Menelaah Keruwetan Isi Otak Dan Brown Lewat Inferno

6:15 PM

Tuan, lama tidak ku sapa diri ini. Bersembunyi dalam riuh yang dibuat bumi. Katakanlah mengenai rasa ketidakadilan yang lagi-lagi menghantui.

Ah,Tuan. Kapan dunia ini akan baik-baik saja?

Apakah tak pernah ada?

Kemarin, hamba berdialog dengan teman hamba. Mengenai banyak hal. Hal yang dibahas sebenarnya saling bertolak belakang tapi memiliki benang merah yang kasat mata.

Berawal dari bedah karya milik Dan Brown yang berjudul Inferno. Iya, karya Dan Brown yang ini adalah titik balik cinta hamba pada sang penulis yang kian memudar. Nanti hamba akan jelaskan di akhir bagian, kenapa hamba seperti itu.

Inferno mempunyai tema besar mengenai ledakan penduduk. Ada salah satu tokoh yang dibuat Dan Brown bernama Zobrist. Seorang ilmuwan yang juga menyukai karya sastra milik Dante Aligheri. Zobrist memiliki ide revolusioner dan radikal mengenai apa yang terjadi pada bumi. Ternyata ledakan penduduk membuat bumi seolah sekarat.

Tuan, gambaran bumi ini sekarat nyata adanya. Hamba pun suatu ketika juga pernah membaca suatu artikel. Bahwa tempat terendah di bumi ini (read : palung mariana) ditemukan banyak sampah. Penjelajah dan penyelam itu jauh-jauh menyelam sampai di titik rendah yang hanya mendapatkan hal semengerikan itu. Hamba dibuat elus dada. Energi mereka berbuah pada ketakjuban yang mengerikan.

Tidak semua orang di dunia ini baik. Setiap orang yang lahir di bumi ini tidak bisa memilih dia lahir dari orang tua seperti apa, dari status sosial yang seperti apa, dari ras apa, atau dari kebangsaan apa. Kita berkedudukan sama di bumi ini untuk menghirup napas di udara yang sama pula.

Ilmuwan Zobrist ini menawarkan pada dunia tentang menghancurkan umat manusia melalui sebuah virus. Iya, korelasinya sama dengan keadaan dunia saat ini. Tapi konspirasi yang dibawa bukan mengenai ekonomi. Ada virus dan dibuat antivirus. Ini tidak. Zobrist menginginkan kehancuran itu sendiri.

Tuan, hamba bahkan digiring untuk setuju dengan apa yang Zobrist inginkan. Kenapa tidak? Ledakan penduduk akan membuat kesenjangan sosial dan ekonomi menjadi nyata. Seluruh manusia ugal-ugalan untuk berbuat apapun agar tetap hidup. Katakanlah bahwa manusia memiliki 3 kebutuhan primer dengan pangan, sandang dan papan. Manusia akan semena-mena menebang hutan untuk dijadikan lahan baru persawahan demi membuat manusia di bumi ini makan. Dengan sandang pun juga manusia dibutakan untuk beranekaragam fashion maka banyak pula pencemaran limbah yang berasal dari industri tekstil. Maka dengan kebutuhan papan, orang berduit akan semena-mena membuat lahan persawahan menjadi rumah. Begitupun dengan kolong jembatan sekalipun adalah tempat terenak untuk bersandar.

Membayangkan saja ruwet!

Pertanyaan mendasarnya selalu, apa sih tujuan manusia hidup di muka bumi ini? Jika memang benar jawabannya adalah surat Adz Dzariyat ayat 56 mengenai ibadah, lalu kenapa banyak orang jahat. 

Hamba merasa bertanggung jawab pada anak anak yang dilahirkan karena tidak diinginkan orang tuanya. Pada mereka yang demi sesuap nasi tapi harus melakukan pengrusakan pada bumi ini. Hamba paham sekali, bahwasanya manusia hidup untuk mendapatkan hak hidupnya dengan tetap makan (nafs nabatiyyah,- baca 3 komposisi manusia menurut Al ghazali). 

Kembali ke perkara novel inferno ya Tuan. Zobrist melakukan itu karena terilhami oleh pusi Divine Comedy karya Dante Aligheri. Dante membuat skema neraka yang memiliki 7 lapisan. Tuan tahu, salah satu hal yang membuat dia melakukannya karena Dante berkata, "neraka paling bawah dihuni bagi mereka yang tidak melakukan apa-apa ketika dunia membutuhkannya". Zobrist juga menerjemahkan kalimat Dante dengan begitu radikal bahwa dunia harus diselamatkan walaupun melalui kehancuran, begitu intinya.

Bahwa permasalahan yang berkembang saat ini bukan lagi masalah rasa, agama apa yang kamu yakini, jilbab seperti apa yang kamu kenakan, ras apa yang melekat, atau hal lainnya. Bahwa sebenarnya kita dihadapkan pada kenyataan yang mengerikan, yang tidak tahu kapan ini berakhir.

Mungkin tidak masuk akal, bahwa yang hamba lakukan masih hal yang tidak progresif sama sekali. Maka patut kiranya, hamba ditempatkan di neraka terkelam yang dibentuk Dante. Karena bahkan, hamba begitu bodo amat pada semua hal yang terjadi pada bumi ini, pada dunia ini.

Kadang, kita merasa bingung, apa yang harus hamba lakukan di antara banyaknya hal yang mengerikan lainnya.

Lagi-lagi Dan Brown terlalu ciamik membuat semua karyanya, pun termasuk Inferno ini. Saya pun jatuh cinta, tapi tidak secinta pada pandangan pertama novel Angels and Demons.

Oiya Tuan, menjawab mengenai kenapa rasa cinta hamba pada penulis ini sedikit memudar. Memang benar bahwa Dan Brown selalu membuat pembaca tegang. Alur yang dibawa juga cepat, pembaca seolah-olah merasakan dag-dig-dug-nya secara bersamaan. Nah, kelebihan inilah yang kadang membuat hamba sebagai penggemar Dan Brown merasa bosan.

Ah Tuan, sebenarnya itu hanya alasan saja.

Tapi yang jelas, setelah membaca novel Inferno ini (di tahun 2015) hamba pernah berdiskusi memaparkan segala teori Dan Brown Inferno yang hamba kemukakan di atas. Tapi untuk umur dan tempo tahun hamba membaca, algoritma teori hamba tidak secerdas saat ini. Tapi membuat kesimpulan yang sedikit radikal.

Apakah pilihan tidak menikah itu ada? Jika ada, hamba akan memilihnya demi menyelamatkan perabadan dunia.

***

17 Juni 2020
08:13
tepat 3 bulan di rumah
dan rindu kantor


Menelaah Keruwetan Isi Otak Dan Brown Lewat Inferno

You Might Also Like

0 Comments