada hari esok.
    Meskipun bumi tak bergerak sekalipun.
    Sayang, aku ingin menggenggam tanganmu kuat-kuat.

              Matahari tak seindah saat ini,
              Jadi, tetaplah di sini, sayangku…
              Berdua dan menikmatinya.

                       Angin tak ingin mengembuskan perlahan,
                       Tetaplah duduk dan jemari tangan kita yang bercerita
                       Lalu saling menggumam tentang goncangan alam yang mahadahsyat ini

    Sebenarnya…
    Sesungguhnya…
    Ada atau tidaknya gejala ini, bukanlah kau akan tetap bersandar di sampingku, Sayangku.
    Mata terpejam, Gemuruh badai di dada, Jemari saling bertautan.
    Akankah lebih lama seperti apa yang aku inginkan.

              Saat semua mendadak berubah
              Satu keinginanku semoga kau kabulkan,
              Kita takkan terpisahkan.
    Continue Reading
    nabila chafa:



    Untuk tanggal yang sangat teristimewa. Untuk kamu yang sedang merayakannya.Bersyukurlah kamu akan nikmat Tuhan yang memberikanmu umur sejauh ini. 12 April 2014…

    Untuk kamu dengan gagah berani walaupun berbadan pendek. Mungil dan menggemaskan. Kemudian mampu meremas semua perasaanku untuk tunduk akan satu jiwa di dalamnya.


    Sebuah repetisi yang sering aku dendangkan akan sebuah arti bahwa… aku bersyukur bisa menemukanmu. Dari makhluk bumi yang beratus milyar ini. Saya hanya ingin berterima kasih kepada Tuhan yang tak sengaja mengijinkaku sebagai takdir di sebuah rasa kehidupan yang begitu berwarna.

    Lalu aku ucapkan, Hei selamat untuk 19 tahun hidupmu. Semoga sukses dan sehat selalu. Semoga apa yang kamu citakan terkabul dengan kerja kerasmu. Dimana pun kamu berada, tidak salah jika hati ini menemukan pilihannya. Itu kamu… jadi terima kasih sekali.
    Sebuah puisi turut mendedikasikan untuk hari besarmu…
    Malaikat jatuh kala itu,
    Dia tergiris kesakitan, Kesakitan yang teramat sangat.
    Aku termangu, tak jauh dati tempatnya berada.
    Angin yang kemudian menyapaku untuk membantunya.

         Lalu tak sadar…
         Kesunyian pun menderaku perlahan.
         Satu detik… Dua detik… Tiga detik…
         Lalu perlahan menghilang.
         Aku terjerembab. Kemudian kesakitan.

    Cinta yang membutakan semuanya itu hanya paradoks tak bertuan.
    Sebuah rasa, diikuti asa, lalu telungkup dalam harapan biasa.
    Tiada yang teristimewa.
    Aku men cintainya. Aku akui sesungguhnya. Aku ingin menyayanginya.
    Dia malaikat. Walaupun jemari ini susah untuk meraihnya.
    Walaupun detik ini begitu menyiksa. Menghempaskanku untuk beberapa saat.

         Setidaknya aku tidak akan menyesal. Untuk sementara.
         Menghitung bilangan decimal sampai kesekian angkanya.
         Cinta tidak dibuktikan dengan bulat bilangan.

    Nasib hanya datang sesaat. Presentasinya juga akan mengecil.
    Semuanya berawal dari nol koma.
    Di titik itu aku berdiri tegang lalu mencumbu.
    Tentang kamu… sebuah kesederhanaan dalam asa.

         Takdir tak sepenuhnya bisa dituntut.
         Gelombang pasang masih saja menghantam.
         Jikalau tanaman ini bertahan lebih lama.
    Demikian pula yang akan mungkin terjadi dengan cintaku… lalu kamu,
    Kemudian menyatu…

    Rangga pernah mengatakan, aku akan kembali dalam satu putaran penuh.
    Untuk menanyakan jawaban akan cintanya.
    Bukan untuknya, bukan untuk orang lain, tetapi untuk diriku sendiri.
    Tentang perasaan yang sudah saya pendam padanya.

         Kemudian aku akan menunggu lebih lama lagi.
    Apa mungkin ada nama andi yang tersebar di luar sana?
    Dan kemudian, berdirilah seorang malaikat yang ingin menyapaku dengan namanya.
    Menanyakan keberadaanku, bagaimana keadaanku.
    Seorang malaikat yang baru saja jatuh dari puncak Semeru.
    Jauh datang hanya untuk menemuinya.


    Tak ada lagi seandainya. Lalu lagi…


    Continue Reading
    nabila chafa:

    Sebuah tragedi dalam hati
    Nabila Nurul Chasanati
     on tragedy Monday morning 4 April 14




    Kadang  kita dikecewakan oleh mereka yang sudah sukses menggapai mimpi mereka…

    Kadang kita merasa terhina dengan segala ucapan orang tentang diri kita…

    Kadang semuanya bagaikan debu dan kita adalah partikel zatnya…

    Kadang omongan manusia selalu bisa menjadi hunusan pedang

                Kali ini aku terperangkap pada paradigma yang salah…

                Sikap pragmatis tentang segala hal,

                Seolah olah memang mereka benar adanya…

    Suatu masa, aku akan mencari.

    Dimana sebuah kepedihan hati,

    Kapan janji ikatan hati akan terwujud

    Menjadikan nyata melebihi perumpamaan.

                Bila segalanya terhina seperti ini…

                Nurani bisa saja lebih hina dari apapun.

                Apapun di dunia hanya cacian mereka yang agung

    Dan sesungguhnya, aku benci mereka!


    Continue Reading
    nabila chafa:

    Dalam hati, saya bertanya…
    Oleh: Nabila Nurul Chasanati

    Rasanya…

    Sepertinya bunga krisan selalu indah…

    Biasanya pula, setiap pagi adalah momen terindah kita memanjatkan doa

    Biasanya juga, setiap pengabdian pasti ada imbalan dibaliknya…

              Entahlah, hal itu semakin aneh saja saat saya pikirkan,

              Bagaimanapun juga sebagai makhluk yang beradab,
    saya hanya merindukan satu hal
              Dia…

              Dia yang selalu diujung gerbang sana.

    Menunggu… menanti… sebuah harapan

    Saya berharap ini bukan manifestasi apapun…

    Saya harap ini nyata terjadi

    Bila daerahmu itu daerahku…

              Bunga Krisan akan membangkai

              Tak lagi indah…

              Jika pola pikir kita selalu ‘biasanya’

    Kita dianggap bodoh karena belajar satu hal tanpa pengertian makna yang mendalam

    Demikian juga, jiwa raga ini

    Tanpa ruh

    Kosong!

    Dan aku benci terus-terus memikirkannya…

              Seorang laki-laki datang atas nama cinta…

              Dan itu tampak nyata

              Tidak tamak!

    Tidak pula miskin

    Hanya membawa pengabdian untuk bangsa,

    Katanya!!!


    Apakah saya harus percaya apa kata-katanya???
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top