Pages

  • Home
  • Tumblr
  • linked
facebook linkedin twitter youtube

Rumah Dialektika

    • About Me
    • Renjana
    • Cerita Pendek
    • Opini
    Mendayu Rajamala Suatu ketika



    Ketika Matahari mulai Mengantuk di bulan Mei 2003
    Legenda itu diciptakan agar kamu selalu bisa mengingat. Tentang sebuah peradaban yang tentu saja tidak akan pernah hilang dimakan jaman. Kalau pun suatu ketika orang-orang dari masa depan benar-benar melupakan, setidaknya kamu bisa mengingatkannya.
    “Memang manusia di masa depan akan seperti apa, Nek?” tanya Nalendra.
    “Banyak dari mereka menyia-nyiakan perempuan mereka.” Sahut Nenek. Ia masih berusia tujuh tahun tetapi entah kenapa Nalendra paham apa yang dimaksud neneknya. Nenek sendiri. Ia bergumul dengan naskah kuno milik Kasunanan. Waktu yang mengubahnya menjadi keriput karena sering berpikir.
    “Kamu janji!” Nenek melihat manik mata Nalendra. “Kamu tidak akan pernah menyia-nyiakan perempuanmu kalau kamu sudah dewasa.”
    Tentu saja. Harusnya seperti itu. Tetapi Nalendra hanya mengangguk bersemangat.

    **

    Ruang 209 Fakultas Ilmu Budaya
    Menurut Babad Kangungan Dalem Baita Rajamala, Kapal Rajamala dibuat untuk Istri Paku Buwana V untuk menghantarkan Permaisuri Ratu Kencana Wungu. Ayah dari Paku Buwana V kurang mengasihi istrinya, hingga ide tentang pembuatan kapal itu realisasi. Sebuah masa yang harusnya dia tahu, bahwa sesungguhnya menyelesaikan urusan wanita adalah hal yang susah.
    “Ada apa?” tanya perempuan itu. Dia mengaduh karena betisnya sengaja ditendang dari belakang agar dia tersadar ke alam nyata.
    “Kamu tidak berminat untuk membenciku kan?” tanya Nalendra. Dia masih menuntut penjelasan yang masih tertahan.
    “Memangnya bisa?”
    Nalendra menyeringai senang. Iya, memang tidak bisa membuatmu jatuh ke pelukan pria manapun. Tetapi rasanya, ia juga salah. Membiarkan gadis yang disukainya harus tertahan di dekapan pria lain karena ambisinya.
    Gadis itu berbalik ke belakang. Menatap Nalen dengan bola mata tajam dan lentik yang jatuh di matanya. Dia benar-benar sempurna. Seharusnya memang tidak akan terlepas segenggam pun. Tetapi dia kalah. “Iya? Ada apa lagi?”
    “Kalau kamu menjadi Paku Buwana V yang masih kecil melihat Ibunya Ratu Kencana Wungu bersedih, apa yang akan kamu lakukan? Maksudku untuk anak seusianya apa—“
    “Aku akan berbicara dengan ayahku kenapa dia membuat wanita yang dicintainya berduka.” Jawab Nalen percaya diri. Gadis itu mendengus.
    “Sepertinya tidak akan pernah semudah itu.”
    Kakinya disentak-sentakkan saat mendengar jawaban yang tidak memuaskan dari lelaki itu. Memang apalagi yang gadis itu harapkan selain jawaban ambigu seperti itu. Melalui celah-celah bangku kursi kuliah, aku mendorong kakiku agar dia berbalik arah lagi ke belakang. Dia mengerutkan dahi seolah bertanya ada apa lagi?
    “Memangnya apa yang akan kamu lakukan?”
    “Apa gunanya kapal Rajamala kalau Raja tidak mau memanfaatkannya?” Gadis itu justru balik bertanya.
    “Membuat pelayaran.”
    “See! Kamu cukup cerdas juga.” Puji Gadis itu. “Setidaknya lambang cinta akan selalu ada jika Sang Raja mau melakukannya demi wanita yang dicintainya.” Dia hampir saja menepuk tangannya ketika Nalendra menyuruhnya segera duduk tegak. Susanto dari jauh sudah memonitor tingkah kami berdua di bangku belakang.
    Kemudian, kita harus mendengarkan omong kosong mengenai pemikiran empirisme—atau apalah itu—di sisa-sisa waktu kuliah Susanto.

    **

    Refleksi diri di Kantin Sastra, 2017
    Suatu ketika Nalendra paham kenapa ia berkhianat dari janji yang dibuatnya bersama Neneknya di pinggir sungai Bengawan Solo. Umurnya masih 7 tahun tetapi dia ingat betul bagaimana janji itu ditautkan melalui jari kelingking dia. Neneknya terkekeh geli. Sepertinya hal itu sangat lumrah bagi anak-anak kecil seusianya saling menautkan kelingking mereka untuk berjanji.
    Gadis itu masih membosankan. Tentu saja. Kalau dia tidak tahu, bahwa ia hampir kehilangan gadis itu sampai membuat hatinya perih. Sederhana. Ia pernah mengajak teman gadis itu menjadi pacarnya. Di saat Nalendra paham bahwa hanya dia yang berada di hati gadis itu. Pasti menyakitkan. Kalau tidak ujian itu tiba. Tiba-tiba gadisnya tertambat pada sosok pria lain.
    “Aku butuh bicara.” Dia masih menyelesaikan ketikan kesimpulan kelompok. Dia harus menyelesaikan siang itu juga. Tetapi Nalendra—seperti biasa selalu egois—memintanya bertemu di kantin sastra. Ia datang lagi saat, gadis itu masih khidmat mengetikkan penjelasan. Hingga teman satu kelompoknya tersadar betapa keruhnya wajah Nalendra. Teman satu kelompoknya merebut laptop yang kamu pegang. Menyelesaikan sisa pekerjaanmu.
    “Ada apa?” tanyamu. Mukamu bersungut-sungut. Seolah tidak ingin bertemu.
    “Aku sakit.”
    Kamu melotot dan memindai dimana rasa sakit itu datang. “Aku bisa membawamu ke Medical Center. Kamu sakit apa?” tanyamu. Gadis itu terkesiap dan memeriksa lenganku yang baik-baik saja.
    “Maafkan aku.”
    “Kamu aneh. Tadi bilang sakit, sekarang minta maaf.” Sahutnya. “Untuk apa?” lanjutmu.
    Nalendra membuang napas pendeknya. Kesal. Tanggapan gadis itu tidak sesuai dengan bayangannya. Ada apa sih sebenarnya?
    “Aku pernah menyukaimu. Dan masih saja seperti itu.” Dia tegakkan wajahnya dan menatap gadis itu seolah akan melahapnya bulat-bulat.
    Gadis itu mencebik. Hampir tidak percaya.

    **

    Hujan Bulan September 2022
    “Apa yang kamu pikirkan?” tanya lelaki itu. Dia menuangkan air panas ke dalam kopi di cangkirnya. Perempuan itu masih melamun bersamaan dengan dia mengaduk kopi.
    “Kalau seandainya anak itu tidak membuatkan kapal, apakah Ibunya baik-baik saja?” tanya Gadis itu. Dia menengadah menatap suaminya lamat-lamat.
    “Kenapa kamu masih memikirkan dongeng itu? Itu hanya fiksi yang dibuat masa lalu.” Sahut Nalendra. Dia menyesap kopi buatannya. Sedangkan istrinya hanya memangku kepalanya.
    “Fiksi memang diciptakan sebagai pengingat.” Sahutnya. “Kalau seandainya aku Kencana Wungu dan kamu suamiku, apa yang akan kamu lakukan?”
    Dia berdehem. Kemudian berpikir sejenak, mungkin akan memindai mana ide yang cocok yang biasa dia lakukan kalau dia adalah sang Raja. “Kita berdua bisa menonton tari Ludiro Madu. Itu kan perkawinan dua daerah antara Kasunaan dengan Madura.”
    “Manis sekali bicaramu.”
    “Selalu.”

    **

    Masa Ketika Bunga Angsana Berguguran, 2035
    Gadis itu percaya—bukan dia adalah perempuannya—yang percaya bahwa cinta perlu dijelaskan. Apa artinya kapal megah untuk Ratu Kencana Wungu untuk menghibur diri tidak ada artinya. Bukan megahnya kapal itu sebagai tandingan kapal buatan Daendels, ini berkaitan tentang penjelasan.
    “Aku mencintaimu.”
    “Aku tahu, tidak perlu diperjelas. Seakan itu hal konyol!”
    Nalendra terkekeh. Mendengar penuturan perempuannya. Bahkan waktu yang lama tidak mudah membuatnya berubah untuk tidak menyebalkan.

    **
    Solo, 24 Mei 2017 11:54 am
    another photo of Rajamala
    Ini adalah karya Pak Adam, dosen Pendidikan Seni Rupa. Terima kasih dedikasinya membantu kelompok kami membuat miniatur Rajamala yang sangat bantet ini. Haha :D Sebenarnya aslinya itu panjang runcing gtu. But, it looks pretty cool, honestly.

    Continue Reading
    Kadang kita tidak pernah berpikir tentang apa yang sedang Tuhan berikan, hingga nikmat dan berkahnya bisa kita rasakan. Postingan kegalauanku akibat gagal "PKM tidak didanai" pernah aku post di blog ini. Entah postingan tahun berapa aku tidak tahu--dan sepertinya aku juga tidak mau tahu juga--pernah menjadi bahan kegundahanku.

    Pernah tidak berpikir bahwa apa yang sudah kita lakukan, semaksimal yang kita lakukan, dan kita mengharap-harapkan hasil yang baik tidak kunjung datang. Dan suatu ketika, orang yang hanya bekerja semaunya (bisa dikatakan asal-asalan) mendapat hasil yang bagus. Ibarat kata, kamu sudah belajar dengan keras untuk ujian besok pagi, sedangkan teman kamu yang tidak belajar sama sekali dan mengandalkan contekan bisa mendapatkan hasil terbaik. Jangan heran ya? Tapi, at least, pernah tidak merasakan suatu kebencian yang teramat dalam pada sebuah keadaan. Aku sih pernah. Aku tidak pernah munafik untuk mengatakan 'tidak'. Memang seperti itulah adanya. Rasanya jengkel, mangkel dan marah sendiri.

    Kita tidak memarahi diri sendiri yang masih bodoh dan polos sok alim atau apalah, tapi jatuhnya seakan memarahi pada kehendak Tuhan yang memainkan perasaan ini bak seperti bola pingpong. Digiring dengan aneka ragam emosi yang memuakkan. Tapi disitulah ujiannya.

    Ujian yang diberikan Tuhan untuk mengukur seberapa pantas sih kamu bisa menjadi "Manusia Pembeda" diantara makhluk-makhluk yang lain. 


    Sebuah diskusi juga mengatakan hal yang sama. Ada seorang senior di Beasiswa Aktivis, namanya Mbak Titis dia juga mengatakan hal yang hampir sama. Semua makhluk mengimani hal yang sama, mereka sama-sama bersujud, sama-sama ibadah, sama-sama melakukan semua perintah-Nya. Tapi jadilah manusia yang berbeda. Maksudnya berbeda disini adalah karakteristik yang dimiliki setiap individu manusia tersebut.

    Mungkin ujian yang aku hadapi adalah "Menerima Dengan Lapang Dada"


    Kalimat diatas seperti memuakkan ya, kalau lagi jengkel, emosi banget dengan keadaan yang tidak berpihak. Tapi guys, memang itulah cara bijak yang harus kita lakukan untuk menghadapinya.

    Kembali ke topik, sama halnya dengan apa yang aku lakukan. Siapa sangka Nabila masih berambisi untuk tiap tahun menulis proposal PKM dan tidak ada hasil. Pernah dan sempat ngiri sih, di tahun kedua kuliah, temanku sekelas ada yang didanai PKM-nya dan melakukan penelitian di Kalimantan. Iri? Pasti. Aku manusia biasa yang hati ini tidak pernah luput dari iri dan dengki. Tapi, yasudahlah. Dari mereka perlahan, saat PKM GT di awal tahun aku mencoba membuat gagasan tertulis tentang bentuk pemerintah istimewa untuk kota Solo. Ternyata kajiannya banyak. Dan gagasan tertulis yang aku buat sudah basi. Well, itu yang membuat PKM adalah aku. Hanya dua orang, satu orangnya meneliti di Kalimantan dan Koordinator Tingkatku (yang satu kelompok di PKM GT ini) pura-pura menghilang. Argh...

    Di tahun ketiga, di mata kuliah Sejarah Indonesia Lama, aku kenal sama satu orang yang satu pemikiran denganku. Namanya Uun dan Eyang. Kita sering banget kelompokkan. Karena masing-masing sudah nyaman dengan karakteristik masing-masing yang sama-sama ambisius dan perfect. Tepat pada penyembelihan Kurban, 2 tahun lalu. Aku masih ingat, setelah Sholat Ied-Adha kita ketemu di kampus tepatnya di sekre BEM FIB. Memang sepi. Namanya juga hari libur nasional. Dan di sana kita membuat Proposal Penelitian PKM. Intinya, masing-masing anak membuat satu proposal dan anggotanya adalah kita bertiga. Enak, bisa digilir.

    Dari pas membuat proposal, menurutku yang paling mateng konsepnya milik Uun. Penelitian yang mengambil tempo abad 18, masalah hubungan bilateral Kasunanan Surakarta dengan Kerajaan Madura.

    Hingga, awal Februari kabar baik itu datang. Proposal PKM milik Uun-lah yang didanai. Dulu (kalau nggak salah) mengajukan sekitar 6.000.000 bukan angka yang fantastis. Karena maksimal di Proposal PKM adalah 12.000.000 tapi tetap aja senang. Bisa dapat duit dari pemerintah dengan cuma-cuma. Toh, tempat penelitian kita hanya berada di area Solo, tempat kita berada. Jadi kita hanya meneliti naskah kuno semacam filolog Babad yang relevan.

    Hingga, di pertengahan Juli (aku masih ingatnya adalah Bulan Puasa 2016) kita satu kelompok maju di Monitoring Evaluasi. Reviewernya dari Dikti dan seorang ibu-ibu. Ramah banget. Kita bisa melakukan yang terbaik disitu. Aku sih berpikirnya karena kita membuat semacam video ala kadarnya sebagai pengantar dari isi materi yang akan kami paparkan. Senangnya minta ampun karena sukses. Eh dapat duit juga :)

    Hingga, sebuah kabar itu datang...

    Uun sedangKKN di Wakatobi. Awalnya mau nangis. Siapa sangka, PKM kita lolos ke PIMNAS. Awalnya Uun nggak mau balik ke Solo. Soalnya tanggung banget. Sudah pertengahan jalan KKN sedangkan dia sedang melaksanakan KKN bukan di Jawa, tetapi di luar Jawa. Di Wakatobi lagi. Kan jauh. Butuh ongkos. Dia awalnya nyerah. Tapi keinget sama usaha-usaha kelompok kita yang goal utamanya adalah PIMNAS. Dari pas Monev kita selalu berdoa, dan aku punya feeling kuat kalau kelompok ini bisa sampai PIMNAS.

    Dosenku Bu Insiwi udah ngebujuk Uun suruh pulang. "Pokoknya pulang dulu. Masalah biaya, dipikir belakangan." Enak banget ya ngomongnya.

    Akhirnya Uun pulang. Dengan muka jelek banget. Sumpah. Karena setelah pulang ke Solo, langsung pembinaan dan dikarantina di sebuah hotel di Solo. 24 jam berada di pengawasan Kemahasiswaan Pusat. Rasanya tersiksa tapi overall Uun bisa melewati itu dengan baik. Aku sebenarnya kasihan sama dia. Udah deh. Selama kenal Uun, itu adalah muka terjelek Uun sepanjang masa yang aku pernah lihat.

    Hingga pas di PIMNAS pun, untung suasanannya agak sedikit mereda. Kita tidak berambisi mendapat emas, perak atau perunggu. Dulu sih niatnya, sampai di titik ini aja aku udah bangga. Pokoknya jangan dijadikan beban. Anggap aja liburan di Bogor, gitu~

    Titik itu terlewati. Pelajarannya apa? Kenapa aku berbagi mengenai cerita ini?

    Tuhan tahu betul mana hamba yang melakukan sungguh-sungguh dan mana yang biasa saja. Semuanya sudah ada ukurannya, guys. Jadi lakukan saja apa yang membuatmu berbeda dari makhluk Tuhan lainnya. Karakter baik itu perlu. Apakah menjadi baik itu akan seberuntung yang tidak baik? Aku pikir tidak. Seperti penjelasanku yang diatas. Melakukan hal yang tidak baik itu mudah dan instan. Hasilnya bagus pula. Tapi mempunyai karakter yang baik, dilandasi ketulusan dan percaya bahwa hal baik akan datang. Hasilnya adalah luar biasa.

    Tidak percaya? Percayai saja.

    Percaya saja pada Proses. Kalau kamu memulai dengan baik, aku percaya bahwa semuanya juga berakhir dengan baik pula. Percayalah. Gusti Allah mboten sare. Kalian hanya bisa percaya.


    Dokumentasi dari e-yang :)) waktu pembinaan di hotel Lor In Syariah Solo.

    Kita juga tidak pernah lupa bahwa masing-masing dari kita mempunyai supporternya masing-masing. Uun dengan Deska yang membantu membuat video Kapal Rajamala. Deska menyebutnya dengan "Kapal Othok-othok, by the way." Eyang dengan simas yang membuat lukisan cantik dari Canthik Kyai Rajamala. Aku dengan Mas Drestha yang membuat desain poster PKM kita *terharu* dan dek Avivah yang memiliki teman untuk membuat video yang cantik untuk kita presentasikan. 




    Mungkin terlambat, apalah daya diriku. Hanya mampu bercerita tentang rentang kisah tahun lalu. Menganggap, aku tidak mungkin bisa hingga saat ini jika tidak bersama kalian. 

     ➔➔➔➔       Gusti Allah mboten Sare. Teruslah berusaha dan bermimpi 


    Aku yang selalu mempercayai kalian,
    Para Pembaca yang Budiman


    Nabila Chafa~
    ::::::
    __________________________________________________

    For Info:

    Aku kasih link Proposal PKM lolos Pimnas untuk Penelitian Soshum, semoga sedikit membantu kalian yang tengah berjuang untuk membuat PKM. Apalagi bidang ilmu sejarah.
    ⬇
     Proposal PKM Soshum Rajamala

    DOKUMENTASI


    Foto Full team setelah selesai presentasi bersama Bapak Suharyana, pembimbing kami :)

    Foto bersama seluruh peserta di kelas PSH 02 

    At last, closing ceremony di akhir acara 

    ➤➤➤
    Iam so grateful for all of u guys. Jinjjayo!! Keep fight and stay bright 
    ➤➤➤
    Continue Reading
    Sebenarnya ini sudah amat-sangat-dan-sangat terlambat kalau saya bercerita tentang Bakti Nusa. Yeah, well, sebenarnya saya mendapatkan manfaat yang luar biasa besar melalui program Beasiswa Aktivis Nusantara ini atau biasa dikenal dengan Bakti Nusa. Karena saya menulis ini tepat sudah satu tahun berlalu dari akad (kontrak/perjanjian) dan sudah menjadi penerima manfaatnya. Saya, termasuk angkatan ke-6. Alhamdulillah, Beasiswa ini bertahan di angka

    Tapi, persilahkan saya disini untuk membagi sedikit kenangan yang saya alami. 

    1. Persyaratan menjadi PM Bakti Nusa itu berat
    Masalah persyaratan akan lebih detailnya bisa cek di beastudiindonesia.net karena akan dijelaskan secara detail dan menyeluruh masalah persyaratan administrasi. Biasanya selalu dibuka di awal tahun. Dan deadlinenya selalu di akhir tanggal di bulan Februari. Jadi kalian, mahasiswa minimal semester 5 yang berada di Universitas seperti UNISRI, UI, UGM, UNPAD, ITB, UNS, UNY, ITS, UNTAN, UNJ bisa kalian persiapkan mulai sejak dini. Syaratnya utamanya adalah Aktivis. Karena nama besar program ini adalah Beasiswa Aktivis Nusantara, tentu dong yang termasuk di dalamnya adalah para aktivis kece kampus masing-masing. Bisa di segala lini keaktivitasan kampus. Mulai dari aktivis dakwah, lingkungan, pergerakan atau keilmiahan. 
    Selain itu masalah persyaratan di Bakti Nusa, menurutku agak susah di bagian Proposal Hidup. Yep, kalian bakal menuliskan aktivitas yang akan kalian lakukan dalam 5 tahun kedepan dengan detail dan 10 tahun ke depan sebagai gambaran umum. Agak susah sih, karena kalian harus menceritakan setiap bulannya kalian mau ngapain. Di tiga kolom yang berbeda lagi, yaitu di kolom karir--at least, karir adalah masalah individu--, kemudian di kolom organisasi yang kalian lakukan dan yang terakhir adalah pendidikan kalian. Nah, di tiga kolom ini kalian harus detail menjelaskan selama lima tahun tersebut. 
    Silahkan mencoba XOXO 
    Kemudian hal-hal administrasi yang lain seperti Transkip Nilai selama 5 SMT, kemudian surat rekomendasi dari pihak-pihak tertentu (minimal 3 orang), CV dan sertifikat bahasa asing yang dimiliki. 
    Karena tiap tahun beberapa syarat administrasi selalu berubah-ubah, secara garis besar persyaratannya seperti yang diatas.


    2. Fasilitas wow saat kamu menjadi PM Bakti Nusa
    Beasiswa ini merupakan investasi pemuda Indonesia yang di masa mendatang. Tentu saja orang-orang terpilih yang akan mengisi kursi-kursi kepemimpinan di masa depan. Begitu. Berat memang. Karena memang hanya aktivis-aktivis kampus terbaiklah yang dihimpun dan diarahkan menjadi pemimpin bangsa di masa depan. 
    Soalnya fasilitas yang akan kamu dapatkan selama menjadi PM Bakti Nusa adalah:
    ((Tahun Pertama))

    1) Future Leader Camp
    Semacam orientasi bagi penerima manfaat. Jadi setelah pengumuman, siapa saja yang menjadi aktivis langsung deh diorientasi selama satu minggu penuh. Biasanya isinya mengenai perkenalan program, ketemu sama tokoh-tokoh daerah. Kalau FLC bisa seberuntung pas jaman saya dulu, bisa bertemu sama Pak Gubernur dan Walikota, Kang Emil. Karena tuan rumah untuk FLC tahun 2016 di kota Bandung. 

    2) Strategic Leadership Training
    SLT semacam tindak lanjut dari FLC. Biasanya diadakan di Bogor mungkin hanya 3 hari. Dan hari terakhirnya yang paling seru. Karena pas angkatan BA6 ngadain rafting di Sukabumi. Kalau setahuku, di tahun 2017 ini naik gunung. 

    3) Coaching Aktivis
    Para Penerima Manfaat Bakti Nusa ini mempunyai satu manajer regional. Yang akan memantau aktivitas, masalah dan program regional. Hal terkeren menurutku sih, dari program Bakti Nusa adalah ini. Karena kita benar-benar mendapatkan partner curhat yang menyenangkan. Untuk berbicara apapun. Hm, didukung dengan teman-teman regionalku yang ketjeh badai. (Soon=> aku akan mencoba mengenalkan teman Bakti Nusa UNS angkatan 6 kepada kalian semuah)

    4. Marching for Boundary
    Kalau bisa dijelaskan, persis seperti KKN (Kuliah Kerja Nyata). Bedanya, MFB ini lebih tertantang. Kalau KKN biasanya satu kelompok 10-15 orang, MFB ini hanya 2 orang dan diberi tugas untuk melakukan pemberdayaan masyarakat di pulau terluar dari Jawa. Bagaimana? Tertantang?

    ((Tahun kedua))
    Di tahun kedua, tidak banyak sih sebenarnya. Karena menurutku lebih fokus pada program sosial regional. Tapi akan aku persingkat saja, program apa saja yang diberikan oleh pengelola Bakti Nusa ini kepada para Penerima Manfaatnya.

    1. Activist Development Program
    Kerennya dari program ini adalah kita diberi ruang untuk mengasah kemampuan bahasa Inggris kita untuk mempersiapkan program Pasca Kampus. Yep, karena tujuannya adalah membantu PM untuk meningkatkan nilai TOEFL sebagai syarat masuk ke program S2. Dibimbing di Kampung Inggris, Pare selama satu setengah bulan.

    _______________

    Aku mau membagikan kenangan yang pernah (sempat *halah) mampir di hidupku.
    Ini nih, Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Angkatan 6 Regional Solo. Yup, belum full team, soalnya Sang Presiden BEM yang sedang memegang kamera. 


    Dan foto diatas adalah full team kita. Semoga selalu bersama hingga akhir yang indah. 


    Cerita selanjutnya nanti, pan kapan aku bagiin :)
    Love, Kiss, and Hug


    Nabila Chafa





    Continue Reading
    Berikut merupakan resume dari mata kuliah Sejarah Eropa Klasik:

    PERADABAN YUNANI KUNO

    Peradaban bangsa Yunani meliputi kebudayaan Kreta, Polis, sistem kepercayaan, dan hasil-hasil kebudayaan. Peradaban Pulau Kreta memiliki kebudayaan tingkat tinggi. Kebudayaan ini dibangun akibat dari kekuatan maritime. Rakyatnya hidup di laut Aegae dan Laut Tengah bagian timur. Hasil kebudayaannya adalah arsitektur, seni patung, dan seni kerajinan. Sejarah pulau Kreta diketahui dari karya sastra berupa legenda dan mitologi karangan Homerus berjudul Illiad dan Odysseia. Di Knossus ditemukan reruntuhan istana yang berbentuk labirin. Struktur ruangan ini rumit sehingga menghalangi para penjahat masuk istana yang ingin menjarah kekayaan istana. Masyarakat Pulau Kreta mengenal seni lukis fresco, seni porselin, seni pahat pada gading dan seni kerajinan logam. Abad 15 SM, Pulau Kreta mengalami keruntuhan akibat dari bencana alam.

    Yunani merupakan salah satu pusat peradaban tertua di Eropa. Peradaban ini lahir di lingkungan geografis yang sebenarnya tidak mendukung. Kehidupan masyarakatnya yang mendiami iklim mediteran yang selalu hangat dan segar memungkinkan bersikap optimis dan berwatak riang.

    Yunani terdiri atas berbagai suku bangsa. Mereka mendiami wilayah yang bernama Negara kota atau bisa disebut polis. Di negara Yunani terdapat tiga polis besar dan kuat yaitu Athena, Sparta, dan Thebe. Dikarenakan kondisi geografis Yunani yang bergunung-gunung menyebabkan kasatuan unit politik antara kota-kota tersebut terpisah. Keberadaan polis-polis di Yunani mengakibatkan mereka saling bersaing untuk merebutkan hegemoni dan kekuasaan atas wilayah yunani. Tetapi ketika datang bangsa Persia yang akan menginvasi daerah Yunani, polis-polis yang berada di Yunani bersatu terutama Sparta dan Athena. 

    Yunani memiliki sistem desentralisasi karena tiap-tiap polis mengembangkan sistem pemerintahannya sendiri. Kepercayaan bangsa Yunani kuno adalah Politeisme dimana dewa tertingginya adalah Dewa Zeus yang merupakan lambang kesusilaan, pelindung, dan pencipta keadilan. Polis Athena melahirkan banyak ahli pikir yang mewariskan pengetahuan bagi manusia.

    Akhir kejayaan Yunani berakhir dengan terjadinya perang Peloponesos yaitu persekutuan antar polis yang memiliki pengaruh bagi politik dan ekonomi Yunani. Selain itu bencana lain yang dialami adalah munculnya wabah penyakit akibat buruknya sanitasi sehingga menyebabkan kematian seeperempat dari penduduk Athena. Disusul dengan kematian Perikles yang menyebabkan lemahnya kepemimpinan Athena. Tahun 404 SM terjadi perang saudara yang juga mengakibatkan rapuhnya pertahanan Yunani untuk menghadapi ancaman dari luar yaitu berupa penaklukan oleh Raja Makedonia. Sehingga dengan mudah pada tahun 338 SM, Raja Philipus dari Makedonia menaklukan Yunani.


    PERADABAN ROMAWI  KUNO

    Peradaban Romawi Kuno diawali dengan lahirnya Kota Roma. Perkembangan Romawi dipengaruhi oleh keadaan geogrofisnya. Lokasinya strategis di kawasan laut Tengah yang cocok untuk perdagangan, aman dari serbuan bangsa asing karena terlindung oleh alam. Orang-orang Italia terdiri atas banyak suku yang masing-masing memiliki bahasa dan kebudayaan tersendiri. Masyarakatnya hidup dari sektor pertanian serta perdagangan dan pelayaran. Mereka mengekspor keramik, barang-barang  dari besi dan perunggu dan kayu serta minuman sejenis anggur. Adapun barang impor antara lain sutera dari Cina, rempah-rempah dari Indonesia, katun dan mutiara dari India. Bangsa Romawi juga memiliki kemampuan yang tinggi dalam pengolahan logam, penggunaan batu untuk bangunan, teknik lengkung serta teknik pengeringan rawa.

    Sistem pemerintahan Romawi dimulai dengan berbentuk kerajaan (monarki) dengan raja pertamanya adalah Romulus. Sistem Monarki ini hanya berlangsung pada tahun 750 SM sampai 500 SM. Penguasa Romawi yang merupakan pendatang, tidak dapat diterima oleh penduduk asli yang pada akhirnya mereka digulingkan.

    Sebagai ganti sistem monarki maka diberlakukan sistem Republik. Pada masa Republik Romawi pembagian penduduk didasarkan atas dua golongan, yaitu patricia dan plebea. Patricia berasal dari kalangan pemilik tanah yang luas atau kelas aristocrat. Sedang plebea adalah mereka yang dianggap warga negara tidak penuh, namun masih memiliki beberapa hak politik dan hak untuk mengumpulkan kekayaan. Orang-orang dari golongan patricia memegang kedudukan dalam lembaga-lembaga politik yaitu konsul, senat, dan Majelis atau Assembly.

    Pertahanan dan militer Romawi juga sangat terkenal terutama ketika terlibat perang Punisia. Romawi memiliki tokoh-tokoh yang cukup berpengaruh didunia antara lain Julius Caesar, Tiberius Gracchus, Gayus Gracchus dan masih banyak lagi.

    Bangsa Romawi merupakan bangsa dengan tingkat kebudayaan yang cukup tinggi. Sebagai buktinya dapat dilihat dari seni bangunan, seni sastra, ilmu pengetahuan, pemerintahan, militer dan hukum. Salah satu bukti tingginya kebudayaan Romawi dari segi bangunan adalah pantheon. Seni sastra yang terkenal pada masa Romawi adalah Aeneis karya Vergelius dan karya Julius Caesar berjudul De Bello. Dalam bidang ilmu pengetahuan telah ditemukan obat-obatan dan dokter. Dibidang Pemerintahan Romawi sangatlah rapi. Perkembangan karya sastra Romawi mendapat sentuhan dari Yunani tetapi lambat laun menampakkan ciri khas Romawi.

    Dalam bidang ilmu pengetahuan bangsa Romawi meneruskan pengetahuan yang berkembang dari zaman Yunani kuno. Bangsa Romawi lebih menekankan pada segi kepraktisan, bukan teori semata. Sumbangan bangsa Romawi adalah bidang kedokteran dan obat-obatan hingga sekarang. Dokter pada jaman Romawi telah berhasil melakukan operasi gondok, amandel, dan batu ginjal. Sampai-sampai hingga sekarang, istilah kedokteran masih menggunakan bahasa latin.


    Tata pemerintahan Romawi tersusun rapi yang dijalankan dengan beberapa sendi seperti pemerintahan sentralisasi, ketertiban dan keamanan yang ketat, komunikasi antar pemerintah pusat dengan daerah terjalin baik serta untuk mempertahankan kekuasaan ditempuh dengan siasat divide et impera yang ditiru oleh kebanyakan bangsa jajahan. 
    Continue Reading

    GANASNYA IKLAN TERHADAP PERKEMBANGAN REAL ESTATE  KOTA MEMINGGIRKAN NILAI SOSIAL BUDAYA SEBAGAI KONSEKUENSI PERTUMBUHAN EKONOMI NEOLIBERAL


    I.       Pendahuluan

    Berbicara mengenai perkembangan real estate sudah menjadi konsumsi masyarakat saat ini. Bagaimana kendali kapitalis sampai mengakar pada kebutuhan primer manusia, yaitu papan. Bagaimana tidak ketergantungan manusia akan kebutuhan rumah sangat luar biasa akibat pengaruh iklan? Jauh dari kata kebutuhan, tetapi keinginan untuk menempati sebuah hunian merupakan cerminan dari selera kelas menengah atas. Coba tengok setiap hari sabtu atau minggu, iklan penjualan properti  rumah hampir ditayangkan hampir setengah hari di televisi. Yang membuat saya juga merasa geram adalah pernah saya temukan iklan penjualan properti juga mengisi hampir setengah lebih halaman koran. Ternyata pengaruh iklan luar biasa ganasnya. Secara implisit masuk dalam ruang publik dan kita tidak sadar sudah untuk tidak terperangah mengonsumsinya. Bahkan sampai menjadikan trend ini semakin marak di masyarakat sebagai gaya hidup. Banyak tujuan yang ditawarkan yang salah satunya adalah investasi.

    Perumahan real estate yang perusahaan jual menawarkan kehadiran arsitektur Eropa dengan pilihan gaya. Dalam iklannya pula menawarkan suguhan tempat menarik bagi penghuninya. Entah menawarkan alam pedesaan, tempat strategis yaitu mudah dijangkau, mempunyai keamanan yang mampu mengamankan 24 jam. Sungguh hal ini menghadirkan kota dalam sebuah kota. Mempunyai tempat privat tersendiri, dan susah dijangkau oleh kalangan kelas bawah. Mana bisa dikatakan terjangkau. Dengan salah satu iklan yaitu mampu mengamankan 24 jam saja sudah sangat cukup “mengamankan duit” orang berduit.

    II.    Pembahasan

    Kota yang dianggap sebagai tempat pertumbuhan dan berkembang yang mana di dalamnya terdapat ekonomi, sosial, dan budaya sekarang menggeser keberadaannya hingga pinggiran kota. Daerah yang sebelumnya bukan dikatakan “kota” sekarang menjadi identitas baru kekotaannya. Hal ini terjadi perkembangan kota selalu berkembang menyebar ke sekitaran daerah pusatnya. Tidak salah jika teori konsentris (Concentric Theory)  dari Ernest W. Burgess menyatakan bahwa kota mulai berkembang dari pusat kemudian meluas ke pinggiran.[1] Ekonomi neoliberal sudah membutakan mata masyarakat saat ini. Degradasi moral akibat pergeseran pola ekonomi mempengaruhi perkembangan kota.

    Kota merupakan area strategis dalam mengembangkan sektor perekonomian. Potensi inilah yang nantinya menggeser daerah-daerah satelit kota untuk membentuk atau membangun hal yang sama. Secara konsep kota sudah tidak mengenal lagi ikatan sosial antar penghuninya.[2] Perkembangan inilah yang menyebabkan kota selalu berbenah dari waktu ke waktu. Memberi ruang rekreasi, didirikannya gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, taman, bank dan masih banyak lagi.

    Dari strategisnya inilah, tidak salah jika ide bisnis muncul menciptakan kota dalam kota. Dengan memperhitungkan strategis tempat yang dibangunnya itu karena dekat dengan sarana-sarana penunjang di dalam kota. Konsep real estate sayangnya hanya bisa dinikmati oleh kalangan kelas menengah-atas saja. Bentuk arsitektur yang banyak dibangun oleh desain kota-kota luar negeri, menjadikan daya tarik. Seakan kita bisa berjalan ke luar negeri tanpa meninggalkan negeri kita sendiri. Hal ini bisa diciptakan dari desain yang dibangun.

    Pembangunan real estate mempunyai efek yang luar biasa bagi daerahnya. Biasanya dibangun dipinggiran kota untuk memberikan ketenangan bagi pemiliknya akan keramaian dan hiruk pikuk kota. Perluasan kota inti sampai pada kota yang dibangun dalam kota inilah memperluas jaringan ekonomi. Seperti kartu domino, saat dijatuhkan satu akan menjatuhkan kartu-kartu dibelakangnya hingga menjatuhkan keseluruhan kartunya. Perluasan jaringan ekonomi yang dilakukan kota inti hingga kota penyokongnya ini memperluas terpinggirkannya sosial budaya yang dibangun oleh masyarakat.

    Tidak salah jika Farabi Fakih[3] dalam artikelnya “Rumah Indonesia Indah: Imajinasi Postmodern dan Iklan Real Estate Indonesia” dalam kesimpulannya menyatakan bahwa dunia pasca Orde Baru  yang dianggap post modern adalah dunia dimana orang kelas menengah Jakarta ingin melarikan diri dari Indonesia. Fokus penulisan yang dilakukan oleh Farabi Fakih lebih menekankan pada kebingungan orang Indonesia pada identitas dirinya sendiri. Seakan semua tercampur-baur menjadi satu dalam hal arsitektur bangunan. Di satu sisi masih menonjolkan budaya lokalnya tetapi di sisi yang lain merupakan hasil impor dari barat. Majalah Tempo, 4 Agustus 1990 bahwa bangunan yang dibangun era postmodern adalah bangunan acak-acak yang bagiannya tidak sinkron satu sama lain.

    Pasca Orde Baru, Farabi Fakih menyatakan bahwa gaya rumah sedang dinegosiasi yaitu sebuah gaya yang terus menerus berubah, justru karena itulah ia belum menentukan bentuk barunya. Dalam penilaiannya Kota Jakarta merupakan pintu masuk dunia global, sehingga sebagian besar dari ruang kotanya telah diekspropriasi[4] oleh neoliberalisme dan konglomerasi lokal. Dalam bagian penutupnya pula, Fakih memberi penjelasan bahwa akhir tahun 1980-an Jakarta mengalami salah satu perubahan yang paling besar mengenai tata ruangnya. Ratusan gedung pencakar langit mulai bermunculan, perumahan-perumahan dan kota-kota satelit eksklusif mendominasi peta. Dari munculnya banyak perumahan yang bisa dikatakan real estate inilah kebutuhan akan dirinya berkembang. Kebutuhan dari real estate sendiri sungguh kompleks dan beragam. Oleh karena itu, tidak heran di sekitarnya pun dibangun pusat perbelanjaan untuk menunjang kebutuhan perumahan. Di dalamnya juga disediakan tempat hiburan seperti permainan, bioskop dan hal lainnya. Belum lagi didirikan rumah sakit, café, hotel. Seperti efek yang beruntun dari didirikannya perumahan real estate ini dengan kemunculan berbagai produk kapitalis. Sebagian banyak, mal-mal besar yang menggeser jalanan.

    Iklan memerankan permainan yang sangat ganas dalam membujuk dan menarik perhatian para konsumen. Iklan perumahan oleh Fakih mengalami perubahan yang sangat drastis tahun 1986-an, baik dalam segi kualitas ataupun kuantitas. Beranekaragamnya jenis iklan ini dengan memperkenalkan produknya, kebanyakan merupakan desain dari arsitektur barat. Sebagai contohnya, iklan perumahan kota Bunga, Puncak memilih tema Vila Praha. Dengan menghadirkan eksotisme arsitektur Eropa Timur. Tetapi hal ini sebenarnya hanya imaji yang dibentuk sedemikian rupa untuk menarik minat para calon pembeli. Hal ini bisa dikatakan sebagai bagian dari globalisasi, pengambilalihan budaya lokal dan disusupkan imaji-imaji global.

    Sebenarnya Era Orde Baru, sudah dilakukan penggalian terhadap pencarian Keindonesian Asli. Sebelumnya saat masa Hindia-Belanda oleh Thomas Karsten, merupakan tonggak pertama kali proses penciptaan sebuah identitas Hindia-Belanda yaitu dengan pembangunan gedung-gedung. Sebut saja, Gedung Pusat ITB dan renovasi Pasar Tanah Abang. Dengan usaha penggalian esensi kebangsaan bisa dilihat dari pembangunan Bandar Udara Soekarno-Hatta (1985) yang menggali atas tradisionalisme kejawaannya.

    Tetapi orang menengah-atas yang tinggal di perumahan menjawab akan ketidaksesuainya pemikiran lebih baik ke Mall, daripada pergi ke tempat-tempat yang diusung untuk Orde Baru. Inilah yang mengacaukan ketidakindonesian mereka, dengan gaya hidup mengikuti globalisasi.

    Paket kebijakan derugalitif sekitar tahun 1980-an oleh Orde Baru, menanamkan logika sirkuler membuat kondisi melemah. Kemunculan kelas menengah dengan kedekatannya dengan Negara menghasilkan serangkaian pergeseran yang diakomodasi oleh penguasa.[5]

    III. Kesimpulan

    Konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang dibawa oleh global yang mengarah pada capital inilah yang memunculkan gaya hidup mewah. Perumahan real estate merupakan perwujudan dari hal tersebut. Masalah-masalah mengenai hal ini bahkan sampai masuk dalam degradasi budaya yang ada dalam masyarakat. Munculnya pusat perbelanjaan sebagai tempat penyokong adanya perumahan memunculkan budaya konsumtif. Belum lagi, meluas pada kurangnya pemberdayaan pasar tradisional. Pergeseran-pergeseran tersebut selalu ada dan berimbas pada tatanan sosial budaya apalagi ekonomi masyarakat.

    Hanya gagasan kosong, jika kita selalu mengkritik ketegasan pemerintah dalam mengentaskan permasalahan ini. Bisa jadi, karena masyarakat pula yang sudah diperdayakan oleh era ini, seakan tutup mata pada permasalahan yang tidak benar-benar merasa rasakan. Atau hanya sekedar berbicara tanpa memberi solusi.

    Benar kesimpulan terakhir kalimat dalam arikel yang ditulis Farabi Fakih, bahwa Indonesia yang merupakan Negara multikultural seakan kehilangan identitas dirinya dengan adanya globalisasi. Sehingga diperlukan pemikiran ulang mengenai imaji baru Indonesia yang bersifat multikultur dan inklusif ini. Sama seperti proyek Orde Baru dalam melakukan pencairan terhadap “Keindonesiaan Asli” yang dilakukan arsitek-arsitek Hindia Belanda.

    Sebagai bangsa yang besar, kita setidaknya harus memiliki potensi pada diri kita untuk bisa ditonjolkan. Degradasi sosial budaya sudah membutakan mata kita bahwa kita kehilangan banyak potensi lokal yang dimiliki Negara multikultural ini. Kita tidak benar-benar kehilangan jati diri kita, dengan mempelajari dan meneruskan kepada generasi selanjutnya akan terjadi kontinuitas dalam penerusan nilai-nilai masyarakat. Kita hanya merasa tidak mau saja, tidak mau menggali akar budaya kita. Seolah mengatakan bahwa budaya kita sudah hilang. Justru, kita sendiri yang perlahan-lahan menghapuskannya.

    Akhir kata, dari kesimpulan yang diberikan Farabi Fakih, penulis ingin mengajak untuk kembali menemukan identitas baru Indonesia saat ini. Berkembangnya kota dengan dinamikanya yang ada tidak seharusnya menggeser atau mendegradasi nilai-nilai sosial budaya yang sudah melekat erat dalam tatanan masyarakat itu sendiri. kita Kita harus awas diri dalam era keterbukaan seperti saat ini. Jangan sampai pihak luar memenangkan permainan era global ini.



    [1] Theory Burgess di dapat oleh penulis semasa pelajaran Geografi SMA dalam Bab Pola Ruang Desa dan Kota

    [2] Pendapat menurut Wirth, dalam presentasi Dr. Dyah Kumalasari, M.Pd.

    [3] Penulis Rumah Indonesia Indah: Imajinasi Postmodern dan Iklan Real Estate Indonesia, hlm. 31.

    [4] Exproriate: pengambil alihan.

    [5] Op. Cit.,Farabi Fakih, Rumah Indah Indonesia, hlm.71.

    Continue Reading



    Waktu bergulir setiap hari. Setiap detik. Setiap menit. Bahkan akan berujung dengan pergantian tahun. Tetapi kesannya bahwa hidup ini hanya mengikuti aliran air. Tunduk pada sang matahari pagi. Hanya bergumul dengan waktu dan jam yang sama. Tidak adanya aktifitas yang menghasilkan dan berproduktif. Inilah hakikatnya hidup yang kita jalani. Hanya sebatas mengalir. Dari pagi sampai tenggelamnya senja.

    Manusia hidup pasti ingin berguna bagi sesamanya. Masalah utamanya sekarang sebagai mahasiswa kadang berpikir bahwa tidak ada yang bisa diharapkan untuk menjadi sarjana kalau ujung-ujungnya menganggur—tidak bekerja. Bukankah bila dipikirkan ini merupakan suatu kegalauan yang tak ada ujungnya. Tetapi sebagai pribadi individu, bagaimana cara kita untuk ‘bertahan’ dalam era persaingan seperti ini. Masyarakat Ekonomi ASEAN sudah diberlakukan, proteksi-proteksi yang diberikan pemerintah pun juga minim. Mengingat bahwa suatu persaingan itu harus bersifat fair. Kita tidak bisa berkeluh kesah kepada pemerintah atas hal yang sudah diberlakukan semacam ini. Tidak ada lagi manja-manja dibawah naungan hukum undang-undang. Era persaingan sudah diberlakukan dan kita saat ini masih belum mampu menjawab pertanyaan akankah diri kita eksis. Akankah kita bisa bersaing?
    Pemerintah dihadapkan oleh persoalan yang pelik. Sejarah mencatat bagaimana perkembangan negeri ini sampai di titik dinamika permasalahannya yang membuatnya semacam pelik. Turbulensi atas ketimpangan, ketidakseriusan, dan kelalaian dari pemerintah, akankah kita membiarkannya begitu saja. Karyaku untuk Indonesia dalam hal ini saya akan mengangkat bagaimana kita berkontribusi dalam memajukan peradaban Indonesia untuk lebih baik lagi kedepannya melalui semangat cerita. Cerita memang suatu karya sastra yang sederhana. Tetapi penuh makna bila dilihat dari perspektif yang berbeda. Cerita dapat menggambarkan suatu imajinasi liar yang berbeda dibandingkan dengan bentuk visual. Karena pembacanyalah yang hanya mampu  melukiskannya. Tetapi lewat cerita pula, kita mampu mendobrak semangat, menanamkan nilai-nilai kehidupan, menentukan sikap dan tindakan atau bahkan sebuah protes sosial.
    Saya senang menulis. Bukan menulis hal-hal yang berat-berat, tetapi menulis cerita. Cerita yang mengalir sederhana mengenai kehidupan, secercah pemberi semangat akan rasa dan suasana. Saya hidupkan melalui untaian kata-kata dan menyesatkan diri ke dalam imajinasi yang saya bangun. Menciptakan kota yang bebas sampah, kota yang rapi, bahkan potongan rumput seolah dibuat sama rata tingginya, hanya bisa saya ungkapkan melalui cerita. Atau mengenai gelandangan di pinggir jalan dengan gerobak yang bertumpukan rongsokan, sedang mengais di tengah gerimis bulan Februari hanya bisa saya deskripsikan melalui cerita. Dapatkah cerita mampu menjadi kontribusi bagi negeri ini? Saya jawab: Iya.
    Sesederhana cerita, mengalun lewat ketikan panjang, menjadi buah dari inspirasi masa depan. Saya ingin membuat kota yang layak huni menurut deskripsi saya, bisa saya tulis dengan melihat kenyataan yang tidak saya dapati di alam ‘nyata’ saya. Melalui menulis cerita kita memberikan kepemahaman yang berbeda dari realita yang ada. Toh, bukankah karya sastra jaman orde lama mampu menggerakkan masyarakat. Bahkan aparat pemerintahan saja sampai teriak-teriak untuk membungkamnya. Walaupun itu hanya cerita, yang kata orang hanya imajinasi saja. Dan hanya berisi omong kosong penulisnya saja.
    Pramoedya Ananta Toer mampu membuktikan bahwa lewat cerita yang ia tuturkan bisa membuat ideology yang ia kaguminya menjadi semakin banyak basis massa yang mendukung. Lewat karyanya itu pula, ia harus dihadapkan oleh tindakan sewenang-wenang aparat sampai ia dibungkam dalam penjara. Lewat tuturan ceritanya itu pula ia tidak segan-segan mempropagandakan ajaran sosialis.
    Sebagai mahasiswa Ilmu Sejarah, lewat sastra pula saya bisa mengkomunikasikan peristiwa yang terjadi di masa lalu dan terefleksikan oleh peristiwa masa kini. Sehingga hal itulah yang menjadikan nilai kesejarahan menjadi hidup dan punya sudut pandang yang berbeda. Hal itu pula yang mendorong salah satu budayawan yang sekaligus dosen sejarah di Yogyakarta, Kuntowijoyo dalam merefleksikan peristiwa sejarah menjadi bentuk karya sastra.



    Masihkah jaman galau di era sekarang ini?? Banyak pilihan hidup yang mewajibkan kita memilih satu dari sekian banyak pilihan yang disodorkan. Ini memang tidak masuk akal. Tapi satu pilihan itu mampu menjawab berbagai ragam pertanyaan akan keeksistensi diri kita pribadi. Hanya orang malas yang masih merisaukan masalah masa depan mereka sendiri tanpa disertai sebuah action. Seakan masa depan yang tak terlihat itu bisa dijadikan factor kegalauan anak remaja saat ini. Bukan waktunya untuk menyalahkan diri sendiri karena ketidaksiapan kita dalam menghadapi persaingan yang ada. Semakin majunya jaman semakin kuat pula persaingan yang ditawarkan. Contohnya lapangan pekerjaan. Banyak orang berpikir, kalau ambil ilmu sejarah, mau jadi apa besok? Itukah yang sedang menjadi trend topic kegalauan seorang mahasiswa? Justru inilah momentum yang tepat untuk memulai membuat rencana strategis dan memantapkan akan pilihan yang kita sudah ambil.
     
    Continue Reading

    tumblr_lupdx3pal61qbeqcyo1_500_large

    “Kenapa harus olahraga sih? Aku malas banget.” Katanya sambil mengolet.

    Tadi jam pelajaran Pkn kosong dan Deni hanya bisa menjalankan aktivitas hariannya. Tertidur. Aku semakin bingung, sebenarnya kalau malam itu dia ngapain coba? Apa jaga pos ronda?

    “Den, jam olahraga ini! Kamu ganti baju, gih!” kataku mengingatkan. Dia yang baru saja memindahkan kepala dari menghadap ke jendela sekarang beralih menatapku. Dengan mata yang berkunang-kunang, tentunya.

    “Aku ijin aja.” Katanya datar. Matanya tertutup lagi. Dasar!!

    “Kamu tahu sendiri kan, Pak Sam itu seperti apa.” Gertakku. Mengingatkan bahwa guru olahraga kami memang sangat istimewa. Dia terkenal luar biasa disiplin, tidak boleh ada yang terlambat di jam pelajarannya, dia selalu membawa bambu kecil yang selalu ada di tangan. Dapat memukul sewaktu-waktu punggung muridnya kalau ada yang berani membantah. Lebih tepatnya bisa didefinisikan kalau guru olahraga kami ini memang mendidik muridnya berbasisi militer dan sedikit amatiran, tentunya.

    “Sebentar, satu menit lagi.” Katanya dengan mata yang masih terpejam.

    Dia itu mau mati?? Tujuh menit lagi, kami harus berada di lapangan. Kalau tidak…. Kalau tidak bisa ditebak akan mati dipenggorengan. Lari-lari mengelilingi lapangan sekolah tiga kali, lebih baik langsung mengajukan diri untuk pingsan saja. Lagipula sebagian anak kelas sudah meninggalkan kelas dan sudah pergi ke lapangan. Sedangkan Deni… Ganti baju saja belum.

    Menghadapi Pak Sam itu rumusnya hanya satu. Menurutinya. Tidak perlu macam-macam.

    Entah ini demi pertemanan atau apa. Menjadi teman Deni itu juga kecelakaan. Kalau saja saat awal masuk sekolah itu dia mendapatkan tempat duduk dahulu, mana mungkin aku bisa bertemu dengannya. Atau aku hanya menyalahkan, kenapa dari anak satu kelas dia menjatuhkan bangku di sebelahku. Apakah takdir itu indah? Tidak juga.

    Berulang kali aku melirik jam tanganku. Kurang tiga menit lagi. Duh, kenapa orang ganti baju saja lama sekali? Dia tidak sedang menggunakan kavaleri kan? Kenapa ganti bajunya bisa lebih lama dari rata-rata waktu yang dibutuhkan cewek untuk berdandan.

    Lima detik kemudian, Deni keluar dengan baju olahraga yang menempel di badan. Aku lega. Karena dia mengusirku untuk berganti baju, bukannya melanjutkan perjalanan mimpinya. Siapa tahu saat tadi ijinnya mau ganti baju justru ia tertidur lagi. Itu yang aku khawatirkan.

    Opsi tentang memilih terlambat atau tidak mengikuti jam pelajarannya Pak Sam itu, aku lebih memilih terlambat saja. Walaupun kau beralasan sakit, tetap saja pertemuan selanjutnya kau harus mengganti jammu yang hilang itu di pertemuan mendatang.

    “Ayo!” katanya memimpin. Aku hanya mengikutinya saja dari belakang.

    ***

    “Mampus aku…” makiku pada diri sendiri.

    Pak Sam sudah berdiri di antara dua lapangan. Memberi komando tentang kedua belah lapangan. Lapangan barat adalah lapangan basket dan timurnya adalah lapangan voli. Lagi-lagi sama seperti minggu lalu, beliau mengampu dua kelas. Pak Hanif, guru olahraga untuk kelas sepuluh tiga sedang ijin.

    Deni sudah melangkah maju. Kesalahan besar. Seharusnya aku yang harus maju terlebih dahulu untuk berbasa-basi meminta maaf karena keterlambatan. Tapi, sebelum aku bertindak dia sudah menghampiri Pak Sam yang lagaknya memang mengacuhkan kedatangan kami berdua. Sial.

    “Pak, maaf kami terlambat…” kataku memulai. Deni menatapku dengan tatapan tidak suka. Karena aku sudah melanggar adat kesopanan yang berlaku bagi dirinya.

    Pak Sam mengernyitkan keningnya dan menatap kami bergantian. “Alasan?” tanyanya to the point.

    “Tadi teman saya sakit pak.” Seru Deni. Aku menoleh ke arahnya. Sakit apanya?

    Pak Sam mengamatiku. Dari ujung kepala sampai sepatu. Tidak ada tanda-tanda kalau aku terluka atau apa. Dia berbalik menatap Deni yang dari tadi hanya nyengir. Kali ini dengan tatapan yang sangat menusuk. Sampai aku harus mengalihkan pandanganku. Berharap kalau Pak Sam merasa dirinya tidak sedang dibodohi dan mempercayai kami sepenuhnya.

    Kamu mau berbohong? Seperti itulah kalimat yang menggambarkan tatapan mata Pak Sam. Tongkat bambu kecil itu dihentakkan di tangan kanannya. Kali ini kuda-kudanya siap dipasang. Aku mendesah, merasa tak kuat. Semoga ini bukan mimpi burukku tadi malam.

    “Mana? Temanmu baik-baik saja.” Ujar Pak Sam. Dia menunjukku yang sehat sentosa ceria seperti tidak ada sakit yang sedang aku derita. Pembohong!

    Deni batuk-batuk kecil. Lalu berdehem sambil menatap Pak Sam malu-malu. Sepertinya memang harus ada yang ia pertimbangkan sebelum dia menyanggah pertanyaan Pak Sam. Apanya yang harus ia sanggah coba? Memang benar aku tidak sakit apa-apa!

    “Maaf Pak, tapi saat saya membantu teman ini memang keadaannya sangat mendesak sekali. Tidak bisa saya katakan.” Sahutnya dengan suara purau. Dia keukeuh mempertahankan alasannya, yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata itu. Hal itu membuat muka Pak Sam semakin berkedut aneh.

    “Eh…”

    Dia itu pintar akting. Lolos casting setelah ini. Berani taruhan!

    Pak Sam masih bingung. Dia lagi-lagi menatapku meminta konfirmasi. Tapi aku juga sama-sama bingungnya dengan dia. “Katakan saja!” perintahnya. Tentu dengan muka asam gaya khasnya saat memerintah.

    Sifat Pak Sam tak berubah. Dia selalu membutuhkan alasan kuat untuk sebuah pelanggaran yang dibuat muridnya. Klasik memang. Tapi memang seperti ini gurunya.

    “Boleh aku katakan?” tanyanya meminta konfirmasi dariku. Aku jadi semakin bingung dengannya. Sungguh, saat ini aku benar-benar frustasi. Karena sama sekali tidak bisa menebak kemana arah pembicaraan Deni. Serius!

    Aku ingin meneriaki tepat di gendang telinganya. Supaya lumpuh, kalau bisa. Apa yang perlu dikatakan coba? Katakanlah demi nama siapapun itu yang telah kau bohongi, teriakku sendiri dalam hati.

    “Sebenarnya tadi dia agak tidak enak badan, gitu Pak. Seharian di pelajaran PKn dia lemas. Saat ganti baju olahraga, dia baru sadar kalau ini adalah hari pertamanya…”

    WAAATTT??? HARI PERTAMA APANYA?

    “Jadi, sebagai teman yang baik saya lari ke koperasi sekolah untuk beli pemba... Awww” Lanjutnya.

    Sebelum dia melanjutkan kalimatnya, aku sudah menendang kakinya. Dia itu sinting! Memutarbalikkan fakta yang dia sendiri sejak pagi sudah bertingkah seperti cewek PMS.

    “Ini juga buat kebaikan kamu. Agar Pak Sam tahu faktanya.” Katanya dengan suara tegas kepadaku. Dia menyipitkan mata sambil membungkuk mengelus kakinya yang sudah kuinjak dadakan tadi. Aku tahu injakan kakiku sangat sakit. Dia merintih merasa perih sampai melepas sepatunya segala, memastikan lukanya tidak separah seperti apa yang dibayangkannya.

    Kali ini memang aku harus mengikuti scenario darinya. Pura-pura kalau aku ini sedang PMS dan alasan keterlambatan kami adalah kesalahan Deni yang kuminta untuk membelikanku pembalut. Sialan! Skenario macam apa itu?

    “Tuh Pak, liat teman saya malu kalau saya mengatakan dia sedang PMS.” Kata Deni. Memberi peringatan kepada Pak Sam kalau kata-katanya itu bukan hanya sebuah bualan. Sialnya, sepertinya Pak Sam percaya begitu saja.

    Pak Sam mengangguk-anggukan kepala, percaya. Duh, dasar… Kenapa guru garang macam Pak Sam harus percaya dengan apa yang dikatakan oleh pembohong besar seperti Deni?

    “Pemanasan dan lari satu kali keliling sekolah!” Pak Sam memutuskan sebuah keadilan yang sangat berperi kemanusiaan. Pak Sam mungkin sudah pernah merasakan sakitnya orang terkena PMS. Untuk pasien PMS memang diistimewakan. Diskon besar-besaran. Lari keliling lapangan yang harusnya tiga kali sekarang berganti satu kali akibat ulah Deni. Kompensasi terbesar kepada penderita Menstruasi Syndrome serta teman yang berkorban demi si pasien. Deni maksudnya. Tentu saja berkat dia yang mau membelikanku pembalut. Asli, itu hanya bohong.

    Setelah Pak Sam pergi setelah itu. Deni menatapku dengan wajah berbinar. Lalu meninggalkanku begitu saja. Memutari sekolah satu kali. Aku yakin sambil lari dia akan berteriak ‘BANZAI’ karena memang dia menang sudah membohongi Pak Sam begitu mudah.

    Sialan!

    ***

    Continue Reading
    Newer
    Stories
    Older
    Stories

    About Me!

    About Me!

    Arsip

    • ▼  2026 (4)
      • ▼  Oct 2026 (1)
        • Tatapan Bapak
      • ►  Aug 2026 (1)
      • ►  May 2026 (1)
      • ►  Feb 2026 (1)
    • ►  2023 (1)
      • ►  Jan 2023 (1)
    • ►  2021 (34)
      • ►  Aug 2021 (1)
      • ►  Jul 2021 (3)
      • ►  Jun 2021 (3)
      • ►  May 2021 (4)
      • ►  Apr 2021 (8)
      • ►  Mar 2021 (6)
      • ►  Feb 2021 (4)
      • ►  Jan 2021 (5)
    • ►  2020 (64)
      • ►  Dec 2020 (4)
      • ►  Nov 2020 (4)
      • ►  Oct 2020 (4)
      • ►  Sep 2020 (4)
      • ►  Aug 2020 (5)
      • ►  Jul 2020 (6)
      • ►  Jun 2020 (6)
      • ►  May 2020 (5)
      • ►  Apr 2020 (9)
      • ►  Mar 2020 (6)
      • ►  Feb 2020 (9)
      • ►  Jan 2020 (2)
    • ►  2019 (12)
      • ►  Jul 2019 (1)
      • ►  May 2019 (4)
      • ►  Apr 2019 (1)
      • ►  Mar 2019 (2)
      • ►  Feb 2019 (3)
      • ►  Jan 2019 (1)
    • ►  2018 (6)
      • ►  May 2018 (2)
      • ►  Apr 2018 (1)
      • ►  Jan 2018 (3)
    • ►  2017 (9)
      • ►  Dec 2017 (1)
      • ►  Nov 2017 (2)
      • ►  Oct 2017 (1)
      • ►  Sep 2017 (5)
    • ►  2016 (3)
      • ►  Sep 2016 (1)
      • ►  Apr 2016 (1)
      • ►  Mar 2016 (1)
    • ►  2015 (7)
      • ►  May 2015 (6)
      • ►  Mar 2015 (1)
    • ►  2014 (25)
      • ►  Nov 2014 (1)
      • ►  Oct 2014 (2)
      • ►  Jun 2014 (1)
      • ►  May 2014 (2)
      • ►  Apr 2014 (6)
      • ►  Mar 2014 (3)
      • ►  Feb 2014 (7)
      • ►  Jan 2014 (3)
    • ►  2013 (12)
      • ►  Dec 2013 (7)
      • ►  Oct 2013 (2)
      • ►  May 2013 (1)
      • ►  Jan 2013 (2)
    • ►  2012 (12)
      • ►  Dec 2012 (3)
      • ►  Nov 2012 (2)
      • ►  Jun 2012 (2)
      • ►  May 2012 (2)
      • ►  Jan 2012 (3)
    • ►  2011 (14)
      • ►  Dec 2011 (3)
      • ►  Nov 2011 (11)

    Labels

    Artikel Ilmiah Bincang Buku Cerpen Curahan Hati :O Essay harapan baru Hati Bercerita :) History Our Victory Lirik Lagu little friendship Lomba menulis cerpen :) Memory on Smaga My Friends & I My Poem NOVEL opini Renjana Review Tontonan Story is my precious time Story of my life TravelLook!

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • bloglovin
    • youtube
    • pinterest
    • instagram

    recent posts

    Powered by Blogger.

    Total Pageviews

    1 Minggu 1 Cerita

    1minggu1cerita

    Follow Me

    facebook Twitter instagram pinterest bloglovin google plus tumblr

    Created with by BeautyTemplates | Distributed By Gooyaabi Templates

    Back to top