Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini
    Halo Perempuan!

    Tepat kemarin malam, tiba-tiba grup Srimulat Power Rangers yang biasanya membahas FLC tiba-tiba redup bergairah mengeluarkan deretan notifikasinya. FLC memang sudah selesai, harusnya grup ini juga selesai membuat notif yang membuat penghuni grupnya harus membukanya sekedar untuk menghilangkan tanda notif. Hal yang menjadi perbincangan hangat adalah peran perempuan, yang pembahasannya dipelopori oleh saudara Yayak. 

    Yayak sependapat dengan sebuah artikel bahwa perempuan yang terbiasa bekerja di ranah publik berpotensi menjadi istri idaman. Begitulah kata sebuah artikel. Oke. Aku setuju bagian ini. Seorang suami membutuhkan supporting system dari perempuannya untuk hal yang dikerjakan. Tentu, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman bagaimana laki-laki bekerja, sang istri harus memahami latar belakang pekerjaan yang sedang dilakukan kan. Apalagi hal itu berhubungan di ranah publik yang mendorong ia harus bertemu dengan banyak orang dengan banyak karakter kepribadian. Sehingga hal-hal yang tidak perlu dijelaskan tetapi dipahamkan harus tertanam di benak sang istri tersebut. 

    Begitulah sekiranya yang mereka diskusikan.

    Sesungguhnya aku ingin sekali membahas tema yang berkaitan dengan perempuan ini sudah lama. Antara pilihan menikah, menjadi seperti apa di masa depan, dan peran perempuan dalam berkeluarga. Ingin banget dan momennya datang di saat ini. Karena tema-tema seperti ini erat kaitannya dengan duniaku yang selesai di kampus dan menentukan langkah selanjutnya. Sudah mapan secara umur yaitu 23, sudah selesai kuliah, nikah? Seolah itu sudah doa para orang tua mana pun yang melihat anak gadisnya bertumbuh dewasa dan menginginkna mereka mentas alias lepas tanggung jawabnya dari orang tua. Hm~

    Nikah Muda Atau Tunda?

    Aku meng-uninstall aplikasi Instagram sudah lama,  ketika selesai pendadaran di bulan Januari dan aplikasi instagramku menuntutku untuk update. Memang harus update sih. Karena pada saat itu aplikasiku masih jadul dan belum ada instagram story. Padahal sekarang itu jaman manusia-manusia kepo bertebaran bagaikan lalat yang ingin tahu kehidupan pribadi penghuni jagat maya kan. Untuk menghindari pamer, tebar gambar kepalsuan,  ikut ikutan arus jaman now dan serta melalui pemikiran yang cukup panjang, akhirnya aku uninstall saja aplikasi instagramku. Satu hal yang luar biasa membahagiakan adalah aku tidak lagi melihat postingan iklan nikah muda di timeline explore-ku. Itu sangat-sangat mengganggu. 

    Okelah, wahai perempuan yang tidak bisa menjaga dirinya dengan baik dan merasa kesepian dan sudah siap mental saya haturkan, silahkan. Banyak stimulus yang kurang ajar, ketika tetangga, teman, saudara jauh atau pun dekat menanyakan hal yang sama. "Kapan nikah?" Jeder! Bukannya tidak mau nikah ya Sob, ya. Tapi nikah itu bukan karena nyomot seorang arjuna di pinggir jalan dan takdirnya tidak seindah FTV SCTV kan? Pasti butuh kematangan dalam persiapan, baik mental ataupun keuangan. Kita tidak perlu munafik sih, uang itu kunci. Orang tua kita dalam menyecreening calon kita juga pasti nyari orang yang sudah mapan secara financial. Biar anaknya diurus oleh orang yang benar. Kamu gak perlu setuju, biar aku saja. 

    Pada akhirnya aku gerah. Menjadi perempuan yang hidup di era dunia langgas (millenial, read) itu susah dan dihadapkan dengan trend nikah muda. Kalau kata buku catatan Teori Sejarah Prof Warto yang mengatakan bahwa sejarah itu bisa saja siklus. Apa yang terjdi di masa lampau bisa terjadi lagi di masa sekarang. Contohnya fashion, dan tentu saja... trend nikah muda. Trend nikah muda yang ada jaman kakek nenek kita mendadak booming di era sekarang, dan bedanya ada instagram sebagai lahan kita buat pamer. 

    Terus akun-akun dakwah yang menjadikan ini sebagai lahan iklan persuasif mereka untuk menggerakkan nikah muda. Kalau kalian sanggup sih, silahkan. Kalau saya nggak sanggup ya jangan paksa dong. Memang benar menikah itu menyempurnakan setengah agama kita. Tetapi apakah setengah agama yang kita jalani sekarang sudah sempurna? Whehe... 

    Kalau saya sih, melalui narasi diatas bisa dikategorikan menjawab pilihan yang mana. Tentu aku sebagai manusia yang banyak dosa ini lebih banyak memperbaiki diri. Banyak memperkaya ilmu, banyak mengembangkan soft skill, ambisi, target pribadi. Jadi, dear perempuan Indonesia yang melahirkan generasi emas Indonesia, jangan karena capai menemui dosen buat bimbingan skripsi, susahnya menjalankan hidup, kalian punya pemikiran buat nikah saja. Emang gampang?


    Apakah kamu Supporting Women atau Alfa Women?


    Supporting Women bisa dikategorikan sebagai perempuan yang memberikan dukungan penuh pada sang suaminya. Tidak masalah, bahkan antara perbedaan yang sangat mencolok mentang-mentang diksi yang diberikan antara kata support dan alfa, bagiku keduanya mempunyai jalur yang sama dimana akan sejalan dikehidupan nyata seorang perempuan. Hm... tapi ternyata tidak semua perempuan.

    Jadi begini, karena entah kenapa aku selalu mempunyai jejaring pertemanan dimana menjadi perempuan itu harus mandiri, maka tidak salah jika lingkungan pertemananku selalu melingkar orang-orang yang mempunyai kepribadian alfa women. Menjadi perempuan alfa women terkadang menimbulkan permasalahan menyangkut partner hidup mereka alias pendamping. Perempuan perempuan seperti ini bisa menyelesaikan masalahnya tanpa harus ada keterlibatan pihak lelaki. Segala urusan bisa diselesaikan sendiri. Mempunyai ambisi yang lebih besar untuk karier dan pencapaian pribadinya. Terkadang membuat lelaki yang melihat kadang ciut nyalinya, belum sanggup untuk menyejajarkan diri. Padahal perempuan alfa women tidak masalah jika suatu ketika pendampingnya menuntut untuk memulai dari 0 dan berusaha keras lagi dengan meninggalkan zona nyaman. Untuk artikel mengenai karakter alfa women kalian bisa lihat klik di sini. 

    Menjawab pertanyaan diatas, tentang menjadi perempuan seperti apakah aku? Maka aku akan menjawab dengan mengelaborasikan hal itu bersamaan. Bagiku menjadi supporting system seorang laki-laki itu perlu. Ketika masa kehidupan berdampingan ini menuntut kita menjadi orang yang mendukung apapun kerja yang dilakukan suami. Support tidak hanya berbuah doa tetapi mental kita menjadi pendamping terbaik bagaimana permasalahan yang dihadapi partner kita berujung pada pengambilan keputusan yang sulit. perempuan wajib hukumnya menjadi supporting women.

    Tetapi menjadi perempuan yang kuat, tegar dan mandiri memang harus mempunyai semua karakter alfa women. Bukan karena kita perempuan menuntut hak yang sejajar dengan laki-laki, hanya saja pola berpikir menjadikan kita partner adalah jawaban. Kita bisa berdampingan bersamaan mengedepankan tujuan kebaikan, bukan hanya berhenti pada kepemilikan ego pribadi. Alfa women saya kira sudah cukup mewakili kebutuhan berpasangan kita di masa depan. Bukannya menjadi perempuan dengan karakter alfa women harus diwaspadai karena perempuan-perempuan seperti ini dinilai sanggup menyelesaikan tugas para laki-laki, tetapi cukup dengan dirangkul. Bahwasanya merekalah yang akan mendampingi kita (para laki-laki, read) dalam mengarungi perjudian di dunia ini.  

    Sebaik-baik pasangan adalah yang melengkapi. Aku tidak tahu bagaimana kriteria perempuan diluar alfa women. Aku juga jarang mendapati perempuan dengan egositas yang tinggi. Pemikiran yang masih bocah dan masih belum dewasa. Menjadi perempuan memang dituntut untuk multitasking menyelesaikan semua persoalan, permasalahan dalam kehidupan dengan tuntas. Diluar itu, menjadi perempuan tidak mudah. Dalam dirinya tumbuh perasaan yang cepat dan mudah rapuh. Sedetik saja hal yang diluar algoritma pemikirannya (dimana itu berbeda dengan kenyataan), pasti kacau, sedikit stress, butuh waktu untuk recovery. Ketika banyak laki-laki menganggap kita cukup mandiri, tetapi perempuan punya kepekaan. Dan perasaannya adalah sangat mudah patah oleh keadaan. 

    Itulah sebabnya, hakikat lelaki adalah imam benar adanya. Dalam pundak merekalah, para perempuan dengan karakter apapun akan bersandar jika mereka lelah.



    Nabila Chafa,
    dalam kekacauan berpikirnya tentang menjadi seperti apa dia.
    9-10 Mei 2018 

    :::


    Foto: Yayak yang difotoin oleh Abang Kesayangannya :) 

    Continue Reading



    Waktu bergulir setiap hari. Setiap detik. Setiap menit. Bahkan akan berujung dengan pergantian tahun. Tetapi kesannya bahwa hidup ini hanya mengikuti aliran air. Tunduk pada sang matahari pagi. Hanya bergumul dengan waktu dan jam yang sama. Tidak adanya aktifitas yang menghasilkan dan berproduktif. Inilah hakikatnya hidup yang kita jalani. Hanya sebatas mengalir. Dari pagi sampai tenggelamnya senja.

    Manusia hidup pasti ingin berguna bagi sesamanya. Masalah utamanya sekarang sebagai mahasiswa kadang berpikir bahwa tidak ada yang bisa diharapkan untuk menjadi sarjana kalau ujung-ujungnya menganggur—tidak bekerja. Bukankah bila dipikirkan ini merupakan suatu kegalauan yang tak ada ujungnya. Tetapi sebagai pribadi individu, bagaimana cara kita untuk ‘bertahan’ dalam era persaingan seperti ini. Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah diberlakukan, proteksi-proteksi yang diberikan pemerintah pun juga minim. Mengingat bahwa suatu persaingan itu harus bersifat fair. Kita tidak bisa berkeluh kesah kepada pemerintah atas hal yang sudah diberlakukan semacam ini. Tidak ada lagi manja-manja dibawah naungan hukum undang-undang. Era persaingan sudah diberlakukan dan kita saat ini masih belum mampu menjawab pertanyaan akankah diri kita eksis. Akankah kita bisa bersaing?
    Pemerintah dihadapkan oleh persoalan yang pelik. Sejarah mencatat bagaimana perkembangan negeri ini sampai di titik dinamika permasalahannya yang membuatnya semacam pelik. Turbulensi atas ketimpangan, ketidakseriusan, dan kelalaian dari pemerintah, akankah kita membiarkannya begitu saja. Karyaku untuk Indonesia dalam hal ini saya akan mengangkat bagaimana kita berkontribusi dalam memajukan peradaban Indonesia untuk lebih baik lagi kedepannya melalui semangat cerita. Cerita memang suatu karya sastra yang sederhana. Tetapi penuh makna bila dilihat dari perspektif yang berbeda. Cerita dapat menggambarkan suatu imajinasi liar yang berbeda dibandingkan dengan bentuk visual. Karena pembacanyalah yang hanya mampu  melukiskannya. Tetapi lewat cerita pula, kita mampu mendobrak semangat, menanamkan nilai-nilai kehidupan, menentukan sikap dan tindakan atau bahkan sebuah protes sosial.
    Saya senang menulis. Bukan menulis hal-hal yang berat-berat, tetapi menulis cerita. Cerita yang mengalir sederhana mengenai kehidupan, secercah pemberi semangat akan rasa dan suasana. Saya hidupkan melalui untaian kata-kata dan menyesatkan diri ke dalam imajinasi yang saya bangun. Menciptakan kota yang bebas sampah, kota yang rapi, bahkan potongan rumput seolah dibuat sama rata tingginya, hanya bisa saya ungkapkan melalui cerita. Atau mengenai gelandangan di pinggir jalan dengan gerobak yang bertumpukan rongsokan, sedang mengais di tengah gerimis bulan Februari hanya bisa saya deskripsikan melalui cerita. Dapatkah cerita mampu menjadi kontribusi bagi negeri ini? Saya jawab: Iya.
    Sesederhana cerita, mengalun lewat ketikan panjang, menjadi buah dari inspirasi masa depan. Saya ingin membuat kota yang layak huni menurut deskripsi saya, bisa saya tulis dengan melihat kenyataan yang tidak saya dapati di alam ‘nyata’ saya. Melalui menulis cerita kita memberikan kepemahaman yang berbeda dari realita yang ada. Toh, bukankah karya sastra jaman orde lama mampu menggerakkan masyarakat. Bahkan aparat pemerintahan saja sampai teriak-teriak untuk membungkamnya. Walaupun itu hanya cerita, yang kata orang hanya imajinasi saja. Dan hanya berisi omong kosong penulisnya saja.
    Pramoedya Ananta Toer mampu membuktikan bahwa lewat cerita yang ia tuturkan bisa membuat ideology yang ia kaguminya menjadi semakin banyak basis massa yang mendukung. Lewat karyanya itu pula, ia harus dihadapkan oleh tindakan sewenang-wenang aparat sampai ia dibungkam dalam penjara. Lewat tuturan ceritanya itu pula ia tidak segan-segan mempropagandakan ajaran sosialis.
    Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, lewat sastra pula saya bisa mengkomunikasikan peristiwa yang terjadi di masa lalu dan terefleksikan oleh peristiwa masa kini. Sehingga hal itulah yang menjadikan nilai kesejarahan menjadi hidup dan punya sudut pandang yang berbeda. Hal itu pula yang mendorong salah satu budayawan yang sekaligus dosen sejarah di Yogyakarta, Kuntowijoyo dalam merefleksikan peristiwa sejarah menjadi bentuk karya sastra.



    Masihkah jaman galau di era sekarang ini?? Banyak pilihan hidup yang mewajibkan kita memilih satu dari sekian banyak pilihan yang disodorkan. Ini memang tidak masuk akal. Tapi satu pilihan itu mampu menjawab berbagai ragam pertanyaan akan keeksistensi diri kita pribadi. Hanya orang malas yang masih merisaukan masalah masa depan mereka sendiri tanpa disertai sebuah action. Seakan masa depan yang tak terlihat itu bisa dijadikan factor kegalauan anak remaja saat ini. Bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri karena ketidaksiapan kita dalam menghadapi persaingan yang ada. Semakin majunya jaman semakin kuat pula persaingan yang ditawarkan. Contohnya lapangan pekerjaan. Banyak orang berpikir, kalau ambil ilmu sejarah, mau jadi apa besok? Itukah yang sedang menjadi trend topic kegalauan seorang mahasiswa? Justru inilah momentum yang tepat untuk memulai membuat rencana strategis dan memantapkan akan pilihan yang kita sudah ambil.
     
    Continue Reading

    Nabila Nurul Chasanati

    Sudah menjadi tamparan keras bagi para pelaku pendidik saat melihat bagaimana sungai yang membelah kota saat ini begitu kotor dan terisi oleh sampah rumah tangga. Apa masyarakat saat ini tidak menghargai keberadaan sungai, jika keberadaannya saja dilihat sebelah mata. Bahkan tatkala saya melihat anak-anak SD yang melintasi jembatan, pun juga membuang sampahnya di sungai. Padahal pendidikan seusia mereka sudah diperkenalkan ajaran untuk tidak membuang sampah sembarang. Hanya pada tempat tertentu yang bertandakan tempat sampah. Tetapi hal itu masih terjadi? Coba cium sungai kita sekarang? Alih-alih mencium, cobalah lihatlah dengan mata terbuka tanpa menampikkan fakta tersebut. Apa yang anda bisa dapatkan di sungai kita saat ini?

    Sungguh ironi keadaan sungai di kota-kota besar saat ini. Bahkan denda ratusan ribu rupiah bagi pelanggar peraturan untuk tidak membuang sampah di sungai pun masih saja banyak orang yang tidak mengindahkannya. Apalah arti dari peraturan jika masih banyak masyarakat yang melanggar. Bila kita menelisik lebih jauh area perikanan kita, pasti akan mendapati keadaan yang tidak jauh berbeda. Sudah ada peraturan bahwa menangkap ikan dilarang menggunakan bom, pun banyak orang yang melanggarnya. Ekosistem laut kita musnah, dan mereka tidak ingin menjadi pihak yang disalahkan. Lantas bagaimana peranan pendidikan dalam mewujudkan tataran masyarakat yang beradab, patut dipertanyakan. Apakah pendidikan hanya berorientasi pada market saja? Apa yang diajarkan hanya pelajaran-pelajaran fiktif? Sampai-sampai anak-anak jaman sekarang hanya mengacuhkan sebuah peradaban yang sesungguhnya sudah terbangun sebelum lahirnya Nusantara. Tetapi, fokus penulisan ini adalah membahas mengenai hilanngnya peradaban air. Saat ini, kita tidak mendapati fenomena bahwa budaya air masih eksis. Bila bisa saya katakan lewat stratifikasi sosial, budaya air menempati urutan terbawah. Kumpulan permasalahan yang dinomorterakhirkan untuk dipecahkan oleh pemerintah, masyarakat, alih-alih dunia pendidikan.

    Kompleksnya peranan budaya air dalam membangun peradaban unggul, kenapa saat ini kita mengacuhkannya begitu saja?

    Penekanan bahwa pentingnya budaya air ini tidak terlepas dari putusnya budaya air yang lama sudah terbangun. Bahkan sudah ada sebelum lahirnya Indonesia. Alih-alih sangking lamanya itulah, tidak tahu jaman kapan budaya air tidak ada lagi. Hilang di era siapa, tidak begitu kita rasakan.

    Pembangunan di sektor perairan sudah dibangun era Raja Airlangga dengan membentuk bendungan. Lalu terdapat kontinuitas oleh Raja Kroncaryyadipa (± 1181M) dengan membentuk pejabat tertinggi yang menangani dan menguasai perairan yang disebut dengan senopati sarwajala. Walaupun saat itu, pejabat ini masih mengatasi permasalahan banjir, tetapi bayangpun birokrasi kerajaan waktu itu menganggap masalah perairan merupakan masalah serius. Air merupakan sumber daya alam yang luar biasa. Apalagi, pada abad 19, banyak perdagangan yang dilakukan lewat sungai.

    Tidak jauh-jauh mengambil contoh, sungai Bengawan Solo dimanfaatkan oleh pedagang Cina pada abad 15-17 M yang banyak melakukan transaksi perdagangan sepanjang sungai ini. Bengawan Solo waktu itu memerankan peranan cukup penting dalam memajukan peradaban masyarakat. Sungai tidak hanya dinilai sebagai tempat pelayaran perdagangan, bila ditelisik lebih jauh banyak pertukaran budaya di dalamnya. Penguatan komunikasi sosial masyarakat, hal inilah masyarakat tanpa tidak sadar “terdidik” bahwa keberadaan sungai memang sangat strategis.

    Bila kita melihat bagaimana sekarang, sungai selalu tampak dibelakang rumah kita. Hanya dijadikan sebagai tempat pembuang kotoran, mungkin kita lupa atau bisa jadi kitalah yang memutus peradaban yang sudah dibangun jauh-jauh hari lewat sungai. Lantas, apakah tidak ada hubungannya dengan peranan pendidikan. Seperti yang saya kemukakan dari awal, ini merupakan tamparan keras bagi sistem pendidikan, pendidik khususnya. Apa dunia pendidikan diam saja dalam fenomena hal ini. Nilai-nilai yang putusnya peradaban ini di dalam masyarakat, tetapi tidak langsung putus begitu saja lewat peranan pendidikan. Saya ingat pelajaran yang diajarkan dalam PPKn sewaktu SD, banyak nilai-nilai yang diajarkan di dalamnya. Pun, walaupun kurikulum berganti dengan mengikuti jaman, tetapi bila kita masih melihat masyarakat kita sendiri mengotori sungai, apakah kita hanya diam saja? Apa hanya menunggu peran pemerintah dalam mengembalikan kembali kurikulum yang dahulu kala karena melihat fenomena ini. Tentu saja tidak berlebihan seperti itu. Memang benar, bila kurikulum harus mengikuti perkembangan jaman, tetapi jika jaman sekarang saja sungai tidak ada harganya bagaimana ke depannya?

    Meminjam pernyataan Indrawan Yepe, “Pendidikan itu untuk membangun karakter anak-anak dan menumbuhkan kepedulian mereka serta membangunkan potensi mereka.” Bahwa ternyata substansi dari pendidikan itu lebih mengakar dan berarti lebih. Untuk mendidik anak-anak ternyata begitu mulianya sampai-sampai target yang dibidik adalah pembangunan karakter dan menumbuhkan kepedulian diri.

    Mengingat kembali bahwa tujuan pendidikan Indonesia merupakan implementasi empat pilar pendidikan yang dicanangkan oleh UNESCO. Keempat pilar ini adalah: 1) learning to know (belajar untuk mengetahui), 2) learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu), 3) learning to be (belajar untuk menjadi seseorang) dan 4) learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

    Bisa dikatakan lewat pendidikanlah, akan tercipta masyarakat terdidik. Dari sinilah tertanam nilai-nilai pembelajaran yang membentuk karakter anak didik untuk nantinya bisa hidup di tengah-tengah masyarakat. Kemudian, membentuk komunitas masyarakat luas dengan suatu karakter yang khas. Lalu dari alur inilah menciptakan budaya masyarakat yang lama kelamaan dapat diturunkan oleh generasi penerus. Begitu luasnya kita memandang suatu peranan pendidikan dalam menciptakan generasi emas. Bisa kita tarik kesimpulan, bagaimana penanaman nilai-nilai untuk membangkitkan budaya air kita selipkan dalam peranan pendidikan. Tidak ada salahnya, karena tujuan pendidikan poin kedua adalah learning to do. Pendidikan merupakan pengamalan dari ilmu dan diimplementasikan nyata.

    Pendidikan merupakan salah satu sarana untuk membentuk karakter anak didik. Pendidikan ada, tidak hanya mengajarkan pada pelajaran-pelajaran fiktif saja. Agar lebih berbudaya, lebih beradab. Dengan kemampuan yang diterimanya inilah, berguna untuk membentuk suatu komunitas besar yang di dalamnya bisa mendorong kembali terciptanya masyarakat yang mencintai budaya air. Pendidikan mempunyai tujuan akhir—seperti tujuan pendidikan nasional Indonesia—untuk learning to live together. Pendidikan membentuk suatu komunitas masyarakat agar lebih terdidik dengan tetap memperhatikan lingkungan sekitar. Mempunyai daya kepekaan dalam mengatasi permasalahan tersebut.

    Apalah artinya pembangunan yang dibentuk oleh nenek moyang kita, Raja Airlangga melakukan pembangunan dari budaya air dan dari sinilah lahirlah budaya-budaya air yang dilanjutkan oleh pecahan dua kerajaan besar semasa itu. Pun, terdapat menteri pemegang kekuasaan tertinggi dalam era Raja Kroncaryyadipa yaitu Senopati Sarwajala. Pembangunan peradaban mereka memang berbeda era antara Indonesia lama dengan kondisi kita saat ini. Masa itu birokrasi kerajaan memberikan kebijakan yang luar biasa berartinya dalam pembangunan peradaban. Perbedaannya dengan sekarang adalah kompleksnya permasalahan dari hulu hingga hilir. Semua permasalahan seakan bertumpu pada sektor ekonomi saja. Efek ekonomi ini nanti seperti kartu domino yang dianggap mempunyai efek besar dalam kehidupan. Tetapi, jika dilihat menyeluruh pembangunan peradaban cerdas saat ini hanya bertumpu pada sektor pendidikan. Kebijakan sudah memberikan tempat seluas-luasnya terhadap pembangunan era masyarakat yang berkarakter lewat pendidikan.

    Seperti apa yang saya jelaskan diatas, bahwa ujung dari peran pendidikan ini adalah mewujudkan masyarakat berkarakter. Yang secara menyeluruh dengan bertahap membangun masyarakat Indonesia berkarakter—bisa saya katakan generasi Indonesia Emas. Apa kita masih bertumpu tangan terhadap pemerintah sebagai pemegang birokrasi? Justru peran pendidikan juga tak kalah dari kartu sektor ekonomi—dimana tidak kita munafikkan, orientasi pembangunan pemerintah selalu bertumpu pada sektor ekonomi---. Bahkan embrionya berada dalam pendidikan. Lewat pendidikan, dapat mewujudkan pembangunan pemerintah, penguatan ekonomi nasional, ketahanan budaya, dan lain sebagainya.

    Sebagai calon-calon orang yang akan membentuk komunitas masyarakat berkarakter inilah, kita tidak boleh melihat sebelah mata kondisi sungai kita. Tidak perlu muluk-muluk untuk mewujudkan caranya. Berawal dari langkah sederhana yang kita lakukan. Dimulai dari tidak membuang sampah di sungai. Lewat pribadi kita sendiri, menegur kawan, orang tua, atau orang terdekat kita untuk melakukan hal yang sama. Dari sanalah, muncullah komunitas-komunitas masyarakat yang tergerak untuk melakukan pemberdayaan sungai. Pemanfaatan kembali fungsi sungai, entah dalam segi ekonomi dengan adanya perdagangan, sosial, budaya. Dan kelamaan sektor perairan dengan mengedepankan tatanan pendidikan berasimilasi dalam budaya masyarakat bisa jadi membentuk karakter kuat yang terus tertanam dan tumbuh dalam diri masyarakat untuk tetap terus memberdayakan dan menguatkan kembali.

    Semua hal itulah saling bersinergi untuk mewujudkan sebuah tatanan masyarakat berbudaya. Itu baru dalam hal budaya air saja. Coba kita telisik lebih jauh, banyak peranan budaya-budaya lokal yang terkadang kita lihat sebelah mata yang memiliki dampak yang luar biasa. Tidak hanya akan menjadi mimpi, jika masyarakat dengan kesadaran sendiri itulah menciptakan suatu tatanan Negara yang mewujudkan cita-cita. Bukan hal yang tidak mungkin, lewat sinergisitas peranan pendidikan dalam mengembalikan budaya air mampu mewujudkan Indonesia Emas? Who knows?

    Continue Reading

    STUDI KASUS: DESA KWARASAN KECAMATAN GROGOL KABUPATEN SUKOHARJO

    I. Pendahuluan 


    Teori folklore dalam penelitian dikembangkan karena memakai konsep-konsep Jan Harold Brunvand (1965) dan James Danandjaja (2002). Folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun di antara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak isyarat atau alat bantu pengingat (mnemonic device). Folklor dikenal melalui ciri-cirinya yaitu:

    a. penyebaran dan pewarisannya biasanya dilakukan secara lisan dari satu generasi ke generasi berikutnya,

    b.folklor bersifat tradisional yang disebarkan dalam bentuk relatif atau bentuk standar dan disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cuup lama,

    c. karena penyebaran dari mulut ke mulut, maka folklor timbul dalam berbagai versi dan varian,
    d. folklor bersifat anonim dan biasanya mempunyai bentuk berumus atau berpola,

    e. folklor mempunyai fungsi dalam kehidupan bersama dalam suatu kolektif,

    f. folklor bersifat pralogis yaitu memilii logika sendiri yang tidak sesuai dengan logika umum serta menjadi milik bersama (collective) dari kolektif tertentu dalam bentuk yang lugu.[1]
     
    Di Indonesia, folklor berbentuk (a) folklor lisan yang meliputi : bahasa rakyat, ungkapan tradisional, pertanyaan tradisional atau teka-teki, puisi rakyat, legenda, mitos, dongeng, nyanyian rakyat; (b) folklor sebagian lisan yang meliputi kepercayaan rakyat, dan permainan rakyat, dan (c) folklor bukan lisan yang meliputi bentuk material yaitu arsitektur rakyat dan makanan rakyat.

    Dalam judul yang sudah dituliskan penulis yaitu menceritakan jenang sum-sum dalam tradisi mrocoti, penulis lebih menekankan pada dua aspek. Karena hal ini seakan bersinggung satu sama lain, yaitu mengenai aspek kepercayaan masyarakat yang masih melakukan tradisi mrocoti dan jenang sum-sum yang dipilih dalam tradisi ini.

    Bisa dikatakan bahwa jenang sum-sum sebagai kuliner tradisional masuk dalam folklore bukan lisan. Jenang sum-sum merupakan folklor material bukan lisan terdiri dari konsep makanan, bahan makanan, cara memperoleh makanan, cara mengolah makanan, cara penyajian, dan fungsi makanan. Sesuatu disebut makanan atau bukan sangat ditentukan oleh kebudayaan kolektif masing-masing Dalam sudut ilmu pandang antropologi, folklor makanan merupakan fenomena kebudayaan.
    Konsep makanan tradisional perlu dijelaskan karena dalam konstruk budaya Jawa terdapat istilah budaya tradisi dan budaya kraton. Hal tersebut menunjuk pada dua subkultur yang secara jelas dapat dibedakan, dengan meminjam istilah Redfild, tradisi besar dan tradisi kecil. Tradisi besar terdapat dalam istana dan di kota-kota (negara) sedang yang kedua di pedesaan (Kartodirdjo, 1986: 409).

    Ciri-ciri utama pengenal folklor di antaranya penyebaran pewarisannya bersifat lisan, disebarkan relatif tetap atau dalam bentuk standar. Disebarkan di antara lokasi tertentu dalam waktu yang cukup lama, ada dalam bentuk versi-versi, bersifat anonim, menjadi milik bersama.[2] Bila ditilik dari ciri-ciri pengenal tersebut, maka makanan rakyat maupun makanan tradisional keraton termasuk ke dalam folklor. Dalam tulisan ini dipilih istilah makanan tradisional karena mempunyai cakupan makna yang lebih luas.

    II. Pembahasan

    Meminjam pengertian Konentjoroningrat yang mengatakan bahwa sebuah masyarakat merupakan sebuah suatu sistem adat istiadat.[3] Masyarakat Jawa dikenal sebagai masyarakat yang hidup dari tradisi dan budaya. Orang Jawa selalu dipenuhi dengan berbagai macam upacara atau ritual-ritual tertentu dari mulai dalam kandungan sampai meninggal dunia. Salah satu contohnya adalah tradisi Mrocoti. Perkembangan jaman tentu meminggirkan nilai-nilai tradisi yang dibawa oleh leluhur kita. Begitu juga yang sudah terjadi di Desa Kwarasan Grogol Sukoharjo, letaknya yang merupakan perbatasan antara Surakarta dengan Sukoharjo, yang secara administratif masuk kawasan Kabupaten Sukoharjo juga dirasakan betul oleh penulis yang tinggal di daerah tersebut. Uniknya seperti yang dikutip dalam pernyataan Imam Baehaqi bahwa dialektika yang berlangsung antara kebudayaan Jawa dengan kebudayaan lainnya tidak lantas membuat tercabut akar-akar kejawaan, namun watak Jawa yang toleran tersebut membuat lentur dan dapat beradaptasi pada hadirnya berbagai macam kebudayaan yang ’masuk’ ke dalam rahimnya.[4]
     
    Dalam banyak literatur, penulis mendapatkan bahwa tradisi ini populer di Jawa Timur. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa di Jawa Tengah sendiri tidak melaksanakan tradisi ini. Penulis mendapati tradisi masih dilakukan dan tidak menggeser perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

    Desa Munyung Kelurahan Kwarasan Grogol Sukoharjo sebuah lokasi yang bisa dikatakan masuk wilayah Solo Baru. Desa ini tidak sedikit orang yang melaksanakan tradisi Mrocoti seperti di kebanyakan daerah yang masih kental dalam melaksanakan tradisi Jawa. Ibu Marni contohnya. Ia melakukan tradisi ini karena menghormati nilai-nilai yang diberikan oleh leluhurnya untuk tetap melestarikan tradisi ini. Dalam kepenulisan ini, penulis mengambil dua perspektif yaitu dari segi sebuah tradisi dan makanan dalam tradisi tersebut.
    1. Tradisi Mrocoti
    Seperti yang sudah penulis sampaikan di atas, masyarakat Jawa selalu dipenuhi oleh upcara-upacara sepanjang hidupnya. Mulai dari dalam kandungan sampai orang tersebut meninggal dunia. Upacara ini ditemukan dalam masyarakat Jawa, salah satunya yaitu terkait kelahiran bayi. Siklus kehidupan ini sangat dihormati dan ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan suami istri. Ketika keluarga dikaruniai jabang bayi, berbagai tradisipun akan diselenggarakan sebagai wujud rasa syukur. Upacara Mrocoti dilakukan oleh calon ibu yang sudah mencapai umur kurang lebih 9 bulan. Mrocoti dari kata procot, dalam bahasa Jawa artinya keluarnya segala sesuatu dari lubang dengan cepat.[5] Sang calon ibu berharap bahwa bayi yang dalam kandungannya cepat keluar dalam keadaan sehat wal afiat. Tujuan dari upacara procotan ini  meng­harap agar bayi yang akan lahir nantinya dapat keluar dengan mudah dan selamat, tanpa gangguan apapun. Untuk itulah, harapan-harapan tersebut tersimpan dalam tradisi mrocoti.

    Sajian dalam tradisi mrocoti ini berupa jenang sum-sum. Jenang sum-sum terbuat dari tepung beras yang dimasak seperti bubur. Cara penyajiannya adalah dengan meletakkan dalam wadah dan diberi pisang utuh yang sudah dikuliti diatasnya kemudian dilumuri dengan jenang (lihat Gambar 1). Sehingga tampak pisang utuh tersebut tidak bisa dilihat karena tertutup dengan jenang. Sajian tersebut diletakkan dalam piring dan dibagi-bagikan kepada tetangga. Tradisi ini hampir mirip seperti bancakan.
     
    clip_image001
    Gambar 1. Jenang Sum-sum dalam tradisi Mrocoti
    1. Jenang Sum-sum dalam Tradisi Mrocoti
    Di Jawa, filosofi jenang sum-sum sebagai obat penghilang rasa. Seperti yang disampaikan oleh Jumaidi[6], bubur sum-sum diartikan sebagai obat penghilang rasa lelah. Dalam tradisi masyarakat Jawa, jenang sum-sum adalah tombo kesel (obat capek). Setelah berbulan-bulan ibu mengandung anak dalam kandungannya, hal itu pasti membuat penat dan rasa lelah. Para orang tua paham betul akan hal itu, dengan dilakukannya tradisi mrocoti ini setidaknya mengurangi rasa sakit selama kehamilan.[7]
     
    Makanan mempunyai fungsi simbolik yaitu dalam artian terdapat arti sosial, budaya, agama dan lain-lain.Dalam hal ini, tradisi mrocoti yang membagi-bagikan jenang sum-sum kepada tetangga mempunyai peran bahwa makanan dapat diartikan sebagai ungkapan ikatan sosial. Makanan bisa diartikan sebagai sarana solidaritas kelompok. Simbolisme inilah yang dibawa oleh jenang sum-sum dalam kaitannya dengan tradisi mrocoti.

    III. Penutup

    Makanan tradisional dikategorikan sebagai bagian dari folklore yaitu folklore bukan lisan. Di dalam spesifikasi, makanan tradisional berdasarkan fungsinya makanan tidak hanya makanan untuk dimakan, tetapi mengandung hal khusus. Berdasarkan uraian penulis diatas, makanan tradisional seperti jenang sum-sum ternyata mempunyai arti tersendiri. Jenang secara filosofi orang Jawa dipercaya dapat menghilangkan rasa sakit atau lelah. Hal ini sangat cocok sekali dengan keadaan yang mendera ibu hamil pada umumnya. Sehingga pada bulan terakhir bayi berada dalam kandungannya, tradisi Jawa membuat tradisi mrocoti sebagai hal terakhir yang dirasakan oleh sang calon ibu. Agar nantinya, bayi yang dilahirkannya dalam keadaan sehat wal afiat, tidak kurang satu pun.

    Meskipun pergeseran pola pikir masyarakat dan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sudah melesat pesat, tidak seharusnya kita sebagai masyarakat tidak lepas begitu saja. Folklore merupakan hasil kolektif masyarakat, jika dalam sebuah desa saja hanya satu dua orang yang masih melestarikan tradisi ini, bagaimana dengan langkah kedepannya. Folklore bagian dari leluhur. Bagian dari masyarakat, tidak seharusnya perkembangan jaman dan pola pikir dapat menggeser nilai-nilai luhur yang dibawa oleh nenek moyang kita.

    Daftar Pustaka

    Buku
    Arif Budi Wurianto, Dr. Msi, 2008, Aspek Budaya Pada Tradisi Kuliner Tradisional Di Kota Malang Sebagai Identitas Sosial Budaya (Sebuah Tinjauan Folklore), Universitas Muhammadiyah Malang: tidak diterbitkan.

    Dananjaja, James, 2002, Folklor Indonesia, Jakarta: Grafiti.

    Ensrasworo, Suwardi, Dr., M.Hum, 2013, Folklore Nusantara: Bentuk & Fungsi, Yogyakarta: Penerbit Ombak.

    Geerts, Clifford. (1986). “Agama di Jawa: Pertentangan dan Perpaduan”, dalam Roland Robertson (ed.). Sosiologi Agama. Tanpa Tempat Terbit: Aksara Persada.

    Imam Baehaqi (ed.), 2002, Agama dan Relasi Sosial Menggali Kearifan Dialog, Yogyakarta: LKis.
    Koentjoroningrat, 1996, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

    Internet:
    Pusaka Jawa Timuran, Mrocoti: Tradisi Jawa Timur, https://jawatimuran.wordpress.com/2012/10/15/mrocoti-upacara-tradisi-jawa-timur/ diakses pada 9 Mei 2015

    Blogdetik.com, http://jogja.okezone.com/read/2012/10/15/511/704028/makna-bubur-sumsum-dalam-pelantikan-jokowi diakses pada tanggal 9 Mei 2015 pukul 16.17

    Wawancara:
    Wawancara dengan Ibu Marni, Sabtu 9 Mei 2015



    [1] Teori James Danandjaja, Folklore Indonesia, (Grafiti, Jakarta: 2002)
    [2] Op.Cit.,James Danandjaja, hlm 4.
    [3] Koentjoroningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. (Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1996). hlm 100.
    [4] Imam Baehaqi (ed.), Agama dan Relasi Sosial Menggali Kearifan Dialog, (Yogyakarta: LKis, 2002), hlm 121
    [5] Pusaka Jawa Timuran, Mrocoti: Tradisi Jawa Timur, https://jawatimuran.wordpress.com/2012/10/15/mrocoti-upacara-tradisi-jawa-timur/ diakses pada 9 Mei 2015
    [6] Blogdetik.com, http://jogja.okezone.com/read/2012/10/15/511/704028/makna-bubur-sumsum-dalam-pelantikan-jokowi diakses pada tanggal 9 Mei 2015 pukul 16.17
    [7] Wawancara dengan Ibu Marni, Sabtu 9 Mei 2015















































    Continue Reading
    nabila chafa:


    Nabila Nurul Chasanati C0513036 FSSR UNS
    Chafa.nabila27@gmail.com ) 085643664804


    November 2002, para pemimpin ASEAN menyetujui prakarsa Perdana Mentri Goh Chong Tong untuk membentuk proses integrasi ekonomi ASEAN sebagai pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA memungkinkan pembuatan adanya wilayah Asia Tenggara menjadi suatu pasar dan  landasan produksi tunggal. Karena agenda kerjasama ekonomi ASEAN memusatkan perhatian pada upaya integrasi. Sasaran pencapaian suatu pasar dan landasan produksi tunggal, dengan pemanfaatan itulah peranan Indonesia di dalamnya tak kalah penting.
    Posisi perekonomian Indonesia selalu berada dalam kestabilan. Tahun 2010 Indonesia berada 6,1 tahun berikutnya 6,5 dan terakhir pada tahun 2012 Indonesia berada pada 6,2 persen. Hal ini berbeda jauh dengan angka pertumbuhan Negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya yang bahkan mengalami perbedaan yang signifikan tiap tahunnya yang cenderung turun persentasenya. Hingga survey yang dilakukan McKinsey ekonomi Indonesia akan berada di peringkat nomor-7 dunia pada tahun 2030.
    Kekayaan Sumber Daya Alam, kualitas demografi penduduk, keuntungan geografis dan keragaman budaya dan pariwisata menjadi modal penting bagi Indonesia. Kawasan Indonesia yang terdiri dari banyak pulau membuat Indonesia kaya akan budaya, karena terdiri dari berbagai suku bangsa, dan bahasa inilah sebuah keberagaman menjadi sebuah nilai tambah dalam mendayagunakan semaksimal mungkin bagi terciptanya iklim potensial bagi perekonomian. Karena adanya hal tersebut didukung pula oleh bentukan alam seperti danau, gunung api, pantai dan potensi alam lainnya ini dapat memajukan pariwisata Indonesia. Kerja dari ekonomi akan berkembang di sektor tersebut.
    Data kependudukan Indonesia masih menunjukkan bahwa angka usia produktif masih besar hingga berpotensi menjadi tolak ukur untuk pembangunan di Indonesia. Pergerakan wirausaha oleh masyarakat sudah menunjukkan suatu indeks percepatan, sehingga dibutuhkan tenaga kerja dalam menanganinya. Ini bisa menjadi sebuah pisau tajam agar pemerintah lebih memaksimalkan potensi SDM Indonesia agar mempunyai daya guna. Inilah yang membuat Indonesia optimis dapat mengoptimalkan ekonominya dengan adanya Masyarakat ASEAN 2015 besok.


    Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan fundamental yang perlu diwaspadai, antara lain kualitas infrastruktur indonesia yang masih belum memadai. Mulai dari transportasi Udara seperti halnya Bandara Soekarno Hatta yang didesain hanya mampu menampung 18 juta penumpang tiap tahunnya tetapi dipaksakan menampung sekitar 43,7 juta penumpang yang akan terus tumbuh ± 15-20% per tahun. Lalu, Indonesia mempunyai pantai sepanjang 81.000 km namun hanya menampung 32 pelabuhan laut besar yang sekitar satu pelabuhan 2.500 km panjang pantai hingga menyebabkan kelebihan kapasitas (over capacity). Jalan di Indonesia hanya 48% dalam keadaan baik, 30% dalam keadaan sedang dan yang rusak 20%, sisanya rusak parah. Hal ini membuktikan bahwa jalan di Indonesia dipandang tidak layak.  Dalam hal pembangkit tenaga listrik tahun 2011, rasio elektrifikasi di Indonesia baru 72,95%, jauh tertinggal dibandingkan Singapura dengan rasio elektrifikasi 100%, sedangkan Malaysia dan Brunei sekitar 80%. Harga listrik produksi PLN juga tergolong mahal karena masih menggunakan BBM dan batubara yang harganya terus meningkat. n

    Di samping itu, kualitas dan kapabilitas SDM di Indonesia masih dibawah sebagian negara ASEAN. Meskipun seperti yang penulis paparkan diatas, indeks pertumbuhan usia penduduk yang produktif relatif tinggi tidak mampu menjadi sumber kekuatan ekonomi mandiri kita. Karena Indonesia memiliki 450.000 wirausaha atau 0,18% dari total populasi, masih sangat jauh di bawah angka ideal. Perlu ekosistem yang kondusif untuk mendorong kewirausahaan yang melibatkan berbagai pihak. Seperti pemerintah sendiri untuk membangun infrastruktur agar lebih baik lagi, mengembangkan regulasi pendukung dan menyederhanakan proses perijinan. Dari Universitas misalnya bisa  Memodifikasi metode & kurikulum pengajaran untuk mendorong kewirausahaan dan mengembangkan lingkungan yang kondusif bagi siswa dan wirausaha untuk berinteraksi.
    Dengan cara-cara inilah, kesiapan Indonesia dalam menyambut era baru Asia yaitu masyarakat ekonomi ASEAN dapat dimaksimalkan oleh banyak pihak demi tercapainya suksesi bahwa Indonesia harus menjadi pemenang dalam era baru ini. Semoga…

    Endnotes:
    Abdul Rahman, Peluang dan Tantangan Indonesia dalam Mendorong ASEAN dalam sebagai Kekuatan Baru Asia, disampaikan dalam PATA Hub City Forum: Yogyakarta 11 Oktober 2013


    Continue Reading
    nabila chafa:


    The 7 Laws of  Happinnes
     Ringkasan :
               
                Banyak orang yang meracunkan kebahagiaan dengan kesenangan. Kesenangan bisa dicapai dari hal-hal yang bersifat fisik. Ini menghasilkan kepuasan, tetapi kepuasan yang dihasilkannya tidak akan bertahan lama. Kebahagiaan dan Kesenangan adalah dua jalan yang membentang dengan arah yang berlawanan. Dengan demikian, ketika memilih jalan kesenangan, kita sebenarnya sedang berjalanan menjauhi jalan kebahagiaan. Sebagai manusia, kita memang lebih mudah terjebak ke dalam jalan kesenangan ketimbang menyusuri jalan kebahagiaan.
                 Jalan kebaikan senantiasa berakhir pada kebahagiaan sementara jalan kesenangan sering berakhir pada kesengsaraan. Sukses berarti mendapatkan apa yang Anda inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang anda dapatkan. Sukses ukurannya adalah kuantitas. Ukuran kebahagiaan adalah kualitas. Kebahagiaan tidak mengacu pada pencapaian, tetapi pada proses.
                            Menjadi Bahagia…
                            Kita tidak membutuhkan apa-apa.
                            Kita hanya membutuhkan diri kita sendiri.
                            Untuk menjadi Bahagia…
                            Anda tidak perlu membuat target-target.
    Anda tidak perlu mengejar apa pun.
    Menerima keberadaan Anda apa adanya,
    Bersatu dalam kepasrahan dan dalam kekinian.
    Pikiran adalah kunci utama perubahan. Seluruh diri kita adalah hasil dari yang telah kita pikirkan. Jadi, apa yang terjadi pada diri kita sekarang ini adalah hasil dari pikiran kita pada masa yang lalu. Apa yang akan terjadi pada kita di masa yang akan datang adalah hasil dari yang sedang kita pikirkan sekarang.
    Prinsip-prinsip Pikiran :
    1.      Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan memilih pikiran.
    2.      Kita tidak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung, tetapi dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran.
    3.      Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apa pun, kita selalu memasukkan makanan ke pikiran kita.
    4.      Kita hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu.
    Tak mungkin mengerjakan beberapa hla sekaligus. Kita melakukannya secara bergantian, bergantung pada stimulasi yang paling menarik perhatian saat itu.
    5.      Pada saat kepala terinfeksi pikiran negatif, anda dapat membuangnya saat itu juga.
    6.      Kemampuan mengubah pemikiran adalah seperti otot; dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh.
    7.      Pikiran tidak dapat membedakan mana kejadian yang telah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi. Begitu memikirkan kejadian yang Anda alami walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-olah kejadian tersebut baru saja terjadi.
    The 7 Laws of Happiness atau Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia adalah Tiga rahasia yang pertama berkaitan dengan hubungan kita dengan diri kita sendiri. Tiga rahasia kedua berkaitan dengan hubungan antara kita dan orang lain. Satu rahasia yang terakhir berkaitan dengan hubungan antara kita dan Tuhan.
    Rahasia 1: Sabar (Patience)
    Sabar adalah dasar dari segala hukum yang lain. Tanpa sabar, tak mungkin pula kita bisa menemukan kesederhanaan dalam setiap masalah yang kita hadapi. Tanpa sabar, kita tidak akan pernah mencapai kepasrahan.
    Sabar adalah kunci dari segala kunci, sumber dari segala sumber kebahagiaan. Bagi orang sabar, tak ada kata tak bisa. Tak ada kata tak mungkin untuk dilakukan. Keberhasilan hanyalah masalah waktu. Hanya orang yang sabar yang akan mendapatkan keinginannya.
    Rahasia 2: Syukur (Garatefulness)
    Bersyukur adalah sebuah proses berhenti sebentar di setiap momen dan menikmati momen tersebut. Kombinasi sabar dan syukur akan menghasilkan kebahagiaan yang luar biasa. Bersyukur tidak ditentukan oleh sesuatu yang kita dapatkan (factor eksternal) tetapi lebih pada kondisi internal. Rasa syukur juga akan sangat ditentukan oleh karakteristik diri Anda sendiri. Rasa syukur juga bergantung pada seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
    Semakin besar rasa syukur kita, semakin besar pula kenikmatan yang kita peroleh. Keberhasilan adalah mendapatkan yang kau inginkan, kebahagiaan adalah menginginkan yang kau dapat. Jika tak mampu bersyukur atas apa yang kau peroleh, bersyukurlah karena hal yang tak kau dapat.
    Ada 3 musuh Kedamaian Pribadi :
    1.      Penyesalan akan kesalahan kemarin.
    2.      Kecemasan akan masalah besok.
    3.      Tidak adanya rasa syukur untuk hari ini.
    Rahasia 3: Sederhana (Simplicity)
    Simplicity atau membuat jadi sederhana adalah kemampuan kita melihat hakikat. Yang terjadi di dunia ini sangatlah sederhana, tetapi kita sering melihatnya dengan sangat rumit. Masalah terlihat rumit karena kita kehilangan perspektif. Kita tidak dapat melihat masalah sebagai mana adanya. Kita melihat masalah dari tempat dimana kita berada. Tempat ini sangat terbatas dan inilah yang membuat kita tidak dapat menemukan esensi persoalan yang sebenarnya. Solusinya sangat sederhana saja, kita “keluar dari kotak” dan memandang masalah tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
    Rahasia 4: Kasih (Love)
    Bagi orang-orang yang mencintai, cinta itu sendiri telah menjadi sebuah kebahagian dan kemengan sejati, apalagi bagi orang yang di cintai. Cinta yang di bicarakan di The 7 Laws of Happiness adalah cinta yang universal, bukan cinta birahi. Inilah cinta yang paling mendasar, cinta yang paling universal, cinta yang bersifat melepaskan, dan cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Cinta yang dimaksud adalah sebuah cinta yang jauh lebih fundamental dan universal. Sedangkan cinta birahi diwarnai dengan oleh gairah, hasrat, serta keinginan untuk memiliki dan menguasai. Cinta birahi terkait dengan membutuhkan segala sesuai dengan harapan kita. Karena cinta ini bersifat transaksional.
    Cinta universal adalah cinta yang kita berikan dengan cuma-cuma. Orang yang kita cintai itu bisa saja tidak menguntungkan kita, mengecewakan kita, tidak memenuhi harapan kita, tetapi kita tidak berhenti mengasihinya. Inilah cinta yang murni, yang tidak didasarkan pada kalkulasi untung rugi, tetapi bersifat Transformasional dan Mencerahkan. Cinta yang dimaksud lebih didorong oleh keinginan manusia untuk meraih kebahagiaan, yang intinya adalah kerinduan akan kesatuan, untuk mengatasi perasaan terpisah kita.
    Rahasia 5: Memberi (Giving)
    Manifestasi kasih selalu dalam tindakan memberi, apapun bentuk pemberiannya. Kasih adalah paradigma, sementara memberi adalah perilakunya. Dengan melihat factor ini, kita dapat mengelompokkan perilaku manusia ke dalam 4 tipe :
    1.      Orang yang mengasihi tetapi tidak memberi.
    2.      Orang yang mengasihi dan mewujudkan kasih itu dalam bentuk tindakan memberi.
    3.      Orang yang memberi tetapi pemberiaan tersebut bukanlah didasari oleh kasih.
    4.      Orang-orang yang tidak mengasihi dan juga tidak memberi.
    Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan keyakinan. Kebajikan dalam pikiran menghasilkan kedalaman. Kebajikan dalam memberi menghasilkan rasa kasih.
    Rahasia 6: Memaafkan (Forgiving)
    Memaafkan adalah melepaskan masa lalu. Memaafkan berarti tidak memberikan tempat bagi masa lalu merusak kesempatan kita untuk berbahagia dimasa sekarang. Memaafkan sangat diperlukan karena hanya dengan memaafkan kita dapat menutup masa lalu yang kelam dan menyongsong masa kini yang begitu indah dan begitu penuh. Orang yang tidak dapat memaafkan pastilah tidak dapat menikmati masa kini dan menyongsong masa depan.
    Salah satu cara yang efektif untuk memaafkan orang lain adalah berusaha memahami orang tersebut. Memahami dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, Memahami ketidaksempurnaan.  Perlu pemahaman bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan bahwa sesungguhnya kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Kedua, memahami orang lain dengan cara menempatkan diri kita diposisi orang tersebut. Kita senantiasa berusaha menempatkan diri kita diposisi orang lain, tetapi kenyataannya tidak bisa melepaskan posisi kita sekarang.
    Kekesalan memberimu keberhasilan. Jadilah orang yang pertama kali memaafkan; senantiasa memaafkan dirimu lebih dulu.
    Rahasia 7: Pasrah (Surrender)
    Pasrah adalah kata kunci dari semua perjalanan kita. Pasrah adalah kata pamungkas yang akan menyadarkan kita bahwa segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada diatas segala kekuatan. Memasrahkan diri secara total kepada Tuhan dapat kita yakini sepenuhnya bahwa Tuhan dapat dipercaya.
    Tingkat 1: Menyakini bahwa Tuhan itu ada.
    Tingkat 2: Percaya bahwa Ia senantiasa melindungi.
    Tingkat 3: Percaya bahwa Ia Maha Mengetahui segala sesuatu.
    Tingkat 4: Percaya bahwa Ia senantiasa memilihkan yang terbaik untuk kita.
    Pasrah barulah dapat dilakukan setelah Anda lakukan kerja keras. Dengan kerja keras dan kemudian memohon pertolongan Tuhan, Anda sebenarnya sedang memohon peluang Tuhan untuk bekerja.

    Menyerahkan semuanya kepada Tuhan akan membuat kita pasrah, tenang dan relaks. Hal ini akan sangat sulit dilakukan apabila kita tidak percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Kepercayaan seperti ini, adalah bentuk kepercayaan tertinggi karena kita tidak sekedar percaya bahwa Ia ada, tetapi kita benar-benar menyerahkan segala diri kita sepenuhnya dalam kehendak-Nya.
    Continue Reading
    nabila chafa:



    Mereka berbicara tentang Money politic, saya juga~


    Oleh: Nabila Nurul Chasanati

    Berbicara mengenai politik uang (money politic) tidak dapat dipisahkan dengan penyelenggara pemilihan umum, yang merupakan salah satu agenda lima tahunan untuk memilih dewan atau pemerintahan. Kita seharusnya menyadari bahwa elite yang melakukan politik uang ini juga didukung oleh keberadaan masyarakat yang seolah ‘meminta jatah’ menjelang pemilu.

    Walaupun, ada sebuah headline tertera jelas di Harian Kompas, 16 April 2014  yang mengatakan politik uang dimulai dari elite. Masyarakat awam pun juga dapat menilai bahwa hal tersebut lumrah terjadi jika elite yang melakukan. Toh, memang benar mereka menginginkan agar dia menang menjadi dewan dengan cara tersebut. Kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kepada masyarakat luas, walaupun mereka seolah tergagap dalam membicarakannya. Inisiatif Caleg dianggap sebagai salah satu penyebab maraknya politik uang pada pemilihan. 

    Kita seharusnya sadar akan masalah kekinian yang menghantam pondasi demokrasi Negara kita. Kita harus membayar mahal akan tegaknya sistem Negara kita. Bukan selayaknya kita harus memandang masalah ini dengan netral –biasa saja—akan sebuah pelanggaran yang berusaha merobohkan pondasi negeri ini. 

    Negara ini memang membutuhkan seorang dewan yang baik, pemerintahan yang baik yang bersistem, dan pemilihan umum yang merupakan agenda lima tahunan itu memberi kita sebuah ruang untuk merefleksikan kondisi bangsa ini setelah masa pemerintahan yang berlangsung itu berakhir. Kita dapat mengoreksi bagaimana kelemahan dari pemerintahan yang berlangsung sebelumnya untuk memberi sebuah nilai untuk menjadikan pemerintahan selanjutnya lebih baik. Anies Baswedan berpendapat bahwa keengganan dan skeptisisme sering dilandasi dengan pandangan bahwa toh, orang baik juga tersangkut korupsi. Maka dapat dianalogikan sama dengan sepatu kotor. Jika sudah seringnya kita pakai, kita juga sering membersihkannya. Pemilu merupakan ajang untuk bersih-bersih sepatu kotor itu. Bukan sebuah ajang yang mengatasnamakan pesta demokrasi tetapi nol dalam penindakan. Maka tak sewajarnya kita tidak mencederai pesta demokrasi untuk memilih pemimpin dan dewan terbaik di negeri ini dengan sikap bahwa uang bisa membeli segalanya. Ya, uang memang dapat membeli segalanya termasuk orang yang berpartisipasi dalam pesta demokrasi ini lalu memintanya untuk bertindak seperti apa yang dia inginkan. Tetapi hal itu juga harus dibayar mahal akan pencapaian yang akan dilaksanakan. Jika dewan atau pemerintah kita yang menjalankan itu buruk, salah siapa dulu yang memintanya untuk menjadi dewan atau bahkan masuk dalam pemerintahan itu. Katakan pada diri anda, itu kesalahan anda yang memilihnya dan memenangkannya.

    Ambil uangnya jangan pilih orangnya!

    Kita sadar bahwa sebenarnya Indonesia masih belum mampu menempatkan demokrasi ini menjadi lebih baik. Politik uang merupakan budaya, tradisi yang entah diturun temurunkan hingga mengakar sampai detik ini. Ini menjadi sebuah dilemma tersendiri. Dimana lingkaran setan yang tidak bisa diputus akibat dari kesadaran diri kita yang rendah. Toh, nantinya elite akan mencari cara untuk ‘balik modal’ dengan mengkorupsi uang rakyat. Alih-alih pasti akan mendapat keuntungan dengan transaksi dari korupsi yang mereka lakukan. Tapi walaupun intrik-intrik terjadinya pelanggaran akan terus terjadi dan menggoyahkan asas demokrasi, setidaknya kita dapat pelajaran. Bukankah sejarah adalah tempat orang belajar masa lalu dan memproyeksikan kasus kekinian menjadi suatu media pembelajaran mengambil hikmah yang ada. Jadi, walaupun tantangan Indonesia masih belum bisa menjalankan demokrasi ini secara baik akibat maraknya politik uang yang beredar, membuat kita sadar bahwa kepemimpinan yang baik itu tidak dapat dilihat dari menangnya para pimpinan elite kita yang memenangkan pemilu dengan politik uang, tetapi sebuah kesadaran pada diri kita akan pemerintahan kita sendiri dan turut serta dalam pembangunan. Kita bagian terkecil dalam sistem, bukan mereka –walaupun mereka punya kekuasaan—setidaknya kita maju dengan diri kita.

    Kemudian putus lingkaran setan yang ada!!~~
     
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top