Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini

    Oleh: Nabila Nurul Chasanati

    Pagi-pagi ibuku sudah menanak nasi seperti biasa. Pukul 6 tepat bunyi dari magic jar terdengar, Ting! menggeser lampu warna merah dengan hijau. Tanda nasi sudah tanak. Di saat itu pula, cucian para pelanggan menumpuk di kursi dekat dengan pencucian. Akhir-akhir ini, rejeki sedang banyak-banyaknya. Alhamdulillah. Ibu banyak mendapat pelanggan untuk mencuci pakaiannya. Jadi, sebelum aku berangkat sekolah, ibuku sudah berkutat dengan cucian baju milik pelanggan.

    “Sebelah perempatan itu dengar-dengar mau dibuat apartemen, bu.” Kata Bapak. Pagi-pagi sudah membicarakan topik yang akhir-akhir ini sering aku dengar dari teman sekolah. Tak jauh dari rumahku akan dibangun apartemen besar. Kata mereka sampai berlantai 15. Solo Grand Mall saja yang berlantai 6 saja sudah sangat tinggi bagiku. Apalagi ini yang berlantai 15.

    “Gak tau proyek apa, Pak. Tapi udah mulai bangun dua minnguan ini. Bapak nggak ikut proyek di sana apa?” tanya ibu.

    Banyak tetangga yang direkrut untuk membantu proyek apartemen ini. Pekerjanya saja sampai didatangkan dari Tawangmangu[1], sangking banyaknya orang yang dibutuhkan.

    “Kepingin bu, tapi siapa yang jagain bengkelnya si Marwan, kalau bukan Bapak.” Tandasnya sambil menyesap seduhan kopi.

    Aku bersiap-siap dengan buku pelajaran yang sudah aku siapkan kemarin malam. Meskipun belum sempat aku memasukkannya ke dalam tas. Bapak leyeh-leyeh[2] sambil menghabiskan kopinya sebelum berangkat ke bengkel. Aku beranjak menemui bapak dahulu meminta uang saku. Diberinya dua ribu rupiah, cukup untuk membeli satu bungkus nasi dengan es teh kucir dan satu gorengan. Masih ada sisa uang tujuh ratus rupiah dari uang saku kemarin, ada tambahan uang jajan untukku membeli Cilok[3] sepulang sekolah.

    Sebelum aku menghampiri ibu untuk bersalaman, ibu berseru. Beradu dengan suara kran air yang menyala deras. “Tantri, kalau sudah selesei langsung pulang. Ojo dolan![4]” pesan ibu, mengingatkan. Aku kesal mendengarnya. Di sisi lain, aku bersyukur ibu mendapat banyak pelanggan, tetapi di sisi lain aku yang harus dikorbankan karena ujung-ujungnya akulah yang nanti akan menyetrika sebagian besar baju yang dicuci ibu hari ini.

    “Ya bu.” Sahutku pendek. “Tantri berangkat dulu.” Pamitku.

    Saat aku keluar dan berjalan melewati proyek apartemen, aku sudah dibuat terpesona oleh peralatan yang besar-besar. Rangkaian besi yang tinggi. Terdapat banner besar bergambar desain hasil akhir dari rangkaian proyek ini.

    “Besar ya, Tan.” Kata Susanti. Dia menjejeri langkahku. Rumahnya tak begitu jauh dari proyek yang saat ini kami lewati. Masuk di gang dekat dengan pabrik percetakan buku kemudian masuk gang lagi. Dahulu, saat pertama kali mencari rumahnya aku hampir kesusahan menemukannya. Lebih banyak gang yang berakar gang lagi. Tempatnya agak mblusuk[5] memang. Kalau bukan karena PR Matematika, aku tidak akan mencari rumahnya.

    “Bapakmu nggak kerja di proyek, San?” tanyaku.

    “Nggak. Bapak nolak terus pas dapat tawaran proyek ini.”

    “Kenapa?” keningku berkerut penuh pertanyaan. “Kerjanya sekitar 6 bulanan lebih lho…” tambahku.

    “Buat apa dapat penghasilan 6 bulanan. Tapi awake dewe kudu rekasa[6].”

    Keningku semakin berkerut karena mendapati kebingungan mendengar jawaban Susanti.

    “… ning lor ana[7] hotel Aston. Tinggi banget sampai 8 lantai. Terus posisi rumahmu yang bersebelahan sama pabrik sepatu, belum mengko[8] ditambah apartemen yang lagi proyek ini. Coba pikiren!”

    Aku masih bingung dengan tanggapan Susanti. Aku sudah berpikir. Terus apa masalahnya?

    “Awake dewe ngrasa sesek pengap terus ra ana srengenge.[9]” jawabnya. Menjawab tanda tanya besarku.

    Benar juga.

    Kota selalu bergerak dengan dinamika waktu berjalan. Semakin lama, kota tumbuh dengan peradaban kapitalnya sendiri. Menggeser masyarakat yang sudah bertahan lama di dalamnya. Terciptanya banyak pemukiman yang keseluruhannya tidak pernah diterima oleh akal, terciptalah. Manusia hanya seonggok daging bernyawa yang tidak memahami perasaan nasib orang. Itulah definisi manusia saat ini.

    **

    “Aduh, ketutup gedung. Nggak bisa jemur ini, Tan.” Gerutu ibuku.

    Ibu memanjat loteng rumah kami. Bapak membiarkan pekarangan yang hanya 1x3 meter itu untuk dijadikan tempat jemuran, setelah ibu punya niatan untuk membuka jasa mencuci baju. Sayangnya, tertutup oleh pabrik sepatu di sebelah kanan jalan, persis. Belum lagi Gedung Rumah Sakit yang berjarak 15 meter dari rumah kami. 10 Meter di utara rumah, terdapat hotel Aston. Tingginya sampai-sampai menutupi pemandangan langit. Rumah kami di dekat pemukiman padat penduduk. Jelasnya, dimana banyak gedung mewah bertingkat-tingkat akan membuat perkumuhan milik kami semakin memperjelas citra sebuah kota. Aku pernah membaca sebuah buku, kalau kota selalu dikelilingi oleh slum. Pemukiman kumuh tanpa kota merupakan barang yang mustahil adanya.

    “Masih ada banyak bu, cuciannya?” tanyaku. Sedikit demi sedikit memanjat lewat tangga bambu buatan Ayah menuju atap rumah. Beradu dengan tingginya gedung-gedung yang mengitari rumah kami, kami pun harus memutar otak untuk mendapatkan sumber energi untuk mengeringkan baju-baju ini.

    “Tiga ember lebih belum Ibu jemur, Tan. Gimana mau nyetrika, kalau cuciannya nggak garing[10].”

    Setelah kejadian itu, ibu selalu mencuci lebih pagi lagi. Sekitar pukul 3 pagi, ibu sudah berkutat dengan cucian milik pelanggan. Dan akan selesai sekitar pukul lima atau enam pagi. Sebelum aku berangkat sekolah, rutinitasku selalu menjemur pakaian yang sudah dicuci Ibu. Untuk bisa mendapatkan cahaya matahari penuh, Ibu harus memutar otak. Agar kami bisa bertahan dari himpitan ekonomi. Agar kami bisa beradu dengan tingginya gedung-gedung yang menyabotase srengenge[11] masuk di atas rumah kami. Pagi hari selalu tertutup oleh pabrik sepatu yang berlantai tiga. Kalau sudah sore rumah sakit di pinggir jalan Ahmad Yani itu selalu menghalangi srengenge. Ibu biasa mendapat cahaya matahari penuh tanpa tertutup gedung saat pukul 10 sampai 2 siang. Berharap saja, jam-jam itu tidak turun hujan.

    “Golek srengenge saiki angel yo, bu[12]?” tanya Bapak bergurau.

    Tetapi, aku merasakan betul bagaimana sulitnya mendapat matahari. Kalau kata guru SD dahulu, klasifikasi sumber daya alam yang dapat diperbarui termasuk di dalamnya air, tanah, cahaya matahari, udara. Tetapi, entah kenapa, untuk mendapatkan semua itu harus membayar dengan harga yang mahal. Bapak perlu membangun rumah setinggi gedung-gedung itu. Agar mendapatkan hak yang sama untuk disinari matahari.

    “Harusnya Bapak ikut proyek aja, biar pakaian bapak cepat garing kena srengenge.” Gerutu Ibu.

    “Piye lho, bu[13]?” gelak tawa Bapak mendengar tanggapan ibu yang susah dibedakan antara sinis atau melucu. Tetapi terdengar lucu di telinga bapak, buktinya sekarang bapak terkekeh.

    Kota. Matahari. Udara segar. Manusia. Sederhana. Tetapi menimbulkan masalah. Aku ingin hidup layak di kotaku. Kota yang melahirkanku. Kota yang aku cintai segenap jiwaku. Bukan karena bangunannya yang besar, mewah, nan tinggi. Toh mereka tak bernyawa. Saya warga kampung Benoran, makhluk bernyawa. Kenapa mahal sekali mendapatkan kehidupan layak. Hanya satu lho, yang aku dan ibu pinta.

    Jangan rebut matahari kami!

    **


    [1] Daerah yang terletak kurang lebih 2 jam dari kota Solo. Daerah penghasil bahan kebutuhan pokok, masyarakatnya kebanyakan agraris. Tetapi banyak dari mereka yang bekerja menjadi buruh di kota Solo, karena Solo kekurangan sumber daya manusia dalam menangani sebuah proyek besar.

    [2] Bersantai.

    [3] Makanan khas Bandung yang sering dijual pedagang di depan sekolah tiap pagi atau setelah sepulang sekolah.

    [4] Jangan Bermain!

    [5] Tidak terjangkau.

    [6] Tetapi kita merasa menderita.

    [7] Di utara sana ada...

    [8] nanti

    [9] Kita itu sesak terus, udara pengap nggak ada matahari.

    [10] Tidak kering

    [11] Matahari.

    [12] Cari sinar matahari sekarang susah ya, Bu?

    [13] Gimana lho, bu?

    Continue Reading
    nabila chafa:  


    #MyLoveStoryQuiz




    Back to December (?)
    Kau pernah merasakan penyesalan yang ingin kau tebus? Ah, rasanya menyesakkan. Setidaknya memberitahumu penjelasan. Tidak mengambang seperti ini. Muakkah? Tentu. Jika aku berada pada posisimu, aku juga akan menyalahkan orang yang membuat hidupku tak karuan seperti ini. Sebisa kemampuanku, aku akan membalaskan dendam pada orang itu.

    Itulah yang aku takuti!

    Rintik hujan sudah membatasi ruang gerakku yang menggunakan rok sifon semata kaki. Sepatu flatku membentuk kerutan dengan jelas sempurna karena aku lebih sering berjinjit saat berjalan. Hujan tidak sederas beberapa jam yang lalu. Tetap saja, hujan yang datang sejak siang hari sampai sore begitu langgeng tidak mau berhenti. 

    I'm so glad you made time to see me.
    How's life? Tell me how's your family?
    I haven't seen them in a while.
    You've been good, busier than ever,
    We small talk, work and the weather,
    Your guard is up and I know why.
    Because the last time you saw me
    Is still burned in the back of your mind.
    You gave me roses and I left them there to die.

    Penjaja kaset dipinggir perempat lampu traffic light memutar kembali lagu yang menjadi memori. Walau tidak sepenuhnya sama secara harfiah, tetapi aku merasakan penyesalan. Pada seseorang diluar sana. Aku berharap dia memaafknku. Membuatnya harus pula menyesal pernah membuang waktu berharganya demi diriku. 

    Ya, aku memang orang yang tidak tahu diuntung. Ada malaikat baik yang datang membawa hidupku begitu cerah olehnya, tetapi aku patahkan kecerahan itu begitu saja. Sekarang, aku pula yang harus menanggung akibatnya. Penyesalan tiada berujung, sampai kapanpun semua ini berakhir? Ataukah berakhirnya semua penyesalan ini dari langkahku yang akan menemui dan mengatakan sejujurnya padamu. Dosa-dosaku, semua perbuatanku, permohonan maaf yang sekiranya tidak akan kau berikan padaku. 

    Aku cukup tahu.

    Aku ingat tanggalnya persis. 3 Desember tahun lalu, kau membuat janji padaku. Kau ingin aku membantumu menyelesaikan esai yang sedang kau kejar. Laptop yang sengaja aku bawa terisi hampir 30 e-paper di dalamnya, aku berikan padamu. Tetapi, aku lupa jika di dalamnya ada file yang aku tak sengaja terdownload dan masuk dalam folder itu. 

    Tepatnya sebuah puisi. Tentang perasaan seseorang, yang sudah menyukai selama setengah bulan ini. Dari temanku tepatnya. 

    Pernahkah kau bertanya pada hujan?
    Bagaimana menembus perasaanku ini.
    Atau, tidakkah kau bertanya pada langit kenapa dia begitu muram di saat hatiku berdebar menunggunya.
    Apakah angin akan mengatakan sejujurnya tepat di telingamu, bahwa aku merindukanmu.
    Sehari tanpamu, rasanya membuatku tewas.
    Kemudian terhempas dalam kekosongan.
    Kau sama sekali tidak membantu.
    Mungkin, bintang malam yang polos itu juga tidak bisa mengatakan sejujurnya.
    Aku menyukaimu…
    Ini bukan omong kosong, tapi terserahlah kau menganggapnya seperti apa.
    Akan aku perjelas, aku menyukaimu.

    Puisi omong kosong yang begitu jelas. Aku tidak menyadarinya. Tetapi membuat wajah berkerut milikmu menjadi semakin jelas. Hampir satu periode waktu itu kita lalui, dengan keputusan bahwa harus sendiri. Di lain pihak, tanpa aku mengetahui puisi itu pun, aku merasa bosan terus bersamamu. Jadi aku setuju. 

    Tiga tahun waktuku, terbuang. Jelas aku menyesal. Membuang waktu yang tidak perlu dengan orang yang tidak mengharapkan hal yang sama pula. Rasanya begitu membodohi diri sendiri. Tetapi, aku baru saja tersadar. 

    Aku tidak menyangkal bahwa tepat hari ini aku menemukan fakta baru. Rein bertanya padaku, “apakah aku membalas cintanya karena sebuah puisi yang tahun lalu pernah dia tuliskan untukku?”

    Aku menjawab sambil terkekeh geli. Menjawab dengan sebuah pertanyaan. “Memangnya kau bisa menulis puisi?”

    “Apakah kau merasa bahwa setelah aku mengirimkanmu puisi itu, kau jauh lebih dekat denganku.” Akunya lagi. “Walaupun membutuhkan waktu panjang.”

    Ya, aku butuh penyesuaian terhadap lingkungan hidup yang baru. Sendiri lagi, setelah sekian lama bersama dengan kau. Walaupun sejujurnya, aku menginginkan keputusan itu, tetapi yang namanya perpisahan itu tetap saja menimbulkan kesedihan tersendiri. Aku rasakan betul hal itu.
    Hahaha.. Lucu. Atau aku yang bodoh?

    So this is me swallowing my pride,
    Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night,"
    And I go back to December all the time.
    It turns out freedom ain't nothing but missing you.
    Wishing I'd realized what I had when you were mine.
    I'd go back to December, turn around and make it all right.
    I go back to December all the time.

    Terdengar kembali suara Taylor Swift. Lagu lama bagiku ataukah karena aku sering memutarnya. Tetapi terdengar tulus jika aku menasbihkan doa. Bahwa aku ingin kembali ke waktu itu. Bulan Desember kala itu. Setidaknya membiarkan diriku terbuka dengan semua hal yang sudah kita jalani selama itu. 

    Aku tidak ingin dicap sebagai peselingkuh. Karena setelah perpisahan kami, dia tahu dengan jelas lewat mata kepalanya sendiri, bagaimana Rein mendekatiku. Menempel tak pernah jauh dariku. Dan aku tak menyadari bahwa awal perpecahan kami bermula dari puisi Rein. Aku pikir kita pisah baik-baik.
    Selama itu pula, dia hanya bisa melirikku dari jauh. Dengan pandangan yang seakan tidak mengenaliku seumur hidupnya. Hei, aku tidak menginginkan hubungan awkward seperti ini. Kita sahabat dari kecil, setidaknya dengan atau tidaknya kita menjalin hubungan ‘spesial’ seperti ini, kita tetap akan selalu berteman. 

    Saat kutanyakan pada temanku, dia berkata bahwa mungkin perpisahan dari hubungan serius seperti itu tidak mudah baginya untuk menerimanya. Aku berusaha untuk paham. Tetapi, rasanya betapa aku kehilangannya jelas sekali. Sosoknya yang tangguh. Otaknya yang penuh oleh mimpi-mimpi besar. Aku bahkan tidak mampu berkata apa-apa lagi dengan semua impiannya itu. Hanya bisa aku amini setelah dia bercerita banyak mengenai impiannya.
    Sangat sederhana.
    Aku tak lupa kalau dia sosok lelaki posesif.
    These days I haven't been sleeping,
    Staying up, playing back myself leavin'.
    When your birthday passed and I didn't call.
    And I think about summer, all the beautiful times,
    I watched you laughing from the passenger side.
    Realized I loved you in the fall.

    And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind
    You gave me all your love and all I gave you was "Goodbye".
    Nilai kecemburuannya melebihi apapun. Jadi, aku baru saja menyadari bahwa kedekatanku bersama Rein, tentunya dengan aksi posesifnya disertai bukti konkrit melalui puisi itu sudah jelas menggambarkan sesuatu di benaknya. Aku ingin kembali di masa itu dan mengatakan bahwa pemikirannya salah. Aku tidak seperti apa yang dia bayangkan. 

    Ku lirik pergelangan tanganku untuk melihat jam. Sudah hampir lima belas menit aku menunggu datangnya bus di halte ini. 

    So this is me swallowing my pride
    Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
    And I go back to December all the time.
    It turns out freedom ain't nothing but missing you,
    Wishing I'd realized what I had when you were mine.
    I'd go back to December, turn around and change my own mind
    I go back to December all the time.

    Dari jauh aku masih bisa melirik bus yang aku tunggu akan datang. Aku sudah berdiri dan bersiap-siap. Pintu terbuka, sayup-sayup masih terdengar lagu yang dimainkan penjaja kaset CD di perempatan.

    Lelaki yang duduk sambil membaca buku tebal mengenai sejarah kota sesekali membetulkan letak kacamatanya yang sering goyang karena jalanan yang tidak merata itu yang membuatku harus menelan ludah beberapa kali. Apakah ini nyata? Ataukah pertanda harapan yang aku ajukan pada Sang Maha Kuasa tidak kurang satu menit yang lalu itu menjadi kenyataan. 

    Dia, orang yang menghindari kontak mata denganku sampai setahun. Dia, orang yang aku perkirakan membuat hidupku mati bosan, dan memang itu kenyataannya. Dia, orang yang sama dengan mimpi-mimpi setinggi langitnya. 

    Namanya Kai. 

    “Hei, boleh duduk?”

    Dia mendongakkan kepalanya sambil tetap membetulkan letak kaca matanya. Rambutnya terurai panjang hampir menutupi dahinya. Hidungnya masih mancung dengan rahang yang tegas. Ah, dia sesosok orang yang sama.

    Tak ada jawaban. Tak ada sahutan.

    “Aku minta maaf…”

    “Buat?” tanyanya cepat.

    “Kau menjauhiku karena pui…”

    “Aku bahkan sudah lupa.” Jawabnya cepat. 

    END



     >_<




    Nabila Chafa, story!
    Continue Reading
    nabila chafa:
    * dalam rangka mengikuti sayembara #SayembaraTulangRusukSusu dari bang @IndraWidjaya dan @Bukune...



    Ng… Itu Kode?
    By: Nabila Nurul Chasanati
    Oke. 

    Kadang aku membenci bagian dalam perjalanan hidupku yang entah aku juga tidak tahu bagaimana alurnya. Aku belum pernah menjalin sebuah hubungan sebelumnya. Sebelum dan sesudah dari ini semua. Tidak pernah. Dan aku tidak berani. Entahlah… 

    Aku belum pernah merasakan ada seorang pria yang menggenggam jemari tanganku dan membuatnya tertunduk terpaku. Saling menatap lebih dalam lagi. Dan menemukan sejatinya hidup yang terisi sempurna. Benar-benar peristiwa yang aku ingin alami sendiri dengan kesadaran penuh, bahwa aku menginginkannya. Aku benci mengatakannya. Dari sejuta umat yang bernama manusia kenapa hanya aku yang tidak mengalaminya. Aku tak tahu dan tak mau tahu juga. 

    Dan inilah kisahku, saat peristiwa itu benar-benar terjadi. Satu kejadian yang meruntuhkan peradaban kesendirianku seumur hidup. Tapi entahlah, tidak sesuai dengan apa yang kuharapkan juga. Tapi aku ingin orang itu sadar dan mengerti betapa aku ingin dia kembali. 

    Sama seperti bahasa kriminal. Sebut saja namanya Rama. Ng… sebenarnya memang itu nama belakangnya. Dia adalah kakak kelasku di SMA. Orangnya lebih pendiam, tidak banyak aneh-aneh –kaum cowok yang nyaris sempurna dengan keluguannya--, seorang jenius Fisika –dan aku mengaguminya- dan yang membuat aku susah menelan ludah, dia adalah playmaker basket di SMA-ku. Saat itu jaman-jamannya DBL, sebuah pertandingan kejuaruan seleksi antar kota untuk menghadapi kejuaraan Nasional. Yaa, dia masuk tim inti dan dari apa yang aku curi dengar saat mencari informasi tentangnya adalah dia menjadi tim inti sejak kelas satu. Satu hal lagi yang membuat dia terlihat sempurna dalam cover tubuh yang lugu itu, dia jago untuk desain grafis. 

    Dia adalah jenius yang dengan kesempurnaanya mampu meruntuhkan diriku seketika. 

    Aku masih polos waktu itu. Baru saja menjadi murid baru di SMA setelah melepas warna putih biruku. Tetapi terlalu pintar untuk menemukan sosok yang bagiku sangat langka itu. Dan sungguh, itu adalah nyata. Bukan fiktif belaka yang ingin aku katakan. Dan ini juga bukan cerita sinetron-sinetron kebanyakan. Coba deh, bayangkan jika kalian hidup dan menyadari fakta yang benar-benar kategori the one and only itu? Apa yang akan kalian rasakan? Menyukainya bukan? Oh ya, kecuali satu hal. Dia benar-benar tidak berpolah petakilan sama seperti kebanyakan cowok sok di luar sana. Itu agak membuat dirinya tenggelam dari hingar bingar kepopuleran dan sejajar dengan makhluk awam di sekolah. Kadang membuat sosok menawannya kabur dari bayang-bayang keluguan dan bahkan tidak terpikirkan di benak orang. Itu masalahnya, mungkin.
    Aku getol banget mendekatinya. Semampuku, tentunya. Karena yang sadar akan keberadaan makhluk unik yang seperti itu juga lumayan banyak. Aku bersaing dengan sesama angkatan kelas sepuluh, ada dua anak sainganku, yang aku ketahui. Lalu dari kakak kelasku sendiri, ada tiga orang waktu itu. Tapi anggap saja hanya satu orang kakak kelas yang benar-benar menyukainya. Dan juga, anggap saja hanya aku satu-satunya anak kelas satu yang juga getol banget saingan memperebutkannya. 

    Oke, I’m freak. Sadar juga bahwa pasti lelaki itu, ng… Rama tidak akan melirikku karena polahku. Tapi sungguh, aku juga melakukannya dengan menjunjung dogma slow but sure. Tidak seperti kakak kelasku itu. Tapi secara persaingan, cewek itu memang menang telak. Dan cewek itu sebenarnya sudah mendapatkan hatinya, karena setiap basa-basi yang sering dia lontarkan pasti mendapatkan balasan dari Rama. Tentu saja, karena tingkahnya itu, aku ibaratkan seperti buntut bebek, kemana saja dia ikuti. Tidak sepertiku. Secara waktu dan kesempatan, aku tidak terlalu punya.

    Ya sudahlaaah…

    Tapi aku menyukainya. Sangat menyukainya. Sebenarnya, apa yang aku lakukan tetap saja sama. Tidak berubah, Ya, walaupun perubahan drastis yang aku lakukan masih kategori pendekatan. Tidak gencar seperti apa yang dilakukan kakak kelasku itu. Usahaku hanya sepele sebenarnya, tetapi terlalu sering aku lakukan. Seperti, berangkat sekolah tepat seperti jam dimana dia sering berangkat juga. Biar tidak disengaja aku bertemu di parkiran motor dan menyapanya. Hanya sapaan ‘Hei, kak…’ tapi lebih sering, bahkan aku usahakan agar setiap hari aku melakukannya. Dan itu juga menurutku masih kategori biasa. Pasti dia juga percaya bahwa ini hanya pertemuan yang tidak sengaja. Tanpa berpikir bahwa sebenarnya aku selalu berusaha berangkat ke sekolah tepat jam berangkatnya. Dan bagian dari kesengajaanku juga. Lalu, aku lebih sering mondar mandir di depan kelasnya. Seolah-olah dengan alibi aku pergi ke kantin dan memakai tangga timur agar dapat berjumpa dengannya dan menyapanya tepat saat dia juga akan keluar kelas. Kali ini usahaku terkadang berhasil kadang tidak. Karena dia juga bukan tipe orang yang selalu akan meninggalkan kelas saat jam istirahat tiba. 

    Sebisa mungkin aku melakukan semua alibiku dan getol selalu melihat wajahnya setiap hari. Bukannya mau melambai juga, tetapi saat aku sehari tidak bertemu dengannya itu, rasanya ada yang kurang. Ada sesuatu yang … susah kujelaskan bahwa aku sangat merindukannya. Sungguh! 

    Mungkin kali ini aku mengalami sebuah tantangan. Maksudku, dalam hidupku baru kali ini aku merasakan diriku semakin gila saja saat menyukai Rama. Karena entahlah, nama itu yang selalu aku ingat sebelum tidur untuk mendoakannya agar dia baik-baik saja dan nama yang selalu aku dengungkan setiap pagi untuk doa permohonanku agar aku bertemu dengannya nanti di sekolah. 

    Usahaku masih sama seperti sebelumnya. Dan waktu untuk ujian semesteran pun datang juga. 

    Surprise!

    Aku mendapatinya sebagai teman satu bangkuku dalam ujian semesteran. Gila! Kupastikan segala hal yang aku persiapkan untuk ujian bisa luntur seketika jika takdir memasangkan kami berdua. Oke, sebenarnya yang bermasalah adalah aku bukan dia, I mean. Aku tak yakin sepanjang ujian aku masih bisa berkonsentrasi atau tidak. 

    Sudahlah. Ini yang namanya takdir 

    “Sudah belajar, dik?” tanyanya ramah saat dia tiba di bangkunya. Aku menggangguk lemah. Ya, sejujurnya yang aku jadikan konsentrasi berpikirku, seberapa kuatkah magnet yang ada di diri Rama sampai menjeratku? Ng… seandainya tidak begitu dalam, seharusnya aku tidak sekhawatir seperti ini. Berpikir negatif jika suatu waktu aku tidak mampu untuk mengerjakan soal ujianku. Alay? But it’s real. 

    Terserah kalian mau berpikir seperti apa. Yang aku lakukan adalah mengerjakan cepat-cepat tetapi dengan benar lalu melamun memikirkan dia yang ada di sebelahku. Yaa, walaupun aku tidak yakin hasil dari kerjaku. Melihat kelelahannya dalam berpikir. Dan aku suka. Maksudnya menikmati sensasinya. Karena benar-benar rasanya sebuah tantangan dan aku tertantang. 

    Berangsur-angsur terjadi dalam satu minggu penuh. Dan aku ingin waktu berhenti berdetak saja, rasanya. 

    “Kak, hari ini hari terakhir.” Kataku mengingatkan. Aku ingin dia tahu kalau aku benar-benar merasa kehilangannya setelah seminggu ini kami menjalani tes. 

    “Iya, tidak berasa, cepat sekali.” Sahutnya kalem. 

    Lalu hilang seketika. Setelah tes, biasanya diadakan tes remidi untuk beberapa anak yang nilainya kurang. Oke, bagian yang selalu aku rindukan untuk tetap stay di sekolah, pupus sudah. Maksudku, Rama bahkan tidak pernah masuk sekolah mentang-mentang tidak ada remidi. Setidaknya aku rindu dengan hidung bangirnya itu. Tidakkah rasanya menyakitkan kalau tidak melihatnya sehari saja. 

    Sialan!

    Lalu tidak ada cerita selanjutnya. Dan sialnya Rama dengan saingan terberatku itu masih langgeng-langgeng saja. Hampir satu bulan berjalan, dan aku harus menikmati ketersiksaan karena tidak melihat dia selama kurang lebih  dua minggu lebih karena libur semesteran. Ini gila! Aku online di media sosial, tapi dia tidak juga nongol. Kali ini aku menyerah. 

    Setelah penderitaan itu berakhir, aku dikejutkan dengan selentingan kabar bahwa dia sudah jadian dengan kakak kelasku yang menjadi saingan terberatku untuk mendapatkan Rama itu. Sudahlah, aku ingin dunia berakhir sebenarnya. Galau akut aku jalani. Rasanya menyesakkan saja, di dada.

    Walaupun sebenarnya dia bukan menjadi milikku. Kebiasaan yang tidak bisa aku lepas masih saja mengikutiku. Misalnya, masih keseringan berangkat tepat jam keberangatannya di sekolah. Masih menunggunya di taman belakang sekolah untuk memastikan dia pulang. Lalu masih mendukungnya secara heroik untuk pertandiangan basket di event sebesar DBL. Tapi sudahlah, memang usahaku benar-benar sia-sia saja. 

    Aku menceritakan ini untuk membuka lembaran cerita masa lalu yang terkubur bersama puing-puing kegalauanku yang lain. Untuk cerita empat tahun yang lalu. Saat aku menceritakan ini kembali seperti mengorek masa laluku yang mengenaskan. Dan selalu saja begitu. Tak ada kisah yang berakhir semanis madu. Tapi, entahlah, aku menikmatinya saja. Malah terbilang lucu kala aku mengingatnya. 

    Dia kuliah di kampus terbaik di Indonesia. Mengambil jurusan teknik sipil. Bukan bidang desain grafis atau apalah, mengingat bakatnya yang luar biasa. Dia juga eksis dengan basket kampusnya. Sampai sekarang Rama masih saja bersinar. Dan selalu membuatku ingin kembali mendambakan sosoknya. 

    Aku tak tahu maksud Tulang Rusuk Susu yang sebenarnya yang sering didengung-dengungkan Om Indra Widjaya, tapi bagiku dia bagaikan sepasang sepatu terbaikku yang hilang. Langkahku juga tidak senyaman saat sepatu pasangannya itu tidak ada. Oke, ini berlebihan. Tapi jika suatu saat nanti, dia  kembali, aku ingin  menegaskan bahwa dia adalah orang yang membuat kegalauan akutku selalu kambuh. 

    “Ram, orang yang tidak bisa move-on itu merepotkan sekali ya, contohnya nih, akuu…” 

    Setidaknya kalimat itu mampu mewakili segala apa yang ada. Aku juga menyesal di bagian bahwa aku tidak mampu mengungkapkan perasaanku. Maksudku, apa dia juga tidak sadar akan kode yang selalu aku tandakan. Oh, kemungkinan dia selalu merasa ketidaksengajaan itu adalah sesuatu yang wajar. Tanpa pernah berpikir, bahwa ketidaksengajaan kami bertemu adalah skenario yang selalu aku buat. 

    Untuk A*** Rama*** untuk kisah indah, yang hanya bertepuk sebelah tangan. Aku juga tidak yakin, bahwa kamu tulang rusuk permanenku. Seharusnya kamu mempelajari kode yang sering aku lakukan. Dan setidaknya pula, kau membalasnya dengan kode yang membuatku betah menjadi penggemarmu. Ng… Seharusnya juga, kita tidak akan saling memberi kode saat tak ada batasan diantara kita. Itu seharusnya.

    Dan, pertanyaan akan kesendirian akan hidup datar dan hambarku terjawab sudah dengan sesosok yang nyolong masuk begitu saja dalam hidupku. Seperti sup, dan kau adalah bumbunya. Membuat masakan lezat tidak hanya hambar. Itu yang aku maksud tentang keberadaanmu diadukan supku. Sesosok Tulang Rusuk… Ng, seharusnya permanenku. Semoga. Dan itu doaku untukmu. Ng… terima kasih. 

    Omong-omong, jika kau datang di depan mataku, aku memastikan bahwa kamu sudah bisa mempelajari kode dariku. Dan ng,… seharusnya pula kau tidak hanya sebagai tulang rusuk susuku. Hm… Amin.
    
     
    Continue Reading
    nabila chafa said today: The last post on 2013:

    **  dalam rangka lomba menulis cerpen bentang pustaka dan plot point :))


    Unpredictable
    “Dina, kamu sudah print out proposal AKSEN kita?” tanya Bima.
    Aku menggeleng lemah. Aku tahu, setelah ini ia pasti akan ceramah panjang lebar. Atau keputusanku untuk menggeleng harusnya sudah aku perbaiki dengan senyuman yang menawan agar mulut besar Bima itu bisa ditahan dengan kebohongan. Itu pikiran yang langsung aku terpikir setelah gelengan kepalaku yang sukses membuat wajah Bima sudah menatapku tajam. Lagi-lagi aku harus dipihak yang serba salah disituasi genting seperti ini.
    “DINA!!! Kamu itu seharusnya sudah print out itu proposal sejak kita dijajah Belanda. Mengertikah dikau kalau situasi segenting ini kau masih bisa geleng-geleng kepala dengan enaknya. Dimana waktu dua puluh empat jammu yang diberikan Tuhan? Huh? Kau tidak tahu sehari penuh kemarin aku mutar-mutar kota solo untuk nyari sponsor buat acara kita. Kau tidak sadar, huuh?” Ceramah panjang dengan logat Batak lalang melintang terdengar di kepalaku. Kadang aku meresapi satu per satu kata yang terucap dari bibir –super indahnya- yang lebih banyak mengeluarkan sejuta air ludah sangking bersemangatnya.
    Bima menyerah. Lalu pergi meninggalkanku sendirian dengan setumpuk proposal lama di pangkuanku. Mataku masih menatap awas di depan kelas IPS 3. Tempat  seseorang itu berada.
    Ia kadang-kadang celingukan mencari seseorang yang dicarinya. Tapi harus puas jika tatapan yang dia harapkan tidak kunjung datang. Lalu sesekali mengecek arlojinya, gamang. Padahal arloji itu berulang kali ia tatap sampai hafal setiap detail desainnya seprti apa. Dia sungguh gila. Dengan kesemua kegiatan yang tidak masuk akal itu. Celingukan-tatap arloji-mata menerawang jauh kedepan. Siklus yang tidak berubah. Tidak bisakah kau ke dalam kelas menikmati alunan musik seperti yang sering kulihat. Atau berlatih dengan bandmu untuk mempersiapkan pementasan AKSEN. Dan, yang dilakukannya tetap masih sama sejak sepuluh menit yang lalu.
    Dan segalanya menjadi berubah seketika.
    Pemandangan dramatis yang tidak kuinginkan terpampang di depan mata saat gadis itu datang. Pandangan matanya masih lurus menatap tajam ke depan mengikuti arah gerak gadis itu berjalan. Melintasi pelataran lapangan upacara dengan tertawa renyah bersama teman disampingnya. Entah sedang menertawakan siapa. Tapi terlihat bahagia. Sama seperti orang yang tengah menatapnya. Gadis itu mempunyai daya pikat tersendiri sampai-sampai membuat kau terdiam membisu menikmati setiap scene langkah kakinya. Kau gila!
    Kenapa dunia seakan-akan runtuh saat itu juga?
    Rambut gadis itu tergerai lurus. Sesekali ditiup oleh angin yang membuatnya seakan tokoh utama protagonist dalam sinetron. Matanya menyipit karena efek sinar matahari. Lalu tak sengaja menatap kau –orang yang sedari tadi terus mengawasinya.
    Tidakkah kau seperti pengemis?
    Deni namanya. Orang itu mendadak salah tingkah. Kau tertangkap basah. Tugas kedua yang harus kau lakukan, kau harus menghapus ingatan gadis itu, seolah-olah bukan kau yang sedang mengawasinya dari tadi. Lagi-lagi kau gagal.
    Jujur, bukan kau yang jago menjadi penguntit. Tapi aku…
    Gadis itu seperti sudah tahu bahwa kau sejak tadi mengawasinya. Ia mengulum senyum kepadamu. Kepada dia yang detik berikutnya tengah berbunga-bunga. Untuk kesekian kalinya dalam hidupku yang paling aku benci sejak menjadi temanmu adalah kau senang mendapatiku sengsara. Kau bahagia sedang aku yang mengamatimu seperti zombie hidup seperti ini. Kau menahan senyummu di depan gadis itu. Seolah-olah bukan kaulah pelaku sebenarnya. Tetapi detik selanjutnya saat gadis itu pergi, kau salah tingkah. Lagi-lagi…
    Pemandangan tiga menit dua puluh Sembilan detik tadi terpampang jelas di hadapanku. Setiap adegannya dibuat sebegitu indah dan dramatis. Tanpa perlu naskah scenario, aku yakin kau lulus di kelas drama Pak Agus minggu lalu. Jika kau lebih memperhatikan keseimbangan cara pandangmu, tak mungkin kau gagal.
    Aku jahat. Tapi entahlah, aku harus merasa jengkel, kecewa, atau harus bagaimana. Aku teman satu bangkumu. Tetapi kau biarkan perasaanku ini berkecamuk dan membuat aliansi untuk menentangnya. Sekali lagi aku tegaskan. Aku tidak suka. Lalu, pantaskah aku bertanya pada diriku bahwa Anida Erma, nama gadis itu tengah merebut perasaanku?
    Tidakkah kau gunakan logikamu untuk berpikir satu kode dariku?
    Sekawanan serangga hinggap di deretan taman di depan kelas. Deni masih duduk di sana. Entah kunjungan orang macam apa yang sedang ditunggunya. Pandangannya telah berubah. Anida sudah lama pergi sekitar lima menit yang lalu masuk ke dalam kelasnya. Ia masih bergeming di tempatnya berada. Kadang matanya menelusuri langit yang –entahlah- sangat cerah pagi ini. Atau bahkan angin yang membuat kesadarannya seperti terhempas. Melayang. Mengikuti ombak angin sampai membawanya kemana.
    Aku masih duduk di tempat yang sama. Di depan kau berada. Lebih tepatnya di depan ruang Osis yang berada tepat dengan kelas kita. Berjibaku dengan kegiatanku untuk terus menatapmu dalam keheningan. Pelataran lapangan upacara yang memisahkan tempat kita berada  Dari pandangan mata yang jauh kau bisa temukan aku. Mengira-ngira sentuhan klimaks apa yang akan kau berikan padaku nanti. Aku percaya pada sebuah kebahagiaan. Tetapi bukan aku, -aku sadar- tetapi kamu.
    Seperti orang gila yang menginginkan kuntilanak daripada wajah senangmu itu. Aku terjerat. Masuk perangkap tikusmu.
    ää
    Dina… Deni… Kita itu sesungguhnya cocok ya? Coba deh, kamu pikir Den!
    “Kamu sudah makan, Den?” tanyaku seraya meletakkan tas di meja. Kau berjibaku mengerjakan tugas akuntansi yang mau tak mau membuatmu meneliti angka-angka yang sangat kau benci itu. Aku tahu kau tidak menyukai akuntansi. Hei, aku adalah teman sebangkumu. Kamu tidur jam berapa pun aku tahu.
    Kau menggeleng lemah. Itu berarti kau tak ingin kuganggu. Acara selanjutnya adalah aku terpekur sendirian menatapmu dari samping. Kau terlalu serius. Masih menggaris di buku tulismu. Kau lucu, jika ku tatap dari samping seperti ini.
    Adegan seperti itu harus rusak gara-gara si biang kerok.
    “Dinaaa…” seru salah seorang dari bibir pintu kelas.
    Sarah yang berada di bangku depan dan juga yang merasa terganggu langsung mengerucutkan bibir padaku. Lalu memerintahkan agar Bima masuk ke kelas saja daripada mengganggu ketentraman suasana hati anak kelas yang rontok karena mendapati tugas akuntansi yang belum mereka kerjakan.
    Wajahku sudah siap dengan seringai macan jika Bima memainkan seringai serigalanya. Keningku sudah berlipat-lipat karena tertekuk adalah bentuk adaptasi saat mendapati Bima sudah berada di radius tiga puluh sentimeter dariku. Ia tetap saja mengacuhkan tatapanku yang sangat tidak bisa diajak berkompromi di pagi ini. Parahnya, dia itu tebal muka.
    “Sudah kau print out kan? Jangan bilang kemarin hujan dan kau lupa  print? Atau kau jangan-jangan…” Semua prasangka buruk Bima langsung aku bungkam dengan menyodorkan hasil print out proposal acara AKSEN akhir tahun.
    Dia menyeringai senang. Lalu tumpukan stofmap yang dibawanya langsung disodorkan ke arahku. Dengan hati yang senang gembira ia menjelaskan detail tugas yang aku terima kali ini. Aku terperangah takjub.
    Dia terlalu otoriter dengan hanya menjabat wakil ketua acara. Dan ini membuatku gila sebagai sekretaris. Bukan itu, tapi tugasku tidak ada kesan yang berkaitan dengan kesekretariatan. Dan itu mampu merontokkan martabatku menjadi orang yang benar-benar bodoh.
    “Kau publikasi di kemeninfo Solo, oke? Kau hanya membawa proposal yang baru saja kau print itu terus pengadaan acara kita…”
    “HEEEH?” tanyaku tak percaya.
    “Jangan bilang kau tidak tahu kemeninfo itu apa? Dimana?” tebaknya. Dan sukses membuatku harus mengangguk berkali-kali seperti anak kecil yang tak tahu jalan pulang ke rumah itu bagaimana caranya.
    “Monumen pers…” sahutnya cepat. Kelihatan frustasi.
    “Aku harus kesana juga? Kapan?” tanyaku seperti orang tolol tingkat dewa.
    “Di saat seperti ini kau masih menanyakan pertanyaan ‘kapan?’ huh? Tidakkah kau sadar jika acara kita sudah semakin dekat. Hal-hal sepele seperti ini kau abaikan begitu saja. Nanti siang sepulang sekolah kau harus kesana!!” jawabnya tak kalah panjang dari rel kereta. Lagi-lagi dengan kata ganti ‘kau’ membuat telinga sedikit geli.
    Untuk kesekian kalinya aku menyesal jika bergabung dengan Osis tahun lalu.
    “Perlu bantuan, Din?” tanya sebangkuku.
    “Ah, enggak-enggak, Den. Nanti aku ke monument pers naik bus. Tapi kira-kira pakai bus jurusan apa, ya?” tanyaku sendiri. Masih menimang-nimang segala sesuatunya terjadi.
    “Diin..”
    “Juna, kau tahu kalau sini sampai Monumen Pers itu pakai bus jurusan apa?” tanyaku pada teman di belakangku.
    “Pakai Bus Atmo sepertinya bisa.” Jawabnya masih berjibaku dengan pekerjaan rumahnya yang dikerjakan di kelas.
    Aku mengangguk-angguk paham. “Busnya itu yang nanti lewat stasiun Solo Balapan, kan?” tanyaku lagi. Dia mengangguk sebagai jawaban yang melegakan bagiku sejauh ini.
    Setidaknya aku tidak akan pusing-pusing dengan bus apa yang membawaku sampai rumah nanti. Jika Atmo melewati Solo Balapan berarti dia  juga melewati jalur yang sama seperti Batik Solo Trans. Dan aku tidak repot-repot memikirkan nasibku yang tidak tahu jalan pulang. Tiba-tiba ku tengokkan tubuhku ke depan. Wajahku mengembang karena entahlah, tetapi aku mendadak senang. Bingo.
    Deni menatapku dari samping. Aku mengamatinya balik. Lalu keningku berkedut dan tertekuk bertanya-tanya. “Ada apa, Den? Kamu lapar ya? Belum makan? Ayo ke kantin, yuk!” tanyaku. Serentetan kalimat tanya penuh perhatian dan membuatku cemas di akhir-akhir. Karena sejujurnya aku bingung mendapati Deni dengan tatapan paling memelaskan yang pernah aku lihat seperti ini sepanjang dua tahun aku menjadi teman sebangkunya.
    “Virusnya Bima sudah masuk ke tubuhmu, ya? Jangan bertanya dengan serentetan kalimat tanya yang berbeda.” Ia gusar. Terlihat jelas dari tatapannya yang sedang memandangku.
    Aku memandang sambil tertunduk. Lalu ia menepuk punggungku pelan. “Nanti aku antar kamu sampai ke Monument Pers. Jangan bingung-bingung harus pulang naik apa.” Katanya lembut. Gaya khasnya. Entahlah, aku damai saja mendengarnya. Walapun kebahagiaan kecil ini mungkin hanya bersifat se-men-ta-ra. Karena keramah-tamahannya selalu bisa menyadarkanku tentang siapa aku. Harapanku tak akan mampu terbang setinggi langit jika mengingat hatinya dikuasai atas nama Anida, orang yang meluluhlantakkannya saat di kelas sepuluh. Orang yang mampu membuat tubuhnya yang gempal menjadi turun drastis dua puluh kilo sejauh dia bercerita sampai detik ini.  
    Deni mau berkorban apapun untuk menaklukan hatinya Anida. Walaupun, sampai detik ini ia hanya mampu menatapnya dari jauh. Dan sama sekali tak mempunyai keberanian seperti pejantan tangguh sesungguhnya. Dua tahun ini, cintanya sudah mentok pada gadis itu. Jadi, apa yang harus dilakukan oleh sahabatnya –seperti aku ini- jika mendapati hal seperti itu terjadi dengan sahabatmu sendiri.
    “Kenapa? Ada yang salah?” tanya Deni mengoreksi.
    Aku menggeleng lemah, lalu mengulum senyum untuknya. “Makasiih Den…” sahutku.
    Dia membalasnya dengan senyum yang sumringah seperti biasa. Kenapa hal yang membahagiakan seperti saat ini, aku harus takut jika harus kehilangan senyumnya. Kehilangan dirinya. Kenapa?
    ää
    “Den, kamu tidak makan dulu?” tanyaku sedikit khawatir.
    Kelas baru saja bubar beberapa menit yang lalu, sedangkan yang dilakukan Deni masih sama. Mengutak-atik pensil mekaniknya yang sepertinya tidak ada apa-apa dan terkadang berpikir keras dengan buku catatannya.
    “Sedang nulis apa?” tanyaku lagi. Kali ini mendapat respon dengan muka tertekuknya Deni dengan coretan tulisan di buku. Dia sedang menulis sesuatu dan entahlah. Membuat rasa penasaranku sudah naik level tingkat planet Saturnus.
    “Resolusiku di tahun 2014. Kenapa Din?? Ini kan sudah masuk akhir tahun. Kamu tidak nulis resolusi juga?” tanyanya. Rentetan pertanyaan yang mana bersumber dari satu hulu yaitu Bima. Mana bisa Deni-ku terjangkit oleh virus yang membahayakan jagat manusia seperti milik Bima itu. Tidak boleh.
    “Kau sudah terjangkit virus Bima, huh?” pertanyaanku sangat mirip walau ekspresi Bima  dengan sekuat tenaga aku miripkan. Tetapi gagal. Justru mendapat cibiran dari Deni.
    “Kau kan teman sebangkuku. Jadi wajar sajalah, aku terjangkit virusnya.” Katanya. Sembari mengikuti mimik Bima yang kebatak-batakan dicampur dengan logat Solo.
    “Tapi kau kan tidak kenal dekat siapa Bima. Lalu kenapa kamu juga yang tertular?” tanyaku lagi mencoba berdebat. Tapi tak mendapat respon. Ia lebih memilih melanjutkan acaranya sendiri daripada membalas perdebatanku. Apa ada yang salah dari pertanyaanku, Den?
    Aku menunggunya. Masih di meja belajar kami di kelas. Sekolah sudah sepi dan hanya diisi oleh hilir mudik anak-anak yang masih berkepentingan di sekolah. Bukan seperti Deni ini misalnya yang hanya membuang-buang waktuku pergi ke Monumen Pers tersita.
    “Kau nulis apa sih, Den?” ulang pertanyaanku lagi. Mimik wajahnya yang serius seperti itu membuat rasa penasaranku sudah menjadi-jadi naik satu tingkat, Neptunus.
    “Resolusi…” jawabnya singkat. Sepertinya dia masih marah. Halo!! Apa yang membuatnya marah, coba?
    “Iya, aku tahu kamu nulis resolusi. Tapi resolusi tentang apa?” tanyaku setengah frustasi.
    “Cinta.”
    “Whhaatt!!!” pekikku tak percaya. Deni sudah menatap tajam ke arahku karena kekagetannya. “Kamu nulis res…”
    “Ayo berangkat!” potongnya cepat. Padahal buku-bukunya masih tercecer di meja dan mungkin di laci mejanya juga banyak buku. Dalam kondisi seperti itu dia langsung mengajakku berangkat.
    Aku membantu memasukkan peralatan alat tulisnya ke dalam tempat pensil sembari ia memasukkan buku-bukunya. “Sejak kapan perintah-perintah orang tapi orang yang memerintah tidak siap seperti ini.” Kataku. Dia beranjak berdiri lalu pergi.
    Tak ada jawaban, tak ada kalimat yang terucap. Langkah besar Deni menghilang di balik pintu kelas. Meninggalkanku dibalik pertanyaan besar yang menggantung di pikiran. Ada apa, Den?
    ää
    “Din, diluar panas. Kamu nggak takut kulitmu hitam?” tanyanya tadi di parkiran sekolah. Dia tahu kalau aku tidak membawa jaket. Aku menggeleng. Sesekali mengulang adegan tiap adegan yang kontras dan berkebalikan seperti tadi. Padahal beberapa menit yang lalu entah kenapa dia ngambek bicara denganku. Tetapi tiba-tiba ia berpolah seperti anak kecil dengan gaya khawatir seperti itu.
    Terkadang, tingkah polahmu itu lucu.
    Jalan Gajah Mada padat merayap. Arah ke Stasiun Balapan ini harus penuh dengan berjubelan mobil dari berbagai daerah yang bukan berplat AD. Motor Deni melaju lebih bisa diandalkan dibanding dengan kecepatan rata-rata mobil yang hanya 20km/jam. Entah kenapa, aku harus bersyukur ada Deni yang mau mengantarkanku sejauh ini.
    Setelah memutar Bundaran dekat dengan rumah dinas wakil wali kota Solo, Monumen Pers terlihat di seberang jalan. Rumah dengan arsitektur kuno setengah modern itu langsung menyambut. Dindingnya terbangun dengan batu alam berwarna hitam sampai lorong-lorongnya. Saat mataku menikmati setiap detail bangunan, tak sengaja menabrak Deni yang melepaskan helmnya, aku langsung menghampiri.
    “Makasih Den. Sampai di sini aja. Kamu kan juga harus latihan buat AKSEN minggu depan, kan?” ujarku.
    “Tidak apa-apa, lagi pula juga masih nanti sore.” Jawabnya santai.
    “Iya sih Den, tapi lebih baik kamu tiduran dulu di rumah sambil nunggu waktu sore buat latihan bandnya. Iya, kan?” ujarku.
    Ia menatapku tajam. Menelisik dengan detail setiap pancaran mata yang terlihat di balik kornea mataku. Aku menggigit bibir, takut. Lagi-lagi, sepertinya aku membuat kesalahan lagi.
    “Cepat masuk sana. Aku tunggu disini saja.” Perintahnya.
    Aku tak berkutik untuk tidak membantahnya. Entah kekuatan dari mana sampai membuatku kebingungan seperti ini. Mendapati sosok seorang Deni yang berkepribadian aneh ini baru akhir-akhir ini terjadi. Segalanya menjadi rumit.
    Sebenarnya yang menjadi perempuan itu aku atau Deni, sih? Kenapa tingkah polahnya seakan-akan dia sedang PMS. Beberapa menit yang lalu marah, lalu baikan, lalu marah lagi. Kenapa kamu hari ini bisa serumit ini Den?
    ää
    “Den, semangat ya!!!” kataku penuh semangat. Sambil mengepalkan kedua tanganku ke udara seperti sumo yang akan bertanding. Dia tersenyum. Setidaknya dengan senyum yang diberikannya itu padaku memastikan jika kegugupannya bisa diredakan.
    “Iya.” Sahutnya pendek. Tetap saja jawaban satu kata itu menentramkan hatiku. Betapa tutur katamu yang polos dan tingkahmu yang seperti anak kecil itu mampu mempengaruhi alam bawah sadarku untuk tetap mendukungmu. Apapun yang terjadi, bukankah ada Dina Panawestri di sini. Betul kan, Den?
    Aku berbelok untuk memastikan perlengkapan apapun yang belum disiapkan dan keluar dari belakang panggung.
    “Dinnn…” panggilnya.
    “Aku tahu kamu sibuk, tapi lihat performku nanti ya! Walaupun aku hanya main gitar.” Pintanya polos. Ia tengah merajuk sampai aku mengangguk-anggukkan setuju. Ia masih menungguku memberi respon.
    Aku tersenyum sambil mengacungkan jari jempolku ke udara. Ku berikan senyum terbaikku saat itu juga. Sama seperti senyum maha cerah yang dilontarkan padaku kali ini saat ia menunggu jawaban kesanggupanku.
    Senyum persahabatan yang hangat. Bukankah itu yang sedang dipinta oleh takdir?
    28 Desember 2013 pukul 09.24 Waktu Indonesia Bagian Solo di Balekambang Solo, kau tampil. Buat aku terpukau dengan kesederhanaanmu.
    “Hei Dina, coba deh cek jadwalnya perform anak Teater di Angga. Ada yang bentrok.” Kata Bima yang berlari kecil ke arahku. Dia itu memang benar-benar gila. Di era teknologi seperti ini dia masih mengandalkan teknologi jaman dinasaurus yang sukanya teriak-teriak.
    Well, di saat-saat situasi genting –aku sedang mempersiapkan pemandangan maha luar biasa seperti ini- mau tidak mau harus berbenturan dengan perintah Bima yang sepertinya sudah langsung turun titah dari Raja Siliwangi. Orang bodoh dari mana coba, untuk membuat mulut Bima membungkam jika tidak menepati permintaannya. Lagi pula Angga, bagian sie acara yang pasti hidupnya tidak jauh-jauh dari belakang panggung. Paling tidak, aku masih bisa memastikan tampilannya Deni sebelum ia benar-benar akan tampil di atas panggung. Memberikan dia sedikit energy, setidaknya jika Anida tidak muncul duluan.
    “Angga, coba aku lihat jadwal yang kamu pegang.” Perintahku padanya. Dari jarak sedemikian dekat dengan panggung, aku tahu Deni sedang beraksi. Ia telah mengguncang dunia dengan gitar akustiknya. Petikan suara gitar terdengar jelas berdampingan dengan suara perempuan cewek yang menjadi vokalis di band yang digawanginya.
    Entah aku ini sudah bodoh berapa kali. Aku tidak menepati janji kecilku untuk melihat penampilan Deni. Ini sebenarnya masalah yang lebih urgent daripada membahas bentrokan jadwal yang seharusnya bukan menjadi kewajibanku untuk menyelesaikan. Hei, aku ini sekretaris. Tugasku hanya membuat surat perijinan, proposal dan laporan pertanggungjawaban di akhir.
    Tetapi terkadang, takdir tidak pernah memuat sebuah pertemuan indah padaku dan dia.
    “Coba deh, acara dance anak cheers itu diajukan lagi…” kataku mengintrupsi kedua bocah yang sangat berkepentingan dalam tatanan jadwal. Dan kalimat tadi terlontar dari aku yang bertugas di sekretaris.
    Dia keluar dari panggung untuk kembali. Ia menatapku yang sedang berdebat dengan Bima –orang yang selalu membuat hidupku seolah-olah hancur secara teratur. Bima memang tersangka di semua situasi dan kondisi. Ia pasti marah. Setelah ini, pasti Obama akan mengumumkan perang dunia ketiga pada dunia.
    Aku berdiri tegak menghampirinya. Basa-basi tidak penting sudah akan aku lontarkan. Tapi wajahnya yang sangat-sangat marah terampang nyata yang seharusnya membuatku mundur. Setidaknya kalimat ‘Hebat Deni, kau sudah menuntaskan petikan gitarmu yang mengguncang dunia’ tapi tak sepatah katapun yang keluar saat dia menghindari jalanku.
    Atau paling tidak aku bisa mengucapkan ‘Den, maaf aku tidak bisa menonton performmu.’ Aku menyesal.
    ää
    “Deni…” panggil seorang cewek. Dia mendongak menatap orang yang tengah memanggilnya. Aku mengamati dari jauh pemandangan yang berulang kali aku temui ini. Drama yang terlalu klise. Sebenarnya aku muak, tapi apa yang bisa aku lakukan untuk memastikan kau tidak apa-apa setelah kejadian tadi.
    Senyummu kaku. Tidak seperti biasanya.
    “Ya? Ada apa?” kau malah pura-pura Alzheimer terhadap gadis yang memanggilmu dengan antusias itu. Den, tidakkah kau lupa. Itu gadis yang membuat badanmu yang sebesar gajah bisa turun sampai dua puluh kilo. Bukankah dia gadis yang selalu membuat matamu mengambang bahagia?
    “Kamu tadi hebat.” Gadis itu memujimu. Terdengar jelas dengan dentuman suara Dj dengan dance anak cheers sedang beraksi. Kau sunggingkan senyum manis di bibirmu, walau terlihat tipis.
    “Thanks.” Jawaban singkat, padat dan jelas keluar dari mulutmu.
    Mataku tak pernah beralih dari sosok klise yang selalu mengganggu emosiku naik turun itu. Lalu tatapan tajam mata Deni menelusuri arah lain. Sampailah padaku.
    Kali ini, aku tak mampu berkata-kata, saat jari manis Deni menggandeng Anida keluar dari kerumunan. Dan dibuat sengaja di depan mataku persis. Ini adalah tontonan yang cukup berani yang sejauh ini mampu ditampilkan oleh sosok seorang Deni. Dengan wajah bersemi dan pipi merona bahagia, Anida menerima uluran hangat tangan Deni.
    Tenggorokanku tercekat.
    ää
    “Namamu siapa?” tanya cowok itu. Sebelum aku sempat menjawab, dia sudah memperkenalkan namanya terlebih dahulu. “Aku Deni Mahendra. Panggilnya saja aku Deni.” Pintanya.
    Lalu kejadian itu berputar-putar dalam benakku. Tak sanggup menahan tangis yang jatuh di pipiku. Sesekali aku bertahan untuk tidak mengeluarkannya. Tapi apa daya, jika tidak bisa. Bukan karena aku cemburu karena rasa sayangnya tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi saat mendapati tidak ada lagi sahabat satu-satunya yang kita miliki dan ada di sekitar kita, bukankah itu lebih menyakitkan?
    Tiga hari sudah semua itu berakhir indah. Lebih tepatnya mengenaskan jika sudut pandangnya adalah aku.
    “Din, ada yang nyari kamu dibawah!” seru Kak Ivan. Aku menyapu air mataku lewat punggung tangan.
    Aku tak menyahut. Aku takut kalau suaraku terdengar purau. Mendapati adiknya menangis di malam pergantian tahun seperti ini. Merenungkan diri dan entahlah sampai kapan hal ini terjadi. Aku keluar kamar dan langsung mencapai teras depan.
    Dia? Orang yang selama ini aku rindukan dengan mata menyipit dan setelan kemeja lengkap, gaya khasnya yang formal. Kenapa tiba-tiba dia ada di depan rumahku?
    “Kau tidak menikmati malam pergantian tahun? Dan langsung tidur gitu aja?” tanyanya. Ini lebih baik daripada tiga atau empat pertanyaan yang langsung ia ajukan dalam sekali waktu. Dia tahu kalau aku sudah mengenakan piyama dan bersiap untuk tidur.
    Tak ada sahutan yang keluar dari mulutku sebagai jawaban.
    “Kau tidak seperti banyak orang yang jalan-jalan di car free night sambil liat kembang api di jalan Slamet Riyadi?” tanyanya lagi.
    “Kenapa kau di sini? Bukankah kamu sedang marah sama aku?”
    Entahlah ini sopan atau tidak jika pertanyaan itu jawabannya adalah pertanyaan yang berbeda.  Tapi hal itu lebih sering terjadi jika berhadapan dengan si biang kerok, Bima. Jadi, wajar jika aku tertular virusnya. Tapi, gara-gara kata virus Bima itu awal mula sikap Menstruasi Syndrome itu terjangkit oleh Deni. Sampai pada akhirnya, aku malas mengikuti alur berpikirku yang mulai konyol ini.
    “Apa aku saat ini terlihat sedang marah denganmu?” tanyanya. Aku tak berkutik.
    “Aku ganti baju dulu.” Sahutku mengakhiri perdebatan.
    Deni mengajakku ke pusat kota. Dia memarkirkan di dekat dengan keraton kasunanan Surakarta yang juga semeriah yang bisa dibayangkan. Dua pohon beringin yang rimbun dan tampak angker saat Deni memasuki kompleks alun-alun utara tetap tidak menampakkan keangkerannya karena keriuhan orang-orang yang memadati. Apalagi malam ini sudah seminggu lebih diberlangsungkannya Sekaten sampai nanti pertengahan bulan Januari.
    “Kenapa kita harus di sini?” tanyaku. Kami berjalan menyusuri dari Bundaran Bank Indonesia di Gladak sampai pertengahan jalan Slamet Riyadi. Dia itu benar-benar gila, tapi tak apalah. Kakiku juga sudah pegal karena kelamaan mendekam di balik kamar dengan kebisuan.
    “Matamu bengkak.” Katanya mengalihkan jawaban pertanyaanku.
    “Seperti yang kamu lihat..”
    “Kenapa?” tanyanya sambil mencuri pandang ke arahku. Memastikan keadaanku baik-baik saja.
    “Di jaman seperti ini kau masih menanyakan pertanyaan ‘kenapa’ huh?” tanyaku balik tajam. Virus perkataan Bima memang sangat ganas sampai tercetus begitu saja dari mulutku. Sebenarnya aku ingin sadar, bahwa ini semua akibat keegoisanmu. Tidak memberi kesepakatan untukku berbicara.
    “Aku minta maaf..” katanya dengan suara bergetar. Tapi aku tak peduli.
    “Lalu kenapa kau mengajakku ke sini?” ulang pertanyaanku, masih sama. Berjalan jauh seperti ini dengan keadaan yang sama sekali canggung membuatku lebih baik menangis meraung-raung di rumah.
    “Aku sedang tidak ada teman. Dan ingin membuat resolusi tahun besok menjadi kenyataan. Itu juga kalau bisa.” Jawabnya dengan lancar.
    Deni masih sama. Aku masih satu-satunya teman yang dianggapnya berharga. Yang dianggapnya teman curhat yang menyenangkan dalam sudut pandang dia, bukan aku yang harus jengkel mendengarnya jika berhubungan dengan Anida.
    “Dia sudah kamu tembak atau apa?” tanyaku. Berusaha untuk memulihkan dengan mengungkit-ungkit sesuatu yang paling disenanginya. Siapa lagi kalau bukan tentang Anida.
    “Siapa?” tanyanya polos. Halo!! Tidakkah dia sadar?
    “Den, aku harus sabar jika ngobrol sama kamu.” Sahutku jengkel. Dijawab dengan senyuman hangat miliknya. Senyuman yang setidaknya ingin aku rasakan jika malam tahun 2013 yang terakhir ini adalah saat terakhir aku harus melihatnya.
    “Diin, hmm…” katanya berusaha untuk mencari kata yang pas.
    “Apa?” tanyaku malas.
    “Kamu tahu gitarku, kan? Kemarin AKSEN aku tak bisa mendapatkan totalitas dari pick gitarku yang hilang. Maafkan aku…”
    Aku mengernyit bingung. Aku juga salah dibagian itu. Aku tidak menonton diperformnya itu.
    “Aku juga minta maaf, tidak bisa ngliat kamu juga.” Setidaknya itu adalah kalimat yang sudah gatal ingin aku ucapkan.
    “Pick gitarku hilang, bisa kah kamu belikan? Hmmm… Itu bagian terpenting dari permainan gitar yang… hmmm…” katanya dengan gugup. Aku terdiam tidak melanjutkan berjalan.
    “Kita pergi ke Solo Grand Mall atau Solo Square buat beli pick gitarmu itu, gimana?” tanya khawatir. Aku tahu, jika gitar adalah nyawa keduanya. Dan berartinya sesuatu itu saat menyangkut nyawa keduanya itu.
    Deni berusaha mencegah. Bukan itu yang dia maksud.”Bukan begitu Din, bukan itu. Aku mau kau memberikannya tanpa membelikannya.” Katanya susah payah.
    Halo!! Aku tidak punya pick gitar. “Hei, Den kamu ini kenapa? Aku tidak punya.” Jawabku frustasi.
    Aku menatapnya tajam. “Apa kau berusaha menembakku, Den?” tanyaku sedikit bergurau. Seolah-olah membuat humor yang sangat garing karena aku sungguh bingung dengan jalan pikirannya.
    “Iya.” Jawabnya singkat.
    Aku mundur teratur. Suara menggema dari keramaian sudah menghitung mundur jam 00.00. Empaat…Tiga…Dua…
    “Eh? Kau tidak bercanda, kan Den?” tanyaku.
    “Apa aku terlihat bercanda? Setiap ada jam kosong kau tinggalkan aku sendirian. Menunggumu. Memberikan perform yang terbaik buat acaramu. Apa itu kau kategorikan bercanda?”
    Satu…
    Kilatan kembang api mewarnai pergantian tahun. Aku bingung dan menegang beberapa saat. Tangan hangatnya kuraih. Aku tahu dia gugup. Dia menyembunyikan kegugupannya dengan menatap kembang api. Sepertinya resolusi 2014 sudah terwujud beberapa detik tepat pergantian tahun. Sepertinya tak perlu aku memandang ke arah kilat kembang api jika kilat tatapannya begitu menyita penuh perhatianku. Aku bergeming dan tetap terus memandangnya di samping.
    “Dina… Deni… Kita itu sesungguhnya cocok ya? Coba deh, kamu pikir Den!” tanyaku padanya. Dia hanya tersenyum dengan senyuman yang aku khawatirkan akan sirna sama seperti kilatan kembang api tahun baru.
    Slamet Riyadi, benar-benar penuh malam ini.
    ää

    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top