Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini
    nabila chafa:


    Nabila Nurul Chasanati C0513036 FSSR UNS
    Chafa.nabila27@gmail.com ) 085643664804


    November 2002, para pemimpin ASEAN menyetujui prakarsa Perdana Mentri Goh Chong Tong untuk membentuk proses integrasi ekonomi ASEAN sebagai pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN. MEA memungkinkan pembuatan adanya wilayah Asia Tenggara menjadi suatu pasar dan  landasan produksi tunggal. Karena agenda kerjasama ekonomi ASEAN memusatkan perhatian pada upaya integrasi. Sasaran pencapaian suatu pasar dan landasan produksi tunggal, dengan pemanfaatan itulah peranan Indonesia di dalamnya tak kalah penting.
    Posisi perekonomian Indonesia selalu berada dalam kestabilan. Tahun 2010 Indonesia berada 6,1 tahun berikutnya 6,5 dan terakhir pada tahun 2012 Indonesia berada pada 6,2 persen. Hal ini berbeda jauh dengan angka pertumbuhan Negara-negara kawasan Asia Tenggara lainnya yang bahkan mengalami perbedaan yang signifikan tiap tahunnya yang cenderung turun persentasenya. Hingga survey yang dilakukan McKinsey ekonomi Indonesia akan berada di peringkat nomor-7 dunia pada tahun 2030.
    Kekayaan Sumber Daya Alam, kualitas demografi penduduk, keuntungan geografis dan keragaman budaya dan pariwisata menjadi modal penting bagi Indonesia. Kawasan Indonesia yang terdiri dari banyak pulau membuat Indonesia kaya akan budaya, karena terdiri dari berbagai suku bangsa, dan bahasa inilah sebuah keberagaman menjadi sebuah nilai tambah dalam mendayagunakan semaksimal mungkin bagi terciptanya iklim potensial bagi perekonomian. Karena adanya hal tersebut didukung pula oleh bentukan alam seperti danau, gunung api, pantai dan potensi alam lainnya ini dapat memajukan pariwisata Indonesia. Kerja dari ekonomi akan berkembang di sektor tersebut.
    Data kependudukan Indonesia masih menunjukkan bahwa angka usia produktif masih besar hingga berpotensi menjadi tolak ukur untuk pembangunan di Indonesia. Pergerakan wirausaha oleh masyarakat sudah menunjukkan suatu indeks percepatan, sehingga dibutuhkan tenaga kerja dalam menanganinya. Ini bisa menjadi sebuah pisau tajam agar pemerintah lebih memaksimalkan potensi SDM Indonesia agar mempunyai daya guna. Inilah yang membuat Indonesia optimis dapat mengoptimalkan ekonominya dengan adanya Masyarakat ASEAN 2015 besok.


    Meskipun demikian, terdapat beberapa tantangan fundamental yang perlu diwaspadai, antara lain kualitas infrastruktur indonesia yang masih belum memadai. Mulai dari transportasi Udara seperti halnya Bandara Soekarno Hatta yang didesain hanya mampu menampung 18 juta penumpang tiap tahunnya tetapi dipaksakan menampung sekitar 43,7 juta penumpang yang akan terus tumbuh ± 15-20% per tahun. Lalu, Indonesia mempunyai pantai sepanjang 81.000 km namun hanya menampung 32 pelabuhan laut besar yang sekitar satu pelabuhan 2.500 km panjang pantai hingga menyebabkan kelebihan kapasitas (over capacity). Jalan di Indonesia hanya 48% dalam keadaan baik, 30% dalam keadaan sedang dan yang rusak 20%, sisanya rusak parah. Hal ini membuktikan bahwa jalan di Indonesia dipandang tidak layak.  Dalam hal pembangkit tenaga listrik tahun 2011, rasio elektrifikasi di Indonesia baru 72,95%, jauh tertinggal dibandingkan Singapura dengan rasio elektrifikasi 100%, sedangkan Malaysia dan Brunei sekitar 80%. Harga listrik produksi PLN juga tergolong mahal karena masih menggunakan BBM dan batubara yang harganya terus meningkat. n

    Di samping itu, kualitas dan kapabilitas SDM di Indonesia masih dibawah sebagian negara ASEAN. Meskipun seperti yang penulis paparkan diatas, indeks pertumbuhan usia penduduk yang produktif relatif tinggi tidak mampu menjadi sumber kekuatan ekonomi mandiri kita. Karena Indonesia memiliki 450.000 wirausaha atau 0,18% dari total populasi, masih sangat jauh di bawah angka ideal. Perlu ekosistem yang kondusif untuk mendorong kewirausahaan yang melibatkan berbagai pihak. Seperti pemerintah sendiri untuk membangun infrastruktur agar lebih baik lagi, mengembangkan regulasi pendukung dan menyederhanakan proses perijinan. Dari Universitas misalnya bisa  Memodifikasi metode & kurikulum pengajaran untuk mendorong kewirausahaan dan mengembangkan lingkungan yang kondusif bagi siswa dan wirausaha untuk berinteraksi.
    Dengan cara-cara inilah, kesiapan Indonesia dalam menyambut era baru Asia yaitu masyarakat ekonomi ASEAN dapat dimaksimalkan oleh banyak pihak demi tercapainya suksesi bahwa Indonesia harus menjadi pemenang dalam era baru ini. Semoga…

    Endnotes:
    Abdul Rahman, Peluang dan Tantangan Indonesia dalam Mendorong ASEAN dalam sebagai Kekuatan Baru Asia, disampaikan dalam PATA Hub City Forum: Yogyakarta 11 Oktober 2013


    Continue Reading
    nabila chafa:


    The 7 Laws of  Happinnes
     Ringkasan :
               
                Banyak orang yang meracunkan kebahagiaan dengan kesenangan. Kesenangan bisa dicapai dari hal-hal yang bersifat fisik. Ini menghasilkan kepuasan, tetapi kepuasan yang dihasilkannya tidak akan bertahan lama. Kebahagiaan dan Kesenangan adalah dua jalan yang membentang dengan arah yang berlawanan. Dengan demikian, ketika memilih jalan kesenangan, kita sebenarnya sedang berjalanan menjauhi jalan kebahagiaan. Sebagai manusia, kita memang lebih mudah terjebak ke dalam jalan kesenangan ketimbang menyusuri jalan kebahagiaan.
                 Jalan kebaikan senantiasa berakhir pada kebahagiaan sementara jalan kesenangan sering berakhir pada kesengsaraan. Sukses berarti mendapatkan apa yang Anda inginkan, sementara bahagia adalah menginginkan apa yang anda dapatkan. Sukses ukurannya adalah kuantitas. Ukuran kebahagiaan adalah kualitas. Kebahagiaan tidak mengacu pada pencapaian, tetapi pada proses.
                            Menjadi Bahagia…
                            Kita tidak membutuhkan apa-apa.
                            Kita hanya membutuhkan diri kita sendiri.
                            Untuk menjadi Bahagia…
                            Anda tidak perlu membuat target-target.
    Anda tidak perlu mengejar apa pun.
    Menerima keberadaan Anda apa adanya,
    Bersatu dalam kepasrahan dan dalam kekinian.
    Pikiran adalah kunci utama perubahan. Seluruh diri kita adalah hasil dari yang telah kita pikirkan. Jadi, apa yang terjadi pada diri kita sekarang ini adalah hasil dari pikiran kita pada masa yang lalu. Apa yang akan terjadi pada kita di masa yang akan datang adalah hasil dari yang sedang kita pikirkan sekarang.
    Prinsip-prinsip Pikiran :
    1.      Kekuatan terbesar kita adalah kemampuan memilih pikiran.
    2.      Kita tidak dapat mengontrol perasaan kita secara langsung, tetapi dapat mengontrol perasaan kita dengan cara mengontrol pikiran.
    3.      Kita tidak dapat berhenti berpikir. Dalam kondisi apa pun, kita selalu memasukkan makanan ke pikiran kita.
    4.      Kita hanya dapat memikirkan satu hal dalam satu waktu.
    Tak mungkin mengerjakan beberapa hla sekaligus. Kita melakukannya secara bergantian, bergantung pada stimulasi yang paling menarik perhatian saat itu.
    5.      Pada saat kepala terinfeksi pikiran negatif, anda dapat membuangnya saat itu juga.
    6.      Kemampuan mengubah pemikiran adalah seperti otot; dapat tercipta berkat latihan dan disiplin yang sungguh-sungguh.
    7.      Pikiran tidak dapat membedakan mana kejadian yang telah lama terjadi dan mana kejadian yang baru saja terjadi. Begitu memikirkan kejadian yang Anda alami walaupun telah berlangsung lama, Anda akan merasa seolah-olah kejadian tersebut baru saja terjadi.
    The 7 Laws of Happiness atau Tujuh Rahasia Hidup yang Bahagia adalah Tiga rahasia yang pertama berkaitan dengan hubungan kita dengan diri kita sendiri. Tiga rahasia kedua berkaitan dengan hubungan antara kita dan orang lain. Satu rahasia yang terakhir berkaitan dengan hubungan antara kita dan Tuhan.
    Rahasia 1: Sabar (Patience)
    Sabar adalah dasar dari segala hukum yang lain. Tanpa sabar, tak mungkin pula kita bisa menemukan kesederhanaan dalam setiap masalah yang kita hadapi. Tanpa sabar, kita tidak akan pernah mencapai kepasrahan.
    Sabar adalah kunci dari segala kunci, sumber dari segala sumber kebahagiaan. Bagi orang sabar, tak ada kata tak bisa. Tak ada kata tak mungkin untuk dilakukan. Keberhasilan hanyalah masalah waktu. Hanya orang yang sabar yang akan mendapatkan keinginannya.
    Rahasia 2: Syukur (Garatefulness)
    Bersyukur adalah sebuah proses berhenti sebentar di setiap momen dan menikmati momen tersebut. Kombinasi sabar dan syukur akan menghasilkan kebahagiaan yang luar biasa. Bersyukur tidak ditentukan oleh sesuatu yang kita dapatkan (factor eksternal) tetapi lebih pada kondisi internal. Rasa syukur juga akan sangat ditentukan oleh karakteristik diri Anda sendiri. Rasa syukur juga bergantung pada seberapa besar usaha yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.
    Semakin besar rasa syukur kita, semakin besar pula kenikmatan yang kita peroleh. Keberhasilan adalah mendapatkan yang kau inginkan, kebahagiaan adalah menginginkan yang kau dapat. Jika tak mampu bersyukur atas apa yang kau peroleh, bersyukurlah karena hal yang tak kau dapat.
    Ada 3 musuh Kedamaian Pribadi :
    1.      Penyesalan akan kesalahan kemarin.
    2.      Kecemasan akan masalah besok.
    3.      Tidak adanya rasa syukur untuk hari ini.
    Rahasia 3: Sederhana (Simplicity)
    Simplicity atau membuat jadi sederhana adalah kemampuan kita melihat hakikat. Yang terjadi di dunia ini sangatlah sederhana, tetapi kita sering melihatnya dengan sangat rumit. Masalah terlihat rumit karena kita kehilangan perspektif. Kita tidak dapat melihat masalah sebagai mana adanya. Kita melihat masalah dari tempat dimana kita berada. Tempat ini sangat terbatas dan inilah yang membuat kita tidak dapat menemukan esensi persoalan yang sebenarnya. Solusinya sangat sederhana saja, kita “keluar dari kotak” dan memandang masalah tersebut dari sudut pandang yang berbeda.
    Rahasia 4: Kasih (Love)
    Bagi orang-orang yang mencintai, cinta itu sendiri telah menjadi sebuah kebahagian dan kemengan sejati, apalagi bagi orang yang di cintai. Cinta yang di bicarakan di The 7 Laws of Happiness adalah cinta yang universal, bukan cinta birahi. Inilah cinta yang paling mendasar, cinta yang paling universal, cinta yang bersifat melepaskan, dan cinta yang tidak mementingkan diri sendiri. Cinta yang dimaksud adalah sebuah cinta yang jauh lebih fundamental dan universal. Sedangkan cinta birahi diwarnai dengan oleh gairah, hasrat, serta keinginan untuk memiliki dan menguasai. Cinta birahi terkait dengan membutuhkan segala sesuai dengan harapan kita. Karena cinta ini bersifat transaksional.
    Cinta universal adalah cinta yang kita berikan dengan cuma-cuma. Orang yang kita cintai itu bisa saja tidak menguntungkan kita, mengecewakan kita, tidak memenuhi harapan kita, tetapi kita tidak berhenti mengasihinya. Inilah cinta yang murni, yang tidak didasarkan pada kalkulasi untung rugi, tetapi bersifat Transformasional dan Mencerahkan. Cinta yang dimaksud lebih didorong oleh keinginan manusia untuk meraih kebahagiaan, yang intinya adalah kerinduan akan kesatuan, untuk mengatasi perasaan terpisah kita.
    Rahasia 5: Memberi (Giving)
    Manifestasi kasih selalu dalam tindakan memberi, apapun bentuk pemberiannya. Kasih adalah paradigma, sementara memberi adalah perilakunya. Dengan melihat factor ini, kita dapat mengelompokkan perilaku manusia ke dalam 4 tipe :
    1.      Orang yang mengasihi tetapi tidak memberi.
    2.      Orang yang mengasihi dan mewujudkan kasih itu dalam bentuk tindakan memberi.
    3.      Orang yang memberi tetapi pemberiaan tersebut bukanlah didasari oleh kasih.
    4.      Orang-orang yang tidak mengasihi dan juga tidak memberi.
    Kebaikan dalam kata-kata menghasilkan keyakinan. Kebajikan dalam pikiran menghasilkan kedalaman. Kebajikan dalam memberi menghasilkan rasa kasih.
    Rahasia 6: Memaafkan (Forgiving)
    Memaafkan adalah melepaskan masa lalu. Memaafkan berarti tidak memberikan tempat bagi masa lalu merusak kesempatan kita untuk berbahagia dimasa sekarang. Memaafkan sangat diperlukan karena hanya dengan memaafkan kita dapat menutup masa lalu yang kelam dan menyongsong masa kini yang begitu indah dan begitu penuh. Orang yang tidak dapat memaafkan pastilah tidak dapat menikmati masa kini dan menyongsong masa depan.
    Salah satu cara yang efektif untuk memaafkan orang lain adalah berusaha memahami orang tersebut. Memahami dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, Memahami ketidaksempurnaan.  Perlu pemahaman bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan bahwa sesungguhnya kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidaksempurnaannya. Kedua, memahami orang lain dengan cara menempatkan diri kita diposisi orang tersebut. Kita senantiasa berusaha menempatkan diri kita diposisi orang lain, tetapi kenyataannya tidak bisa melepaskan posisi kita sekarang.
    Kekesalan memberimu keberhasilan. Jadilah orang yang pertama kali memaafkan; senantiasa memaafkan dirimu lebih dulu.
    Rahasia 7: Pasrah (Surrender)
    Pasrah adalah kata kunci dari semua perjalanan kita. Pasrah adalah kata pamungkas yang akan menyadarkan kita bahwa segala usaha dan kemampuan kita ada satu kekuatan yang berada diatas segala kekuatan. Memasrahkan diri secara total kepada Tuhan dapat kita yakini sepenuhnya bahwa Tuhan dapat dipercaya.
    Tingkat 1: Menyakini bahwa Tuhan itu ada.
    Tingkat 2: Percaya bahwa Ia senantiasa melindungi.
    Tingkat 3: Percaya bahwa Ia Maha Mengetahui segala sesuatu.
    Tingkat 4: Percaya bahwa Ia senantiasa memilihkan yang terbaik untuk kita.
    Pasrah barulah dapat dilakukan setelah Anda lakukan kerja keras. Dengan kerja keras dan kemudian memohon pertolongan Tuhan, Anda sebenarnya sedang memohon peluang Tuhan untuk bekerja.

    Menyerahkan semuanya kepada Tuhan akan membuat kita pasrah, tenang dan relaks. Hal ini akan sangat sulit dilakukan apabila kita tidak percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Kepercayaan seperti ini, adalah bentuk kepercayaan tertinggi karena kita tidak sekedar percaya bahwa Ia ada, tetapi kita benar-benar menyerahkan segala diri kita sepenuhnya dalam kehendak-Nya.
    Continue Reading

    Bukan hal yang baru kasus mengenai pemboman di berbagai tempat, khususnya di kota Solo sendiri. Tanggal 21 Januari 2011 benda mencurigakan ditemukan oleh seorang anak kecil di lapangan yang tepat pada saat itu digunakan sebagai tempat berlangsungnya upacara tradisi Ya Qowiyyu. Akibat kejadian itu, tim gegana dan polda setempat langsung mengamankan daerah tersebut.
    Kasus ditemukannya bom ini penting untuk dianalisis secara lebih serius mengingat kejadian ini membuat warga yang mengikuti prosesi upacara Ya Qowiyyu menjadi khawatir akan keselamatan jiwanya. Meskipun bom yang ditemukan ini tidak meledak. Apabila bom ini mampu meledak, berapa puluh ribu manusia kehilangan nyawanya. Kesadaran ini seolah membutakan cara berpikir palaku akan kesalahan yang ia lakukan. Lantas apa sebenarnya yang melatarbelakangi perbuatannya ini?

    I.       Pengaruh Teror Bom bagi Tradisi Ya Qowiyyu
    Menilik dari kasus diatas, keterangan dari warga dan panitia Ya Qowiyyu bahwa bom ini secara spesifik tidak mempengaruhi jalannya upacara Ya Qowiyyu sendiri. Ironisnya, memang ditemukan tujuh tersangka pelaku pembuat bom ini adalah orang-orang yang berada di dalam ’Islam radikal’.[1] Dari pengelola Masjid Besar Jatinom sendiri, menjelaskan sejarah dari diadakannya tradisi Ya Qowiyyu yang merupakan sebuah wadah dalam dakwah yang dilakukan Kyai Ageng Gribig. Perayaan ini hanya dilakukan sekali selama setahun, yaitu pada bulan Sapar.[2] Sumarta Sastra (1953) secara rinci menerangkan bahwa tradisi ini konon bermula dari cerita tentang Kyai Ageng Gribig yang memberi kue apem kepada muridnya, tetapi jumlahnya hanya sedikit sehingga agar adil kue apem tersebut dilemparkan ke muridnya untuk dibagi. Perayaan ini pula sebagai wujud tanda syukur atas pemberian nikmat Allah SWT, rasa syukur inilah diungkapkan dalam puji-pujian berupa kalimat dalam bahasa Arab Ya Qowiyyu yang berarti Allah Maha Perkasa. Pemahaman kesejarahan ini yang tidak dimengerti secara menyeluruh. Orang awam hanya memandang tradisi Ya Qowiyyu ini tidak memberikan manfaat dan bahkan memberi stigma negatif.[3]
    Sehingga tradisi dalam masyarakat ini, hanya menghasilkan pengaruh negatif. Termasuk dalam hal ini terjadi dalam tradisi Ya Qowiyyu, setelah melakukan beberapa analisa dan wawancara dapat disimpulkan bahwa tradisi tesebut juga mempunyai perubahan negatif terhadap masyarakat Jatinom. 
    Adanya ancaman bom pada acara peringatan Yaqowiyu, masyarakat merasa tidak terlalu terganggu. Masyarakat tetap mendukung terlaksananya upacara Ya Qowiyyu padai setiap tahunnya. Masyarakat tidak takut bila ada ancaman bom lagi, karena mereka merasa bahwa melakukan upacara Ya Qowiyyu sebuah kepercayaan yang akan membawa berkah bagi masyarakat. Secara umum dampak negatif terror bom dari adanya upacara Ya Qowiyyu terhadap masyarakat Jatinom memang sedikit sekali. Tetapi, hal ini harus disikapi lebih serius untuk menjaga ketentraman di masyarakat. Agar kasus serupa tidak terjadi.

    II.       Proses Dialektika Budaya Untuk Pemahaman Masyarakat
    Kepercayaan sebagai suatu kebudayaan kompleks. Geertz menggambarkan dengan  menunjuk pada banyaknya variasi, pertentangan dalam kepercayaan serta konflik-konflik nilai yang muncul akibat perbedaan golongan sosial yang olehnya dirinci menjadi tiga tipe kebudayaan: abangan, santri dan priyayi.[4] Namun, secara keseluruhan perbedaan tiga tipe ini mewujudkan kehidupan masyarakat plural. Tetapi agaknya masyarakat yang plural ini tidak menjadikan hubungan bertambah baik. Banyak sekali komentar-komentar dengan memberikan stigma buruk terhadap salah satu pihaknya. Ketidakdewasaan masyarakat inilah yang membangun hubungan bermasyarakat yang tidak sehat. Masyarakat seolah diperdebatkan paham oleh boleh atau tidaknya tindakan ini dilakukan di dalam satu kepercayaan keagamaan.
    Jika dirunut dari asal-muasal diadakannya tradisi Ya Qowiyyu, ini mempunyai tujuan yang baik demi tercapainya dakwah yang dilakukan Kyai Ageng Gribig. Dengan menyelaraskan kepercayaan yang sebelumnya sudah melekat di masyarakat setempat dengan kemasan dakwah Islam. Secara keseluruhan, perkembangan Islam di Indonesia ini sendiri tidak terlepas dari peranan akulturasi budaya. Peranan budaya lokal sangat penting hingga terciptanya masyarakat plural saat ini.
    Seiring perkembangan zaman, Islam hadir di Jawa dihadapkan dengan masalah yang cukup kompleks yaitu modernitas, globalisasi, kebudayaan lokal dan semua perkembangan kontemporer yang menghampiri perkembangan zaman dewasa ini. Dalam konteks ini, respon kelompok-kelompok atau organisasi Islam di Indonesia dan Jawa, khususnya sangat bervariatif yaitu mulai dari yang konservatif, moderat, liberal, radikal hingga fundamentalis.[5] Perbedaan inilah yang terkadang menjadi pemicu perbedaan yang bersifat keras. Pembagian tipe kebudayaan yang dilakukan Geertz, seolah menjadi cluster yang tidak bisa disatukan. Professor Bachtiar mengkritik klasifikasi ketiga golongan (Abangan, Santri dan Priyayi) ini. Beliau lebih melihat agama sebagai suatu unit analitis yang berupa sistem normatif terbatas yaitu sistem kepercayaan (a system of beliefs) dan membedakan dari unit lain yang bernama adat.[6] Satu tujuan yang sesungguhnya ingin dicapai, yaitu dakwah. Penyebaran Islam berkembang dengan baiknya di tanah jawa dengan pendekatan sosial humanis, hal ini dimaksudkan agar tidak menjadikan perpecahan yang begitu ekstrim antar kelompok yang satu dengan yang lain.  Justru Islam hadir menjadi sebuah pemersatu antar kelompok atau golongan.
    Lantas, kenapa sesama umat Islam harus saling mempermasalahkan boleh atau tidaknya tradisi ini dilakukan. Bahkan ada yang sangat ekstrim mengatakan bahwa tradisi ini mengandung kemusyrikan. Tradisi Ya Qowiyyu hadir di dalam masyarakat Jatinom untuk mengenang Kyai Ageng Gribig atas jasanya dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Jatinom. Perayaan ini ditandai dengan penyebaran apem yang merupakan simbol dari pangapura. Hakikatnya sangatlah sederhana, sebelum kamu meminta maaf, maafkanlah orang-orang yang menyakitimu.[7] Bukan hal-hal yang mengandung nilai kemusyrikan seperti pandangan banyak orang. Titik masalahnya hanya kurang dibukanya pola pikir yang hanya satu pintu. Justru, setiap tradisi ini berlangsung Pak Daryanto yang sebagai atur pambagyo harjo sering mengingatkan bahwa kedatangan warga yang mengikuti prosesi upacara ini bukan untuk mendapatkan apem apalagi berkah dari apemnya itu. Hanya saja, lebih ditekankan pada niat untuk mencari keberkahan sesuai dengan niatan ikhlas lillahi ta’ala.[8]
    Cara Kyai Ageng Gribig dalam menyelaraskan budaya lokal dengan Islam itu sendiri mengena pada masyarakat yang pada masa itu masih memeluk agama Islam. Sampai upacara tradisi Ya Qowiyyu dikenang sebagai upacara untuk melestarikan nilai-nilai keIslaman dengan kemasan kebudayaan lokal. Tinjauan mengenai tradisi bahwa kehidupan kebudayaan berlaku dalam waktu, kebudayaan mempertahankan diri dengan jalan tradisi yaitu pewarisan unsur-unsur kebudayaan dari suatu angkatan menuju angkatan berikutnya, karena sesuatu tidak dengan tiba-tiba untuk menjadi suatu kebudayaan.[9] Tanpa kehidupan kebudayaan itu akan selalu diakhiri dengan kemusnahan. Tradisi merupakan syarat kesinambungan seluruh kehidupan kebudayaan yang ada dalam waktu masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang.
    Hal inilah yang menyebabkan kenapa keberadaan Islam di Indonesia ini sangatlah unik. Berbeda dengan Islam Timur Tengah bahkan Eropa. Islam Indonesia menganut Islam kultural dimana tolak ukurnya ada pada kearifan lokal di daerahnya. Kemajemukan bangsa ini tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa manapun di dunia. Inilah yang menyebabkan, kapanpun varian Islam lokal akan lestari meskipun mengalami perkembangan karena selalu berdasarkan pada akar budaya lokal itu sendiri.[10] Tidak bisa secara eksplisit bahwa Islam kita harus menganut Islam Timur Tengah. Islam kultural di Indonesia berdasarkan kearifan lokal yang ada. Tidak bisa dicampuradukkan dengan Islam Timur Tengah yang sering kita lihat di media massa, menggunakan kekuatan kemiliterannya dalam upaya menegakkan segala sesuatunya.
    Sebagaimana yang sudah diketahui, Islam berdialektika dengan budaya lokal yang pada akhirnya membentuk beberapa varian Islam yang khas, seperti Islam Jawa, Islam Madura dan lain sebagainya. Varian Islam tersebut bukanlah Islam yang tercabut dari akar kemurniannya, tetapi menjadi Islam yang telah mengalami akulturasi dengan budaya lokal. Tidaklah aneh, bagaimana lewat budaya lokal inilah Islam tumbuh. Kyai Ageng Gribig tahu persis daerah yang menjadi tempatnya berdakwah pada umumnya masih menganut kepercayaan Hindu bahkan masih terkandung Animisme dan Dinamisme. Pendekatan-pendekatan bersifat humanis dilakukan sebagai metode dakwahnya. Inkulturasi dilakukan dalam bentuk akomodasi dan adaptasi antara ajaran Islam dengan keberadaan budaya lokal setempat. Dari proses ini dilakukan bertujuan untuk menjaga dan  mempertahankan identitas budaya lokal itu sendiri. Paisun (2010: 156) menegaskan keberadaan Islam itu sendiri tidak tercerabut dari akar ideologisnya. Demikian pula dengan masuknya Islam di dalamnya.
    Agama dan kebudayaan mempunyai dua persamaan. Pertama, keduanya merupakan sistem nilai dan simbol. Kedua, baik agama ataupun kebudayaan mudah sekali terancam setiap kali ada perubahan. Agama dalam perspektif ilmu sosial adalah sistem nilai yang memuat sejumlah konsepsi mengenai kontruksi realitas yang berperan besar dalam menjelaskan struktur tata normatif dan sosial dengan memahamkan dan menafsirkan lingkungan sekitar. Sedangkan budaya merupakan ekspresi cipta, karya dan karsa manusia yang berisi nilai dan pesan religiusitas, wawasan filosofis, dan kearifan lokal (local wisdom).[11] Persamaan ini juga seakan menjadi tumpang tindih. Lagi-lagi masalah pengelompokkan (cluster) menjadi sebuah permasalahan krusial yang tidak berujung. Seolah pemikiran yang hanya melihat satu sisi saja yang menjadi acuan bagi mereka. Kebudayaan dan agama menjadi dua hal yang berbeda. Sehingga dialektika antara agama dan budaya di mata masyarakat umum memunculkan penilaian subjektif-pejoratif. Sebagian bersemangat untuk mensterilkan agama dari kemungkinan akulturasi budaya setempat, sementara yang lain fokus pada pembangunan pola dialektika antarkeduannya (Roibin, 2010: 1).

    III. Kesimpulan
    Kasus teror bom yang terjadi saat tradisi Ya Qowiyyu 21 Januari 2011 seharusnya tidak akan terjadi bila antar kelompok menjunjung toleransi dengan mengeyampingkan pemikiran pragmatisme. Masyarakat tidak perlu dihadapkan oleh keresahan yang tidak berujung oleh kelompok tertentu. Kita meyakini bahwa proses dialektika yang dibangun antara agama dan budaya mempunyai nilai positif. Jika melihat dalam perspektif menyeluruh.
    Pemikiran Geertz mengenai tipologi kebudayaan di Jawa seolah mendikotomikan persatuan antar satu kelompok. Antara masyarakat muslim santri dengan masyarakat muslim abangan sehingga menegaskan bahwa agama Islam di Jawa merupakan kumpulan ekspresi iman, doktrin, ritual yang dipraktikkan masyarakat sesuai tradisi lokal. Bagaimanapun, keberagaman yang dimiliki oleh masyarakat Jawa memberi dampak positif untuk lebih menyelaraskan pemikiran yang mengedepankan dialektika antar keduanya. Hingga tercipta masyarakat yang saling toleransi antar satu kepercayaan yang menjadi watak budaya yang khas di masyarakat Jawa ini sendiri.
    Tradisi Ya Qowiyyu ini bukan hanya suatu upacara dalam melestarikan kebudayaan saja, tetapi menekankan pada bentuk kegiatan sosial sesuai kemasan dakwah. Agar menguatkan kembali nilai-nilai kearifan lokal di dalam masyarakat kita saat ini. Pemaknaan ini harus lebih diuniversalisasi lagi kedepannya sehingga dialektika antara budaya dan agama dapat terjembatani dengan baik di kedua belah pihak.
    Sebagai mahasiswa, kita harus turun langsung ke lapangan. Berdialog langsung bagaimana sebuah tradisi bermula sampai kepada pola pemikiran yang dibangun oleh masyarakat setempat. Jadi, dalam melihat sisi tradisi Ya Qowiyyu ini, kita melihat keseluruhan makna sampai pada hakikat yang terdalam dari melalui dialog. Apalagi banyak sekali wadah bagi generasi muda saat ini terutama mahasiswa untuk terjun langsung di tengah-tengah masyarakat. Salah satu contohnya melalui dunia pengajaran di bidang pengabdian masyarakat yang hampir setiap UKM fakultas mengagendakan hal tersebut dan didukung oleh keterlibatan perguruan tinggi mewajibkan mahasiswanya mengikuti KKN. Hal inilah partisipasi mahasiswa dapat menambah dan mengembangkan pola pikir kita sebagai generasi muda terhadap kearifan lokal yang sudah dijaga masyarakat melalui sebuah tradisi. Kita tidak ingin dikotomi antara tradisi dengan agama menjadi hal yang krusial dan bertahan lama. Sebuah terobosan menggunakan pendekatan dialog dan peran keikutsertaan mahasiswa di dalamnya, akan jauh lebih efektif membangun perspektif generasi muda agar lebih rasional untuk menilai. Jauh dari rasa mendiskreditkan peranan antar kelompok, karena mahasiswa merupakan agent of change, diharapkan membawa perubahan yang baik kedepannya. 



    [1]Menurut Kepolisian Daerah Jateng, Irjen Pol Edward Aritonang dalam portal berita Antara News http://www.antaranews.com/berita/243392/tujuh-orang-jadi-tersangka-teror-bom-rakitan, diakses pada tanggal 23 Oktober 2014 pukul 15.03 WIB.
    [2] KM Sosro Sumarto, Ki Ageng Gribig, (Yogyakarta: SM. Dwi Warno, 1912), hlm. 46. (tulisan Jawa)
    [3] Wawancara dengan Bapak M. Daryanto, Pengelola dan Panitia Tradisi Yuqowiyu, 2 November 2014.
    [4] Geertz, Clifford, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, (terj), (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989), hlm 9.
    [5] Andik Wahyun Muqoyyidin, Dialektika Islam dan Budaya Lokal dalam Bidang Sosial Sebagai Salah Satu Wajah Islam Jawa, (jurnal), (Jombang: Jurnal El Harakah Vol.14, No.1, Januari-Juni 2012), hlm. 20.
    [6] Bachtiar, Harsja W,  1973, The Religion of Java: A Commentary Review, Majalah Ilmu-Ilmu Sastra, 5,1, hal. 85-118.
    [7] Wawancara Pak Daryanto, Op.cit.
    [8] Ibid.
    [9] Sidi Gazalba, Antropologi Budaya II, (Jakarta: Bulan Bintang, 1992). hlm. 147.
    [10] Lihat,. Andik Wahyun Muqoyyidin, Dialektika Islam dan Budaya Lokal Jawa, (jurnal), (Jombang: Jurnal Kebudayaan Islam Vol.11, No.1, Januari-Juni 2013), bagian Pendahuluan dan Diskurusus Agama dan Budaya.
    [11] Hendar Riyadi, Respon Muhammadiyah alam Dialektika Agama, (Koran), (Pikiran Rakyat: 24 Februari 2003), 
    Continue Reading
    nabila chafa:

    Lari…
    Oleh: Nabila Nurul Chasanati

    Aku ingin lari…

    Lari sebisa aku…

    Selama kaki masih kuat menopang beban hidupku.

                Aku ingin lari sambil menangis.

                Biar tak ada orang yang melihat bila aku lemah.

                Sengaja paruku terengah-engah,

                Asalkan beban yang terpendam itu lengah.

    Sebisa aku melawan,

    Selemah aku ditawan.

                Tak ada lagi beban,

                Hanya sebuah isakan.

    Apakah aku perlu benci?

    Meskipun semuanya terekam dalam memori.

                Aaarghh…

                Entahlah…

                Rasanya, semua kepenatan ini ini menghancurkanku

                Dalam kesenderian aku termangu.

    Kemudian tergerak untuk lari kembali.

    Lebih kencang lagi.

    Biarkan penat menguasai.

    Sebuah kepasrahan hati.

                Lalu berlari kembali.

                Sekuat yang aku bisa.


                Lari… Lari…

    *) Untuk pipit, maaf yaaa, banyak hal yang aku pikirkan sampai aku tidak meluangkan waktu untuk menulis :)
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (1)
      • ▼  Feb 2026 (1)
        • Foto Haji 2025
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top