PIMNAS 29 di IPB Bogor

12:01 AM

Kadang kita tidak pernah berpikir tentang apa yang sedang Tuhan berikan, hingga nikmat dan berkahnya bisa kita rasakan. Postingan kegalauanku akibat gagal "PKM tidak didanai" pernah aku post di blog ini. Entah postingan tahun berapa aku tidak tahu--dan sepertinya aku juga tidak mau tahu juga--pernah menjadi bahan kegundahanku.

Pernah tidak berpikir bahwa apa yang sudah kita lakukan, semaksimal yang kita lakukan, dan kita mengharap-harapkan hasil yang baik tidak kunjung datang. Dan suatu ketika, orang yang hanya bekerja semaunya (bisa dikatakan asal-asalan) mendapat hasil yang bagus. Ibarat kata, kamu sudah belajar dengan keras untuk ujian besok pagi, sedangkan teman kamu yang tidak belajar sama sekali dan mengandalkan contekan bisa mendapatkan hasil terbaik. Jangan heran ya? Tapi, at least, pernah tidak merasakan suatu kebencian yang teramat dalam pada sebuah keadaan. Aku sih pernah. Aku tidak pernah munafik untuk mengatakan 'tidak'. Memang seperti itulah adanya. Rasanya jengkel, mangkel dan marah sendiri.

Kita tidak memarahi diri sendiri yang masih bodoh dan polos sok alim atau apalah, tapi jatuhnya seakan memarahi pada kehendak Tuhan yang memainkan perasaan ini bak seperti bola pingpong. Digiring dengan aneka ragam emosi yang memuakkan. Tapi disitulah ujiannya.

Ujian yang diberikan Tuhan untuk mengukur seberapa pantas sih kamu bisa menjadi "Manusia Pembeda" diantara makhluk-makhluk yang lain. 


Sebuah diskusi juga mengatakan hal yang sama. Ada seorang senior di Beasiswa Aktivis, namanya Mbak Titis dia juga mengatakan hal yang hampir sama. Semua makhluk mengimani hal yang sama, mereka sama-sama bersujud, sama-sama ibadah, sama-sama melakukan semua perintah-Nya. Tapi jadilah manusia yang berbeda. Maksudnya berbeda disini adalah karakteristik yang dimiliki setiap individu manusia tersebut.

Mungkin ujian yang aku hadapi adalah "Menerima Dengan Lapang Dada"


Kalimat diatas seperti memuakkan ya, kalau lagi jengkel, emosi banget dengan keadaan yang tidak berpihak. Tapi guys, memang itulah cara bijak yang harus kita lakukan untuk menghadapinya.

Kembali ke topik, sama halnya dengan apa yang aku lakukan. Siapa sangka Nabila masih berambisi untuk tiap tahun menulis proposal PKM dan tidak ada hasil. Pernah dan sempat ngiri sih, di tahun kedua kuliah, temanku sekelas ada yang didanai PKM-nya dan melakukan penelitian di Kalimantan. Iri? Pasti. Aku manusia biasa yang hati ini tidak pernah luput dari iri dan dengki. Tapi, yasudahlah. Dari mereka perlahan, saat PKM GT di awal tahun aku mencoba membuat gagasan tertulis tentang bentuk pemerintah istimewa untuk kota Solo. Ternyata kajiannya banyak. Dan gagasan tertulis yang aku buat sudah basi. Well, itu yang membuat PKM adalah aku. Hanya dua orang, satu orangnya meneliti di Kalimantan dan Koordinator Tingkatku (yang satu kelompok di PKM GT ini) pura-pura menghilang. Argh...

Di tahun ketiga, di mata kuliah Sejarah Indonesia Lama, aku kenal sama satu orang yang satu pemikiran denganku. Namanya Uun dan Eyang. Kita sering banget kelompokkan. Karena masing-masing sudah nyaman dengan karakteristik masing-masing yang sama-sama ambisius dan perfect. Tepat pada penyembelihan Kurban, 2 tahun lalu. Aku masih ingat, setelah Sholat Ied-Adha kita ketemu di kampus tepatnya di sekre BEM FIB. Memang sepi. Namanya juga hari libur nasional. Dan di sana kita membuat Proposal Penelitian PKM. Intinya, masing-masing anak membuat satu proposal dan anggotanya adalah kita bertiga. Enak, bisa digilir.

Dari pas membuat proposal, menurutku yang paling mateng konsepnya milik Uun. Penelitian yang mengambil tempo abad 18, masalah hubungan bilateral Kasunanan Surakarta dengan Kerajaan Madura.

Hingga, awal Februari kabar baik itu datang. Proposal PKM milik Uun-lah yang didanai. Dulu (kalau nggak salah) mengajukan sekitar 6.000.000 bukan angka yang fantastis. Karena maksimal di Proposal PKM adalah 12.000.000 tapi tetap aja senang. Bisa dapat duit dari pemerintah dengan cuma-cuma. Toh, tempat penelitian kita hanya berada di area Solo, tempat kita berada. Jadi kita hanya meneliti naskah kuno semacam filolog Babad yang relevan.

Hingga, di pertengahan Juli (aku masih ingatnya adalah Bulan Puasa 2016) kita satu kelompok maju di Monitoring Evaluasi. Reviewernya dari Dikti dan seorang ibu-ibu. Ramah banget. Kita bisa melakukan yang terbaik disitu. Aku sih berpikirnya karena kita membuat semacam video ala kadarnya sebagai pengantar dari isi materi yang akan kami paparkan. Senangnya minta ampun karena sukses. Eh dapat duit juga :)

Hingga, sebuah kabar itu datang...

Uun sedangKKN di Wakatobi. Awalnya mau nangis. Siapa sangka, PKM kita lolos ke PIMNAS. Awalnya Uun nggak mau balik ke Solo. Soalnya tanggung banget. Sudah pertengahan jalan KKN sedangkan dia sedang melaksanakan KKN bukan di Jawa, tetapi di luar Jawa. Di Wakatobi lagi. Kan jauh. Butuh ongkos. Dia awalnya nyerah. Tapi keinget sama usaha-usaha kelompok kita yang goal utamanya adalah PIMNAS. Dari pas Monev kita selalu berdoa, dan aku punya feeling kuat kalau kelompok ini bisa sampai PIMNAS.

Dosenku Bu Insiwi udah ngebujuk Uun suruh pulang. "Pokoknya pulang dulu. Masalah biaya, dipikir belakangan." Enak banget ya ngomongnya.

Akhirnya Uun pulang. Dengan muka jelek banget. Sumpah. Karena setelah pulang ke Solo, langsung pembinaan dan dikarantina di sebuah hotel di Solo. 24 jam berada di pengawasan Kemahasiswaan Pusat. Rasanya tersiksa tapi overall Uun bisa melewati itu dengan baik. Aku sebenarnya kasihan sama dia. Udah deh. Selama kenal Uun, itu adalah muka terjelek Uun sepanjang masa yang aku pernah lihat.

Hingga pas di PIMNAS pun, untung suasanannya agak sedikit mereda. Kita tidak berambisi mendapat emas, perak atau perunggu. Dulu sih niatnya, sampai di titik ini aja aku udah bangga. Pokoknya jangan dijadikan beban. Anggap aja liburan di Bogor, gitu~

Titik itu terlewati. Pelajarannya apa? Kenapa aku berbagi mengenai cerita ini?

Tuhan tahu betul mana hamba yang melakukan sungguh-sungguh dan mana yang biasa saja. Semuanya sudah ada ukurannya, guys. Jadi lakukan saja apa yang membuatmu berbeda dari makhluk Tuhan lainnya. Karakter baik itu perlu. Apakah menjadi baik itu akan seberuntung yang tidak baik? Aku pikir tidak. Seperti penjelasanku yang diatas. Melakukan hal yang tidak baik itu mudah dan instan. Hasilnya bagus pula. Tapi mempunyai karakter yang baik, dilandasi ketulusan dan percaya bahwa hal baik akan datang. Hasilnya adalah luar biasa.

Tidak percaya? Percayai saja.

Percaya saja pada Proses. Kalau kamu memulai dengan baik, aku percaya bahwa semuanya juga berakhir dengan baik pula. Percayalah. Gusti Allah mboten sare. Kalian hanya bisa percaya.


Dokumentasi dari e-yang :)) waktu pembinaan di hotel Lor In Syariah Solo.

Kita juga tidak pernah lupa bahwa masing-masing dari kita mempunyai supporternya masing-masing. Uun dengan Deska yang membantu membuat video Kapal Rajamala. Deska menyebutnya dengan "Kapal Othok-othok, by the way." Eyang dengan simas yang membuat lukisan cantik dari Canthik Kyai Rajamala. Aku dengan Mas Drestha yang membuat desain poster PKM kita *terharu* dan dek Avivah yang memiliki teman untuk membuat video yang cantik untuk kita presentasikan. 




Mungkin terlambat, apalah daya diriku. Hanya mampu bercerita tentang rentang kisah tahun lalu. Menganggap, aku tidak mungkin bisa hingga saat ini jika tidak bersama kalian. 

 ➔➔➔➔       Gusti Allah mboten Sare. Teruslah berusaha dan bermimpi 


Aku yang selalu mempercayai kalian,
Para Pembaca yang Budiman


Nabila Chafa~
::::::
__________________________________________________

For Info:

Aku kasih link Proposal PKM lolos Pimnas untuk Penelitian Soshum, semoga sedikit membantu kalian yang tengah berjuang untuk membuat PKM. Apalagi bidang ilmu sejarah.

 Proposal PKM Soshum Rajamala

DOKUMENTASI


Foto Full team setelah selesai presentasi bersama Bapak Suharyana, pembimbing kami :)

Foto bersama seluruh peserta di kelas PSH 02 

At last, closing ceremony di akhir acara 

➤➤➤
Iam so grateful for all of u guys. Jinjjayo!! Keep fight and stay bright 
➤➤➤

You Might Also Like

0 Comments