Dialog tentang Hilang, Kehilangan, Dikebumikan!

1:22 AM



Kita memang tidak akan hidup panjang Esmeralda~

Saya tahu itu. Tapi setidaknya buatlah hidupmu itu bermakna. Siapa tahu nanti, sepulang kita berjumpa, justru tidak akan membuat saya berjumpa dengan nona untuk kedua kalinya. Siapa tahu. Toh, kita tidak memiliki kepastian karena tidak menggenggam masa depan. Ceritakan ke anak cucumu ya, kamu punya kawan semenarik aku. Barangkali, kamu bisa tengok foto yang tersimpan di jejak digital kita hari ini. Terlalu mahal untuk dibuat frame cantik dan dipajang di tembok kamarmu.

Merindu. Lagi-lagi. Perkara rindu.


Doa kita berbalas-balasan di langit. Semoga sampai ya. Doa saling membaikkan, bertanya kabar dan hanya dijawab oleh langit dengan suara lirih interpretasi kita sendiri, "sepertinya dia baik-baik saja."

Lagi-lagi berbicara tentang kemungkinan. Karena segala yang berkamuflase di dunia ini hanya terbatas pada kata 'mungkin'. 


Kemungkinan tidak ada sapaan kita di pagi hari. Sama-sama menyeduh kopi khas Lampung yang selalu kita nikmati di sela-sela bersenda gurau. Mungkin saya akan bertemu Tuhan saya lebih awal nanti. Siapa yang tahu. Bahkan berapa juta semut yang meninggal detik ini pun, (siapa yang akan tahu) kalau Sang Penguasa Jagad Raya ini sudah berkehendak, to?

Sebentar nona. Kita nikmati aroma kopi ini sebentar setelah itu kita memulai diskusi pendek kita ini. 

"Kamu sudah siap tabungan berapa juta untuk membeli surga nona?" tanyaku.

Terdiam.

"Sepertinya kita sama-sama harus mempersiapkan datangnya kematian kita." kataku mantap.

Benar sekali. Karena kita tidak tahu bagaimana cara menyambutnya.

...


Nabila dalam sebuah perenungan,
Kartasura, 5-April-2019 
15.21 


You Might Also Like

0 Comments