Perkara Social Distancing, Aku Pernah Lebih Parah dari yang Kalian Pikir

6:50 PM

Virus corona merebak. Dunia dibuat kalang kabut. Apalagi seminggu yang lalu, walikota Solo langsung intruksikan buat menjadikan hal ini sebagai Kejadian Luar Biasa Wabah Corona. 


Sebenarnya pandemi kek gini memang muncul setiap seratus tahun sekali, percaya atau tidak. Dulu kita pas jaman penjajahan Belanda, mengenal Flu Spanyol. Hampir membuat sepertiga penduduk bumi jadi korban keganasan. 

Sekarang saat ini. 

Bayangkan hobi masyarakat kita yang suka kumpul-kumpul, nongkrong, sambatan, bakal mendadak harus mengalami yang namanya "puasa". Kita tidak bisa merasakan privilege itu lagi. Harus menahan diri.

Seketika itu, orang jadi parno buat keluar rumah. Aktivitas hariannya terjebak dalam online alias dunia maya. Apalagi, musim hujan dimana penyakit batuk pilek diare jadi ancaman, apa mungkin, apakah ini, kamu corona? Dan lain sebagainya. Sungguh nilai nestapa yang akan kita dapat. 

Wong sebenarnya, kita sendiri juga gak tau. Apakah kita positif atau negatif pada wabah penyakit ini. Beberapa kali buat berita mengenai corona, semakin kita sadar bahwa orang yang sehat-sehat saja, bisa jadi "positif", karena dia membawa wabah lewat tubuhnya. 

Mengerikan. Karena ancamannya adalah hal yang tak kasat mata. 

***

Menyoal Mengenai Social Distancing Versiku! 

Tentu, ganasnya pandemi global virus corona ini membuat jarak antarmanusia semakin jelas. Kita harus menjaga sebaik-sebaiknya kita menjaga. Kalau bisa #dirumahaja. 

Salah satu cara melawan, bukan karena kita takut ya, kita hanya takut sebagai "carrier/pembawa" virus ini jika berkeliaran di luar rumah, adalah agar tetap berada di dalam rumah. 

Agak berbelok jauh dari topik ini. Ngomongin mengenai literally social distancing, aku pernah sebenar-benarnya mengingat pada apa yang aku lakukan di akhir tahun 2018 lalu. 

Benar. 

Aku menjauhi grup pergaulanku. Amanah organisasi sudah selesai. Meskipun sudah lulus kuliah, aku masih sibuk di satu dua amanah. Tapi semua udah clear. Sisanya, aku harus berpikir pada diriku sendiri. 

Sesuatu seperti vaccum of Power pernah aku alami. Apalagi dimana aku jadi orang sibuk trus harus berpikir mengenai diri sendiri adalah sesuatu hal yang berat. 

Aku merasa butiran debu banget. Beberapa teman sudah diterima beasiswa S2, dapat kerja, atau melakukan apa. Aku? Sibuk memilih dan berpikir, dari sekian banyaknya pilihan yang ditawarkan hidup, aku dibuat bingung. 

Social distancing yang aku lakukan adalah off hape selama 3 bulan. Dalam rentang waktu lama seperti itu, aku kemana? Yup. Di rumah. 

Menghabiskan waktu dengan banyak bertanya, mengenali diriku sendiri, membaca buku, dan dibuat stress dengan uring-uringannya ibuku. 

Kenapa tahun 2018 adalah tahunku berjibaku pada depresi tak berkesudahan. Pilihan yang ditawarkan Ibuk adalah untuk kuliah yang membuatku banyak berpikir ulang. Sama halnya memikirkan, apakah ada urgensi yang membuatku kuliah? Apakah hal itu perlu? 

Semakin lama, semakin aku berpikir ulang aku semakin merasa pilihanku untuk menunda kuliah tepat. Banyak alasan. Jika sempat kita diskusikan di lain judul. 

Aku kembali mengambil hal yang sama beberapa waktu lalu. Di hari minggu ketika libur kerja, aku off hape seharian. Kembali menikmati waktu sendiri. 

Merasakan nikmatnya kebebasan tanpa punya kewajiban stor kondisi dan keadaan pada khalayak. Maksudku, ini bakal jadi momen yang menyenangkan. 

Oiya, kadang aku juga harus menutup akses orang bertanya padaku. Niatmu buat nyapa atau tanya kabar. 

"Bagaimana kabarmu?" 

"Kabarku baik." 

"oke baiklah. 

Jika dilanjutkan maka akan muncul pertanyaan, "kamu kerja dimana?" 

Maka akan aku jawab, "Di suatu tempat yang indah." 

Aku tidak perlu mengumumkan semuanya kan pada kenalan, teman lama yang hanya tanya-tanya sekedarnya doang. Hahaha. 

Eh, lagi pula aku sudah membangun tembok untuk bodo amat pada dunia. Itu semua berkat social distancing yang aku lakukan. 

Peace! 

***

We ef ha lagi, di jam 10 pagi
Minggu ke2 KLB Corona
Kamis, 26 Maret 2020
08.44


You Might Also Like

2 Comments