Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini

    Sebuah perjalanan panjang yang aku benci adalah menggunakan bus. Ah, bau mesinnya menyeruak dan selalu membuatku mual. Rasanya ingin menyumpal itu mesin mesin dengan karung, andaikan bus itu bisa berjalan tanpa mesin, sudah kulakukan jauh-jauh hari. Langkahku terasa berat untuk melangkah menuju bus. Temanku Nadia dan Azizah--aku tidak tau kenapa kedua teman SD-ku bisa menjadi teman seperjalanan jauhku--sibuk dengan aneka ragam tas. Barang bawaan mereka cukup banyak hingga menghabisi tempat. Lagi-lagi aku juga tidak mengerti perjalanan yang seharusnya memakan waktu semalam bisa menggunakan bus rukun sayur. Halo? Apa kabar dengan revitalisasi transportasi umum. Hoak. Aku tidak percaya bisa hidup semalaman ditemani bau mesin. Ini perjalanan gratisku. Lagi! Yang namanya perjalanan gratis aku zdddtidak boleh banyak bacot. Cukup tenang. Dan kalaupun harus muntah, muntahlah. Diwadahi alas besi cukup menyeruak bau kerumunan. Biar aku tidak jadi pergi. Ayahku orang yang cukup peduli dengan kesehatanku selama perjalanan, beliau pasti mau untuk menjemputku di tengah jalan. Jika bus sudah terkena muntahku, untuk melindungi seluruh penumpang pasti sopir bus dengan siap sedia menurunkanku di jalan manapun. Persetan dengan agenda wajib!

     

    Nadia memberikanku cukup ruang. Dia memilihkan tempat dekat dengan jendela. Dan berada di sisi depan. Aku bisa dengan leluasa memandangi kaca. Memandangi setiap lekuk perjalanan panjangku. Tapi apa yang kulakukan. Aku bergumul dengan kesendirian dan tetap tenang. Aku tidak ingin kedua temanku merasa khawatir dengan kondisiku. Jelas. Sudah pasti pusing dan tiba-tiba suhu badan naik. Maklum. Kondisi ini selalu aku dapati saat akan melakukan perjalanan jauh. Apalagi dengan menggunakan bus. Demamku langsung naik tinggi.

     

    Sebelum aku sempat tertidur, kulihat sawah sawah hijau. Baru saja ditanam. Meski bulir bulir padi masih tumbuh. Sebelah sawah,  ada lapangan tak cukup luas. Tapi mampu membuat penduduk desa memanfaatkan untuk ajang pertandingan voli. Bermain dengan anak tetangga saat usia senja tak lama lagi. Pancaran matahari sudah terlihat jarang. Karena awan mendung menggenangi membuat tua usia. Seperti wajah Nenek Wardoyo. Melihat pemandangan jalan pun tidak cukup bagus view-nya. Aku hanya melirik sinis pada dunia. Sopir di sampingku terlihat fokus dengan jalanan. Cuaca mendung seperti ini saja ia tak cukup mampu dengan melihat jalan tanpa kaca mata. Mencolok sekali dengan celana jeans longgar kaos polo merah dan topi. Tak lupa kaca mata hitam. Untuk ukuran sopir bus rukun sayur ia terlihat modis. Harusnya ia dipekerjakan di bagian bus jarak jauh yang bagus. Bus yang ber-ac. Bus dengan fasilitas lengkap seperti televisi dan sound yang cocok untuk berkaraoke. Bus yang tak ketinggalan dengan fasilitas wifi. Itu harusnya. Faktanya tidak demikian.

     

    Lalu ketika matahari merangkak turun bumi, awan pecah di ufuk timur, tergambar jelas melalui siluet putih deras. Hingga membuat jarak pandang perjalanan semakin meringkuk sendu. Jalanan belum basah. Bus yang kutumpangi jalan cepat menghindar dari peluru air di langit yang siap menghujam. Menusuki bus kami. Lagi- lagi aku merasa mual. Hatiku seolah dibuat tentram dengan ulah pasukan langit yang tidak menyerah mengajar keberadaan kami yang menjauh ke arah utara. Deru bus yang semakin lama semakin berjalan cepat. Sesekali harus ngerem dadakan. Ah, kepalaku.

     

    Nuansa sore dikejar kejar oleh pasukan langit, harusnya aku keluar dari bus sambil menggegam erat payung, berjalan menyusuri petang atau menembus waktu dengan sepeda motor. Mengantri membeli martabak. Di sisi jalan, banyak aneka warung. Dan roti bakar. Mie ayam dan bakso. Tinggal pilih salah satunya. Memikirkannya saja membuatku merasa hangat. Selip dingin bisa membentuk hegemoni keromantisan. Ditemani bau tanah yang menusuk wangi. Harusnya lagi ditemani belahan hati. Duh, hatiku.

     

    Hei, bagaimana kabarmu? Terakhir bertemu saat kamu menemaniku di Langenharjo. Pesanggrahan milik Pakubuwana. Senja di Bulan Suci Ramadhan. Sekembali dari sana, kita buka puasa bersama. Momen itu hanya sekelumit saja. Karena itulah aku merindumu. Tapi, kamu sudah mendapatkan ganti perempuan. Katanya mahasiswi pendidikan. Wah, calon guru. Pasti sabar. Pasti penyayang. Cocok untuk dijadikan istri. Tidak sepertiku. Pemberontak dan keras kepala. Lagi-lagi aku memang tak sebanding dengan perempuanmu.

     

    Udara semakin dingin. Ac alami memasuki ruang di bus reyot ini. Lalu gerimis. Bus ini pun menyerah pada keputusan bahwa dia memang kalah. Angin yang membawa butir peluru airnya sedikit demi sedikit masuk. Lewat jendela kaca. Sampai sampai membuat embun. Hingga sesekali jatuh di tanganku. Petir tak kalah meramaikan dengan gemanya yang mengagetkan penduduk bumi. Aku melek. Aku sadar. Nuansa romantis tak akan aku dapati. Hanya sebuah khayalan. Gerimis ini membangunkanku dari pikiran panjang tentang kamu. Langit tiba tiba saja gelap. Habis energinya. Menyimpan kembali untuk esok hari.

     

    Bus masih melaju. Meninggalkan kenangan yang tiba tiba hadir tanpa perintah. Tidak cukup satu. Sebelum tidur, aku bermimpi. Tentang kamu. Lagi. Masih dalam hitungan menit. Tentang kamu yang pernah menyambutku dengan senyum lebar. Saat akan memasuki ruang kuliah. Menyapaku. Dan memintaku untuk mewakili angkatan untuk pertandingan futsal. Oh, tentu aku menyanggupi. Lalu aku meringis. Kaku. Entah kenapa, hatiku menjadi semakin ringan. Karena memikirkanmu. Tapi selalu berat di akhir. Mungkin karena kamu sudah punya gandengan. Menyesakkan.

     

    |||

     

    Aku terkesiap. Nadia membangunkanku dari mimpi panjang. Rasanya ringan. Hatiku tak sekeruh kemarin. Sekembalinya ke alam nyata, ternyata aku masih di bus. Sesampai di masjid untuk menjama' sholat maghrib dan isya, aku langsung mapan tidur. Dalam tidurku, aku berharap kembali memimpikan kamu. Tapi, nyatanya Tuhan memberiku petunjuk tentang acara esok hari. Ya, esok hari itu adalah hari ini. Dan bus masih melaju. Entah sampai kapan akan tiba. Aku malas menanyakan. Hari masih petang. Jam di tangan menunjukkan pukul 3 pagi. Sebentar lagi subuh. Rasa sesal kembali mengguncangku. Harusnya aku tidak bangun. Kembali bangun sama artinya harus merasakan pusing dan mual. Suhu badanku bisa naik lagi. Padahal kemarin malam hujan sampai titik-titik airnya mengenaiku, aku dalam keadaan sehat wal afiat. Tidak untuk aku bangun.

     

    Kulirik jalanan. Berusaha untuk mengalihkan perhatianku dari rasa mual dan pusing. Kulihat plang besar di tengah jalan. Wow, sudah memasuki Bogor ternyata. Ah, macet. Padahal baru pukul 3 pagi. Wajar juga, karena bus ini melalui jalanan dekat Pasar tradisional. Ibu-ibu bangun pagi hanya untuk mendapatkan sayuran segar. Jalanan hanya diisi sebagian besar angkutan yang mengangkut hasil bumi untuk dijual. Aku berusaha mendinginkan perasaanku. Sebentar lagi sampai. Sebentar lagi.

     

    Nadia yang membangunkanku ternyata ingin punya teman melek. Duh, orang ini. Kalau bukan teman baikku, aku pasti berusaha untuk tidur lagi. Aku mendengarkan banyak sekali cerita darinya. Mulai urusan keluarga sampai hati. Aku hanya cukup mendengarkan. Karena dia cerita. Tak nyaman rasanya untuk menimpali. Buat apa  antusias. Karena ini masih terlalu pagi. Pagi-pagi cerita hanya aku balas deheman, anggukan atau ber-o ria. Maklum saja. Energiku aku simpan bila suatu waktu aku muntah. Bau mesin lagi-lagi menusuk hidung. Rasanya ingin ku minta Pak supir untuk menghentikan perjalanannya. Sudahlah. Cepat atau lambat perjalanan ini akan berakhir.

     

    Jika Nadia tidak menunjuk sebuah plang besar bertuliskan zona Madina, aku mungkin sudah akan bersiap untuk kembali tidur. Menjemput mimpi indah yang tertahan. "Setelah ini kita sampai."

     

    Kata 'setelah' tidak akan cepat aku percaya kalau bus yang membawaku ini putar balik di jalan dan menurunkan kami semuanya di pelataran jalan menuju zona Madina. Langkahku semakin ringan untuk melangkah. Walaupun harus berdesakkan ingin keluar dari ketidaknyamannya bus reyot ini. Kalau aku punya kuasa, aku ingin bus ini cepat di pensiunkan. Kasihan rakyat yang memakai.

     

    Waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih, rasanya seperti mimpi melewati perjalanan jarak jauh hanya dengan berbekal dua tas. Satu tas punggung dan satu tas yang khusus aku gunakan untuk menyimpan pakaian. Nadia dan Azizah membawa tiga tas. Satu tas tunggu dan dua diantaranya adalah tas cangking. Aku tidak tahu apa isi di dalamnya. Kalau berisi kosmetik apa sampai memakan tempat sedemikian besarnya.

     

    Aku bergegas segera mengambil air wudhu dan sholat subuh. Sebelum energi yang dihimpun matahari tersebar lagi di belahan bumi yang diterangi. Selepas sholat aku masih mengenakan mukena dan tergeletak di alas sajadah, melanjutkan tidur yang sungguh sungguh tidur. Efek tidur sambil duduk ditambah goyangan bus yang melaju sesekali ngerem dadakan, punya efek tersendiri di badanku. Dan aku benci itu. Punggungku seolah dicubit sampai memar semua. Setiap aku mencoba rilekskan, krekk-krekk sampai mau patah tulang-tulangku.

     

    |||

     

    Aku lupa kapan pastinya. Sampai-sampai aku sudah berbenah dengan baju rapi selepas bangun tidur di masjid. Aku mandi di toilet masjid. Tidak seperti kos-kosanku di jogja. Yang kamar mandinya pesingnya minta ampun. Ah, pilihan terbaik untuk hidup adalah pulang ke rumah. Semuanya serba rapi. Kalaupun kotor, aku tidak segan-segan untuk membersihkannya. Karena itu merupakan rumahku. Sebagian aku melalui masa hidup ya hanya di rumahku. Meskipun secara de facto merupakan rumah orang tuaku dan secara de jure merupakan rumah Nenek yang diwariskan untuk ibuku. Kalau mau bersih bersih kamar mandi kos itu rasanya ada yang ganjel. Karena semua kebersihan sudah ditangani oleh petugas kebersihan yang setiap pukul 8 pagi membersihkan lorong lorong kos dan menyapu daun mangga yang jatuh di pelataran rumah.

     

    Tak butuh waktu lama, kami peserta training digiring ke sebuah aula. Disana aku bertemu kembali dengan teman-temanku yang lain di berbagai Universitas. Rasanya seperti nostalgia. Karena terakhir kami bertemu saat temu Nasional di Bandung empat bulan yang lalu. Kami diperintah untuk membuat liukkan melingkar. Seperti ular-ularan. Seisi aula, penuh dengan jejeran ular-ularan yang kami bentuk. Tak tahu persis, di belakangku ada Irul, teman dari jogja. Dan dia laki-laki di deretanku. Depan dan belakang Irul perempuan. Pasti ada yang salah dengan formasi ini. Ah, turuti saja perintah trainer. Karena sesaknya, aula yang besar seolah tertutup dengan keberadaan kami yang berjejer membentuk formasi. Tubuhku ditopang oleh Irul dari belakang. Dan dia sudah bermacam-macam dengan tangannya. Lama sekali. Walau hanya sekedar mengusap-usap. Rasanya geli. Lalu enak. Sampai, seorang trainer perempuan dengan jilbab lebarnya memergoki kami. Ah, ini pasti gara-gara Irul.

     

    Kami berdua disuruh untuk maju ke depan. Tak ada kata depan. Seluruh ruang aula penuh dengan deretan formasi ular. Sampai kata 'depan' yang diminta adalah di tengah-tengah. Mukaku pucat. Kalau formasi ini dibentuk dengan sangat apik yang mengatur zona perempuan dan laki-laki mungkin tidak ada Irul di belakangku. Dia laki-laki diantara deret perempuan. Dan aku berada persis di depannya. Salah siapa ini? Salah siapa ruang aula penuh sesak? Kalau trainer yang baik tak akan menempatkan aula sebagai tempat untuk bermain ice breaking.

     

    Persis di tengah ruangan kami ditunjuk-tunjuk karena ulah kami. Mukaku, aku buat datar. Toh, menurutku aku tidak sepenuhnya salah. Aku membela diri dalam hati. Meskipun trainer perempuan dengan jilbab lebar itu selalu berbusa-busa mengeluarkan dalil agamanya, aku sepenuhnya sadar tetap tak kugubris. Masa iya, seorang Ariani yang selama hidupnya menjalani sistem single happy berbuat seperti itu. Ia sudah sangat takut dengan yang namanya dosa. Sejak kelas 2 SD saat temannya memamerkan rambut mereka, ia tutupi dengan jilbab. Seorang yang tidak agresif memperebutkan laki-laki yang disukainya sampai melepasnya pergi demi perempuan yang jurusan pendidikan itu berbuat hal yang seronok. Kalau dinalar, itu tidak mungkin. Ini pasti mimpi.

     

    Kulihat lelaki yang jurusan kedokteran yang menatapku dengan tajam. Wajahnya oriental dengan kulit coklat dan rambut berkarakter seperti landak. Sering nyigrak ke atas secara alami. Seorang yang aktif dengan lembaga dakwah kampus plus dia seorang Presiden Mahasiswa  BEM fakultas Kedokteran. Di dalam hunusan tatapannya aku merasa kotor. Adli, masih tak membiarkan aku kembali menatapnya karena malu. Ah, kalau aku bertemu dia sebelum bertemu kamu, aku pasti sudah jatuh di cintanya. Terpejam sebentar mataku. Aku berharap ini hanya sekedar mimpi. Tak berhasil.

     

    Sebuah deringan alarm pukul 05.15 berbunyi. Lagunya Reminds of you milik Byul menceritakan patah hatinya aku padamu. Karena mendapatkan perempuan yang bukan aku. Tepat! Aku bersyukur bisa keluar dari mimpi buruk. Mimpiku seolah ada celah cacatnya jika itu nyata. Bagaimana mungkin teman SD, Nadia dan Azizah bisa satu perjalanan denganku ke Bogor yang harusnya aku lakukan dengan teman aktifis kampus. Di dalam mimpiku pula, aku memimpikanmu. Kejaran peluru air masih melekat. Begitu nyata. Rasa mual. Rasa pusingku semuanya menyatu. Rasanya hatiku bergetar mengingatnya. Membayangkan kamu diantara lelaki yang ingin kucintai.


    Hanya kamu. Tetapi tercoreng dengan ditunjuknya aku di tengah-tengah deretan formasi ular sambil diceramahi panjang lebar bersama Irul. Tak kusangka orang yang bermasalah di mimpiku adalah orang yang tak terduga seperti Irul. Kalau bisa memilih, aku pasti memilih Adli. Cowok sholeh itu bagaimana jadinya jika bermain seronok denganku. Di tengah-tengah kerumunan. Ah, otak kotor memenuhi pikiranku. 


    Bergegas ke kamar mandi kos yang pesing. Kembali ke dunia yang benar-benar nyata. Jam 7 harus cepat-cepat ke kantor. Menekuri dunia. Sebelumnya aku cek di instagramnya. Adli sudah update dengan foto bersama bersama mahasiswa baru yang mengikuti expo UKM. Detik itu, maaf. Aku melupakanmu.

    |||

    menemukan cerita ini di file laptop

    2016 lalu

    Continue Reading


    Senja Hari Ini

    Sayang, ketika daun bergesekkan dan berjatuhan, aku membayangkanmu. 

    Mungkin, daun jatuh itu sudah suratan takdir membawa memori terbaik kita. Bisa kita simpan sejenak saja menunggu senja sebentar lagi turun

    *

    Hari Pertama Masuk Sekolah, Juni 2010


    Bel masuk sekolah berdenting. Bapak penjaga sekolah yang berkumis tebal itu menjalankan tugasnya. Selepas upacara bendera, semuanya nampak ogah-ogahan. Sama sepertiku. 

    Hari ini pertama kalinya menginjakkan kaki di sekolah menengah atas. Biasanya setelah upacara dan sambutan awal kepala sekolah dan pihak guru, akan ada perkenalan. Atau biasa dikenal MOS, ajang perundungan itu datang.

    Upacara membosankan telah selesai. Dilanjutkan dengan materi yang akan diberikan guru. Sebelum itu, anak-anak baru kelas 10 diberi 'pelajaran' oleh kakak kelas. Kata teman sepantaran, kakak kelas yang bakal memberi 'pelajaran' berasal dari pasukan inti. Sebuah organisasi tersendiri yang aku tidak tahu persis apa manfaat mereka. 

    Mendapatkan selebaran mengenai sekolah, guru, dan sampai seluk beluk keorganisasian sekolah sudah ada di buku yang aku dapat di hari sebelumnya. Hari dimana aku membayar untuk sejumlah biaya sekolah, seragam, dan lain sebagainya. Jadi setidaknya sebelum aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di sekolah, aku sudah mempelajarinya.

    Meski sudah diberi seragam, anak baru tetap memakai seragam dari SMP asal. Tak lupa juga beberapa hal yang diwajibkan untuk dibawa. Sebuah celah untuk melakukan perundungan, persis seperti kisah klasik novel teenlit. 

    Anak-anak Pasukan Inti masuk ke kelas kami satu per satu. Mereka langsung teriak-teriak tidak jelas. Kemudian menggledah apa-apa saja yang menjadi kesalahan kami anak-anak baru. Untungnya aku berada di meja paling depan. Masih sedikit diberi nyawa tambahan gara-gara bakal lama untuk memeriksa. Apesnya, kamu yang langsung datang. 

    Muncullah kamu. Perawakannya tinggi besar menjulang. Perawakan bak seperti militer. Rambutnya cepak. Sudah nampak cocok menyandang status sebagai prajurit. Hanya saja tatapannya tidak tegas, begitu sayu. Ada tahi lalat di sebelah pipi kirinya. Begitu nampak gara-gara kulitmu bersih.

    Matamu langsung mengarah ke meja paling depan. Memeriksa teman sebangkuku kemudian aku. Ada kesalahan yang aku lakukan. Pensil faber castel milikku belum teraut. Sementara temanku sudah. Dengan nada bentakkan memekakkan telinga, kamu menyuruhku maju ke depan. 

    Bersanding dengan anak-anak pembuat kesalahan lainnya. 

    Setelah waktu 'geledah-menggledah' usai. Kamu adalah satu-satunya anak Pasukan Inti yang paling menyebalkan. Aku sudah memberikan cap itu ketika kamu langsung dengan mata sinisnya menatapku. Mondar-mandir meneriakkan kesalahan kami. Bahwa kami sebagai anak baru di sekolah 'bagus' ini harus disiplin, bla-bla-bla. Semuanya konyol dan hanya aku telan mentah-mentah tanpa tercerna masuk otakku.

    Kemudian, si 'anak-anak tidak disiplin' kamu bawa ke lapangan basket belakang sekolah. Kamu dan gerombolanmu meneriaki kami lagi lebih lantang. Lebih keras. Lebih mengerikan. Mukamu masih terekam jelas dalam memori betapa menyebalkannya kamu saat itu. 

    *

    Oktober, 2016


    Kurang kerjaan banget kadang aku. Organisasi seabrek ingin didatangi rapat, belum lagi tugas kuliah, masih bikin proposal bisnis. Aku didorong teman baikku untuk mengikuti pendanaan kewirausahaan yang dibiayai dari kampus. Kita tinggal bikin proposal kewirausahaan. Nanti setelah dibikin, dipresentasikan bersama prototipe bisnisnya, kemudian kalau lolos bakal didanai. 

    Perasaan kalau menyangkut bisnis berbisnis memang aku tidak pernah ahli. Ah, biarlah. Daripada tidak dicoba. Lagian mau kapan, ajang ini hanya diselenggarakan setahun sekali. Tidak selalu ada. 

    Pagi hari yang dinanti untuk presentasi bisnis datang. Aku sudah siap bersama dengan puluhan anak yang mengikuti ajang yang sama. Kita berkumpul di jalan masuk menuju aula. Saling berdesak-desakkan memperebutkan kursi yang sudah disediakan di dalam aula. Hal pertama yang kita lakukan adalah mengikuti pembekalan terlebih dahulu.

    Lelaki yang wajahnya menyeramkan dan terpatri jelas dalam memori itu mendadak datang. Memakai kaos polo berwarna merah bata. Memakai jeans dan menyangklong tas ransel hitam. Dari kejauhan datang sendirian. Lelaki itu memang datang terlambat. Harus menduduki bangku di deret depan. 

    Kamu memang tidak mengingatku. Mungkin gadis polos yang kamu teriaki ketika masuk SMA itu tidak memiliki sejarah yang layak masuk dalam memorimu.

    Tapi ingatan wajah menyebalkanmu mendadak masuk. Menyeruak. Mengobrak-abrik bahwa hari ini aku tidak menaruh minat apapun pada apa yang aku lakukan. Persetan dengan proposal bisnis yang sebentar lagi aku presentasikan.

    *

    Kemarin,

    Sial!

    Tuhan menciptakan miliaran manusia, kenapa harus kamu sih.

    *

    Senja Hari Ini

    Ketika SMA, aku terkadang menghabiskan waktu mengikuti pertandingan basket. Kamu dan tim kamu bertanding. Perawakan tinggi bak militer itu pasti cocok jadi pemain basket hebat. Beberapa kali kamu dan tim basket sekolah sering mewakili kota. Bertanding di kejuaraan provinsi. 

    Kulit cerahmu tak menjadi hal yang menakutkan jika berhadapan dengan matahari. Ketika aku harus pulang sore demi mengikuti ekskul di sekolah, lebih sering mendapati kamu bermain basket sendirian.  Rasa-rasanya aku ingin duduk di pinggir untuk menamanimu. Di bawah guyuran hujan, di bawah sengatan matahari sore, di kondisi apapun. 

    Meski terkadang berdua, meski terkadang sendirian, atau ketika kamu duduk sendirian di bawah ring untuk beristirahat karena kelelahan main basket. Tak perlu kamu tahu, ketika itu pula aku sering mengamatimu. Dari jauh. Dari tempat motorku terparkir. Alih-alih alasan parkir motorku hanya sebuah pengalih kondisi. Atau aku sering mendapatimu bersama gerombolan sahabatmu di kantin. Tawa selepas-lepasnya yang diikuti dengan senyum dari matamu. 

    Hei, bisakah kita mencoba untuk saling menyapa dari awal. Sebelum berakhir pada takdir yang memuakkan ini. Takdir yang saling memisahkan. 

    Kemudian memori berharap kembali dari awal. Ah, nampaknya sudah susah membuat kisah cantik dengan takdir yang sempurna. Termasuk kehadiran senyum hangatmu dan wajah memuakkan itu datang bersamaan.

    Padahal kita bisa saling memandang langit senja yang sama. Lalu kamu bisa bebas bermain basket dan hanya aku yang menjadi penonton satu-satunya. Tentu saja, keahlian bermain basketmu itu yang sangat menghibur. Selain temperamen marah-marahmu yang tidak jelas ketika mengospekku dulu.

    ***

    10.48
    Kamis, 11.2.2021
    Mari Kita Lihat Sendunya Langit Sembari Kamu Bermain Basket

    Continue Reading

    Kuah soto ada yang bening, seperti sup. Bukan, lebih cocok orang menamainya timlo. Ada bihun di atasnya, bertabur potongan wortel, dan irisan kentang goreng. Cocok menemani pagi kita yang terkena hujan.

    Hei, dalam keheningan aku menyeruput soto hangat ini, tiba tiba aku kepikiran kamu. Tepat ketika arah pandang mataku tertuju pada tempat sambal berada. Yang aku ingat dari kamu adalah selera makan yang tidak menyukai hal yang pedas. Padahal pedas adalah nikmat loh. Surga di dunia ini ada banyak. Salah satunya adalah pedasnya cabai. 

    Satu suapan soto yang gurih ini aku tiba-tiba teringat dengan semangkuk bakso yang kaya akan gurih msg. Micin adalah sumber kekuatan untuk menghadapi hari. Yah, setidaknya setiap hari selalu berarti hal yang payah. 

    Kemudian aku kecap gurihnya sesendok nasi dan kuah soto selanjutnya. 

    Mendadak aku teringat pada pohon rambutan di depan rumah kos itu. Teringat kamu yang tidak punya kerjaan selain mengambil rambutan itu untukku. Jujur, ada banyak orang yang mampir ke kos kamu waktu itu. Tidak hanya aku. Tapi jika kamu memetikkannya untukku, bisakah aku punya rasa kepercayaan diri berharap sedikit pada rasamu?

    Soto yang terhidang di depanku lambat laun berubah menjadi pedas. Perpaduan antara rasa sambal dan panasnya kuah soto. Ah, tiba-tiba aku berpikir soal rasa sakit hatiku. Iya. Bukan sesuatu hal yang baru jika kamu dan deretan penggemarmu adalah sekelompok orang yang paling aku benci keberadaannya. Mereka hanya membuatku semakin panas.

    Duhai hati, kenapa bisa sesakit ini? Argh

    Kuseruput teh panas untuk meredakan porak-poranda pikiranku ketika berpikir tentangmu.

    Ketika ada tempe mendoan panas terhidang di atas meja makan. Warung ini kupikir-pikir terlalu pagi membuka jualannya. Di warung tak kudapati pelanggan lain selain aku. Beberapa menit yang lalu ada dua bapak-bapak tua yang mengambil meja paling depan. Tapi sudah tak ada lagi. Aku terlalu lama larut dalam menikmati soto pagi dan pikiran berlebihan ini.

    Kupandangi bakwan di meja makan bersama dengan tempe mendoan. Aku tetiba teringat soal obrolan denganmu mengenai program sosial. Kamu terlalu bersemangat menceritakan padaku kala itu. Pun, padatnya aktivitasmu tak membuat kamu lupa untuk meluangkan waktu untuk anak-anakmu. 

    Kamu sudah terlalu tua jika menghabiskan waktu sendirian saja. Sebetulnya aku ingin menawarkan diri jadi pendampingmu. Ah, cukup di mimpi aja dulu. Terlalu nafsu jika berharap jadi nyata. Pun, sejelasnya memang susah untuk jadi nyata. 

    Sudah sendok keberapa ini, mangkuk sotoku sudah tinggal setengah. Kupandangi ibu yang sudah berusia tetapi masih mengais rejeki dengan berjualan gorengan ini. Gorengan buatannya bahkan sudah nyemplung di mangkuk sotoku. Sudah sepuh tapi masih giat bekerja. Aku iri. Aku bekerja dari rumah saja, gaji UMR, plus banyak hari liburnya aja masih mengeluh. Soal ina-itu dan lain sebagainya. 

    Dari pintu depan warung soto ini, kulihat langit biru diarak oleh awan-awan. Hari ini cerah setelah semalaman hujan. Meninggalkan banyak embun kesejukan. Harusnya pagi ini teduh sendu tapi soto dan pikiran berlebihanku membuat semuanya menjadi sama saja. 

    Awan yang berjarak itu, apakah dia akan terbang mendatangimu di kota besar itu. Ataukah membawa ke pantai tempat kamu sering menghabiskan waktu untuk berlibur. Jika mampu, bisa tidak membawa pesanku. Argh, tapi aku yakin tak bisa tersampaikan. 

    Sendok terakhir sotoku sudah di depan mata. Teh panas masih mengepul panas. Meniup uap yang berarak meninggalkan tempat. Selesai sudah satu mangkuk soto genap beserta gorengannya. Apakah di lambung mereka akan tercerna dengan baik? Ah sudahlah, percaya saja sama sistem pencernaan dimana cara Tuhan untuk melunakkan soto dan gorengan itu menjadi energi berlebih.

    Lebihan energinya bisa kumanfaatkan untuk berpikir seperti saat ini aku memikirkanmu. Kuseruput teh panas yang berubah hangat. Sekali sesap. Menenggalamkan bau soto di Liang mulut. 

    "Abang ganteng yang di sana, masihkah kosong hatimu?"

    Ingin ku tanyakan pertanyaan super centil. Biar kamu mendadak ill feel. Aku kadang tidak mengerti dengan kamu yang begitu tidak menyukai perempuan genit kayak aku. 

    Sudah ah. Tinggal bayar. Bu Patmi yang jualan soto dan gorengan sudah menagih 8000-ku.

    (*)

    Minggu, 29 November 2020
    17:17

    Continue Reading

    Di setiap malam yang panjang, terhitung dari hilangnya mega kemerahan hingga terbitnya fajar, kedatangan dan perpisahan bahan perbincangan kita bukan? Kita yang selalu bertemu di tempat dan waktu yang sama. Semeja kursi dan segelas kopi yang serasa. Merindu jumpa ketika pagi dan senja mulai menua, sering kita bincagkan bersama dan selalu terulang. kegelisahan itu. Saat ia yang dapat melihat kita, hanya dapat mengharap dipertemukan, walau hanya sekelebat mata tak dapat memandangnya.

    Bagiku, fajar ialah penantian dan sore tak lain hanyalah sebuah pengharapan.  Menunggu, yang nantinya tak sanggup lebih lama dalam menunggu, menggerutu kepergian karna waktu yang hanya sebatas hujan, jatuh tanpa menyentuh akar, atau hanya mendung yang berbunga tanpa buah.

    Ya, berdua yakin itu tak akan terjadi. Hanya peranggapan-peranggaan yang menganggap kita itu, berbeda. Jika tahu kita sama,  kita memiliki perbedaan waktu, tempat dan cara berlabuh kita yang hanya sementara, lalu pulang. Tugas kita pun sedemikian, sudah tak lagi sama. Engkau adalah sebuah harapan bagi mereka, tempat berpikir dan merealisasikan aktivitas hidup yang hanya sementara dan akulah yang akan menjaga di setiap lelap mata terpejam, menciptakan mimpi dan imajinasi esok yang akan datang, dan melukis teka-teki bagi jiwa yang tiada sempurna.

    Di senja dan esok akan tiba, saat kita saling menanam harap untuk jumpa, dan di atas doa-doa. Kala itu juga kita akan berpisah.

    Kita dirindukan.

    ***

    18:41

    04/09/2020

    My Queen of Virgo's Birthday


    Menjamu Matahari Malam



    Continue Reading

    Sayang, ketika kamu terbangun dari mimpimu kamu akan menyadari. Langit tak pernah seindah kemarin-kemarin. Tapi aneh. Warnanya ungu pekat tetapi di ufuk barat berwarna jingga. Sesuatu yang menggantung di langit aku perkirakan akan jatuh ke tanah. Begitu menganggumkan lukisan Tuhan waktu itu. Ketika sore itu pula, aku menemukanmu bersandar di gapura. Membawa travel bag besar. Aku bertanya pada rasa penasaranku, gerangan kemana kamu akan pergi. Tanpa satu kata kalimat berpisah.

    Kamu pernah berkata bak seorang pujangga sastra bahwa sebelum kata hujan itu muncul, kesedihan mungkin hanya tentang langit yang berubah warna. Lewat jarak jauh yang memisahkan, aku tidak sedang baik-baik saja. Mencoba untuk tidak memikirkanmu. Pura-pura bahagia di tengah keramaian. Memasang wajah dengan senyum jika ada yang menyapa. Kemudian, perlahan mencoba untuk membuang bayang-bayangmu.

    Tetapi aku tidak bisa.

    Kemarin, kamu hadir membawa satu tumpuk buku tentang seri kepahlawanan, serial novel milik Pram bahkan sampai buku yang berjudul menggugat histeriografi. Dari semua buku itu, kamu menyimpulkan bahwa pemimpin tidak lahir, tetapi diasah. Kalimat yang sama aku temukan saat Peter Carey bercerita tentang asal mula Perang Jawa. Aku baru tahu, kamu menganggumi sosoknya.

    Sekarang, jalanan kosong berdebu terasa begitu panjang. Langit berubah menjadi kelabu. Menandakan kesepian langit yang ingin membuat bumi gaduh dengan gelegar petir. Melihat anak-anak kecil keluar dan kebasahan pada rintik hujan pertama. Pikiranku larut bersama kenangan. Ilusi itu bersatu membuat kelindan. Bisikan di bawah payung. Melihat jalan yang sama. Kamu pergi membawa semuanya.

    Sejenak, aku mengingat. Kenangan yang memudar di bawah guyuran hujan adalah tentangmu.

    **

    17:40

    27/08/2020

    sedang berpikir, aku baik-baik saja. Aku asumsikan semua orang juga sedang baik-baik saja dengan permasalahan hidupnya. Tapi mendadak malu, ketika semua orang menyimpan lukanya sendiri.

    Bermimpi dalam hujan



    Continue Reading

    Berjarak dengan batas. Alih-alih terlihat, semakin hari justru membuat kabur mata. Bersaing dengan semu apalagi mengejar yang tak terlihat. 

    Ketika semua orang memulai jalan yang sama, tidak mungkin semuanya akan selesai di waktu yang sama. Ketika kita bahkan mencoba lari tak mungkin sepadan dengan bagaimana Usain Bolt melakukan hal yang sama. 

    Mereka lulus sekolah terlebih dahulu. Lalu apa? Apakah aku harus ditekan untuk lulus juga? Di waktu yang bersamaan? Bagaimana jika aku memtuskan untuk menyerah di jalan? Kalau kamu peduli, bantu aku menyelesaikan agar aku bisa lulus seperti kebanyakan orang?

    Aku menyerah karena itu jalanku. Menyerah karena tidak ingin lulus sekolah, maksudku. 

    Tahukah? Hari ini, detik yang aku hembuskan, dengan upaya dan dayaku berdiri untuk tetap tegak, itu adalah hal yang terbaik yang bisa aku lakukan. Pun, dengan keputusan untuk menyerah sekalipun. 

    Man-eman, nanggung.

    Iya. Jika diakumulasi dengan waktu yang terbuang, dengan uang yang dihabiskan, dengan pikiran yang aku pikirkan, bisa jadi itu sebuah kesia-siaan. Benar, Tuhan tidak menyukai kesia-siaan. Aku memutuskan untuk menghentikan kesia-siaan itu bertahan lebih lama lagi. 

    Penting, aku sudah melakukan semampuku, sekuatku, tidak apa-apa untuk mengibarkan bendera putih di tengah jalan. Aku memang sudah terlihat lelah. Kini aku berjalan semampuku.

    Hei, hari ini aku berdiri dan masih tetap menjadi versi terbaikku. Selamat!

    **

    20:55

    20/08/2020

    Hari ini gajian, aku gak tau kenapa ada transferan masuk, Bukan di tanggal 25, aneh kan?
    Oh ya, Scova Notia selama seminggu terakhir ini. Aku gak tau begitu tergila-gila dengan lagu patah hati ini, hahaha.

    Buku Dan Brown - Origin di baca ketika hari libur datang!



    Continue Reading

    Nyanyikanlah senandungmu. Berharap nyala api yang membakar kayu itu hangus. Atau sampai pada matahari bangun dari tidurnya. Mengolet di batas ufuk. Beranikah kamu menari dengan sisa-sisa tenagamu. Hingga mendekat pada rasa puas di jiwamu. Aku bahagia bisa memotret semua yang menjadi lukisan semesta ini pada bola mataku.

    Kebahagiaanku ternyata bertepuk sebelah. Kamu sendiri di antara hingar bingar orang yang memuja akan penampilanmu. Meski kau sisihkan waktu untuk mendongengiku berpeluh-peluh keringat. Ketika semua orang merasa bahagia, sedangkan kamu tidak. Aku tahu persis dongeng yang sering kamu ceritakan itu. 

    Di buku tua yang menguning dan sampul yang berbau. Kau bercerita bahwa kamu sendirian. Tak ada lagi manusia yang memperhatikanmu. Tetapi sungguh harus aku mengakui, kamu aktor yang handal. Kamu seolah-olah peduli bahwa mereka memedulikanmu. Bibirmu manis madu ketika mengatakan bahwa kamu mencintaiku. Mencintai dunia sekelilingmu.

    Bukankah kamu kuat untuk melewatkan itu semua. Penderitaan yang kamu sembunyikan dan hanya terkuak melalui simbol-simbol tato tubuhmu. Kamu juga pernah mengakui bahwa cerita indah yang membuaiku itu hanya omong kosongmu saja. 

    Tolonglah, maafkan mereka. Hidup dengan sehidup-hidupnya. Jangan pernah merasa sendiri. Setidaknya kamu punya aku. Yah, meskipun aku marah kemarin malam. Membahas rencana kemana saja kita akan melewatkan pergantian tahun. Tapi kamu menyuruhku untuk menari di atas lonteng. Sedangkan kamu yang akan memetik gitar. Bergurau, sampai terbitnya mentari pertama di awal tahun. Dalam sepi kita memandang malam terakhir, akumu.

    Kemudian gurauan itu lenyap. Menghempaskan beban. Sebuah cerita tentang akhir indah perjalanan hidupmu. Tetapi tidak denganku. Kudapati kamu yang terbujur kaku. Kemarin adalah mimpi indah yang kuciptakan sendiri. Berharap ini hanya gurauan. Atau sekedar candaan di akhir tahun. Melalui sisa-sisa tangis yang mendera. Jika kamu ingin membuatku bersalah, memang benar sekarang aku bersalah. Berharap di lain dunia kamu memaafkanku. Memaafkan duniamu yang membuang orang sepertimu.

    **

    Untuk mereka yang mengakhiri hidupnya dengan cara mereka sendiri. Kemungkinan, atau besar kemungkinan kita menjadi penyebab nol koma sekian juta persen pemicunya.

    sebuah mini cerpen, lagi.

    10:58

    Kamis, 13/08/2020

    Maafkanlah aku dan duniamu

    Continue Reading


    Ada seorang gadis yang kalut. Setiap pertemuan pada malam, dia terbelenggu. Hantu-hantu yang bergentayangan mampu merasuki jiwanya. Bahkan ketika untuk menengok cermin dia menyembunyikan paras ayunya. Ketakutan besar membelenggu setiap nafasnya. Ia penasaran dengan apa yang dilakukan oleh manusia-manusia di luar sana yang begitu bahagia, Ketakutan itu mengintimidasinya begitu kuat. Untuk keluar dari celah saja ia terlalu banyak pertimbangan.

    Tepat ketika, dia melihat orang-orang silih berganti di jalanan kota, ia merasa sepi. Ketika dilihatnya manusia saling bertegur sapa, membuatnya iri. Saat mereka saling bertukar senyuman, hatinya diliputi dengki. Ada apa dengan gadis itu?

    Dimanakah aku mendapatkan yang didapatkan orang-orang kebanyakan?

    Pertanyaan itu yang selalu dia gaungkan. Menghentaknya seakan dia adalah orang yang penuh dosa. Kemudian silih berganti. Antara takut, tidak berdaya dan tidak mampu. Ia merasa tidak berhasil tentang usahanya.

    Bi-bisakah, kalian bantu gadis ini. Ia tidak percaya diri untuk meminta bantuan. Semua rasa itu, ia pendam. Hatinya seperti galian kuburan. Perasaannya itu menimbun keberadaannya tanpa banyak orang rasakan. Jika ada gadis yang tertawa lebar, dia sebenarnya ingin mengatakan, “aku ingin seperti dia.”

    Semua berubah ketika, bertemu sekelompok orang yang menyambutnya dengan tangan terbuka. Lalu disambung dengan tawa sumbang milik mereka. Ia yakin, dalam kelompok ini ia masih berpura-pura. Ia tidak merasa kelakuannya aneh. Jika dia diterima dengan kata normal, maka ia harus berperan.

     “Berpura-puralah pada dirimu di depan orang-orang.”

    Menjinakkan kebisingan. Menundukkan keterpaksaan.

    **

    06/08/2020

    "kutipan dalam buku 'Reuni'

    Bermain Peran

    Continue Reading
    Tuan, kemarin hamba berdialektika dengan beberapa sahabat. Hanya terhubung melalui panggilan telepon WhatsApp. Kami bertukar pesan hanya beberapa kali saja. Apalagi ini telepon pertama hamba bersama mereka di tengah pandemi yang makin hari makin gila.

    Hamba berpikir, bahwasanya kemungkinan besar Tuan tak akan pernah merasa kesepian lagi. Sebab musababnya adalah hamba akan meneruskan kehaluan ini bertahan lebih lama. Tidak apa-apa ya, Tuan. Hamba memberi label di kolom Renjana untuk memudah pengarsipan kehaluan ini. Agar lebih sistematis dan praktis jika tiba-tiba gemuruh hati menyentak dan ingin disentuh dengan perasaan cinta bertepuk sebelah tangan-yang menyedihkan ini. 

    Hamba siap berderai-derai air mata jika kelak mengalami penolakan yang menyakitkan.

    Hamba siap!

    Aduh, tapi sebentar. Hati hamba bak kramik Tiongkok buatan Dinasti Yuan yang tentu saja sungguh fragile, Tuan. 

    Lagi-lagi mempertanyakan kesiapan itu seperti menunggu meteor datang ke desa Kwarasan. Kan sepertinya ya tidak mungkin ya, Tuan?

    **

    Tuan, pahamilah bahwa melepas rasa sayang itu akan berbenturan dengan realita yang tidak sepadan. Tapi janji ya Tuan, Tuan jangan sampai membocorkan rahasia tulisan ini kepada elite global. Eh, maksud hamba kepadanya, yang tentu saja tak akan melirik hamba yang nestapa ini.

    Tuan, ingin sekali rasanya hamba menceritakan kembali sebuah kisah yang mungkin sudah tertutup kotoran dengki yang pernah membusuk bertahun-tahun silam. Ah sebenarnya tidak begitu lama, mungkin 2 atau 3 tahun yang lalu. 

    **

    Percayalah Tuan, bahwasanya rasa yang berkembang dan bergemuruh saat ini mungkin tidak ada artinya jika Tuan tanyakan 2 atau 3 tahun lalu. Okelah, hamba akui bahwa melirik mungkin ada. Tapi kan Tuan, hamba juga melirik makhluk indah ciptaan Gusti Mahamemiliki dunia dan jagad raya ini tidak hanya dia seorang. Hamba juga membidik pria lain juga. 

    Jika tidak percaya hamba, Tuan bisa mengeceknya di laporan hati : Glorifikasi Rasa Sayang dari Tahun ke Tahun

    Pada laporan itu, hamba mengarsipkan secara acak manusia-manusia terpilih yang hati hamba pilih dalam satu dekade terakhir. Tentu saja hamba tidak menyebutkan dia yang berinisial Fa, yang melengkapi nama pena hamba.

    Laporan hari ini Tuan, dengarkanlah kembali meski ini akan menjadi sesuatu yang panjang dan tidak menyenangkan.

    Pada hari itu siang begitu terik. Beberapa burung yang terbang di angkasa mungkin akan merasa kepanasan. Hal ini lantaran mereka memakai bulu-bulu yang berwarna gelap. Tak heran jika tak ada satu hilir mudik pun burung yang beterbangan. 

    Sangking teriknya, kadang hamba harus berulang kali membeli es teh untuk lepas dahaga. Apalagi hamba sedang berkutat dengan beberapa berkas. Sejujurnya, hamba lupa tengah sibuk berkas ujian skripsi apa wisuda. Besar kemungkinan sepertinya berkas yang hamba urusi pada hari itu adalah berkas wisuda.

    Hamba tahu, sangat tahu. Bahwasanya malamnya pada hari itu ada acara diskusi yang diadakan oleh sebuah komunitas yang diikuti oleh sahabat saya. Iya, sahabat yang kemarin malam kami telepon-teleponan. Komunitas atau perkumpulan itu mengundang si mas-nya untuk membahas tentang apa, bahkan hamba lupa. Kemungkinan besar perihal sosial masyarakat sepertinya Tuan. 

    Hamba lelah. Sungguh. Jika ingin berteriak setelah menyelesaikan beberapa berkas wisuda, hamba ingin pulang ke rumah. Jika hamba memaksakan diri mengikuti acara diskusi itu, kemungkinan hamba tidak akan berkonsentrasi. Bukan karena terpesona Tuan, tapi kelelahan. Sungguh Tuan, hamba tidak bohong.

    Kemudian, sahabat saya tiba-tiba mengancam. Entah ini ancaman yang sadis atau hanya gertakan. Bil, kalau kamu nggak mau ikut, kita gak temanan. Duh kok seram sekali ya Tuan. Hamba tahu itu bernada candaan. Tapi kok hati hamba gamang untuk menerima itu sebuah candaan. Mungkin itu suara hati yang tersirat sebagai guyonan saja. Hingga memiliki kesimpulan: mau tidak mau hamba harus datang. 

    Maka Tuan, sampailah pada saat yang tidak berbahagia. Hamba datang. Meninggalkan teman satu jurusan di kosan Mojosongo sendirian. Hamba tahu, teman hamba sedang capek-capeknya setelah kulakan di BTC. 

    Duh, alih-alih, punya rasa, hamba bahkan tidak menyimpan secuil pun fakta itu, Tuan. Sungguh. Hamba tahu, bahwa sahabat hamba inilah yang tengah dirundung asmara oleh si mas-nya. Hamba yakin. Bagaimana tidak jika dia harus melontarkan hal itu.

    Dalih teman hamba kala itu : anak srimulat masa aku Bil, yang nemenin mas-nya?

    Jadi, kedatangan hamba untuk menggenapi kekosongan agar menjadi genap. Agar teman hamba tidak merasa sendirian dalam menyambut si mas-nya. Begitulah Tuan. Jadi hamba ini hanya serep, hanya belokan. Tidak menjadi tujuan seseorang. 

    Ya sudah, mau tidak mau hamba mendengarkan pagelaran diskusi itu berlangsung. Tidak ada gamelan, hanya suara gurauan, sambutan, dan tawa. Padahal mata hamba sudah ngantuk dan pundak hamba sudah berat ingin diringankan, apalagi punggung sudah tidak bisa menahan diri untuk duduk tegak menatap kemasyhuran si mas-nya.

    Karena diskusinya tentang sosial masyarakat, hamba hanya menerawang. Karena jauh sekali dari hal yang hamba kerjakan. Momen yang hamba ingat adalah si mas-nya mendapat pelajaran ketika malam-malam dia mengalami kecelakaan, orang lain yang juga tertimpa musibah itu memiliki setumpuk nomor darurat penting. Kata si mas-nya itu hal kecil yang sering kita abaikan. Bahkan setelah 2 tahun berlalu, di kontak ponsel hamba juga tidak ada kontak nomor darurat. 

    Jika menyimpulkan diskusi itu tidak ada gunanya, karena hamba tidak mempraktekkan, mungkin iya. Tapi jika memang benar-benar tak ada gunanya, ah kemungkinan Tuan salah. Hamba bisa sedikit bercakap mengenai apa yang sedang si mas-nya ini kerjakan. Lagian kan baru beberapa bulan lalu si mas-nya lulus dari program sarjananya.

    Bagi hamba pribadi, pertemuan yang tidak memiliki rasa sama artinya seperti bak tak bisa menggenggam biji wijen. Bahkan segenggampun. Karena mrucut. Kalaupun ingin kembali ke memori kok sepertinya sayang.

    Begitulah Tuan. 

    Sebentar lagi waktu berbuka puasa. Hamba tak ingin mengecap makanan yang hamba santap dan merasa pahit karena diolesi kenangan. 

    Tuan lelah? Okelah kalau begitu, cerita si mas-nya disudahi saja. Jujur Tuan, ingin rasanya menggenggam orang itu hanya sebatas teman ngobrol nyaman. Tapi mau apa yang bisa hamba harapkan. Jika semakin lama, bibit rasa itu tumbuh dan mekar menjadi pohon beringin yang rindang. Bisa buat pelindung dari teriknya panas untuk burung-burung yang berterbangan. Apakah ada kemungkinan kalau rasa itu dibesarkan bisa bermanfaat juga? Ah entahlah ya kan Tuan. 

    ***
    Minggu, 17 Mei 2020
    17:26
    ngabuburitku

    chat terakhir aku balas: yo nggak mungkin aku galak, nek ntar aku gak dapat jodoh gimana?

    Renjana part 2

    Continue Reading
    Tuan ingin kuceritakan sebuah kisah pahit, asam, manis, seperti permen nano-nano. Dengarkanlah~

    Suatu hari, sebelah hati berdekatan dengan relung jiwa genderang perang mulai bertabuh. Kesenyapan yang kemudian tersingkap jadi riuh. Gelombang dingin berubah menjadi buih panas yang menggelegar. Keadaannya begitu tiba-tiba. Seolah seluruh malaikat dari langit turun untuk mengamankan bumi dari kejaran iblis.

    Oh tidak Tuan, mungkin kita sendiri yang tengah berperang dengan iblis sedangkan malaikat hanya sebagai penonton di stadion kaki langit. Melihat jeritan yang tak kunjung sempurna karena suara serak terbungkam hanya sampai di tengah tenggorokan.

    Tuan, katakanlah saya sudah kehilangan ihwal supranatural dalam diri saya hanya sebuah mimpi datang. Ketika itu tak ada hujan, tak ada badai, tapi hati seolah mengajak berperang. Mimpi yang membuat gundah gulana tak berkesudahan. Memimpin ritme pada sebuah tanda tanya, oh ini kenapa?

    **

    Mimpi itu berkisah mengenai sebuah bangunan megah, bisa dikatakan sebuah kampus besar. Maafkan Tuan, hamba juga tidak pernah menemuinya di kehidupan nyata. Dimanakah gerangan  tempat itu berada?

    Bak seolah menjadi nyata karena di samping gedung itu banyak berjejer ruko yang memiliki bisnis dalam bidang koperasi, bank, dan simpan pinjam. Tuan, percayalah. Bahkan dalam mimpi itu hamba sempat menggesek sejumlah rupiah dari mesin ATM. Nama Bank-nya pun ada di kehidupan nyata,

    Yang tidak nyata hanya nama Koperasi yang tertulis, Koone. Apalah itu, tapi ingatan hamba hanya sebatas itu saja.

    Dari beberapa gedung itu, hamba berjalan. Entah riang, entah gembira, entah gugup. Di depan mata hamba, ada sosok lelaki yang hamba sudah gebet. Hahaha, lucu sekali. Bahkan kalau es bisa diterjemahkan sesuatu hal yang dingin, mungkin orang tersebut jauh lebih dingin. Dia hanya bersuara ketika ingin mengutarakan. Tak pernah diwakili dengan basa-basi kesopanan.

    Konyolnya mimpi, hamba hanya mampu menggambarkan waktu itu, di kejadian itu, tanpa ada pratinjau konflik akan naik, seperti di dongeng-dongeng. Maafkan hamba.

    Kemudian, ada seorang teman perempuan yang di dunia nyata, pernah hamba berkunjung ke rumahnya untuk menginap. Dia datang dong Tuan. Membawa kebahagiaan. Dalam mimpi tersebut dia tertawa riang memamerkan rumah yang sudah didesainnya. Alih-alih mendesain, dalam dunia nyata dia hanya lulusan Tata Kota, jauh dari desain-desain rumah.

    Tapi itu toh hanya sebuah mimpi, kan Tuan. Oke, hamba lanjutkan.

    Dari Desain rumah yang sebenarnya di dunia nyata tak pernah ada sambung-sambungnya dengan realita, hamba menganggapnya bagus, Tuan. Coba Tuan bayangkan, bagaimana rumah berpagar bambu, meliuk-liuk berkombinasi dengan kayu, tanpa tembok. Jika puting beliung tiba-tiba datang, bukankah sedetik saja masa umur rumah itu.

    Namun percayalah Tuan, itu adalah rumah terbagus. Karena di dalamnya ada kolam ikan. Ah. Kesukaan sekali.

    **

    Rasa hati yang begitu kuat mendorong rasa kepemilikan rasa ini, Tuan. Pahamilah. Bahwa dari mimpi itu sosok yang hamba tak harapkan hadir, dia tiba-tiba datang. Mungkin dibawa sama badai sore tadi, Tuan.

    Membawanya tanpa permisi. Kan harusnya lewat perantara ya, kan Tuan. Biar hati mampu menyiapkan rasa terlebih dahulu sebelum dihempas dan dinaikturunkan bak kelabilan.

    ***

    Tuan, dalam kehidupan nyata sehari setelah saya mengalami mimpi itu, hamba merasa diombang-ambingkan. Eh tiba-tiba kekuatan dari mana hamba memulai obrolan. Terlalu kikuk, terlalu nyablak, dan mungkin tidak sopan.

    Ah dasar, tolong hamba membenahi etika hamba yang sudah 2 bulan ini terkurung dalam sangkar. Butuh waktu tak sebentar untuk mengumpulkan tata dan krama dalam waktu cepat.

    Sudahlah, ini cerita yang tidak akan berujung pada konflik atau klimaks yang Tuan harapkan. Tapi Tuan, bagaimana bisa hamba gundah tak kepalang hanya karena mimpi konyol bangunan rumah bambu yang akan ambruk terserang beliung itu.

    Oh mungkin, sekiranya hamba butuh berenang untuk menenggelamkan keputusasaan ini.

    ***

    absurd momen seminggu ini
    13 mei 2020
    17:54
    Keputusasaan itu berhasil membawa nama Renjana
    berarti memiliki rasa hati yang kuat

    -dan pesan yang tak terbalas entah yang kesekian-


    Renjana


    Continue Reading

    Ini kisah tentang bagaimana seorang Ayah-Ibu yang mengharapkan kehadiran anak mereka pulang ke rumah.

    :::

    Embusan angin dari arah barat meluluhlantakkan terbangan daun yang jatuh di tanah. Memainkan sedemikian rupa hingga menari-nari mengikuti arah angin. Membawanya hingga nanti jatuh ke tanah, jauh dari tempat jatuh sebelumnya. Hawa yang ditimbulkan membuat manusia-manusia yang berada tak jauh dari tarian angin itu mendadak menggigil. Diusap-usapnya kedua telapak tangan mereka mencari kehangatan. Syal tebal melilit di leher-leher mereka. Tak jauh dari tempatnya berada, perkemahan yang mereka dirikan tidak berdiri tegak. Melainkan mengikuti arah gerak angin.

    “Ih, kenapa telepon di saat yang tidak tepat.” Gadis itu geram.

    “Siapa Na?” tanya temannya. Dia menyesap hangat kopi buatannya sendiri tanpa berniat membaginya dengan kawan lainnya yang diruntuki kekesalan.

    “Bapakku.” Jawabnya ketus.

    Hujan datang tiba-tiba. Berawal dari tetes-tetes kecil, lambat laun jatuh hingga mendesak bumi untuk menerima kunjungannya. Kemudian tak tahan untuk disimpan, seluruh pasukan langit memborbardir dengan kekuatan penuhnya. Menghujani bumi tanpa ampun dalam waktu setengah jam.

    Muka Nasitha keruh. Tentu saja. Sebelum agenda Diksar ini berlangsung, ia selalu ditelepon oleh ayahnya untuk segera pulang. Liburan semesteran sudah datang. Ia justru sibuk mempersiapkan acara Diksar ini berlangsung. Cuaca yang tidak mendukung. Tim yang kurang solid karena ditinggal oleh beberapa teman yang sedang KKN. Ia seakan-akan sendiri dalam menghadapi kenyataan. Ketakutan Diksar ini tidak akan sesukses Diksar sebelumnya. Cih, apalagi junior angkatan bawahnya yang hanya menjadi cecunguk budak prokeryang tidak punya inisiatif. Hanya ngeh kalau dia perintah.

    Dalam persiapan Diksar ini ia hanya bisa menggantungkan pada satu orang. Sebenarnya ia merasa tidak nyaman jika ia bekerja lebih berat dibandingkan dirinya. Romdon namanya. Bapaknya sakit. Sakit lambung yang membawanya dirawat di rumah sakit selama tak lebih dari tiga hari. Tetapi sembuh kemudian, saat jengukan pertamanya di hari terakhir Bapaknya di rawat. Esok harinya, ia membantu mempersiapkan Diksar. Nasitha dibawa terenyuh oleh keloyalannya.

    Nasitha sibuk mencari pinjaman alat untuk menyukseskan acara Diksarnya, suatu saat.

    “Na, aku ijin.” Kata Romdon di suatu saat dia kerepotan untuk meminjam alat. “Sebentar.” Mukanya sudah keruh.

    Nasitha menganggapnya dengan santai, sembari bergurau dia berkata, “Kamu tega, Don. Ninggalin aku sendirian.” Katanya.Romdon terenyuh. Benar juga. Tidak banyak personel yang ada di kampus untuk mempersiapkan Diksar.

    “Yowis.” Romdon akhirnya menyerah.

    Nasitha tertegun, ia tidak menyangka kalau gurauannya dianggap serius oleh Romdon. Ia bingung harus menanggapinya dengan macam jawaban seperti apa. Tetapi, hati kecilnya merasa senang. Bagaimanapun dia ada teman untuk membantunya. Secara kematangan strategi dia tidak banyak memberi kewenangan pada angkatan bawah. Romdon adalah orang yang ia percayai dalam banyak hal. Kehadirannya sudah sangat membantu,setidaknya ada bahu untuk mendengarkan kefrustasian  menghadapi Diksar kali ini.

    Diliriknya tenda milik Romdon yang berjarak dua tenda di samping kanannya melalui celah tenda miliknya. Ia sebenarnya sudah merasa berhutang budi pada Romdon jika ada hal buruk terjadi. Aku mendengar dari juniornya di suatu pekan bahwa tanpa seijinnyaRomdon pulang ke Boyolali untuk menjenguk Bapaknya. Ia benar benar merasa tidak enak pada Romdon. Seolah-olah dia adalah orang yang menghalang-halangi bertemunya dia dengan Bapaknya.

    Telepon masuk lagi.

    “Kamu dimana? Pulang!” seru Abinya lewat telepon. Di pos satu memang sinyal menerima telepon cukup kencang. Tapi apes. Abinya selalu telepon, menerornya untuk memberi penjelasan ratusan kali kenapa ia tidak pulang ke rumahnya.

    “Bi, aku di Gunung Lawu ini. Badai!” seru Nasitha tak kalah keras dibanding dengan derasnya hujan yang menghampiri Bumi sore ini.

    “Ijin sama Ketua Pelaksananya. Sini, Abi mau bicara.” Jawab Abinya.

    Mati!

    Nasitha membulatkan bola matanya. Ia tercengang tidak percaya. Jangan sampai Abinya tahu kalau dia adalah Ketua Pelaksananya untuk Diksar tahun ini.

    “Orangnya sudah di pos atas. Nggak ada di sini.” Ia berbohong.

    Jeda dua detik. Nasitha waspada jika Abinya bertindak lebih heboh lagi melebihi memanggil ketua pelaksana Diksar.

    “Abi lihat berita di televisi, ada 3 mahasiswa mati karena Diksar.” Cerocos Abinya.

    Oh.

    “Di Gunung Lawu juga.” Tambah Abinya memberi tahu.

    Nasitha juga paham ada berita itu. Itulah kenapa beberapa Mapala yang mengadakan Diksar setelah kejadian itu dibatalkan. Padahal, antara Diksar Mapalanya dengan Diksar kampus di Jogja sudah dibagi tempat pelaksanaannya karena waktu yang bersamaan. Diksar miliknya mengambil rute Cemoro Sewu, berbeda dengan Kampus Jogja.

    “Insya Allah, disini aman Bi.” Sanggahnya. Dalam hati kurang dari dua hari lagi, DiksarMapalanya akan selesai.

    “Pokoknya kamu harus pulang!” Abinya mengatakan dengan tegas dan penuh penekanan. Nasitha memang bebal. Selama lebih dari dua Minggu sebelum dilaksanakan Diksar, Abi dan Uminya sudah mengingatkan untuk segera pulang. Seolah-olah, Abi-Uminya tahu betul jadwal libur kampus melebihi Wakil Dekan I Bidang Kurikulum.

    “Iya Bi, setelah ini aku pulang.”

    Telepon ditutup. Ia tersenyum kecut. Hari ini dia sudah bisa menghindar. Tidak tahu kalau besok. Ia berdoa, agar keberadaannya di Gunung Lawu ini yang besok pagi akan dimulai pendakian tidak benar-benar mendapatkan sinyal. Ia terlalu berdosa untuk mengatakan alasan yang tidak masuk akal.

    ***

    Selesai Diksar, Abi-Uminya semakin gencar merecokinya untuk segera pulang. Biasanya ia hanya mendapatkan telepon sehari sekali, kali ini bisa dua hingga tiga kali. Mengganggu. Apalagi saat seperti ini adalah sibuk-sibuknya dia berjibaku dengan evaluasi Diksar kemarin. Ia terserang flu parah. Uminya bisa menduga dengan tepat saat suara anaknya berubah menjadi bindeng. Khawatirnya minta ampun.

    “Kapan pulang?” Tanya Uminya di sambungan telepon ketika selesai ia melaksanakan sholatMaghrib. Ia berjalan menuju Sekretariat Mapala Fakultas miliknya. Sudah tiga malam ini, dia tidur di sekre. Jika suatu waktu seniornya meminta penjelasan tentang jalannya Diksar yang baru saja dilaksanakan Minggu kemarin.

    “Bentar, Mi. Masih belum selesai urusannya.” Katanya berkata jujur. Memang ia masih belum menyelesaikan beberapa hal lain tentang evaluasi kegiatannya.

    “Suaramu udah aneh gitu. Ini Umi udah jalan mau ke stasiun.” Tambah Abi. Satu sambungan telepon dipakai oleh kedua orangtuanya.

    Nasitha sudah gelagapan. Bingung harus membalas dengan jawaban seperti apa lagi. Semua stok kebohongan yang dimilikinya sudah habis.

    “OJO BIII...” sergahnya cepat saat menyatakan kalau mereka sudah bersiap siap menuju ke stasiun.

    Mati!

    “Aku wis apik iki.” Tambahnya. Selama tiga hari kemarin memang dia terserang flu parah yang menyebabkan suaranya menjadi aneh. Apalagi orang yang mendeteksi penyakitnya adalah Uminya sendiri.

    Kemudian Nasitha bercerita bahwa teman satu jurusannya yang merawat dia selama sakit. Kalau cerita yang ini, ia tidak berbohong. Selain alasan temannya, Roro menginap di Sekre adalah ia berselisih paham dengan ibu angkatnya yang menyebabkan sekreNasitha-lah yang menjadi tempatnya berlari. Selain di rumah, maksudnya.

    Romdon membersihkan sleeping bag yang akan dia kembalikan ke Mapala Garba. Suara telepon Nasitha yang berada di dalam sekre terdengar jelas. Mengingat ini sudah malam dan tak banyak manusia penghuni Gedung Sekre ini di malam hari.

    Telepon tutup. Dengan keputusan ia akan pulang tak lebih dari seminggu lagi. Umi dan Abinya akan mengancam akan ke Solo memastikan keadaan anak semata wayang mereka baik-baik saja.

    “Na, tadi Abimu yang telepon?” tanya Romdon. Ia meletakkan dua sleepingbagyang dibersihkan menggunakan kain itu ke dalam sekre. Nanti, selepas sholat isya dia dan Nasitha berencana untuk mengembalikannya.

    Tidak perlu ada jawaban, hanya anggukan malas Nasitha yang menjadi jawaban pertanyaan Romdon. Ia tengah sibuk membalas chat yang masuk saat waktunya disabotase oleh telepon masuk dari orang tuanya.

    “Emang kalau bicara sama Orangtuamu kamu sekasar itu?” tanya Romdon. Ia malas menyahut. Kepalanya sudah pening dalam artian yang sebenarnya. Hidungnya tersumbat karena flu. Ia tidak memerlukan banyak kata untuk membalas pertanyaan remahan dari Romdon.

    Jeda sepuluh detik. Romdon sibuk dengan melipat dua sleeping bag. 

    “Jangan suka seperti itu Na. Kamu masih beruntung masih punya Bapak. Daripada punya Bapak yang nyawanya mengambang. Mati gak, hidup juga enggak.”

    Jlep! 

    Itu sudah menegaskan kabar burung yang hanya didengardari juniornya. BapakRomdon dilarikan ke rumah sakit. Karena sering muntah darah. Apakah semengerikan itu keadaan ayahnya Romdon. Tiba-tiba ia merasa bersalah untuk kesekian kalinya. Romdon masih di sini bersamanya. Ia harusnya berada di sisi ayahnya saat ini.

    “Ayo ke Garba!” ajak Romdon. Ia sudah membawa sleeping bag ke dalam tas plastik besar. Nasitha patuh. Ia merapikan tas slempangnya. Memasukkan hp-nya ke dalam. Lalu mengikuti Romdon yang sudah berjalan ke arah parkiran belakang gedung 3.

    **

    Hp Nasitha sejak pagi sudah penuh chat Toni, sahabatnya Romdon. Chatitu hanya sapaan biasa. Tetapi berulang hingga lima kali.

     “Na”

    Ponselnya keburu habis baterainya. Chat Toni tak berbalas.

    Sorenya, saat ia mengecek hp miliknya. Toni bertanya dengan pertanyaan yang mengejutkan.
    “Apa Bapaknya Romdon meninggal?”

    Ia terpaku melihat layar ponselnya. Ia gemetar dalam diam. Lalu dilihatnya Romdon yang membersihkan beberapa alat yang harus dikembalikan ke Mapala Kampus lain.

    Romdon sedang bercanda dengan juniornya. Tetapi senyumnya menghilang sesaat. Ketika ia toleh keberadaan Romdon yang sudah berbincang dengan orang lain. Lalu, lenyap. Romdon dibawa oleh orang lain yang tak ia kenal. Bukan anggota anak pecinta Alam. Satu juniornya yang bersama Romdon tadi berjalan kearahnya. Tadi saudara Romdon dari desa. Mengatakan sesuatu yang membenarkan isi chat Toni.

    Bapaknya Romdon meninggal.

    ***

    Lima kali evaluasi lima malam yang harus dihabiskan Nasitha untuk tidak tidur. Sakit demamnya memang menjadi. Tetapi perasaanya mulai lega. Janji untuk pulang ke Tulungagung semakin terealisasi.

    Saat ia melayat, ia bingung. Mengajaknya bicara mengatakan permohonan maafnya atau hanya melihat wajah melas Romdon. Romdon anak pertama dan dalam jangka waktu tak sampai putaran purnama, dia harus menjadi tulang punggung keluarga. Sedih rasanya melihat Romdon begitu terpukul. Nasitha memutuskan untuk diam.

    Romdon duduk di tengah ruangan. Ia kembali saat jasad Bapaknya sudah dikebumikan. Ia melihat Nasitha bersama dengan rombongan teman Mapala. Lalu ia berdiri menghampiri Nasitha yang melihat kaku ke arahnya.

    Berujar ringan. “Pulang, Na.”

    Disinilah ia berada. Di pinggir jalan, menunggu bus lintas provinsi yang biasa melewati depan kampusnya.

    Ia melambaikan tangan, menghadang dengan satu tangannya saat Bus bertuliskan MIRA berjalan dari jauh ke arahnya. Tas travelbag dijinjing oleh kondektur bus. Cukup membantunya. Ia melangkah masuk ke dalam bus. Berjubelan denganorang-orang yang memiliki jutaan alasan dalam kepergiannya. Yang jelas, tujuannya hanya satu, pulang.

    **

    Paranggupito, Sabtu 4-2-17 pukul 11.40

    :::

    Cerita di balik ini adalah suatu malam Nasitha menelpon aku kalau ayahnya Romdon meninggal. Kejadiannya di awal tahun 2017 tepat ketika aku sedang KKN di Paranggupito.  Dan tepat hari ini (16 November 2017) orang yang pertama kali aku lihat di kampus, selain Listusista adalah Romdon. Seharian menghabiskan waktu berdua. Kemudian, sedetik sebelumnya, Nasitha dengan alaynya mengirim lirik lagu Kesempurnaan Cinta. 

    Butuh waktu lama untuk mengposting cerita ini. 

    Romdon, adalah seseorang yang tegar. Waktu yang membuatnya menjadi seperti ini. Dan untuk kalian, jangan lupa untuk pulang. Itu pesanku.


    ----  N  a  b  i  l  a    C  h  a  f  a  -----
    16 November 2017, sehari selepas pulang dari Pare 
    di wifian dengan ditemani dua lelaki yang tidak aku kenal, depan gedung 3 FIB
    17:34 pm
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (2)
      • ▼  May 2026 (1)
        • Bertemu di Titik Temu
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top