Hei Kei!

7:03 PM

Hei Khaira,

Selepas pendadaran, aku posting kalimat yang dibuat temanku yang sok-sokkan ke Jepang. Ingin mengalahkan Maflahah katanya. Haha, orang kedua setelah Zealandia Sarah adalah Keyra. Hingga dia balas status di WA-ku.

"Kamu kompre kok nggak bilang-bilang. Tahu gitu aku ke Solo." katamu.

Aku pikir itu kalimat basa-basi. Palembang-Solo jauh cuy. Tidak tahunya, dan aku baru tahu kalau dirimu balik lagi ke Pare. Parah sih nggak bilang-bilang! Bahkan sudah 3 minggu. Itu waktu yang lama tanpa aku sadari. Oh oke, maaf! Mungkin aku terlelap pada kesibukan /preketek/ ngurus berkas buat sidang bulan ini. /Hari terakhir bulan Januari adalah hari ini, cuy!/


Saat kemarin aku menuliskan tentang Nindi, sebenarnya sekelebat aku memikirkan sosok yang hampir mirip. Tapi beda karakter. Dan orang itu adalah Kei. Nama sebenarnya adalah Khaira Ukhtiyani. Tetapi nama Kei adalah nama panggilan yang dibuat sendiri oleh Miss Aini. Karena aku juga susah, atau lebih tepatnya terlalu malas untuk memanggil namanya dengan baik dan benar, jadilah aku mengikuti jejaknya Miss Aini dengan memanggilnya Kei. Sesekali aku panggil Ira. Kalau lagi mood aku panggil namanya lengkap, Khaira. Asli Lampung tetapi merantau ke Palembang. Kuliah jurusan Pendidikan Ekonomi, UNSRI.

Dia adikku. Jelas. Sama aku, masih tua-an aku. Ini kayak berasa aku suka akan fakta bahwa aku sudah tua. Haha. Kemarin Desember dia wisuda. Selamat! Maaf ya, tidak datang. Jarak memang alasan yang tepat untuk aku ajukan. Semoga kamu mengerti dan memahami. Padahal dia sedang MFB di Banten. Luar biasaaaah memang. Sepulang dari Pare, diberi waktu sekitar 2 mingguan setelah itu kamu mengabdi. Btw, di UNS tidak ada yang berangkat MFB di kloter bulan Desember. Harusnya sih ada, si abay. Tapi dia mendadak mundur di H-2 keberangkatan. Parah sih! Oke cukup untuk intermezzo yang berlebihannya. 

Khaira orang yang tidak aku kenal sebelumnya. Bahkan ketika FLC di Bandung pun kita tidak saling menyapa dengan benar. Halah. Justru aku pertama kali menyapa dia saat SLT. Dan waktu itu, kita menginap di rumah kontrakkannya Desy di Bogor. Ingat tidak orang itu saat aku menyapanya dan dia berjibaku dengan pekerjaan mengoreksi anak didiknya. Kata dia, dia sedang dalam masa PPL. Atau semacam magang di sekolah untuk para calon guru. 

First impresion pertama ketika aku melihat Kei adalah dia orangnya pasti lurus-lurus saja. Seorang ukhti-ukhti. Ya bener sih, nama belakangnya saja Ukhtiyani. Ya, semacam orang yang sengaja membuat jarak, begitu sih. Persepsi awalku. Untung saja, kita sekamar ya buk selama sebulan di Pare. Dan ternyata kita bisa tahu lebih banyak hal ketika kita bersama. Dari mulai kebiasaan-kebiasaannya. Sampai ke hal yang tidak penting lainnya.

Persis mirip dengan Nindi. Dia adalah orang yang bisa tidur dengan mudah dan gampang. Kalau siang tidak ada kelas gitu, dia tidur. Kalau malam sebelum tidur, dia pasti youtube-an nonton American Gots Talent. Atau bentuk reality show lainnya. Dan teman sekamar satunya, sibuk dengan streaming nonton Stranger Things. Kalau aku nonton apa, sudah tahu dong. Kita teman sekamar yang sangat toleran satu sama lain terhadap perbedaan. Keren sih! Ingin mengulang masa-masa itu lagi, sungguh!

Hei, kita bahkan pernah semalam tidak tidur malah curhat gak jelas padahal besoknya kita scoring. Parah sih! Hm... Kayaknya kita mengganggu Zealan deh. Dia tidur di tengah, diantara aku dan Kei. Tapi kita curhatnya juga saling berjauhan. Kayak lagi marahan. Halah, apaan sih. Lucu juga. Dari malam itu, kita masing-masing bertiga sudah saling bongkar satu sama lain. Apapun! Klasik memang. Gegara di Batch sebelumnya, sudah saling bongkar gitu. Dan kita mah hanya bisa merealisasikannya dengan teman sekamar. 

Kita juga pernah melewatkan hujan-hujanan bersama. Haha. Waktu itu aku lagi sakit. Parah sih. Demam gtu dan pingin banget makan bakso. Sudah tahu ya, di luar mendung dan sudah dipastikan akan turun hujan lebat, tetap saja ngeyel keluar. Alhasil, kita pulangnya hujan-hujanan. Saat kita berteduh itu, aku berhasil mengabadikan momen kita berdua. Sayangnya tidak tampak wajahmu. Hanya sandal dan sepeda yang ditepikan di pinggir jalan. 

Pernah suatu ketika, kamu bicara tentang jodoh. Dan kamu bilang, "kayaknya aku gak bakal jodoh deh sama orang Jawa, Bil." Hahaha, lucu sih. Saat kamu berbicara tentang kebiasaan orang Sumatra. Beberapa suku yang berada di dalamnya. Dari situ, aku menangkap keanekaragaman. Orang jawa saja banyak golongan-golongannya. Logat juga beda. Apalagi di Sumatera ya.

Hei Kei, maafkan aku yang kadang keceplosan dan mungkin terlalu peka melihat gelagat aneh ketika mas "itu" ngodein kamu. Sungguh aku tidak tahu bahwasanya teman kita yang satunya juga suka. Okee, cukup aku saja yang tahu ya. Kamu lucu juga sih membuat orang tarik ulur. Haha. Terima kasih sudah melewatkan perjalanan gila bersama. Sepertinya, mengenalmu selama sebulan tidak pernah cukup. Memang ya, manusia itu serakah dalam banyak hal. 

Suatu siang, kamu melewatiku tanpa menyapa. Aku berhenti di depan Kosan Donal untuk beli buah, sembari menunggumu keluar dari GE Aussie. Saat lagi berbincang bagaimana caranya untuk meloakkan galon-galon kita di dalam kamar ke ibu Donal, eh kamu malah melewatiku begitu saja.  Sesampainya di Kosan, si Putsar bilang. "Teman sekamarmu itu di puk-puk dulu sana!" Lah, aku kan kaget. Tidak tahunya kamu berderai air mata.  Setelah kamu baikan dan langsung tidur siang, aku menyelinap pergi ketemu Dini untuk makan siang. Dan aku tanya, barang apa yang membuat orang merasa baikan setelah menangis. Sebagai teman sekamar, sesungguhnya aku juga bingung. Untuk membuatmu merasa baikan, maka aku belikan es krim. Dan Zealandi membelikan rujak. Fix, kita pesta makan hari itu. Hal terkocak selanjutnya adalah saat mau masuk kelas Mister Maul di sorenya, kita semua memparodikan waktu menangismu. Parah sih. Kita memang bukan teman yang baik. Haha!

Untuk Kei, kita saling mendoakan untuk setiap kebaikan. Semoga kamu lancar dalam raihan impianmu. Amin. Jangan merasa terpuruk ketika keadaan memaksamu untuk jatuh. Percayalah bahwa Allah akan menegakkan bahumu. Semangat terus! Jangan dianggap beban. Anggap saja proses panjang yang harus kamu lalui untuk mencapai hasil maksimal. Memang sih harus berderai-derai air mata. 

Sama seperti yang aku utarakan sejak awal. Pertemanan kita selanjutnya harus lebih lama dari jangka waktu sebulan. Aku tunggu di Solo. Dan, pesanku padamu masih sama. Jangan lupa untuk bahagia!


y-o-u-r---r-o-o-m-m-a-t-e-, 



n.a.b.i.l.a...c.h.a.f.a....
Ska, 31/01/18
09.56 am.



*) Who's next?

| | |

Ketika aku bersama Kei!








***


You Might Also Like

0 Comments