Doaku untuk Yunitta Axnes Pratika!

10:37 PM

Hei,

Mumpung lagi nyuwung! Ditemani hujan siang hari dan kopi hitam. Sebelum menjadi budak-budak peradaban yang memaksa untuk bekerja lebih keras dari biasanya. Bekerja 8 jam dalam seharinya, sedangkan saya masih glundang-glundung tidak jelas. Saya masih di posisi jaga warung dan fotocopy-an. Menyelesaikan problematik Jolie Manon dan Gabriel Delange karya Laura Florand. Setelah kemarin, seharian agak kecewa dengan Unforgettable Chemistry--yang jadi bahan obrolan aku dan Pipit di WA karena ehem, kita sepakat untuk tidak menyetujui konfliknya-- tapi sayangnya, buku itu aku selesaikan juga. Hahaha~

Hidup ini indah ya gaes!  #EdisiMenghiburDiri


Aku ingin bercerita. Lagi-lagi tentang deretan nama yang ingin aku sebut karena berjasa dalam membesarkan / mendewasakan dan berproses bersamaku. Hal ini aku lakukan untuk mengingat kebaikan orang ini serta membuat content. Yes, I am content creator! Gak usah muluk-muluk buat video di yutub tapi membuat narasi singkat di blog kesayangan. Biar gak sepi-sepi banget ini blog. Ajang balas dendam juga sih, karena selama kuliah isi kontennya kurang produktif. Sekaligus mengisi kolom My Friends & I. Bismillah, ingin aku coba memproduktifkannya kembali.

Bila foto ini diperlebar maka tampaklah nyamuk yang sedang menggigit pipimu :) 


Bagian I. Perkenalan


Tentang sahabat bernama Uun. Namanya sering aku dengungkan sebenarnya dalam narasi aku bercerita di blog ini. Dalam perjalanan mahasiswa biasa sampai bisa lolos ke Pimnas dan cerita tentang bagaimana dia menderita bolak-balik Solo-Wakatobi untuk berjuang di Bogor. Tentang muka kucelnya yang naudzubillah aku ingin rasanya sabar, wkwk. Dan tentang gairah hidupnya yang entah kenapa--hm, hm, sebagai analis luar--agak meredup. Kemungkinan besar hal pertama itu terjadi karena kehilangan sosok ayahnya. Orang yang polos dan semangat hidupnya yang perlu aku tiru. Aku terapkan dalam keseharian sehari-hari. 


Sebenarnya aku kenal dengan Uun karena kebutuhan. Sebagai mahasiswa yang berusaha untuk menjadi sempurna dalam tugas kelompok, aku sudah kena kapok berkali-kali karena tidak mendapatkan partner kelompok yang tepat. Sempurna dalam arti kita berproses dan berpendidikan bersama. Itulah tujuan dari perguruan tinggi, bukan? Sayangnya, sebagai mahasiswa beberapa teman kami sering mengandalkan. Biar orang ini saja yang menyelesaikan tugas ini. Kan, yang namanya tugas kelompok harus diselesaikan bersama-sama. Come on! Ada lagi, saat sudah diselesaikan dengan pembagian tugas yang jelas, kadang mereka asal-asalan, mungkin karena mereka merasa bakal ada editor yang akan mengkoreksi dan menambahkan tambahan hal untuk tugas kelompok mereka.

Ah sudahlah. Kampus memang mendidikmu begitu keras. Halah haha!


Mungkin terjadi di tahun 2015-an. Waktu itu aku lagi merangkak naik ikut organisasi sana sini, bahkan sudah join menjadi volunteer Solo Mengajar angkatan 10--haloh gaes!. Aku lelah ya, mendapati ketidaksesuaian antara masalah akademik kampus dengan berkegiatan di luar kampus. Jadi, mendapatkan partner bekerja kelompok yang sesuai itu seolah menjadi oase tersendiri. Sama-sama mengalami ketidaksesuaian, agar algoritma hidup ini berjalan dan berkesesuaian, kita join menjadi kelompok bersama. Gimana caranya, agar setiap kerja kelompok aku bersamanya. Kemudian, masuklah Mustofa. Jadi, begitulah kami hidup selanjutnya!

Dari sering berkelompok, aku mengajak dua anak ini--Mustofa dan Uun--menjadi kelompok strategis yang tidak hanya berkumpul kalau pas ada tugas kelompok di kampus saja. Aku mengajaknya untuk ikut membuat PKM. Waktu itu aku masih jadi Kepala divisi Pengembangan RISET SSC, di bawah komando Gun Gun Gunawan. Jadi, kegiatan ilmiah itu perlahan kita ikuti. Bahkan masing-masing dari kami mengajukan judul yang berbeda-beda, tetapi rolling untuk menjadi salah satu anggota peneliti di semua judulnya. Haha, agak curang emang. Tapi yah bagaimana. Jika ada peluang maka tercipta kesempatan!


 Mengerjakan deadline PKM adalah hal menegangkan. Kalau ingat bulan September, maka ingatlah akan deadline PKM yang selalu hadir di bulan tersebut. Awalnya agak kesesusahan harus mengikuti aturan main PKM yang berganti setiap tahun. Awal mulanya kami iseng ikut PKM yang diadakan oleh kampus kami sendiri, UNS. Jadi sesama mahasiswa diadu ide dan gagasannya dengan iming-iming bahwa PKM yang diadu didalam universitas ini bakal lebih mudah diterima untuk mengikuti PKM dari Dikti. Menurutku tidak juga. Karena pada hakikatnya, Dikti tidak menilai bahwa PKM yang diajukan oleh mahasiswa itu sudah diuji terlebih dahulu atau tidak, melalui universitasnya. Yah, setidaknya gelora untuk adu ide dan gagasan itu ada. Jadi, kami ikutan saja.

PKM yang diselenggarakan di Universitas tidak membuahkan hasil baik. Kalau tidak salah, kami (aku, uun, dan eyang) hanya mengajukan satu judul. Tetapi hal yang berbeda terjadi saat mendekati deadline PKM Dikti. Kami mengajukan tiga judul sekaligus. Haha. Sehari menjelang deadline kami harus mendapatkan satu personil tambahan. Agar sesuai dengan aturan, maka harus adik tingkat. Maka terpilihlah Avivah yang masuk menjadi kelompok kami. Gara-gara dia lewat di jalan gazebo, dan aku langsung minta CV dan datanya. Wkwkwk :)


Full Squad bersama dengan adek, Avivah. Eyang yang moto!

Selanjutnya, petualangan sesungguhnya dimulai. Dari yang awalnya kaget dapat dana untuk penelitian. Waktu itu dana agak seret sih. Jadi kami meneliti dengan dana pribadi. Tapi alhamdulillah, setelah monev ekstern selesai kami dapat sisa dana keseluruhan. Haha, PKM kalau kata orang bisa dikatakan sebagai Program Korupsi Mahasiswa, bukan Kreativitas wkwk. Yasudahlah. Itu orang syirik aja gegara PKM-nya gak didanai. Dasar julid!

 Saat menemukan sebuah pesanggrahan untuk beristirahat sejenak karena selesai mbolang di Keraton Kasunanan.

Selesai Monev, aku punya keyakinan penuh sih. Bahwa judul kita bakal lolos PIMNAS. Dan thats it! Hari pengumuman itu datang. Judul kami lolos untuk di uji, dan beradu di Bogor. Mana pada waktu itu musim KKN. Sedangkan Uun ambil KKN di luar Jawa, yaitu Wakatobi. Ya, nangis darah dan penuh pengorbanan sih. Apalagi dia ketua peneliti kami. Ngos-ngosan sih berproses bersama itu. Pokoknya semua bermula dari keiisengan yang hakiki. Mulai memproduktifkan diri, menambah deretan CV dan tentu saja punya kontribusi. Waktu itu Pak Pardjo, Wakil Dekan III bagian Kemahasiswaan, ikut seneng. Karena ada tiga judul yang mewakili FIB untuk bertandang di PIMNAS. Aku pernah cerita lengkap, klik disini!



Bagian II. Proses Dialektika


Sok-sok'an kasih nama Dialektika, haha. Biar kata ini menjadi suatu pertarungan bagaimana sekarang kamu berperang terhadap dirimu sendiri. Bukannya pertemanan kami selesai, bukan. Tapi proses bagaimana kamu mendewasakan pikiranmu untuk terus berjuang.

Kenapa?

Kami berproses dengan skripsi yang berbeda-beda. Tidak ada teman. Tidak ada meja untuk berbagi. Karena sesungguhnya proses skripsi adalah proses dimana kamu bekerja individu. Yaiyalah. Serta bagaimana semangatmu tetap terbakar dalam nadi untuk tetap konsisten. Semua mahasiswa akhir akan mengalami bagaimana ketidakkonsistenan selalu menghantui. Bagaimana pencarian data sekecil apapun kadang menjadi momok untuk berhenti. Dan, bagaimana orang bodoh untuk lebih pintar memanipulasi. Kan, semuanya berkelindan. Menjadi satu kesatuan makna yang dimana produk skripsi itu dihasilkan. Itu definisi menurutku, lho ya!

Uun mengalami perubahan produk ide yang dihasilkan. Mulai dari penelitian tentang Pakualaman yang kadang dua atau seminggu sekali dia harus ke Jogja untuk mencari data. Penelitian hampir lebih dari satu tahun, dan kemudian dia menyerah. Karena beberapa pertimbangan, salah satunya ada kompilasi buku tentang Pakualaman yang menjadi subjek dan objek yang sama dengan penelitiannya. Ia takut terkena delik plagiasi atau apa. Akhirnya, dia menyerah juga.

Saat aku selesai skripsi tapi harus menyelesaikan urusan birokrasi, suatu waktu pernah kujumpai Uun di kantor dosen. Lagi kikuk dan mengajukan pergantian judul. Aku dan Eyang agak menyayangkan sejujurnya. Tapi bagaimana lagi. Uun berkata bahwa tidak ada jalan keluar selain mengganti judul.Waktu itu pula, sebenarnya aku gundah gulana karena seminggu setelah itu adalah pendaftaran berkas S2. Dan aku menggalau dong ditemenin Imaf. Di saat kamu sedang berjuang dengan judul baru skripsimu (dua hari sebelum puasa Ramadhan 2018). Di sini aku meminta maaf,--yeah, minta maaf secara onlen karena hanya sebentar menemanimu.

Tahun 2016 dan dua kelompok ini memutuskan untuk buka puasa bersama di pinggir jalan. Nice memory!

Bagian III. Kuharap Akhir yang Indah


Hei Un, setelah berbulan-bulan aku tidak tahu kabarmu. Bahkan saat kamu menghubungiku di bulan Juli (hariku wisuda), aku tidak tahu lagi bagaimana kondisimu. Hingga di akhir Desember aku dan eyang menjengukmu. Hanya kunjungan ringan dan kami sepakat untuk tidak membahas skripsimu. Aku tahu kamu tengah berjuang. Katamu, kamu sering main ke Gentan. Aku masih sering pinjam buku sebenarnya di  perpustakaan Ganesha. Membahas dunia kerja. Dan kapan ada lagi perjumpaan setelah itu.

Susahnya komunikasi antara kita membuat aku sering mendengungkan doa ke langit. Agar kondisi dan keadaanmu baik-baik saja. Masih sering dikunjungi Sinchan, Icik dan Ista. Mendengar kabar dari mereka aku sudah senang kalau kamu berprogress baik.

Aku tidak tahu, akhir tulisan ini akan membentuk narasi seperti apa. Un, kuharap dirimu baik-baik saja. Tetap konsisten. Tetap berjuang untuk apa yang tengah kau perjuangkan. Rumahku masih sama. Di Jalan Lempuyang I No.09. Kamu bisa mampir untuk menyambangi pengangguran berkualitas seperti aku ini di sini. Lalu, kita bisa memulai obrolan kita.

Aku baik-baik saja!

Aku hanya butuh kalimat itu terucap di dirimu.



Nabila Chafa,
yang merindukan hujan deras dan panasnya matahari secara bersamaan.
14/02/2019
14:51 pm

:::

Daripada memori ini terekam hanya di laptop Toshiba-ku yang sekarang sudah berganti kepemilikan menjadi milik adikku. Maka kubagikan saja secara onlen. Haha :)


Cheers!
Keep fight and Stay Bright!






You Might Also Like

0 Comments