Ada yang bikin trenyuh ketika bapak melewati kamarku dan berniat membangunkan ku. Aku sudah bangun dan melirik pintu yang setengah terbuka. Sejujurnya aku tau bahwa Bapak ingin menanyakan soal Snack yang dipesannya dari Bu RT. Kebetulan aku adalah orang yang dikontak Bu RT langsung.
Tapi kemudian aku menyapa, "Kenapa pak?"
Baru bapakku menanyakan soal Snack itu. Jadi betul tebakanku.
--
Aku paham betul hubunganku dan bapakku adalah hubungan yang benar benar membutuhkan satu sama lain. Dia menjagaku. Selama ini. Melindungi semua anaknya dengan sebaik mungkin. Mungkin sesekali terkesan egois. Gimana tingkah laku Bapakku pas pergi Haji kala itu. Dia benar benar seperti bujangan yang tak terikat. Benar bener kemana-mana sendirian.
Bahkan aku sempat marah ketika aku mencari bapakku habis Ashar buat lempar jumroh pertama. Bapakku berpendapat bahwa ia segera melakukan lempar jumroh sesegera mungkin setelah ashar. Di kala itu, rombongan kami berencana akan lempar jumroh sekitar pukul 5. Bapak takut sebelum Maghrib baru melakukan lempar jumroh nya. Padahal Maghrib aja mulai jam 7 malam. Jadi harusnya aman saja jika memulai perjalanan jam 7.
Gara gara itu, bapak hilang. Bapak ikut rombongan dari rombongan Jepara buat lempar jumroh pertamanya. Aku mencarinya. Bahkan Ketua Regu kami saja tidak tau persisnya bapak kemana. Tapi aku menduga bahwa Bapak sudah lempar jumroh duluan meninggalkan kami.
Dari hal itu, aku memarahi bapakku agar setidaknya ngasih izin ke Regu agar tidak dicari - cari oleh orang banyak. Rasanya menyebalkan saja.
---
Kala hormonku lagi naik dan memikirkan hal hal buruk lainnya, aku justru kepikiran bapakku. Aku ini masih anak bapakku yang dijaga sedemikian rupa dan tak kehilangan apapun. Masih dilindungi dan disejahterakan sebaik-baiknya.
Tapi kok ada yaa manusia tanpa batasan di luar sana memperlakukanku sebetapa buruknya. Oh, apa aku harus memaklumi segala apa yang dilakukannya ini.
Menyebalkan saja rasanya.
---
Pak, kamu jangan jadi orang yang menyebalkan ya.











