Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini


    Senja Hari Ini

    Sayang, ketika daun bergesekkan dan berjatuhan, aku membayangkanmu. 

    Mungkin, daun jatuh itu sudah suratan takdir membawa memori terbaik kita. Bisa kita simpan sejenak saja menunggu senja sebentar lagi turun

    *

    Hari Pertama Masuk Sekolah, Juni 2010


    Bel masuk sekolah berdenting. Bapak penjaga sekolah yang berkumis tebal itu menjalankan tugasnya. Selepas upacara bendera, semuanya nampak ogah-ogahan. Sama sepertiku. 

    Hari ini pertama kalinya menginjakkan kaki di sekolah menengah atas. Biasanya setelah upacara dan sambutan awal kepala sekolah dan pihak guru, akan ada perkenalan. Atau biasa dikenal MOS, ajang perundungan itu datang.

    Upacara membosankan telah selesai. Dilanjutkan dengan materi yang akan diberikan guru. Sebelum itu, anak-anak baru kelas 10 diberi 'pelajaran' oleh kakak kelas. Kata teman sepantaran, kakak kelas yang bakal memberi 'pelajaran' berasal dari pasukan inti. Sebuah organisasi tersendiri yang aku tidak tahu persis apa manfaat mereka. 

    Mendapatkan selebaran mengenai sekolah, guru, dan sampai seluk beluk keorganisasian sekolah sudah ada di buku yang aku dapat di hari sebelumnya. Hari dimana aku membayar untuk sejumlah biaya sekolah, seragam, dan lain sebagainya. Jadi setidaknya sebelum aku menginjakkan kaki untuk pertama kali di sekolah, aku sudah mempelajarinya.

    Meski sudah diberi seragam, anak baru tetap memakai seragam dari SMP asal. Tak lupa juga beberapa hal yang diwajibkan untuk dibawa. Sebuah celah untuk melakukan perundungan, persis seperti kisah klasik novel teenlit. 

    Anak-anak Pasukan Inti masuk ke kelas kami satu per satu. Mereka langsung teriak-teriak tidak jelas. Kemudian menggledah apa-apa saja yang menjadi kesalahan kami anak-anak baru. Untungnya aku berada di meja paling depan. Masih sedikit diberi nyawa tambahan gara-gara bakal lama untuk memeriksa. Apesnya, kamu yang langsung datang. 

    Muncullah kamu. Perawakannya tinggi besar menjulang. Perawakan bak seperti militer. Rambutnya cepak. Sudah nampak cocok menyandang status sebagai prajurit. Hanya saja tatapannya tidak tegas, begitu sayu. Ada tahi lalat di sebelah pipi kirinya. Begitu nampak gara-gara kulitmu bersih.

    Matamu langsung mengarah ke meja paling depan. Memeriksa teman sebangkuku kemudian aku. Ada kesalahan yang aku lakukan. Pensil faber castel milikku belum teraut. Sementara temanku sudah. Dengan nada bentakkan memekakkan telinga, kamu menyuruhku maju ke depan. 

    Bersanding dengan anak-anak pembuat kesalahan lainnya. 

    Setelah waktu 'geledah-menggledah' usai. Kamu adalah satu-satunya anak Pasukan Inti yang paling menyebalkan. Aku sudah memberikan cap itu ketika kamu langsung dengan mata sinisnya menatapku. Mondar-mandir meneriakkan kesalahan kami. Bahwa kami sebagai anak baru di sekolah 'bagus' ini harus disiplin, bla-bla-bla. Semuanya konyol dan hanya aku telan mentah-mentah tanpa tercerna masuk otakku.

    Kemudian, si 'anak-anak tidak disiplin' kamu bawa ke lapangan basket belakang sekolah. Kamu dan gerombolanmu meneriaki kami lagi lebih lantang. Lebih keras. Lebih mengerikan. Mukamu masih terekam jelas dalam memori betapa menyebalkannya kamu saat itu. 

    *

    Oktober, 2016


    Kurang kerjaan banget kadang aku. Organisasi seabrek ingin didatangi rapat, belum lagi tugas kuliah, masih bikin proposal bisnis. Aku didorong teman baikku untuk mengikuti pendanaan kewirausahaan yang dibiayai dari kampus. Kita tinggal bikin proposal kewirausahaan. Nanti setelah dibikin, dipresentasikan bersama prototipe bisnisnya, kemudian kalau lolos bakal didanai. 

    Perasaan kalau menyangkut bisnis berbisnis memang aku tidak pernah ahli. Ah, biarlah. Daripada tidak dicoba. Lagian mau kapan, ajang ini hanya diselenggarakan setahun sekali. Tidak selalu ada. 

    Pagi hari yang dinanti untuk presentasi bisnis datang. Aku sudah siap bersama dengan puluhan anak yang mengikuti ajang yang sama. Kita berkumpul di jalan masuk menuju aula. Saling berdesak-desakkan memperebutkan kursi yang sudah disediakan di dalam aula. Hal pertama yang kita lakukan adalah mengikuti pembekalan terlebih dahulu.

    Lelaki yang wajahnya menyeramkan dan terpatri jelas dalam memori itu mendadak datang. Memakai kaos polo berwarna merah bata. Memakai jeans dan menyangklong tas ransel hitam. Dari kejauhan datang sendirian. Lelaki itu memang datang terlambat. Harus menduduki bangku di deret depan. 

    Kamu memang tidak mengingatku. Mungkin gadis polos yang kamu teriaki ketika masuk SMA itu tidak memiliki sejarah yang layak masuk dalam memorimu.

    Tapi ingatan wajah menyebalkanmu mendadak masuk. Menyeruak. Mengobrak-abrik bahwa hari ini aku tidak menaruh minat apapun pada apa yang aku lakukan. Persetan dengan proposal bisnis yang sebentar lagi aku presentasikan.

    *

    Kemarin,

    Sial!

    Tuhan menciptakan miliaran manusia, kenapa harus kamu sih.

    *

    Senja Hari Ini

    Ketika SMA, aku terkadang menghabiskan waktu mengikuti pertandingan basket. Kamu dan tim kamu bertanding. Perawakan tinggi bak militer itu pasti cocok jadi pemain basket hebat. Beberapa kali kamu dan tim basket sekolah sering mewakili kota. Bertanding di kejuaraan provinsi. 

    Kulit cerahmu tak menjadi hal yang menakutkan jika berhadapan dengan matahari. Ketika aku harus pulang sore demi mengikuti ekskul di sekolah, lebih sering mendapati kamu bermain basket sendirian.  Rasa-rasanya aku ingin duduk di pinggir untuk menamanimu. Di bawah guyuran hujan, di bawah sengatan matahari sore, di kondisi apapun. 

    Meski terkadang berdua, meski terkadang sendirian, atau ketika kamu duduk sendirian di bawah ring untuk beristirahat karena kelelahan main basket. Tak perlu kamu tahu, ketika itu pula aku sering mengamatimu. Dari jauh. Dari tempat motorku terparkir. Alih-alih alasan parkir motorku hanya sebuah pengalih kondisi. Atau aku sering mendapatimu bersama gerombolan sahabatmu di kantin. Tawa selepas-lepasnya yang diikuti dengan senyum dari matamu. 

    Hei, bisakah kita mencoba untuk saling menyapa dari awal. Sebelum berakhir pada takdir yang memuakkan ini. Takdir yang saling memisahkan. 

    Kemudian memori berharap kembali dari awal. Ah, nampaknya sudah susah membuat kisah cantik dengan takdir yang sempurna. Termasuk kehadiran senyum hangatmu dan wajah memuakkan itu datang bersamaan.

    Padahal kita bisa saling memandang langit senja yang sama. Lalu kamu bisa bebas bermain basket dan hanya aku yang menjadi penonton satu-satunya. Tentu saja, keahlian bermain basketmu itu yang sangat menghibur. Selain temperamen marah-marahmu yang tidak jelas ketika mengospekku dulu.

    ***

    10.48
    Kamis, 11.2.2021
    Mari Kita Lihat Sendunya Langit Sembari Kamu Bermain Basket

    Continue Reading

    Mungkin selama 2 bulan terakhir ini aku benar-benar dihibur lewat kehadiran drama True Beuaty. Agak telat mengikutinya. Baru mulai langganan di VIU pertengahan mendekati akhir Desember. Awalnya diperkenalkan oleh adik bungsu. Berakhir dengan setiap minggu mantengi hari Kamis - Jumat di pagi hari. Ya, karena VIU uploud-nya sepagi itu. 

    Kini drama True Beuaty sudah tamat. Padahal di webtoon-nya masih lanjot. Ya, antara webtoon dan drama punya industri yang beda. Jangan sampai deh nasib di webtoon kayak sinetron en-do-ne-sia yang beribu-ribu eps dan kalau tamat suka nyekek leher karena ceritanya terlalu dipaksakan. Jangan. Meski drama udah selesai, belum tentu aku juga akan menggantungkan kisah cinta Lim Ju Kyung - Lee Su Ho - Han Seo Jun ini. 

    Tak ku sangka, drama True Beuaty bakal jadi drama yang aku meninggalkan jejak menye-menye di hati ini. Meski sudah tamat, aku masih belum terima dengan nasib Han Seo Jun yang berakhir patah. Yah beginilah kalau nonton drama korea selalu di tim secondlead. 

    Tentu di luar bakal banyak ulasan terkait drama ini. Kalau lagi suka menye-menye, cinta bertepuk sebelah tangan alias tim secondlead, tontonlah kawan-kawan. Kalian akan merasakan betapa sakitnya ketika mengikhlaskan seseorang itu berada di level tertinggi dalam mencintai. 


    Di postingan ini memang cinta, kasih sayang, dan tulisan ini bakal didedikasikan ke tim secondlead alias Han Seo Jun. Jadi menurutku, aku perlu banyak mengambil hikmah pelajaran menjadi Han Seo Jun. 

    1. Cinta yang Bertepuk Sebelah Tangan (Udah 'kek Makanan Harian)


    Mungkin aku, atau kamu, atau kita adalah orang yang suka dengan orang (yang pada akhirnya) bertepuk sebelah tangan. Hanya kita doang nih yang usaha. Pihak sono mah biasa-biasa. Padahal segala usaha sudah dilakukan. Mulai doa, kadang cari perhatian, usaha apapun agar bisa bersanding manis dalam sebuah ikatan manis. Tapi apa daya, dikasih esem ngguyu aja enggak.

    Haduh, memang ya. Takdir tidak pernah seindah itu. Maka sangat-sangat-sangat bisa diterima di akal sehat bagaimana terpuruknya peran secondlead yang berakhir hanya mengungkapkan alasan. 

    Sama kayak kisah cinta Jungpal yang terjungkal gara-gara lampu bangjo. Niat hati mau memberikan pengakuan tapi semesta bak tak pernah ngasih dukungan. Kalah cepat sama Taek. 

    Maka petikan lagu dangdut lama karya Dayu Ag ini bisa jadi menambah lara hati yang sudah teriris taburan garam.



    Atau sama pula kayak habis pengakuan Seo Jun yang berakhir dengan tangisan di tangga darurat. Setelah Seo Jun memberikan 'kebohongan' yang mengatakan bahwa Su Ho bakal balik lagi ke US. Rasanya tak kuasa hati ini dibuat gembeng. Ingin ku berlari dan kupeluk tubuh ringkih Seo Jun. Kemudian berbisik penuh dengan kata-kata puitis menghibur luka yang tak berdarah ini. 2 taun masak jagain jodoh orang, huuhu.

    'Kamu tak sendirian, kawan'

    'Ada aku yang kisah cintanya tak pernah semanis hubungan Rain - Kim Tae Hee,'

    'Setidaknya kamu luar biasa, Seo Jun. Sudah mengakui rasamu. Apa daya aku yang punya nyali sebesar kamu. Nyaliku tengkurap dalam sangkar berdebu ini,'

    2. Dari Han Seo Jun, Aku Belajar Bahwa...


    Cinta itu persoalan ikhlas. Teringat kisah teman yang hatinya tercabik-cabik tahu pujaan hati menikah dengan adik tingkat. Padahal level kedekatannya sudah sangat wow sekali. Bagaimana bisa ada lelaki yang rela meminjamkan iphone XS nya untuk dipakai harian. Ketika itu temanku ini hape-nya rusak dan perlu komunikasi.

    Level kedekatan ini udah pasti menyejajari Han Seo Jun. Ia rela lakukan apapun. Pura-pura baik-baik saja, padahal hati lagi sakit-sakitnya. Jadi tempat keluh kesah sampai ungkap sakit hati Lim Ju Kyung kala dirinya tahu menyukai Lee Su Ho. 

    Ahhhh 😠

    3. Ketegaran Han Seo Jun Jadi Inspirasi Kita, Bahwasanya Level Tertinggi Mencintai Adalah...


    ... membuat orang yang kita sukai bahagia. Meski bukan lewat kita. Kita mungkin angin lalu. Kita tak ubahnya seperti orang lewat di jalanan. Sedangkan dia bertahan dengan orang lain yang menurutnya mampu membahagiakan. 

    Maka ketika itu, Han Seo Jun bak sedang naik bus BST, kini hanya bisa melihat paras Lim Ju Kyung yang sudah menepi, berhenti di pemberhentian Lee Su Ho. Dirinya hanya bisa menatap kepergian orang yang disayanginya. 

    Namun, percayalah Han Seo Jun. Kelak kamu akan menemukan 'rumah'-mu sendiri. Karena terkadang, arti rumah itu bukan melulu merujuk pada sebuah tempat. Bisa jadi itu adalah seseorang yang kamu sayang 😴


    Hwang In Yeop jadi Han Seo Jun (IG @hi_high_hiy)

    Huah, banyak kata-kata manis Han Seo Jun bertebaran di linamasa. Terakhir, mungkin ini pesan terakhir Han Seo Jun untuk kita (termasuk aku). Pernyataan ini harus jadi arah dan motivasi bagi kita yang masih berharap (halu) pada cinta sepihak kita.

    Bahwa sebenar-benarnya perjuangan adalah menyatakan perasaan meski berujung, 'maaf aku sudah lagi proses mengkhitbah perempuan lain'.

    "Semesta memintaku untuk melepaskannya, padahal aku belum sempat memiliki dia. Setidaknya aku tidak menyesal karena sudah berani untuk mengungkapkan perasaan yang selama ini kupendam" Han Seo Jun eps 16 True Beauty.

    Sing relo, berani melepas atas nama takdir yang tertulis di lauful mahfudz 😐

    Siap Komandan!

    Sedang membayangkan jalan-jalan ke Vienna.
    Jumat, 5/2/2021
    19.13


    Continue Reading
    Nggak tau awal Januari ini disambut dengan kegabutan yang tiada akhir.

    Contohnya, akhir-akhir ini pula hal aneh yang aku lakuin adalah nontonin orang makan mie ayam di YouTube. Shot out to Abdel Achrian yang menyediakan konten khusus makan mie ayam. 

    Kebetulan mie ayam itu kesukaan saya. Karena masih WFH dan nggak kemana-mana, maka jajan mie ayam sudah tentu harus dilakukan minimal seminggu sekali. Bahkan pernah dalam seminggu saya nggak makan mie ayam sama sekali. Kalau lagi kepingin aja, contohnya pagi ini.

    Mie ayam dan aku merupakan kolaborasi indah. Kita saling melengkapi bak saudara yang saling memenuhi hasrat. Saling mencinta. 

    Mie tak pernah lekang oleh waktu. Karena mie akan membawa pengaruh tersendiri dalam tumbuh kembangku. Eksistensi mie ayam ada karena memiliki penggemar garis keras sepertiku. Sementara di sisi aku, membawa nostalgia keromantisan jika sudah makan mie ayam.

    Karena ceritanya begini,

    Pas masih kecil makan mie ayam itu adalah hal yang mewah. Semangkuk harganya 7000 dan lebih baik uang segitu buat beli sayur yang bisa dimakan satu rumah. Istimewanya, makan mie ayam terenak adalah pas hari H Idul Fitri. Karena apa? Selesai salat Ied dan bersilaturahim ke tetangga dan sanak saudara terdekat, dan pasti terima amplop alias angpao alias (kami menyebutnya) fitrah.

    Terima banyak duit, kami gunakan uang itu dengan semestinya seperti membeli mie ayam di siang atau sore hari. Belinya ya di Mie Ayam 123 deket rumah. Mie ayam jawa yang mana kuahnya lebih manis dari es teh. Kuahnya lebih butek mirip kuah rawon demi apapun itu.

    Oke next. 

    Meski jadi mie ayam Top One pada masa kecil, beranjak dewasa dan punya duit buat eksplorasi, aku akhirnya menemukan yang cocok. Yang penting makannya jangan keseringan. Karena kalau keseringan jadi eneg. Belum makan tapi rasanya udah kayak habis makan, alias kita udah hafal cita rasanya.

    Nah yang sekarang jadi favorit itu adalah Mie Ayam Pak Domo. Lokasinya deket dengan pabrik Konimex dan Sobisco. Mie ayam pinggir jalan samping toko bahan bangunan.Yang jual mas-mas, padahal namanya Mie Ayam Pak Domo. Tapi yasudahlah.

    Nggak dapat banyak, nggak sedikit juga. Jadinya pass. Harga 8000 rupiah. Mie-nya bentuknya sama kayak mie yang dijual (kayaknya juga bukan buat sendiri). Manis dan asinnya pas. Duh aku ngiler. (*Bikin tulisan ini masih jam 8 pagi di hari Minggu dan aku udah kelaparan mampus). 

    Ini masuk kategori mie ayam jawa. Tapi nggak manis kayak Mie Ayam 123 menurutku. Passs ajaaa.

    Kemarin kapan di Hartono Mall Solo Baru ada yang baru buka kedai mie ayam. Pingin banget nyamperin tapi apalah daya ya, hanya wacana.

    Nih foto penampakan mie ayam kesukaan akuuu :)



    Kalau udah nemu Sobisco, enak tuh. Pinggir jalan. 



    Laah, niat banget aku nyariin via google maps demi Mie Ayam Pak Domo. Ngikuti jalan ini aja ntar ketemu mie ayam Pak Domo kiri jalan. Depannya ada Mie Ayam Bakso Pak Min sih. Itu lebih mehong harganya satu mangkuk 10 ribu. Kalau Pak Domo masih 8000. 

    Sama-sama enak sebenarnya. Tapi kalau Mie ayam yang juara emang Pak Domo. Kalau Bakso yang juara Pak Min. Haduh, kok bisa bleber ngomongin bakso sih.

    Kalau bakso aku ada juaranya sendiri. Tapi pagi ini ngilernya sama Mie Ayam Pak Domo. Sekian.


    08.22
    31 Januari 2021


    Continue Reading
    Langit membiru. Burung-burung melakukan migrasi besar-besaran. Mencari tempat hangat untuk berteduh dari dinginnya suhu di belahan dunia. Persinggahan mereka tepat di kotaku.

    Aku berhenti di perempatan jalan besar kota. Melihat banyaknya migrasi burung itu aku hanya membatin. Sejauh itu langkah besar mereka berpetualangan. 

    Aku hanya mengarah pada situasi yang serba salah. Tidak bisa lepas dari digencetnya lingkungan sosial. Andaikan, burung itu membawaku ikut serta. 

    Membicarakan soal langit luas membiru dan tanpa batas adalah hal yang menyenangkan. Ketika di SMA dan berjalan ke perpustakaan sendirian, aku melihat satu buku tata surya yang menarik. Dari buku itu aku tahu bagaimana cantiknya tempat bernama Titan. Meski hanya sebuah satelit bagi saturnus dan tak miliki banyak karbon untuk hidup. 

    Ah hidup dengan kedinginan merupakan hal yang menyakitkan. Kenapa tidak memilih untuk menjadi hangat dibanding dingin. 

    Perjalanan halusinasiku sempat membawaku pada ikan paus di lautan antartika. Ahh, sejauh itu dia membawa tubuhnya yang berton-ton itu membawa ke lintas samudra besar. 

    Ada kartun di sctv saat masih kecil. Ada ikan paus yang rela tidak menyelam demi punggungnya dijadikan tempat berlayar anak kecil itu. Aku lupa tepatnya apa. 

    Halusinasiku kembali membawa seperangkat alat hebat doraemon. Andaikan memiliki teman yang memiliki alat-alat canggih luar biasa. 

    Kemudian konyolnya, pikiran kembali membawa kenangan di awal tahun 2000. Waktu itu aku ingin memiliki tas yang seperti koper. Ada dua roda di salah satu sisinya. Aku tak perlu membawa di panggung. Kasihan membawa banyak buku untuk 6 jam belajar. 

    Terima. Kasih. Pikiran abstrakku membawaku berkelana. 

    Nanti kita lanjutkan lagi. Aku merasa memiliki keistimewaan mengkhayalkannya. Memikirkan perjalanan hebat ke atas langit sampai turun ke palung bumi. 

    (*) 

    29 Januari 2021
    17.25


    Continue Reading

    Terdengar kabar burung yang memuakkan.

    Tapi ya bagaimana lagi. Tidak ada yang lebih memuaskan hati jika apa yang kita inginkan tidak berjalan seperti yang diharapkan. 

    Dalam sebuah malam aku sempat tidak bisa tidur sama sekali. Menunggu detik waktu berjalan. Sampai di titik 00.45 suara gerbang toko milik keponakanku terkunci. 

    Lalu menunggu sampai subuh. 

    Ku buka laptop dan memulai bekerja. Tidak ada yang bisa dilakukan dibanding membuat bawah kelopak mata berubah warna di pagi hari nanti. Pemikiran berlebihan menghentak, menyeruak, mendalami serpih kosongku. 

    Selamat malam, tak akan tertuang sempurna. Semalam itu aku bahkan bergelut dengan banyaknya pikiran. 

    Paginya aku baru tahu jawabannya. Kabar burung itu. 

    Cepat atau lambat semuanya yang sudah semesta rencanakan, bakal kejadian. Kita tidak bisa menghentikan. Melepas, mengikhlaskan, merelakan hanya perkara hati. Bisa buat ditimbang tumbang lagi. Bahwa apa yang kita temui tidak selayaknya kita miliki. Semuanya akan kembali. 

    Aku tahu hari ini akan terjadi, 
    Ini sudah ada di dalam pikiranku dalam waktu lama tapi baru ku sadari sekarang, 

    Kemudian, langit mulai menggelap. 

    Hujan datang jauh jauh setelah melalui proses evaporasi. Aku tertunduk lesu. "Sudah tidak ada stok," pikirku. 

    Jeritanku hanya satu, "Tuhan aku tak tahu lagi," 

    Lalu, harus berpura pura bahagia. Tegar. Bisa melewati semuanya. Ya, sederhana. Aku memang bisa melewati ini semua. Cuma dengan secuil ayunan tangan. 

    Bahagia. Lewat komentar lucu manapun. Aku bangkit. Kupikir semua orang melalui hari hari seperti ini. Tenggelam dalam Keruwetan berpikir. Kemudian bangkit dan menyadari. 

    Tapi aku ingin seperti ini aja terlebih dahulu. Mendramatisasi keromantisan patah hati. Sampai nanti kabar burung yang aku terima berubah jadi kenyataan pahit. 

    Terlalu pahit untuk dihadapi seorang diri. Ah lebih baik tenggelamkan saja ke Antartika. 

    (*) 

    Minggu, 17 januari 2021
    18.00
    Melalui waktu yang berat untuk berpikir


    Continue Reading
    Semerbak bau melati tercium sepanjang jalan Kenanga itu. Baunya disambut dengan parfume lily musk yang beradu sempurna.

    Wajah bermasker itu tertunduk. Pilu. Ingin menyapa dunia lewat cara pakaiannya. Berjaket biru. Tangannya sibuk mengetik di handphone. Sibuk menunggu. Membalas. Kemudian mengabarkan kembali, pikirku. 

    Lewat jendela di sudut kamar tamu aku leluasa melihatnya terpaku. Sesekali dirinya berdiri. Kembali memasukkan gadget ke dalam saku celana jeansnya. Kemudian berjalan bolak balik dua langkah ke depan kemudian berbalik dua langkah ke belakang. 

    Helm yang dibawa kini digeletakkan kasar di tanah. Rambut disibakkan. Seperti itukah cerminan orang menunggu.

    Ketika perempuan berbau parfum lily musk itu sudah melakukan hal membosankan, seperti cek handphone, Jalan bolak balik, menendang kasar tanah, ingin rasanya menghampirinya. Meredakan pilu dan sakit hati yang dirasakannya. 

    Ah aku lelaki pengecut. Tak seberani bertutur kata ramah pada perempuan.

    Duhai hati, bisakah aku seberani menyatakan diri menghampiri. Di tengah ketakutanku yang dianggap najis. Di tengah omongan orang yang memandangku cupu.

    Mungkin bertegur sapa sambil menyapanya ringan bisa menjadi sebuah tantangan. Pengecualian, jika itu aku. 

    Perempuan itu akhirnya menghembuskan napas pendek dan menyerah pada ketidakpastian. Motor vespa yang dikendarai lelakinya datang. Dengan serentetan gigi putih mulus milik laki-laki itu mampu mengubah dunia perempuan itu. 

    Duhai kamu, duniamu mendadak berubah dalam hitungan detik. Hitungan detik bagiku sungguh memuaskan, tapi tidak untuk senyum indahmu. Aku bahagia. Melihatmu di balik jendela kamar tamu ku. Melihatmu kini sudah berbonceng manja di belakang lelakimu. 

    Kamu tak bisa kutaklukan. Karena bukan sebuah tantangan. Kamu hanya perlu bahagia, sesederhana itu. Sebuah hal yang menakjubkan. 

    (*) 

    18.51
    Minggu 10 januari 2021
    Turut berduka cita atas insiden Sriwijaya Air
    Doa terbaik untuk mereka
    Semoga mendapat terbaik yang sudah disiapkan Tuhan. 
    Alfatihah


    Continue Reading

    Banyak hal yang terlewat begitu saja. Orang yang berjalan di busway. Anak kecil yang berlari mengejar layang-layang. Simbah sepuh yang duduk ditrotoar pasar menjual empon empon. Atau kuli panggul yang membawa beras ke dalam toko.

    Hidup begitu susah. Tidak menyenangkan untuk beberapa orang. Banyak yang berakhir air mata di pertigaan. Menangis kepergian. Seseorang yang biasa hadir membawa kemapanan berakhir tercerai berai. Tidak semua orang berjalan pada jalurnya. Sesekali orang memilih melewati jalan tikus untuk sampai ke tujuan. Sementara yang lain memilih jalan raya berhadapan dengan polisi lalu lintas dan rentetan lampu lalu lintas. 

    Pernah dalam sekelompok grup sering bertegur sapa. Hampir setiap minggu membuat agenda. Lambat laun semuanya pergi ke alurnya masing-masing. Membuat agenda hidup yang berbeda.

    Di titik ini aku hanya bisa menghela napas. Semuanya bertumbuh lewat ruang dan waktunya masing-masing. Sedangkan lihat aku di sini. Lewat tatapan cermin yang sudah usang itu, aku melihat aku yang seolah tak bergerak. 
    Atau sebenarnya aku menolak untuk bergerak. Mengikuti intensitas waktu yang orang lain punya. 

    Apesnya, kaki kecil ini tak mampu mengimbangi langkah kaki siapapun. Ah, sudahlah, pikirku. Semesta masih bergerak. Lubang hitam masih menarik massa di sekitar. Entahlah betul atau tidak lorong lubang hitam menghisap waktu. 

    Kekekalan adalah hal yang tidak mungkin terjadi. Kita tidak bisa menahan seseorang untuk tetap berada di sini. Menemani sepanjang waktu. Suatu waktu, kita perlu mrngiba akan datangnya perpisahan. Takdir yang tidak berkenan. Atau lumpuhnya akal logika dari pudarnya iman. 

    (*) 

    Minggu 3 januari 2021 pukul 20.33
    Selamat tahun baru, untuk kita. Semoga hal baik selalu membersamai langkah besar kita. Panjang umur hal hal baik ♥️


    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (3)
      • ▼  Aug 2026 (1)
        • Soal Seprei
      • ►  May 2026 (1)
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top