Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini


    Benar memang!

    Kita tengah berjudi pada hidup ini. Kita memang menguji diri dengan ketidakpastian yang ditawarkan semesta.

    Dulu memang aku tidak berpengalaman dalam dunia kerja. Kerja pertamaku sebagai editor, eh bukan, sekaligus jadi penulisnya di pabrik penerbitan buku di Kartasura hanya bertahan 10 bulan karena satu dan lain hal. Alhamdulillah. Allah jauhkan aku dari lingkungan toxic. Orang orang yang berani ngomong di belakang. Bahkan membuka hal yang harusnya aku perlu tahu saja harus jadi "rahasia" dulu. Menyebalkan sekali. 

    Untung tidak bertahan lama. Bukan aku yang tidak bertahan di sana. Tapi emang, dari pihak perusahaan itu saja yang ng-cut aku. Mungkin karakterku tidak cocok, begitu kiranya. 

    Allah Maha Baik. Jelas. 

    Allah bukakan banyak masalah di depan, karena tahu aku tidak akan berpotensi di tempat kerja itu. Qadarullah yaa, semuanya teratasi dan bertahan 10 bulan adalah sesuatu. Maksudku, aku pun juga di tahap tengah berjuang untuk menyukai lingkunganku. Ya sebenarnya hanya tiga orang sih yang menjadikanku bertahan. 

    Yulia, Rahayu dan mbak Mif saja. 

    Sisanya, entahlah. Mungkin kita sudah beda dunia dan ramah saja di depan dengan yang lainnya. Padahal dengan tiga orang itu pun aku banyak sekali perbedaan pendapat. Wajar dong wkwkwk. 

    Sekarang, Allah tunjukkan kuasamya. Di tempat kerja yang mengejar target, traffic naik, dan orang-orang ambisi. 

    Memang betul perlu penyesuaian. Itu hanya akan jadi persoalan waktu saja. Suatu saat aku akan terlatih dan terbiasa. 

    Lagi-lagi Allah Maha Baik yaah. 

    Allah, semoga aku kuat. Apapun yang aku hadapi esok, esoknya lagi, bahkan esoknya lagi. 

    Sambil merenung, aku ikhlaskan beberapa hal ganjel yang pernah jadi pikiran. Kan aku termasuk kategori yang dendaman sebenarnya sama orang ya. Hahaha jadi, beginilah. Semoga aku baik baik saja. 

    Dalam temaram malam, mbokde nanya. 

    "Piye, piye, kok aku rapaham, beb" 

    Ku jawab, "aku ingin kayak orang yang suka nyindir di sosmed gtu mbokde. Gakpapa ya, bertindak absurd wal bodoh di muka publik ramasalah juga sepertinya."

    Dia bertanya gara-gara aku unggah status ini di wasap. 



    Selamat malam, selamat memimpikan dia. Ingat besok berangkat jam 6 agar sampai jam 7 pagi. Bertarung dengan perjudian yang diatur oleh semesta. 


    ***
    Menjelang tidur kuselesaikan 4 bab dari Animal Farm-nya George Orwell. Berkisah tentang tumbangnya diktator manusia di tangan hewan hewan di peternakan Masson.
    Kemudian memikirkanmu dalam kelabunya malam.
    Sudah jam 22.23
    Continue Reading
    Gemes banget syalala, yeyeye!

    Coba bayangkan kalau kita ini dibanding-bandingkan dengan anaknya temen bapak/ibu, atau bahkan sesama saudara sendiri. Si adekmu ngelakuin ini itu, kamuuu? Atau, anaknya Bu "ini" udah dapat kerja di sana, di sini.

    Yeileeeh! 

    Muak banget kan ya. Pernah pada suatu ketika pas jaman pilpres apa ya, lupa. Pokoknya pas kampanye. Kampanye partai merah yang terkenal beringas di Solo dan hampir menduduki beberapa tempat dan salah satunya masjid, pernah menjadi sorotan (gaya bahasa berita banget gak sih, aku). Saat aku tiba di warung milik keluarga, ibuk lagi ngitung apa, dan tiba tiba cerita. Cerita yang diangkat adalah kakak sepupu saya. Luqman namanya. Dia bersama teman-teman remaja masjid menjaga masjid suatu tempat agar tidak diduduki massa kampanye si merah. 

    Di dalam cerita tersebut, ibuk seolah-olah menuding kelompok tertentu berpotensi akan membuat kerusuhan. You know what I mean. Dan aku hanya manggut-manggut. Di penghujung cerita, ibuk seolah membandingkan "apa yang dilakukan Luqman dengan apa yang aku lakukan". 

    Aku bilang, "setiap orang punya nilai dan prinsipnya masing-masing. Gak bisa distandardisasi semua org melakukan hal yang sama."

    Tidak ingin mendebat, ibu langsung terdiam.

    Lagi. 

    Pada sebuah momentum, ibu membandingkan aku dengan jiwa masa mudanya. Iya. Ini lagi-lagi perkara kenapa anaknya tidak ada yang aktif di remaja masjid. Wong, bapaknya aja takmir masjid, penyuluh agama kecamatan Grogol, ibunya saja pendiri gerakan ngaji di desa. Kenapaaa???

    Kalau ditanya aku juga tidak tahu jawabannya. Sepertinya anak bapak ibu tidak ada yang berbakat buat meneruskan perjuangan mereka. Tapi yang jelas, tiap orang punya darah juang masing-masing dengan nilai dan prinsipnya. 

    Misal aku, pernah terlibat di gerakan sosial ranah pendidikan. Ikut menjadi relawan Solo Mengajar misalnya. Terus menjabat jabatan penting dalam mengelola Bakti Muda, contoh lainnya, hauwaah. Tapi aku senang kok nglakuinnya. Aduh kalau disuruh mengikuti jejak, say to sorry. Bukan gimana gimana, malah jatuhnya berat buat aku lakukan.

    Laah kalau gak enjoy, buk. Gimana?

    Mending kita melakukan kebaikan dimana kita merasakan keikhlasan kan. Daripada ikut dan lambat laun jadi perbandingan. 

    Nahhh!!!

    Sebenarnya itu jawabannya. Aku gak mau jadi perbandingan. Aku hanya membandingkan dengan standar yang aku mau. Aku gak mau dibandingkan dengan jiwa masa mudanya ibuk. Aku juga gak mau dibandingkan dengan adekku, sepupuku, teman-temanku. Aku akan menjalani hidup sehidup-hidupnya dengan caraku. 

    Aku adalah jiwa bebas dengan standarnya. Titik!

    Alasan kenapa aku menulis ini. Kadang aku melihat hidup yang dijalani orang terkadang gampang buat kita yakini. Dan sering pula kita berkomentar dengan membandingkan hidup kita dengan orang lain itu. Nambah nelangsa saja jalan hidup kita. Begitu dan seterusnya. 

    "eh enaknya jadi dokter, dapat suami dokter apalagi. Anaknya mesti pinter."

    "eh enak sepertinya jadi pns. Leha leha dapat duit," 

    "kayaknya jadi Rafathar itu enak sekali ya, orang tuanya sama sama orang berduit. Bisa hidup tanpa merasakan penderitaan, kek kita kita."

    Enak sekali yaa kerjaan anda. Nyinyir teruss. 

    Iya. Hidup memang sawang sinawang. Kadang melihat hidup orang lain adalah cara yang paling gampang. Daripada kita usaha dengan usaha kita sendiri. Atau bahkan orang lain ada yang berpikir, hidup seperti aku enak juga ya. Dan kita berakhir pada perbandingan. Saling membandingkan. Tidak sehat. Mental rusak. 

    Aduh bodoh sekali kalau sempat terpikirkan. 

    Tapi yakinlah, jangan jadikan dirimu sebagai pusat perbandingan. Makanya pihak/organisasi/lembaga apapun yang sering melakukan studi banding tidak akan berhasil atau sukses karena selalu memperbandingkan. 

    Yaiyalaahh. 

    Maksudku, ketahui setiap jiwa/pihak/lembaga/organisasi/atau apapun itu punya kebutuhan fisik dan psikologisnya masing-masing. Misal nih kayak aku. Saat Mbokde Imaf ke Jepang, ke Amerika suatu ketika aku pernah berpikir. "kapan gtu bil, kamu mengenal dunia lebih luas?" atau kata yayak, "kita harus memperluas tempat sujud kita." Orang-orang yang mempunyai jiwa travelling pasti menyenangkan yaa buat jalan jalan. Ke tempat baru. Mengenal orang baru. Terus ada kiriman feed di instagram. Buat dibagikan. Kita yang melihat postingan instagram menganggap seakan akan "mereka" tengah membandingkan kehidupan mereka dengan diri kita yang nelangsa. Tapi bagi aku enggak. Aku bahagia kok dengan hanya mengakar di Solo. Leha-leha. Mendekap di balik selimut sambil nyetel drama korea. Atau nulis sampah berfaedah di blog kek gini. 

    Kita tidak perlu pura-pura bahagia dengan beradu peran seperti apa yang mereka citakan. Tidak perlu. Kalau kamu memang tersiksa melakukannya, ya jangan dilakukan. Gtu... Lakukan apa saja lah yang sekiranya kamu merasa nyaman. Toh, apa yang kita lakukan untuk memperkuat potensi diri kita kan. Bukan untuk jadi bahan perbandingan. 

    Tapi emang bener pernyataan Egy, sebaik baik manusia saat ini adalah yang bijak dalam mengendalikan postingan. Wkwkwk. Karena takut jika dikatakan racun. Ia tidak mau manusia lain yang melihat feed instagramnya malah menjadikan diri sebagai pusat perbandingan. Bahkan ia menahan diri buat keep foto di Taiwan karena dalam rangka "penjagaan". Standing applause buat dia!

    Baiqlaaah.

    Biarkanlah jiwa ini merasa seperti ini... 

    ... aku bahagia dengan mereka yang mencapai achievement tertentu. Aku menolak alpa bagaimana diri ini seolah ditinggal ya. Wajar. Dan saling mendoakan, tentu saja. Maksudku, aku gak harus mencapai apa yang mereka capai. Aku bahagia cuma mencapai titik yang ingin aku capai saja. Begitu harusnya. 

    Udahlah ya. Tak. Perlu risau. 

    Tapi, perihal banding membandingkan. Sesekali hlaa mbok boleh gtu. Gantian aku yang nyinyiirrr. Keknya enak gtu yaa membandingkan orang. Mumpung lagi di fase melupakan segala hal yang terjadi, hauwah. Apalagi aku ini suka gampang lupa sama sakit hati, mohon yaa pembaca. Biarkanlah tulisan ini menjadi liar tidak berfaedah gtu. 

    ManuSIA bodoh itu Aku, dong 

    Aku pun ikut ikutan dalam ihwal, banding membandingkan. Sesuai dengan judul postingan, bahwa pekerjaan membandingkan adalah pekerjaan bodoh. 

    Dan btw, sebenarnya niat aku membuat postingan ini untuk membandingkan 2 manajer di tempat kerja yang berbeda. Karena you know-laaah, membandingkan adalah pekerjaan bodoh. Aku ingin sekali-kali gtu jadi orang bodoh wal juliddiyah di unggahan ini. 

    Hahahahaha!

    Karena aku lelah wal semlenget wal bodoh di hari bodoh nasional ini. Pingin banget nyinyir tentang masa lalu. Kita kruek-kruek lagi ya. Bagaimana dengan sikap manajer pabrik penerbitanku dengan manajer pengelolaan sebuah portal berita online di Solo ini.

    Karena dalam tulisan ini akan banyak membahas tentang masa lalu, jadi dengarkanlah tentang kisah klasik justifikasi sistem perpolitikan di tempat kerja. 

    Pertama, bapaknya itu emang so islamiyah sekali. Sesekali memang mendoakan saat aku meminta ijin sakit atau apa.

    Kedua, karena memang islamiyah jadi memang tutur bahasanya sangat halus sekali. Seperti kain sutera lapis emas. Sopan indah sekali begitu tata kramanya. 

    Nah yg paling aku tidak suka. Kek wajar gtu ya, suka berpapasan kalau ke kamar mandi. Sesekali pernah ngliat mukanya asem, so berbanding terbalik dengan selama ini yang diperlihatkan. Usut punya usut, sepertinya si bapak memang berafiliasi dengan pihak tertentu dan memandangku sebegitu "tidak berkompetensi" nya. 

    Dan munafiknya itu banget-bangetan. Aneh! Kadang suka ngomong berbeda di orang yang berbeda. Dan suka mengorek info ke org lain tentang orang lain. Oh ternyataaa.

    Dan lagi. Kurang tegas! Terima kasih yaa atas nama saudara Retno. Whahaha. Karena dulu di awal bulan pernah bermasalah sama mbak yang satu ini, mengajariku untuk membuka sikap asli si bapak manajer terhormat. 

    Bukannya segera diselesaikan. Harus menunggu 2 bulan baru ketemu saat evaluasi kerja. Dan baru saat itu aku bercerita semua. Maksudku kan, kalau ada staff yang bermasalah. Panggil saja. Toh biar clear. 

    Sampai waktunya evaluasi tiba, sebenarnya aku sudah lupa pada konflik tragis itu. Ehh si bapak malah baru manggil. Hhhuuuuu!

    Nahhh kalau dibandingkan yaa. Well, karena baru kenal baru-baru ini, gak adil kalau aku umbar. Tapi lebih ke first impression saja. 

    Si bapak di portal online ini terbilang santuy bin rileks bin kalem. Tapi lebih dominasi ke santuy sih. Gimana enggak, potongan rambutnya ala ToMingTse F4 ala Jerry Yan tahun 2000an. Pakai jins kedodoran dan kaosan. 

    Meskipun keliatan bapak-bapak, kalau pas benerin rambut itu lohhh. SEEETTTT!!! AAAARGHHHHHHH... 

    Semakin dilanjutkan semakin halu wal konyol sekali. 

    Sebenarnya esensinya bukan pada perbandingan  dua manajer. Tapi yg satu tjurhat masa lalu dan yang satu menceritakannya pakai mode abg labil ngomongin gebetannya. Njomplang! 

    Iye. Yaudah. Kan yang bakal baca postingan ini adalah Nabila Masa Depan. 

    Jadi bil, selamat kamu sudah kembali stabil mental jasmaniyah dan rohaniyahmu. Kamu sudah bisa tegas pada perbandingan yang dilakukan orang tua, orang lain, atau siapapun itu. Terima kasih kamu mau bertahan sampai tahap ini. Ini tidak mudah. 

    Kuat, kuat, dan menjadi kuat lagi! Untukmu dan masa depanmu. Itu aja dulu, besok lanjut ke halaman terakhir mazhab juliddiyahnya. 

    ***
    Sabtu, 8 Februari 2020
    Antara gembrebeg, semlenget, suhu badan naik. 
    Otakmu zonk, lebih baik kamu berbaring dan halu. 
    Karena itu nikmat. 
    19.38

    Potret makan siangku sendirian, di balkon kantor. Ulalaaa~~~






    Continue Reading
    Pisang godog pemberian suster

    Tanpa tedeng aling-aling, tanggal 23 Januari 2020. Imaf tiba-tiba chat wasap ku.

    Aku pingin cerita.

    Dan kujawab, oke besok siang kita ketemu. 

    Sesingkat itu permintaan Imaf aku kabulkan. Aku tahu dia sudah melewati hari sendu dan tidak menyenangkan. Rasa yang pernah ia titipkan, terenggut pada komitmen. Harga mati memang jika berani ia langkah bak satu langkah saja. 

    Seperti burung yang cedera karena sayapnya patah. Momentum pertemuan ini memang bertajuk pada tema penerimaan. Tentang kehidupan yang tidak semulus jalan tol, dan lain sebagainya. 

    Kami janjian dan aku datang setelah adzan duhur. Karena sebelumnya, aku harus menunggu bapakku pulang ke rumah terlebih dahulu. Sayang, kalau harus menutup warung fotocopy-ku.

    Jadilah, di suatu tempat kos mungil, Mbokde Imaf bercerita menggebu. Tentang temannya yang memiliki bayi dan mengejar-ngejar dosen pembimbingnya untuk konsultasi/bimbingan. Tentang struggle bagaimana dia menutup buku rasa yang sudah dia pendam pada seseorang. Tentang banyak hal. Kami seorang perempuan yang pandai dalam membuat narasi pembicaraan ngalor ngidul tak tentu arah. Dan menikmatinya. 

    Hahahahaha. 

    Seperti itulah kalau dua perempuan bertemu. Tak butuh dua jam tiga jam buat berbincang, bahkan kalau Tuhan menciptakan 48 jam dalam sehari, pun tak pernah cukup untuk membicarakan segalanya. 

    Hari itu, aku sepakat menemani Mbokde seharian. Aku pun diajak untuk bertemu dengan teman karibnya dari S2 yang (istimewanya) seorang suster Katolik. Di sebuah tempat dekat dengan SD Marsudirini, aku disambut oleh suster Katolik sudah tua. Mungkin berusia 50 tahunan. Namun, fisiknya tampak bugar. Ia bahkan sangat gesit dalam berjalan dengan modar mandir mengambil flashdisk atau laptopnya naik turun tangga. 

    Aku lebih banyak diam. Pun, aku juga tidak bisa membantu banyak. Aku mendengarkan dua orang yang saling berkonsultasi pada masing-masing jurnal, kemudian membahas Thesis, dan diakhiri dengan keputusasaan si suster yang merasa dia tampak bodoh di kajian ilmu sosiologi. Seperti itu terus. 

    Pada jam yang sudah menunjukkan waktu ashar, obrolan Imaf-suster Katolik itu pun sudah mengarah ke hal hal santai. Aku banyak terlibat banyak pada percakapan mereka. Semakin lama, semakin menarik minatku. 

    Sang suster menanyakan padaku, "apakah ini pertama kalinya kamu bertemu dengan sosok suster seperti saya?" 

    Kujawab saja, iya. Ini pertama kalinya. Maksudku, dalam arti dimana aku banyak berbincang seperti saat ini. Aku banyak melihat suster berjalan di pagi hari di dekat Pasar Gemblegan. Tapi maksudku, aku hanya melihat dari jauh. 

    Obrolan semakin menarik, ketika Imaf memancing sejarah suster katolik itu. 

    "Bil, suster ini pernah tinggal di Roma loh terus ke Filipina dan Amerika." kata imaf. Aku takjub dong. 

    Sang suster bercerita tentang kisah hidupnya yang memutuskan untuk menjadi suster. Pertentangan keluarga terjadi. Dimana keputusan nekadnya itu diambil saat dia tak lama menerima pinangan dari seorang pria. 

    " Saya itu seperti diberi wahyu dari Tuhan, mbak. Begitu saja. Memang ini jalan Tuhan yang harus saya ambil." sahut sang Suster. 

    Memang kadang tidak masuk di akal logika. Sang Suster harus melepas banyak hal yang menjadi dambaan banyak orang. Menjadi seorang suster katolik berarti kamu harus memiliki tiga prinsip. Adalah kemiskinan, kesucian, dan kemurnian. 

    Ia mengabdikan dirinya menjadi biarawan. Hidup jauh dari kemewahan, yang ada justru penuh pas-pasan. Tapi kalau suster bilang, itu bagian dari kemiskinan, salah satu prinsip yang mereka anut. Padahal bisa saja kan dia jadi pengusaha kaya. Apalagi suster ini sedang menjalani proyek sosial buat pemberdayaan umat katolik dengan membuka usaha batik. Omzet bisa ratusan juta sebenarnya. Dan dia ikhlas semua usahanya buat umat. Apalah saya yang masih partikel debu seperti ini. 

    Prinsip kemurnian, jelas dia menjaga dirinya selalu dalam lindungan Tuhan. Bayanganku kalau di Islam itu seperti i'tikaf di masjid di sepuluh hari terakhir Ramadhan gtu kali ya. Pokoknya lebih ke banyak banyak mendekatkan diri pada Sang Maha Kuasa. 

    Nah yang prinsip terakhir ini yang sering aku galaukan dan justru berbenturan dengan prinsip suster. Menjaga kesucian. Menjadi suster katolik tentu saja harus suci, tidak boleh tersentuh oleh laki-laki. Suster memilih jalan berliku dengan alasan panggilan Tuhan ini daripada harus mengikuti tren kebanyakan orang, masih saja menyisakan kekaguman pada semua keputusan yang dia ambil. 

    Seketika aku amaze. Karena aku masih menjadi bagian dari banyak orang yang berpikir pada momentum yang sama. Lahir, sekolah, lulus kuliah, nikah, punya anak, meninggal. Mungkin aku bagian dari ekosistem kebanyakan, dan menolak untuk membentuk tujuan yang berbeda. Suster tidak. 

    Ia berpesan pada kami berdua. "Saya membuat keputusan menjadi suster di umur 25 tahun. Sama dengan umur kalian saat ini. Umur seperti kalian, kalian harus tentukan. Menjadi seperti apa kalian di masa depan." 

    Tertampar, tertohok, dan speechless. Pasti! 

    Ini sudah memasuki bulan februari. Aku sudah berumur 25 tahun lebih 2 bulan. Tetapi pertanyaannya pada keputusan besar apa yang akan aku ambil, ini masalahnya. 

    Allah, Allah, Allah, Ya Tuhan kami kuatkan! Aku tidak tahu bagaimana caranya hidup di fase seperti ini. Selain ada kesempatan aku ikut bertarung sambil menguji diri dan berjudi pada hidup ini, aku tak tahu lagi. 


    ***
    Setelah pertemuan dengan suster, kami datang ke Luwes. Kami berdua mencoba untuk refleksi diri. Tentang penerimaan, ikhlas dan takdir Tuhan. Setia-tiba itu menjadi religius. Memang benar ketika manusia menerima apa adanya selalu berakhir tanda tanya. 

    24 Januari 2020

    potret kecil yang bisa kami bagikan dari pertemuan sore itu.



    Continue Reading

    Hei.
    Pada langit yang kutitip rindu semalam. 
    Ingin kuceritakan hal yang aku dapat dari pertemuanku bersama sahabat di tanggal 1-2 Februari lalu. 

    Pertemuan bersama imaf dan yayak di jogjes

    Aku berjumpa dengan kawan lama. Sebetulnya dia kawan yang sering aku sebut namanya di sini. Hanya saja hal yang membuat pertemuan ini begitu spesial adalah dia menyelesaikan pengabdian selama 1 tahun di pulau terluar Indonesia yaitu Natuna. Melalui sebuah program Indonesia Mengajar.

    Bukan sebuah kisah horor menakutkan yang aku dapat. Aku tidak butuh itu. Hahaha, memang keterlaluan sekali aku ini. Bukan pula cerita tentang struggle-nya dia menghadapi hidup di perantauan. 

    Tentu saja bersama dengan mbokde Imaf aku datangnya. Agenda sisipannya sih hanya njagong di nikahannya Yasin. Aduh malas banget deh sebenarnya. Kalau enggak demi tujuan utama ketemu dek yayak. Hahahaha. 

    Beberapa waktu setelah kepulangan yayak ke Jawa, ke Bantul lebih tepatnya, dia tengah menggilai sosok orang. Aku tidak tahu. Caranya dia menyampaikan seolah-olah "sosok" ini adalah "the one and only". Just him. Gak ada yang lain. Sebegitu panjang aku berlarut-larut dalam ceritanya. Dalam doa yang dia panjatkan. Sesederhana, "ya Allah beri aku kesempatan", kadang membuat akal logikaku gak bekerja. 

    Kenapa orang ini sebegitu jatuh. Sebegitu tenggelam dan larut dalam perasaannya? 

    Yang aku dapati masih dalam kebingungan. Bukan sebuah jawaban yang memuaskan. 

    "Bil, aku punya sahabat kan. Si mbaknya itu juga pas ketemu suaminya karena doa-doanya. Doanya sama Allah, sederhana. Ya Allah aku pingin ngobrol. Allah kasih itu kesempatan. Cuma ngobrol ajaa. Dan qadarullah berlanjut-lanjut sampai pada pernikahan." begitu katanya. 

    Tetap gak masuk di logika lagi. Bukan karena aku meragukan kekuasaan Allah ya. Hanya saja aku masih berpedoman bahwa semuanya itu harus sejalan, antaranya doa sama usaha. Laaah, mbaknya saja hanya doa. Peluang ketemunya memang ada, tapi kan hanya nol koma sekian persen, kan. Dan gak bisa jadi standar semua orang untuk melakukan hal yang sama juga. 

    "Hei anda, doa itu juga bagian dari usaha! " tukasnya. 

    Jika diteruskan, aku yang mati konyol sendirian dalam obrolan ini. Tapi aku memaklumi. Allah masih menitipkan kekosongan hati sampai bertahun tahun ini karena menyuruhku mengeja perasaan. Logikaku bermain begitu sempurna. Allah mungkin ingin aku agar memahami "rasaku" terlebih dahulu. 

    Bahkan pada sosok yang pernah sebelumnya aku tulis di blog ini. Tentang dia yang menjadi metafora. Aku bahkan mendoakan namanya. Hanya sekali. Aku masih ingat, pada hujan sore hari saat aku melewati sawah sepulang kerja. 

    "Mas semoga kita berjodoh ya." begitu doaku pada Sang Pencipta Langit. 

    Tapi... 

    Pada sebuah pesan singkat setelah pertemuan dengan yayak dan mbokde di jogja. Aku chat imaf tiba tiba di malam harinya. Rasanya aku ingin buru buru menyampaikan pesan ini. Seolah tidak ada hari esok dan menunggu untuk menyampaikan keganjelan hati ini. 

    "Maf, sepertinya aku sama mas itu gak jodoh deh. Tadi pas pulang kerja aku (terbiasa ngalamun di perjalanan) mikir dan cek ombak perasaanku. Mungkin aku lebih ke kagum aja kali ya. Dia bukan feelingku." kataku. 

    Yayak dan imaf selalu mengulang perihal "feeling" berkali kali. Ini kata magis yang mengantarkan mereka pada pengalaman percintaan mereka sendiri. Karena you know lah, aku masih kosong bertahun tahun, seolah olah kata "feeling" adalah kata sakti madraguna yang belum aku dapati. Dan pertemuan dengan mereka berdua mengajariku untuk mengenal "rasa" mu. 

    "Tapi mbokdeee, aku juga dapat feeling nek aku bakal ketemu feelingku sebentar lagi. Entahlah. Kayaknya hanya butuh waktu saja."

    Imaf: wkwkwk aku ngekek bil. Santai aja kali, jangan dibuat beban. Kalau memang belum menemukan yaudah tunggu. 

    Hp aku tutup. Sudah larut. Aku tidak ingin memperlama obrolan itu. Meskipun begitu, aku memejamkan mata sebelum tidur dengan berharap dalam waktu dekat semuanya datang. I dont know Who is he. 

    Siapapun dia. Dimanapun dia berada. 

    Halo mas, perkenalkan ini aku Nabila! Senang bertemu dengan mas. 


    ***
    Libur kerja, Jumat 7 Februari 2020
    07.45
    Grup trio macan bergemuruh dengan permintaanku yang ingin dikenalkan dengan anak komisaris pertamina. Siapa tau kan yaa, hahahahaha! 


    Continue Reading
    Hei blogger!

    Sudah wajar kita berteman dengan sunyi. Sama denganku di sini.

    Perkenalkan, aku Nabila Nurul Chasanati. Punya nama pena Nabila Chafa. Nama itu aku buat saat SMP saat ikut lomba menulis cerpen ala-ala. Haha, atau kadang bikin tulisan di buku tulis khusus untuk nulis novel, untuk nyantumin nama pena ala-ala punyaku kan. Walaupun pada akhirnya belum ada satu yang novel yang berhasil aku tamatin dengan menggunakan metode buku tulis, heuh.

    Lahir di Sukoharjo, 3 Desember 1994. Seorang Sagitarius dengan jiwa bebasnya. Tipe karakter mandiri (karena anak pertama), ambisius terkadang realistis (hidup yang membuatnya seperti itu), tidak suka dikekang apalagi berkomitmen. Hahaha!

    Itulah kenapa aku bahagia di umurku yang 25 tahun ini aku masih single. Bukan karena tidak ada yang mau, tapi aku udah menutup kesempatan itu. Kita lihat saja, pangeran berkuda putih mana yang akan menaklukkan hatiku, hauwah haha.

    Sudah kusinggung sebelumnya, aku menyukai dunia menulis. Dari kecil sampai gede hingga pada satu momentum aku mendapatkan kesempatan untuk mempublikasikan karya pertamaku dalam bentuk buku Antalogi ala-ala. Kemudian berlanjut ke penulis Indie sampai dikontrak oleh penerbit aplikasi baca.

    Inilah prestasiku:

    - Antalogi cerita Cerita Hati: Ini Cinta Pertama, Bukune (2012);
    - Indie Oyasumi, Bitread.id (2014)
    - Indie Reuni, Lembayung Publishing (2018)
    - Hesitation, cabaca.id (2018)

    Di tahun 2019 sampai 2020, aku belum lagi menyempatkan diri untuk menulis. Entahlah, kadang hanya bisa suka nggrundel di blog atau tumblr. Sosmed tersepi yang aku punya, wkwk. 

    Suatu ketika pada masa saya menjadi mahasiswa, saya tergabung dalam beberapa organisasi. Salah banyak diantaranya adalah... 

    1. UKM Keilmiahan SSC Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret sebagai Leader of Research 2015-2016
    2. Volunteer Solo Mengajar Batch 10 tahun 2015
    3. Awardee (Penerima Manfaat) Beasiswa Aktivis Nusantara Batch 6 dari Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa tahun 2016-2018.
    4. Manager of Curriculum Bakti Muda (Beasiswa Aktivis Muda) Batch 2 tahun 2017-2018.

    Kesibukanku adalah... 

    Aku pernah bekerja menjadi editor pada perusahaan buku dan modul pelajaran sekolah tingkat TK sampai SMA di CV. Citra Pustaka tahun 2019. 

    Sekarang di tahun 2020 ini menjadi reporter untuk kanal GridHype.ID salah satu jaringan dari GridNetwork. 

    Akun sosial media yang aku punya adalah... 
    Twitter : nabillachafa
    Facebook : Nabila Chafa
    Instagram : nabilachafa27
    Email: chafa.nabila27@gmail.com

    Feel Free for contact me~

    Cheers, 
    Nabila Nurul Chasanati aka. Nabila Chafa aka. Young Leader to be, amin hahaha!


    Continue Reading
    Hei, lama sekali tidak kusapa kalian. Sudah hilang sepertinya untuk menulis lagi.

    Meskipun, tidak ada yang kangen, selain Nabila di masa depan yang membaca ulang tulisan ini. Karena pada hakikatnya semua yang terekam di blog ini adalah proses pendewasaanku. Dari masih alay sekali, alay kebangetan, sok serius, lebay, baper, marah akan sesuatu dan lain sebagainya. 

    Jadi begini surat untukku di masa depan.... 

    "Bil, kamu sudah melalui 10 bulan indah-lika liku-penuh perjuangan. Iya, merasakan indahnya jadi budak korporat yang digaji di bawah harga umk Kabupaten Sukoharjo.

    Lumayanlah, dengan rentang waktu sebegitu singkat, kamu berhasil mengumpulkan tabungan sekitar 10 juta. Lumayan. Target mendekati akhir tahunmu adalah membeli hape baru. Hahaha, alhamdulilah ya. Katanya mau belajar buat meniti ulang karir online shop-mu. 

    Hahahaha! 

    Kaget yaa awalnya. Bermula dari Hp dengan Ram 1 giga, dan memory 8 gb. Sekarang udah berubah berkali-kali lipat. Dengan ram 6 giga dan memory 128 gb kamu bisa download aplikasi apapun. Terima kasih untuk Huawei hahaha. Meskipun banyak dari apps itu nganggur gak kesentuh. 

    Jika berpikir untuk bekerja 8 jam menjadi budak korporat memang tidak menyenangkan sama sekali. Work from eight to four everyday almost 6 days. Haha, tapi aku bisa melewati itu dengan rasa syukur sepanjang hari. Karena aku liat bagaimana orang di luar sana yang begitu susah payah mendapatkan chuan. Lebih melihat kondisi real life pertemanan, bahwa ada di antara kita yang masih belum beruntung perjalanan hidupnya. 

    Tapi alhamdulillah banget sih, dapat masalah di tempat kerja secepat itu kamu dapatkan. Dari situ kamu belajar akselerasi buat menyelesaikan hal yang sama di masa depan. Selain itu, memang kalau diteruskan di tempat lama bakal jadi toxic. Entah ke arah toxic positif atau negatif.

    Maksudku, dibanding nasib orang lain aku masih sangat sangat beruntung. Punya rumah hampir 500 meter, dengan 10 kamar kosan. Harusnya kalau ditinggal merem bisa dapat 5jt per bulan. Tapi yaa itu harus balik modal dululah utang utang buat membangunnya. Orang tua masih bergaji tetap tiap bulan. Punya usaha warung, toko kebutuhan sekolah, fotocopy, butik baju, setidaknya aku kipas kipas udah ada uang buat makan hari ini. 

    Tapi kamu masih bergemuruh melantunkan doa agar kondisi ini segera berhenti. Tidak mau terlalu lama rebahan. Namun, jika memang Allah memberi rejeki rebahan ini diperlama, kamu dengan senang hati melakukannya. Baca buku, nontonin drama, sambil dagang baju, dan banyak banyak halu, hahaha. 

    Masih tahap santai. Mau kerja okee. Mau wirausaha oke. Masih muda harus kerja keras. Entah nanti angin akan membawa kita ke mananya. Maksudku, sebagai anak pertama kamu belum ada tanggungan yang berat, gitu bil. 

    Indah banget masa 2 bulan antara desember sampai januari. Dimana kamu banyak rebahan. Selalu minta sama Allah. Titip doa ke elian juga yang lagi umrah. Banyak sambat ke gusti Allah. Nikmat banget kalau apapun yang kita lakukan bergantung sama kehendak Allah. 

    Kadang pas lagi mendekati waktu disminor, kamu merasa low banget. Mau banyak banyak sambat. Kenapa harus berjalan sebegitu stagnannya. Gak berprogress. Rejeki itu seolah berhenti diberi. Pernah aku berpikir seperti itu. Tapi ah enggak ah, Allah cuma minta kamu buat banyak banyak rebahan dan sambat aja. Kita gak bisa maksa Allah seenaknya. Minta ini itu dan "harus" dikasih waktu itu juga. Kan Allah Maha Kuasa ya, gak bisa sejenak jidat kita atur. So santailaaahh. Sesantai kamu nikmati pagi dan rebahan sepanjang hari. 

    Jadi, kalau pun apply kerja hanya hal hal yang  kamu tertarik aja. For sure, kamu sebenarnya berharap banget di terima di gojek solo. Karena kantornya hanya berada di solo baru yang 5 menit jalan. Yaah apalah daya ya. Allah mengabulkan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang menjadi keinginan kita. 

    Dan... 

    Kabar baik datang hari ini. Dari kompas gramedia dan di telepon langsung dari kode 021. Jelas kode dari daerah ibu kota. 

    Langsung aku kabarkan ke beberapa teman dekat. Salah satunya yayak. Sekalian aku meh menceritakan masa-masa indah rebahanku. Banyak banyak berharap sama Gusti itu nikmat. Luar biasa. Dan memang begitu adanya. 

    [23/1 19:47] Nabila Nurul Chasanati: Tapi emang nyaman banget sih yaaakkk
    [23/1 19:47] Nabila Nurul Chasanati: Gresula karo gusti ki
    [23/1 19:47] Nabila Nurul Chasanati: Maksud e ki, aku gak berharap gimana gimana. Malah pingin memperlama rebahan ku wkwk
    [23/1 19:47] Nabila Nurul Chasanati: Nek digawe santai slow mikir e penak o
    [23/1 19:48] Nabila Nurul Chasanati: Soal e tak komparasikan karo taun sing wingi wingi, aku "kudu" kerja, atau aku "kudu" kuliah taun iki

    Eh jebul ora kecandak wkwk. Nek wes ikhlas ngono ki malah entuk
    [23/1 19:48] Nabila Nurul Chasanati: Suk nek masalah rejeki jodoh ngono juga kali yaa yak

    Jadi apa intinya, banyak banyak ikhlas bil. 
    Banyak banyak berharap akan hal baik sama Sang Maha Kuasa. Dinikmati prosesmu. 

    Boleh kukatakan lagi bil, selamat datang kembali ke dunia perkorporatan. "


    23 januari 2020
    23.38 
    Menunggu 5 jam pertandingan Liverpool vs Wolves. 
    Bapak dan ibuk sedang bercakap-cakap sedemikian larutnya. 
    Continue Reading

    Hei blog! Aku merindukan tempat ini~



    Kau pernah berpikir, menginginkan malaikat jatuh ke bumi ini? Dan hanya datang untukmu seorang. Tidak pada yang lain. Kau pernah merasa hidupmu kesepian? Aku berpikir begitu. Seadanya cerita yang mengalir merdu melalui mulut-mulut brengsek mereka, tak pernah meruntuhkan keinginanku. 

    Kupanjatkan doa.

    Tuhan mengirimkan malaikatnya datang padaku. Hanya padaku seorang. Jangan berpihak pada manusia-manusia itu. Manusia-manusia yang aku benci. Melebihi bencinya aku pada pepaya. Aku bangun tidur masih dalam keremangan malam.  Cahaya datang dari balik pintu. Kuyakinkan pada diriku, bahwa kemarin malam aku tidak lupa untuk mematikan lampu. Tetapi kenapa cahaya itu datang padaku. Lalu semuanya seolah tenggelam dalam sepersekian detik. Secara tidak langsung aku tertidur kembali. Hati yang sudah penuh dengan gumpalan kebencian terhadap dunia ini aku pendam sampai kubawa terbang kealam mimpi. Bersamanya.

    Suatu waktu kamu datang. Lewat mimpi. Aku bahkan memelukmu, lewat mimpi pula. Sesekali aku cemburu. Pun, melalui mimpi. Logika berpikirku melarang untuk menambah pikiran. Sayangnya kedatanganmu meruntuhkan logikaku. 


    Terima kasih untuk satu minggu aku galau, di puluhan hari di akhir bulan Juni 2019. Lekas mendapatkan sosok yang layak, seperti impianmu. Begitupun aku. Tapi, tidak apa apa kan jika bayangan masa depanku adalah kamu. Toh hanya bayangkan! Siapa yang akan membuktikan itu sebuah kebenaran masa depan.
    ...
    Solo, 18 Juli 2019
    membalas pesan wasapmu dengan hhahaahaa
    21.13 pm
    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (1)
      • ▼  Feb 2026 (1)
        • Foto Haji 2025
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top