Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini

    Alhamdulillah temanku akhirnya sudah mendapatkan pekerjaannya. Tepat di tanggal 13 Oktober lalu, dia memberi kabar. Bukan itu yang jadi pokok pembahasan kita kali ini, tapi sederet ciri yang aku titipkan doa untuk diucapkannya selama perjalanan Safar itu.

    Agregasi daftar itu seolah jadi repetisi yang akan aku ulang dan selalu agar temanku itu tahu. 

    "Yak, kalau kamu ketemu lelaki sholeh, 

    yang mau menerima perempuan alfa seperti kita, 

    yang kadang ambisius ngerjain segala hal tapi kadang salah total di waktu bersamaan, 

    yang kalau sedang jatuh bukan butuh tepukan tapi pelukan, 

    yang ketika sedang sedih membutuhkan waktu sendirian dan butuh kode 'ada apa?' tanpa membutuhkan jawaban yang sesungguhnya, 

    yang waktunya full untuk berimajinasi sosok laki-laki yang mau diduakan ketika perempuannya tengah kegandrungan Hyun Bin, Lee Min Ho, atau Kim So Hyun sekalipun, 

    yang genre musik hanya bisa milik Hollow Coves, Iron & Wine, Ed Patrick, Wild, Nova Scotia, dan penyanyi indie Amerika lainnya,

    yang tidak marah jika sebelum tidur malam mendengaran suara Jason Palmer membahas politik, bentrokan, bahkan hal berat sekalipun,

    yang menerima perempuan penuh perhitungan macam dengan membuat budgeting financial planning dengan rumus yang njelimet sekalipun,

    yang mau menerima perempuannya ketika dia tidak tahu menahu sedikitpun soal avangers dan marvels, 

    yang lebih menyukai tontonan film asia dan bisa terbahak-bahak menonton sinetron india,

    yang memilih untuk beli rumah dan hanya menyelenggarakan ijab kabul saja tanpa resepsi pesta,

    yang besok mau bulan madu pergi ke Vietnam, nengokin sungai Mekong yang bakal jadi medan pertempuran China Amerika (kalau jadi),

    yang membebaskan perempuannya untuk menikmati waktu luang dengan membaca buku novel fantasi macam Percy Jackson, Brandon Mull atau yang horor sekalipun,

    yang bisa diajak diskusi soal fenomena ledakan penduduk, paham feminisme, pergerakan, sejarah, dan politik negeri,

    yang menyukai Haruki Murakami dan Dan Brown sekaligus tanpa memilih salah satunya,

    yang kadang setiap weekend suka mengomentari hasil EPL dan ngedebus soal performa MU,

    yang membebaskan perempuannya bakal memilih pengajian dan ustaz seperti apa untuk siraman rohaninya, macam Gus Baha atau Cak Nun,

    bagi kamu laki-laki yang mencintai BMW dibanding Mercedes, 

    deret doa itu doaku untuk dipertemukan sosok seperti yang di atas.

    Aku tahu sebenarnya tidak bakal terkabul sekaligus dalam satu waktu dan dalam sosok yang sama.

    Tapi, nggak ada salahnya mencoba. Jadi mari banyak-banyak shalawat saja. Merawat kewarasan ini bertahan lebih lama lagi!

    **
    20:35

    25.10.2020

    Habis bikin budgeting

    Sederet Daftar Doa yang Nggak Bakal Terkabul Sekaligus dalam Satu Orang




    Continue Reading
    Sayang, tidakkah kamu bermimpi untuk menyusuri pantai dengan kaki telanjang. Menikmati riak yang menepi dari gulungan ombak.

    Ombak tak pernah berhenti bergelombang entah sampai kapanpun. Terimakasih kita pada angin yang selalu semilir yang membuat aliran air seolah sejalan.

    Seperti mesin waktu yang sejalan dengan kerutan dahi.

    Sayang, pernahkah kamu berpikir bahwa akulah masa depanmu kelak. Melepas tawamu ketika memasuki pertambahan usiamu. Menjadi satu untuk selamanya hingga tak ada lagi waktu.

    Sembari mengurus hal remeh yang selalu menjadi perdebatan, tidakkah kita hanya melihat persatuan.

    Wahai sayang, tahukah betapa berartinya angka di penghujung tahun selalu membuat degup jantung seolah berteriak.

    'Ku sudah tak semuda lagi', pikir kita sama.

    Tapi jika takdir tak mempersatukan, apalah jadinya kesatuan jika berbuah cerai berai.

    Sayang, pernahkah berpikir jauh seperti aku memikirkan hal itu seperti jemariku yang menuliskan ini padamu.

    Sayang, temui aku dalam doamu. Di sepertiga malam, kita berdialog di sana!

    *

    18:26

    Selesai kerja di hari minggu

    Nunggu grandfinalrrq

    Temui Aku dalam Doa



    Continue Reading
    Sempat ku bermimpi, aku berlari bersama teman. Lari dari tekanan waktu yang membuat kita lepas. Kemudian tertawa. Senda gurau karena kekonyolan yang kita lakukan. 

    Ada adegan dalam mimpi yang tak terlewat. Aku dan temanku menikmati pesta di pinggir kolam renang. Mungkinkah di mimpiku aku menyesap wine merah. Kemudian sahut menyahut bercerita tanpa lelah. Diikuti ledakan tawa yang membuat senyum merekah indah 

    Setelah bangun, aku langsung mengatakan, "hei kita kemarin party pool."

    Dia justru membalas dengan curahan hatinya yang sudah 7 bulan tidak pulang ke rumah gara-gara pandemi.

    Dilanjut dengan masalah kantornya yang masih melegitimasi lulusan terbaik negeri ini.

    Tapi dalam mimpiku, 'hei kita bahkan bersenang-senang.'

    Realita yang kita hadapi memang semrawut. Menelan pil pahit dari kenyataan yang tak seindah untuk dibayangkan.

    Dunia harmonis, aman, tenang dan damai seolah terenggut dari genggaman tangan.

    Akhirnya, mimpi indah aku bersama temanku justru berakhir dengan keluh kesah yang memuakkan. Mengulang kembali hal-hal tidak indah dalam kenyataan dan berakhir dengan tertawa getir.

    Tak lagi menyenangkan untuk dihadapi.

    **

    Mimpi kedua yang baru 2 hari lalu aku alami.

    Mungkin jawaban. Dari ketidakmungkinan meraih seseorang di kehidupan nyata. Berakhir dari teguran Tuhan yang (mungkin) mengatakan, 'hei, dia sudah ada yang punya. Jangan berkhayal-lah!'

    Dalam mimpi itu aku juga bermimpi sama. Sama-sama berlari dengan senang hati. Namun dihadapkan realita bahwa laki-laki yang membuatku tersenyum adalah milik wanita lain. 

    Yang begitu jahat bak seorang penyihir. Ingin rasanya diriku yang menjadi protagonis membuatnya sadar bahwa perempuan itu tidak baik baginya.

    Ah, aku lupa. Di akhir justru dia menggandeng wanita itu tepat di depan mataku.

    Lalu aku terbangun. Sadar bahwa maknanya begitu dalam.

    Tuhan ingin agar aku melupakan dia dan berfokus pada masa repetisi yang tidak anggun sama sekali menghadapi pandemi yang membuat semua orang bak terkurung dalam tempurung.

    **

    Sisi hatiku yang lain menyuruhku untuk, 'udahlah, kirim al-fatihah saja pada dia yang tidak tahu siapa'. Jadi mari kita membayangkan saja sosok yang belum dipertemukan Tuhan ini.

    Seuntai rasa terima kasih dan harapanku sudah cukup menjelaskan. 

    "Hei kamu, terima kasih telah memilihku di antara milyaran manusia di bumi ini. Aku bukan sosok ideal. Aku mungkin akan menilai hal yang sama pula tentangmu. Tapi, mari kita mendewasa bersama. Saling bergunjing yang mengasyikkan."

    "Jika kamu sosok kaku, maka tepat memilihku. Aku humoris orangnya. Pamormu memang sudah menggeser sahabat dekatku, tapi mari kita menjadi orang yang menyenangkan satu sama lain. Tertawa terguling-guling untuk sesuatu hal konyol. Serius seperti politisi ketika melakukan lobi politiknya. Dan, menua bersama debu sampai mati. nantinya."

    **

    10/10/2020

    16:06

    Hujan, sambil memikirkanmu

    Aku Bermimpi, Memikirkanmu



    Continue Reading
    Seorang editor sebuah penerbit aplikasi dalam whatsApp Story tengah mencemaskan sesuatu. Pada suatu ketika aku melihatnya. Ia tidak tahu harus bertenggang rasa dengan cara apa pada lingkaran pertemanannya. Ia bingung. Dalam unggahannya ia menceritakan, "banyak dari circle pertemananku yang harus di PHK di tengah pandemi."

    Kemudian dia menyemangatinya, bahwa apa yang sedang orang-orang ini perjuangkan pasti akan berbuah manis. Sebuah kalimat pencambuk untuk orang-orang itu. Bahwa keadaan memang sedang tak baik-baik saja. 

    Dalam slide selanjutnya, sang editor melanjutkan untuk orang-orang yang hari ini beruntung jalan hidupnya. "Untuk kalian yang hari ini masih bisa kerja dan makan : syukuri, nikmati, berbagi dan mawas diri"

    Sebuah alarm reminder yang pada saat itu untuk diriku sendiri. 

    Ketakutan kita juga langsung ditempeleng bahwa pada awal bulan Oktober ini, Indonesia sudah berada dalam jurang resesi. Bank dunia memprediksi goncangan ekonomi berkisar di angka 2 persen. 

    Membangkitkan kembali gairah ekonomi memang hal yang sulit. Ini menampar siapa saja. Aku pun juga. 

    Sementara itu yang aku lakukan di dua bulan terakhir ini sudah diliputi rasa malas, entah kenapa. Kemudian memikirkan peningkatan skill dalam diriku untuk belajar data science, mumpung masih muda-single-dan-belum menikah, so why not. 

    Segala hal keegoisan itu mendadak menampar logikaku. Oh oke, masih banyak orang yang tidak seberuntung kita. Apa yang harus kita kerjakan. Kalau ada ruang-ruang berbagi di sana. Ayo manfaatkan. Untuk apa, di momen ini banyak tangan yang harus teraih dan tergapai. 

    Adanya pandemi atau tidaknya, sebenarnya status sosial, ketidaksetaraan, dan konflik-konflik kelas memang selalu ada. 

    Menjaga ruang sesempit apapun yang bisa kita raih, kenapa nggak. Ekspektasi pandemi ini akan berakhir segera, sepertinya butuh waktu panjang. Tapi, percaya bahwa setelah ada kesulitan pasti ada kemudahan adalah secercah harapan yang harus kita jaga asanya.

    **

    03/10/2020
    selamat datang oktober yang membuatku tertantang untuk menulis sepanjang waktu, hahaha

    Menjaga Asa


    Continue Reading
    Kekasih, jika di tempatmu hujan sampai petir berteriak begitu perih, sempatkah berpikir tentang ku?
    Jika tumpukan pekerjaan di kota itu membuatmu muak, sempatkah suara jeritku kau dengar merdu?

    Bila kau saja lelah untuk mengembuskan napas yang berat itu, sempatkah kerutanmu itu meninggi? Ataukah terbawa dengan hasrat membaramu? 

    Ketika kamu menyadari bahwa dunia bergerak dengan begitu munafik, lantas kapan kau luangkan waktu. Pelan-pelanlah, Kasih.

    Sudah lama kau tidak mencukur rambutmu sampai begitu panjang karena matamu selalu berjibaku. 

    Kasih, sempatkanlah malam ini ukir senyum manjamu pada langit. Aku yang jauh dari satu cakrawala tempatmu berharap kau lakukan itu.

    Bukan untuk menenangkanku. Tidak menginginkan kamu melakukan pengorbanan itu di hadapanku. Lakukanlah dengan pelan agar hatimu tidak begitu penat mengurus bagaimana dunia ini bekerja. 

    Pelan, saja kasih. 

    (*)

    Jumat, 25 september 2020

    Terdengar Ben Platt - Vienna mengalun menemani senduku


    Continue Reading
    Mungkin sekitar satu atau bahkan dua bulan terakhir ini, aku berada di titik malas untuk menulis. Yah, menulis di blog ini. Kemudian malas melakukan apapun. Entah, aku terkadang berkaca pada perjalanan hidup. Bahwa suatu momen aku punya rasa kepercayaan diri yang besar untuk melakukan sesuatu. Di sisi lain, ada kalanya aku berasa tidak ingin melakukan apapun. 

    Plus, aku juga ada perjanjian diri pada diriku masa lalu yang membuat aku bisa bertahan untuk menulis. Pencapaian yang ingin aku lakukan juga sesederhana setiap minggu bisa menulis secara rutin. 

    Minggu ini atau bahkan belakangan terakhir ini menulis adalah sesuatu hal yang tidak aku harapkan untuk aku lakukan. Wkwk. 

    Tapi tidak masalah untuk selalu bertahan dan membuat kekonsistenan. Yaah, padahal yang sedang aku galaukan hanya itu. 

    Di sisi lain, aku merayakan mendapat subsidi gaji yang langsung aku belikan buku the black swan ini. Terlambat sih, karena buku ini keluar 2008 lalu. Tapi, tak ada yang terlambat buat baca buku kan ya. 

    Buku ini mengajari ku bahwa kita tidak mengetahui sepenuhnya rahasia yang terpendam di dunia. Kita terkadang merasa tau segalanya. Tapi bagaimana jadinya jika suatu peristiwa atau kejadian yang tiba-tiba datang dan tidak kita harapkan terjadi. 

    Pembuka buku ini sudah menarik minat. Dan mampu menggambarkan filsafat keseluruhan. Tentang keyakinan masyarakat luas bahwa angsa itu berwarna putih. Pendapat tersebut gugur, ketika penjelajah dari Eropa datang ke Australia dan menemukan angsa hitam. 

    Jadi begitulah. Aku tidak tahu apa yang tengah aku bagikan ini bermanfaat atau tidak. Mungkin salah satu faktor perenungan yang membuatku malas menulis. Mungkin? Dua bulan terakhir pikiran hanya stag di beberapa bacaan dan pikiran berlebihan soal banyak hal. 

    Yah, ku pikir kita harus hidup sehidup-hidupnya dengan kemampuan yang kita miliki. Memperjuangkan hidup, membuat realita yang menarik, dan berselonjoran sambil menghitung berapa daun yang berjatuhan di depan rumah kita. Hahaha. 

    Semoga hari-hari kita selalu menyenangkan ♥️

    19/09/2020
    Sabtu
    (*)


    Continue Reading
    Dulu aku percaya, masa ada yang menderita alergi. Tapi nyatanya aku juga mengalaminya.

    Sempat saat ikut pesantren kilat ketika SMP, aku pernah bersebelahan dengan teman. Namanya Agrit. Dia cerita kalau dia alergi es. Ah masak, tapi dia melalui alergi itu baik baik saja.

    Iyaa, hanya benjol benjol merah tapi gak gatal sama sekali.

    Tahun 2017 aku mengalami hal yang sama. Iyaa. Aku baru tahu kalau aku juga terkena alergi-alergi semacam yang diderita orang-orang.

    Pada saat sebulan menjalani kursus bahasa Inggris TOEFL di Pare, Kediri aku sempat dilanda sakit demam. Pada umumnya, aku sakit yaa minum obat paracetamol untuk meredakan sakit. Tapi kali ini beda.

    Aku meminumnya di sore hari. Sambil belajar latihan ngerjain soal di depan warung. Sudah makan dan berniat minum obat panadol yang sudah aku beli di minimarket. Saat minum, sebenarnya bukannya langsung cepat sembuh, aku harus merasakan gatal luar biasa dan tubuh bertambah hangat.

    Setelah kursus bahasa inggris selesai di bulan November, aku sempat sakit demam lagi di Januari 2018. Kali ini aku meminum obat di malam hari. Dengan niat agar cepat bisa tidur. Dalam kandungan paracetamol kan ada sedikit efek ngantuk kan ya, jadi aku pikir setelah minum obat aku segera tidur nyenyak.

    Harapan tinggal harapan, bukannya tidur nyenyak, aku justru merasa gatal luar biasa dari kepala sampai kaki. Ngeri, dan kulit berasa bengkak. Mungkin aku mengalaminya selama kurang lebih 5 jam.

    Langsunglah, dengan kekuatan hendpon jadul aku cari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku baru tahu bahwa aku mengalami alergi obat. 

    Alergi bisa dikatakan ketahanan tubuh yang tidak mau terima zat zat luar. Sebagai bentuk pertahanan diri sekaligus protes yang ditunjukkan tubuh kita.

    Dari pengalaman itulah aku tahu, tubuhku tidak mau terima obat semacam paracetamol. Bahkan hingga saat ini jika aku harus mengalami sakit demam, pelarianku hanya tolak angin atau menyibukkan dengan sugesti pikiran pikiran positif.

    Sejauh ini semangkok bakso udah cukup mampu meredakan sakit demamku. Dan entah, alergi terhadap obat paracetamol akan bertahan sampai kapan. 

    ***
    14:00 12/09/2020
    Bercerita mengenai alergi seperti tema minggu ini. 
    Hampir seminggu terima subsidi gaji pemerintah, asyik 🙃
    Mari kita investasi, mumpung harga saham sedang anjlok 5 persen 🤤



    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (1)
      • ▼  Feb 2026 (1)
        • Foto Haji 2025
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top